Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Sore itu, suasana di kantor Wiratama Group masih terasa tegang pasca pemberantasan anggaran yang dilakukan Kinanti. Arkan mengunci diri di ruangannya, menolak bicara dengan siapa pun.
Sementara itu, Kinanti kembali ke mejanya dengan perasaan yang jauh lebih tenang, meskipun debaran aneh akibat pertemuan dengan Dewa tadi siang masih menyisakan getaran halus di jemarinya.
Baru saja ia duduk, pintu ruangannya diketuk. Sekretarisnya, Maya, masuk dengan wajah bingung sambil membawa sebuah buket bunga lili putih yang sangat besar. Aroma wangi yang lembut segera menyeruak, memenuhi ruangan yang biasanya beraroma kopi dan kertas dokumen.
"Ibu, ada kiriman bunga untuk Ibu," ucap Maya sambil meletakkan buket itu di atas meja jati Kinanti.
Kinanti mengernyitkan dahi. "Dari siapa? Bukannya saya sudah bilang tidak menerima bingkisan apa pun hari ini?"
"Tidak ada nama pengirimnya, Bu. Hanya ada kartu kecil ini," jawab Maya sambil menyerahkan secarik kartu berwarna krem.
Kinanti mengambil kartu itu. Tulisan tangannya rapi, tegas, dan sangat maskulin.
"Salam persahabatan dari pengagummu."
Hanya empat kata, namun cukup membuat pertahanan Kinanti goyah sejenak. Ia tahu persis siapa pengirimnya. Lili putih adalah simbol kemurnian dan kehormatan, sesuatu yang saat ini sangat ia butuhkan di tengah kotornya pengkhianatan Arkan.
Namun, momen tenang itu hancur saat pintu ruangannya didorong kasar tanpa ketukan. Arkan masuk dengan wajah kusut dan mata merah, jelas ia baru saja melampiaskan amarahnya pada benda-benda di ruangannya.
"Kinanti! Kau pikir kau hebat karena sudah memalukanku di depan direksi?!" bentak Arkan.
Langkah Arkan terhenti saat matanya menangkap buket bunga raksasa di meja istrinya. Ia mendengus sinis, tawa mengejek keluar dari mulutnya.
"Wah, wah... lihat ini. Baru dua hari aku membiarkanmu menghilang, kau sudah punya simpanan yang mengirimkan bunga?" Arkan mendekat, menyentuh kelopak bunga lili itu dengan kasar. "Siapa? Pria bodoh mana yang mau mengirimkan bunga pada wanita sedingin es sepertimu?"
Kinanti berdiri, ia tidak tampak terganggu sedikit pun. Ia justru mengambil kartu ucapan itu dan menyimpannya di dalam laci. "Itu bukan urusanmu, Arkan. Setidaknya, pengirim bunga ini tahu cara menghargai seorang wanita, sesuatu yang otakmu tidak sanggup proses."
"Hargai?! Kau bicara soal harga diri sementara kau menerima bunga dari pria asing?!" Arkan semakin kalap. Ia merasa egonya tertampar. Di saat ia sedang kesulitan mengalirkan dana untuk Alana, Kinanti justru tampak bersinar dan dikagumi orang lain.
"Arkan, dengar," Kinanti berjalan mendekati suaminya, menatap tepat di manik matanya. "Aku tidak pernah melarangmu mengirim uang pada Alana. Aku tidak melarangmu membelikan dia rumah. Jadi, jangan berani-beraninya mengatur siapa yang boleh mengirimiku bunga. Status kita sekarang adalah rekan bisnis yang terpaksa tinggal satu atap. Tidak lebih."
"Kau benar-benar sudah berubah," desis Arkan. "Kau bukan Kinanti-ku yang dulu."
"Kinanti yang dulu sudah mati saat kamu mengucapkan janji suci pada wanita lain, Arkan. Sekarang, keluar dari ruanganku. Aku punya banyak pekerjaan untuk menyelamatkan perusahaan yang hampir kau rampok ini," ucap Kinanti dengan nada final.
~~
Malam harinya, rumah besar Wiratama terasa lebih sunyi dari biasanya. Arjuna sudah tertidur di kamarnya.
Kinanti duduk di ruang tengah, mencoba membaca beberapa laporan, namun pikirannya terus melayang pada sosok Dewa. Mengapa pria sesukses itu repot-repot menolongnya? Mengapa dia mengirim bunga?
Tiba-tiba, ponselnya berdenting. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
"Bunganya sudah sampai? Aku harap aromanya bisa sedikit mengusir awan mendung di wajahmu hari ini. Selamat beristirahat, Kinanti. -Dewa."
Kinanti tertegun. Pria itu benar-benar memiliki cara untuk masuk ke celah terkecil dalam hidupnya. Ia ragu untuk membalas, namun tangannya seolah bergerak sendiri.
"Sudah sampai. Terimakasih. Tapi tolong, jangan lakukan hal seperti ini lagi ke kantor saya."
Keesokan paginya, Kinanti turun ke meja makan untuk sarapan. Di sana sudah ada Arkan yang tampak sedang menelepon seseorang dengan suara pelan. Begitu melihat Kinanti, Arkan segera mematikan ponselnya.
"Siapa? Alana?" tanya Kinanti tanpa beban sambil menuangkan jus jeruk.
Arkan tampak salah tingkah. "Dia butuh uang untuk biaya setiap harinya. Dia sedang lemah di desa."
Kinanti mengangguk pelan. "Pakai uang pribadimu, jangan sentuh kas perusahaan lagi. Jika aku melihat ada satu rupiah pun dana Wiratama keluar untuknya, aku akan langsung membekukan aksesmu ke seluruh fasilitas rumah ini."
"Kau tega, Kin! Alana itu masih istriku!"
"Dan aku adalah istrimu yang sah secara negara dan agama," balas Kinanti tajam. "Pilih saja, Arkan. Keamanan Alana, atau egomu sebagai pria kaya. Kamu tidak bisa memiliki keduanya jika terus mengkhianatiku."
Makan pagi itu berakhir dengan kebisuannya yang menyiksa. Arkan pergi dengan amarah yang terpendam, sementara Kinanti bersiap untuk berangkat. Namun, saat ia keluar menuju garasi, ia melihat sebuah mobil SUV perak yang sangat ia kenal terparkir di depan gerbang rumahnya.
Dewa Dirgantara bersandar di mobilnya, mengenakan kacamata hitam, tampak begitu kontras dengan lingkungan rumah Wiratama yang kaku.
"Apa yang Kau lakukan di sini?!" Kinanti menghampirinya dengan wajah panik, takut Arkan melihatnya.
Dewa tersenyum, menurunkan kacamatanya sedikit. "Aku hanya ingin memastikan mobilmu tidak mogok lagi pagi ini. Dan kebetulan, kantorku searah dengan kantormu. Mau berangkat bersama?"
"Kau gila, Dewa. Ini rumahku. Suamiku baru saja pergi," bisik Kinanti.
"Aku tahu. Aku melihatnya pergi tadi. Wajahnya tampak seperti pria yang baru saja kalah judi," Dewa tertawa kecil. "Ayolah, Kinanti. Hanya tumpangan ke kantor. Anggap saja ini bagian dari 'salam persahabatan' yang aku tawarkan kemarin."
Kinanti bimbang. Ia menatap mobilnya, lalu menatap Dewa. Ada dorongan nakal dalam dirinya untuk membalas sakit hati yang Arkan berikan selama ini. Jika Arkan bisa dengan bangga memamerkan Alana, mengapa ia harus takut menerima tumpangan dari seorang teman?
"Hanya sampai depan lobi kantor," ucap Kinanti akhirnya.
Dewa membukakan pintu mobil untuknya dengan gerakan sangat terhormat. "Perintah diterima, Tuan Putri."
Di dalam mobil, Dewa tidak banyak bertanya soal masalah pribadinya. Ia justru bercerita tentang hobinya mengoleksi lukisan dan pengalamannya tinggal di luar negeri. Percakapan itu terasa begitu ringan, begitu normal, sesuatu yang sangat dirindukan Kinanti.
"Kau tahu, Kinanti," ucap Dewa saat mereka hampir sampai di kantor. "Kadang kita terlalu sibuk menjaga bangunan yang sudah retak, sampai kita lupa bahwa di luar sana ada tanah luas yang siap untuk kita bangun istana baru yang lebih kokoh."
Kinanti terdiam. Ia tahu bangunan yang dimaksud Dewa adalah rumahtangganya.
"Aku tidak sedang menjaga bangunan yang retak, Dewa. Aku sedang memastikan bahwa saat bangunan itu runtuh, aku tidak ikut tertimbun di dalamnya," jawab Kinanti lirih.
Dewa menoleh, menatap Kinanti dengan tatapan yang dalam. "Kalau begitu, pastikan kau memiliki tangan yang siap menangkapmu saat kau melompat keluar. Dan aku... dengan senang hati menawarkan tanganku."
Mobil berhenti di depan lobi Wiratama Group. Tepat di saat yang sama, mobil Arkan baru saja sampai dan ia sedang turun di lobi. Arkan membeku melihat istrinya keluar dari mobil mewah milik Dewa Dirgantara.
Kinanti turun dengan anggun, ia sengaja tersenyum tipis ke arah Dewa sebelum mobil itu melaju pergi. Ia melangkah menuju lobi, melewati Arkan yang berdiri mematung dengan wajah yang nyaris meledak karena cemburu dan malu.
"Siapa dia, Kinanti?!" bentak Arkan di tengah lobi.
Kinanti hanya menoleh sekilas, membenarkan letak kacamatanya. "Itu? Itu adalah seseorang yang tahu bagaimana cara menjemput wanita dengan terhormat."
Kinanti melangkah masuk ke dalam lift, meninggalkan Arkan yang kini menjadi pusat perhatian para stafnya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Kinanti merasa dialah pemenang dalam permainan ini. Perselingkuhan Arkan mungkin melukainya, tapi kehadiran Dewa membuktikan bahwa pesonanya tidak pernah pudar, meskipun Arkan mencoba menghancurkannya.
...----------------...
**To Be Continue** ....
ga punya hati. .. tetap berselingkuh
Tunggu hukum karma selanjutnya
Kinanti yg dihianati kalah. ga setuju
.👍