NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

***

Ketegangan yang biasa menyelimuti pondok kayu kecil itu sedikit mencair pada keesokan paginya. Sinar matahari musim dingin yang menembus celah-celah dinding kayu tidak lagi terasa terlalu membeku. Di luar pintu pondok, tumpukan kotak kayu dan keranjang anyaman bambu mulai menggunung. Warga desa mulai dari ibu-ibu tua hingga anak-anak yang kemarin mendengar dongeng Lilianne datang secara sembunyi-sembunyi di bawah tatapan tajam para prajurit zirah hitam untuk mengantarkan hadiah.

Ada buah-buahan segar yang baru dipetik dari rumah kaca bawah tanah, rajutan selimut bayi berwarna putih gading yang lembut dari bulu domba, dan berbagai makanan rumahan yang aromanya menguar gurih.

Lilianne, yang kini sudah bisa duduk tegak di tepi ranjang dengan jubah beludru birunya, menatap barang-barang itu dengan binar mata yang lama hilang. Untuk pertama kalinya, setelah hampir setahun hidup bagai hantu di Sayap Timur, ia merasa diperlakukan sebagai seorang manusia, bukan sekadar simbol politik atau trofi kekaisaran.

Di ambang pintu, seorang prajurit masuk membawa sebuah mangkuk tanah liat yang tertutup kain bersih, mengepulkan uap hangat beraroma kaldu ayam kampung dengan herba hutan.

"Yang Mulia Putri Mahkota," ucap prajurit itu sambil membungkuk khidmat. "Ini dikirimkan oleh ibu tua yang kemarin lusa Anda sapa di dekat tempat penjemuran kain. Beliau memasaknya sendiri, berharap sup hangat ini bisa menguatkan kandungan Anda."

Lilianne tersenyum tulus. "Letakkan di meja. Aku akan memakannya sekarang."

Namun, tepat sebelum jemari Lilianne menyentuh mangkuk itu, sebuah tangan besar yang terbungkus sarung tangan kulit hitam bergerak lebih cepat, menarik mangkuk tersebut menjauh.

Arthur muncul dari balik tirai pembatas ruangan. Matanya yang biru gelap langsung menyipit penuh kecurigaan saat menatap cairan di dalam mangkuk. "Siapa yang mengizinkan makanan asing masuk ke ruangan ini?" tanyanya dingin pada prajurit itu.

"Yang Mulia... ini dari warga desa—"

"Bawa keluar sisa hadiah di luar. Dan jangan biarkan siapa pun mendekati pondok ini lagi," potong Arthur tanpa kompromi. Prajurit itu buru-buru memberi hormat lalu mundur ketakutan.

Lilianne menghela napas panjang, rasa sebal yang murni langsung naik ke dadanya. Ia menatap Arthur dengan pandangan menuduh. "Yang Mulia, apakah Anda harus selalu berlebihan seperti ini? Mereka hanya warga desa miskin yang tulus! Mereka tidak tahu apa-apa tentang perang kotormu di ibu kota. Mengapa Anda harus menganggap semua orang di dunia ini sebagai pembunuh?"

Arthur tidak langsung menjawab. Ia mengambil sendok perak, mengaduk sup hangat itu perlahan, memperhatikan tekstur kuahnya dengan ketelitian seorang interogator. "Ketulusan adalah topeng paling murah yang sering digunakan oleh pembunuh, Lili. Di dunia luar, satu kelengahan berarti kematian. Terutama dalam kondisimu yang sekarang."

"Mereka tidak akan berani melakukan hal sekeji itu, Arthur!" ketus Lilianne, suaranya meninggi karena frustrasi akibat kekangan yang tak pernah kendur. "Mereka melihat saya sebagai Putri Mahkota mereka, mereka menyayangi janin ini! Berhentilah memperlakukan tempat ini seperti medan perang. Ini hanya sepinggan sup ayam dari seorang ibu tua!"

Arthur menatap Lilianne, tatapannya datar namun menyimpan kegelapan yang tak terelami. "Kau benar. Mereka mungkin tidak akan berani. Tapi orang-orang yang mengincarku dari ibu kota... mereka bisa menggunakan tangan siapa saja tanpa pemiliknya sadari."

Arthur mendekatkan mangkuk itu ke wajahnya, menghirup aromanya, lalu menyendok kuah sup tersebut.

"Apa yang Anda lakukan?!" protes Lilianne, bersedekap dada dengan wajah cemberut. "Jika Anda tidak mengizinkan saya memakannya, jangan memakannya di depan saya."

"Aku akan mengujinya terlebih dahulu," ujar Arthur pendek.

Tanpa ragu, Arthur menelan satu sendok penuh kuah sup hangat itu. Selama beberapa detik, tidak ada yang terjadi. Arthur mengecap rasanya, wajahnya tetap kaku bagai marmer. Lilianne bersiap untuk melontarkan kalimat ejekan tentang bagaimana suaminya telah salah sangka pada ketulusan rakyat jelata.

Namun, kalimat itu tidak pernah keluar dari bibir Lilianne.

Secara mendadak, sendok perak di tangan Arthur terlepas, berdenting keras di atas lantai marmer yang kotor. Tubuh besar sang panglima perang itu tersentak hebat. Mangkuk tanah liat di tangannya jatuh, pecah berkeping-keping, menumpahkan sup hangat ke seluruh lantai.

"A-Arthur...?" panggil Lilianne, rasa kesalnya seketika menguap, digantikan oleh sengatan rasa takut.

Arthur mencengkeram dadanya sendiri. Urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol keluar, berubah warna menjadi keunguan yang mengerikan dalam hitungan detik. Wajahnya yang semula segar langsung memucat, dan dari sudut bibirnya, seulas cairan merah pekat beraroma besi mulai mengalir keluar.

Uhukk!

Arthur terbatuk hebat, dan kali ini, darah murni menyembur dari mulutnya, menodai lantai kayu dan ujung pakaian zirah perak yang dikenakannya. Tubuh besarnya ambruk berlutut di lantai, bertumpu pada satu tangan yang gemetar hebat sementara tangan lainnya mencengkeram ulu hatinya yang terasa seperti dibakar oleh api neraka.

Makanan itu telah disabotase. Pihak lawan entah itu komplotan mata-mata Pangeran Julian yang masih tertinggal, atau agen rahasia kiriman Kaisar Valerius sendiri telah menaruh racun pelumpuh janin dosis tinggi yang sangat mematikan di dalam bahan makanan desa, bertujuan untuk memutus garis keturunan Arthur selamanya. Jika Lilianne yang memakannya, janin di rahimnya akan hancur dalam hitungan menit, menyeret nyawa Lilianne bersamanya.

"Arthur!!" Lilianne menjerit histeris. Ia melupakan rasa sakit di pinggangnya, langsung merosot turun dari ranjang dan berlutut di atas lantai yang basah oleh darah dan sup beracun.

"Pengawal!! Panggil tabib! Seseorang, tolong!!" teriak Lilianne sekuat tenaga, suaranya pecah, menggema di seluruh pondok kayu yang seketika berubah menjadi neraka fungsional.

Pintu pondok terbanting terbuka. Kaelen dan tiga komandan zirah hitam menerobos masuk dengan pedang terhunus, wajah mereka membelalak ngeri melihat sang Putra Mahkota bersimbah darah di lantai.

"Yang Mulia!!" Kaelen berteriak panik. "Bawa tabib desa kemari sekarang juga! Amankan seluruh perimeter! Tangkap wanita tua yang mengirimkan makanan ini!"

"T-Tidak..." Sebuah suara parau, serak, dan penuh otoritas yang sekarat menghentikan pergerakan Kaelen.

Arthur mencengkeram tangan Kaelen yang hendak membantunya berdiri. Dengan sisa-sisa kekuatannya yang kian terkuras oleh racun yang mulai menyerang sistem sarafnya, Arthur menggeleng. "Jangan... jangan biarkan... tabib desa... menyentuhku. Mereka... tidak tahu... jenis racun ini. Ambil... penawar dari... kotak militerku..."

Arthur memuntahkan darah sekali lagi, tubuhnya kian melemah. Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa yang sanggup merubuhkan sepuluh prajurit perkasa, tangan Arthur yang kasar, bergetar, dan berlumuran darah itu justru bergerak ke depan.

Ia mencengkeram jemari Lilianne yang pucat dengan sangat erat.

Lilianne tertegun. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung, membasahi pipinya yang gemetar. Ia menatap mata biru gelap Arthur yang kini mulai meredup, namun tatapan obsesif gila itu masih ada di sana, menatapnya dengan intensitas yang mengerikan.

"Jangan... makan... apa pun, Lili..." bisik Arthur, suaranya terputus-putus oleh desis napas yang berat dan penuh siksaan. "Hadiah... dari luar... semuanya racun. Aku... aku sudah membersihkannya... untukmu... aku sudah menjadi tamengmu..."

Arthur terengah-engah, darah terus merembes dari bibirnya, menodai jemari Lilianne yang ia genggam. "Anakku... kau... kalian berdua... harus hidup. Aku adalah... tembok tertinggimu... tidak ada yang bisa... menyentuhmu... selama aku bernapas..."

Setelah mengucapkan kalimat penuh kegilaan dan proteksi yang bengkok itu, cengkeraman tangan Arthur mengendur, dan tubuh besarnya jatuh pingsan tak sadarkan diri di pangkuan Lilianne.

Pondok itu menjadi medan pertempuran medis yang sangat kacau. Kaelen buru-buru membongkar kotak logistik militer rahasia, mengeluarkan botol perak berisi cairan penawar racun universal milik pasukan garis depan kekaisaran. Mereka memaksa mulut Arthur terbuka, meminumkan cairan itu sementara sang panglima perang terus mengerang dalam ketidaksadarannya.

Lilianne tidak beranjak sedikit pun dari posisi berlututnya. Gaun birunya kini telah kotor oleh darah Arthur. Ia memeluk kepala Arthur yang berat di pangkuannya, sementara tangannya yang lain menumpu pada perutnya yang membuncit besar janin yang beberapa menit lalu hampir saja musnah jika bukan karena paranoia suaminya.

Jantung Lilianne berpacu begitu liar hingga dadanya terasa sesak. Pria ini... pria yang seminggu lalu memperlakukannya seperti binatang peliharaan di kamar tamu Aethelgard, pria yang mengurungnya di balik jeruji besi, kini terbaring sekarat di pangkuannya setelah dengan sengaja menelan racun yang ditujukan untuk dirinya.

Rasa benci, jijik, takut, dan ketergantungan yang aneh bercampur aduk menjadi satu di dalam benak Lilianne, menciptakan badai emosi yang mengoyak jiwanya.

Sambil mencengkeram jemari Arthur yang kian mendingin, Lilianne memejamkan matanya erat-erat. Air matanya menetes jatuh ke atas kening Arthur. Di dalam keheningan jiwanya, ia mulai merapalkan doa-doa kuno dari pegunungan Utara doa perlindungan yang biasa diajarkan ibunya untuk mengusir maut.

"Dewa langit Utara, pelihara nafas yang tersisa... Jangan biarkan kegelapan merenggut nyawa pria ini di tempat terkutuk ini. Biarkan dia hidup, biarkan dia tetap menjadi tameng bagi anak ini..." ratap Lilianne dalam hatinya, bibirnya berkomat-kamit tanpa suara.

Lilianne menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan malam itu ia membenci Arthur dengan seluruh keberadaannya. Namun, di duniaku yang dipenuhi serigala lapar seperti Kaisar Valerius dan Pangeran Julian, Arthur sang Monster adalah satu-satunya dinding berduri yang bersedia mati demi menjaganya tetap bernapas. Jika Arthur runtuh di desa ini, maka tameng pelindungnya akan lenyap, dan ia bersama bayinya akan langsung dicabik-cabik oleh politik kekaisaran.

"Bertahanlah, Arthur..." bisik Lilianne parau di dekat telinga suaminya yang tak sadarkan diri, sementara para prajurit di sekeliling mereka terus bergerak panik menstabilkan detak jantung sang Putra Mahkota. "Kau telah berjanji menjadi tembok tertinggi untuk kami. Maka jangan berani-berani kau mati sebelum janji itu kau penuhi."

Di luar pondok, angin malam kembali berembus kencang, membawa aroma salju dan darah yang membeku, menjadi saksi bisu bagaimana sang Bayangan mengorbankan nyawanya sendiri demi mempertahankan seuntai cahaya yang ia kurung dalam kegilaannya.

****

Bersambung...

1
Runi Mayantri
akhirny trketuk jga hatimu yg dingin arthur 😄
Runi Mayantri
mkin seru !!!!💪💪💪💪
Runi Mayantri
knpa kaisarny kejem bget,arthur jga kan anakny
Runi Mayantri
kereeeeen
Runi Mayantri
semangat ya thor
Runi Mayantri
mantul bgt critanya
Runi Mayantri
waaaw,baru pembukaan udah seru
Runi Mayantri
aduh,sakitnya
meymonic
syukur dh mulai warasssss🤭
meymonic
aaaa hal hal yang seru akan segera di mulaiiiiiiii🤭😍
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune ya 🫶😚
total 1 replies
meymonic
alur nya bagus
Heresnanaa_: maaciw kak🫶🥰
total 1 replies
meymonic
ga sabarrr thorrrr, lanjuttt dongggg😍🤭
Heresnanaa_: stay tune beb 🫶🥰
total 1 replies
meymonic
bagussssssssssss👍👍👍👍👍😍😍
meymonic
thorrr bagusss bngtttttt😍😍😍😍
Heresnanaa_: hai Kaka, makasih yaaa🫶
happy reading 🥰🫶
total 1 replies
Murni Dewita
👣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 😚
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
Heresnanaa_: stay tune up 😚
total 1 replies
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🥰
total 1 replies
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🫶
total 1 replies
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!