Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.
Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Mulai Berubah
Waktu terasa begitu cepat berlalu dan hari-hari mulai terasa berbeda bagi Nayra.
Bukan karena lingkungan di sekitarnya berubah.
Tapi karena dirinya yang tidak lagi sama.
Pagi itu, Nayra berdiri di depan lemari, menatap deretan pakaian yang biasanya ia pakai ke kampus. Tangannya menggantung di udara, ragu memilih.
“Yang longgar aja…” gumamnya pelan.
Ia akhirnya mengambil blouse yang sedikit lebih besar dari biasanya.
Saat mengenakannya, ia tanpa sadar melirik ke arah perutnya.
Masih datar. Masih seperti biasa. Tapi Nayra tahu… itu tidak akan bertahan lama.
“Na, berangkat bareng nggak?”
Suara Sinta terdengar dari luar.
“Iya, bentar!” jawab Nayra.
Ia buru-buru mengambil tas, lalu keluar kamar.
Sinta langsung menatapnya dari atas ke bawah.
“Kamu sekarang beda deh,” komentar Sinta.
Nayra mengernyit. “Beda gimana?”
“Lebih… hati-hati,” jawab Sinta sambil menyenggol pelan lengannya.
Nayra tersenyum tipis. “Ya harus lah.”
Sinta mengangguk. “Bagus.”
Mereka mulai berjalan keluar kos.
Beberapa langkah kemudian, Sinta meliriknya.
“Mual masih sering?” tanyanya.
Nayra mengangguk pelan. “Kadang. Pagi paling parah.”
“Udah minum vitamin dari dokter?”
“Udah.”
“Jangan sampai lupa.”
“Iya, Bu,” Nayra tersenyum kecil.
Sinta langsung tertawa. “Ih, dibilangin malah ngejek.”
“Enggak ngejek,” jawab Nayra santai.
Mereka berjalan berdampingan.
Dari luar, semuanya terlihat biasa.
Seperti dua mahasiswi pada umumnya.
Tidak ada yang tahu… satu di antara mereka sedang membawa rahasia besar.
***
Di kampus, suasana seperti biasa.
Mahasiswa lalu-lalang, suara obrolan terdengar di mana-mana.
Nayra berjalan pelan, matanya sesekali memperhatikan sekitar. Seolah takut ada yang menyadari sesuatu.
“Na,” panggil Sinta.
“Hm?”
“Kamu jangan kelihatan tegang gitu.”
Nayra langsung melirik. “Emang kelihatan?”
“Banget,” jawab Sinta jujur.
Nayra menghela napas. “Gimana nggak tegang…”
Sinta tersenyum tipis. “Santai aja. Nggak ada yang tahu.”
Kalimat itu seharusnya menenangkan.
Tapi entah kenapa— Justru membuat Nayra semakin sadar. Ia memang sendirian dalam hal ini.
Di dalam kelas— Nayra mencoba fokus.
Buku terbuka. Pulpen di tangan.
Namun seperti hari-hari sebelumnya, pikirannya tidak benar-benar di sana.
Rasa mual datang lagi.
Ia langsung menunduk sedikit.
“Na?” bisik Sinta.
“Aku keluar bentar,” jawab Nayra pelan.
“Lagi?”
Nayra hanya mengangguk.
Sinta langsung berdiri. “Aku temenin.”
“Enggak usah—”
“Aku ikut,” potong Sinta tegas.
Nayra tidak membantah lagi.
Di toilet, Nayra kembali membungkuk di depan wastafel.
Mual itu datang tiba-tiba.
Sinta berdiri di sampingnya, mengusap punggung Nayra pelan.
“Pelan-pelan…”
Setelah beberapa saat, Nayra akhirnya berhenti. Ia menatap dirinya di cermin.
“Capek…” gumamnya.
Sinta mengangguk. “Ya iya lah. Tubuh mu lagi kerja keras.”
Nayra menghela napas panjang.
"Aku takut ketahuan,” ucapnya pelan.
Sinta langsung menatapnya.
“Kenapa?”
“Aku nggak siap kalau orang-orang tahu,” jawab Nayra jujur.
Sinta terdiam sejenak.
“Kamu nggak harus kasih tahu siapa-siapa sekarang,” katanya akhirnya.
Nayra menatapnya. “Tapi nanti?”
“Nanti kita pikirin nanti.”
Nayra tersenyum kecil.
“Kedengarannya gampang ya…”
“Memang harus dibikin gampang,” jawab Sinta.
****
Hari itu terasa panjang.
Setiap jam terasa lebih lama dari biasanya.
Nayra mulai merasakan perubahan kecil di tubuhnya. Cepat lelah. Sering lapar. Dan emosinya… tidak stabil.
Sore hari, saat mereka duduk di kantin—
Nayra hanya menatap makanannya. Tidak disentuh.
“Kamu kenapa lagi?” tanya Sinta.
“Nggak nafsu,” jawab Nayra pelan.
“Padahal tadi bilang lapar.”
“Iya… tapi sekarang enek.”
Sinta menghela napas. “Susah banget ya.”
Nayra tertawa kecil. “Banget.”
Sinta mendorong sedikit piringnya. “Coba makan dikit.”
Nayra menggeleng. “Nanti aja.”
Beberapa detik hening.
Lalu Nayra berkata pelan, “Sin…”
“Iya?”
“Menurut mu… Aku bisa nggak ya?”
Sinta langsung tahu maksudnya.
“Bisa apa?”
“Ngelewatin semua ini…”
Sinta menatapnya serius.
“Kamy nggak punya pilihan selain bisa.”
Nayra terdiam.
Sinta melanjutkan, “Dan Aku yakin kamu kuat.”
Nayra tersenyum tipis.
“Aku aja nggak yakin…”
“Aku yang yakin,” jawab Sinta tegas.
🌆 Di sisi lain kota—
Arsen berdiri di dalam ruang meeting.
Beberapa orang duduk di sekeliling meja panjang.Presentasi sedang berjalan.
Namun—
Pikirannya tidak sepenuhnya fokus.
“Pak Arsen?”
Suara seseorang menariknya kembali.
Arsen langsung menoleh.
“Ya.”
“Bagaimana pendapat Anda?”
Arsen terdiam satu detik.
Lalu menjawab dengan tenang, seolah tidak ada yang salah. Diskusi berlanjut.
Tapi setelah meeting selesai—
Raka mendekatinya.
“Bapak lagi nggak fokus,” ucapnya santai.
Arsen menatapnya. “Aku fokus.”
“Biasanya iya,” balas Raka. “Hari ini beda.”
Arsen menghela napas pelan.
“Sudah ada perkembangan?” tanyanya langsung.
Raka menggeleng. “Masih ditelusuri.”
Arsen menatap ke depan.
“Cepatkan.”
“Baik, Pak.”
Raka tersenyum tipis. “Sepertinya penting sekali.”
Arsen tidak menjawab.
Tapi tatapannya… cukup menjelaskan.
🌛🌛Malam harinya
Nayra kembali ke kamar kos.
Tubuhnya terasa lelah.
Ia duduk di ranjang, lalu berbaring pelan.
Tangannya tanpa sadar kembali menyentuh perutnya.
“Masih kecil…” gumamnya. Sunyi.
Tidak ada jawaban. Tapi ia tetap berbicara.
“Aku nggak tahu harus gimana…” Suaranya pelan. “Semua ini… terlalu cepat.” Ia menutup mata.
Air mata mengalir pelan. “Tapi… aku akan coba.”
Kalimat itu sederhana. Namun penuh tekad.
Meski ia sendiri belum sepenuhnya siap.
To be continued 🙂🙂🙂