NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

[31] Hampir Ketahuan

Langit menatap seisi kamar Bumi dengan cepat. Mencari tempat buat sembunyi. Tidak mungkin kamar mandi. Gimana kalau salah satu dari mereka juga ke kamar mandi?

Langit menunduk melihat kolong kasur.

Ia lekas masuk dan sembunyi di sana dengan posisi tengkurap. Untung saja bawah kasurnya bersih. Gak berdebu dan tidak ada barang.

Seengaknya langit bisa bertahan.

Klek!

Pintu terbuka. Langit menatap kaki-kaki yang berjalan masuk. Sementara Bumi yang paling akhir masuk menghela nafas lega karena Langit bisa bersembunyi. Tapi dia cukup penasaran, ke mana perginya Langit?

"Bhahaa jadi lo sembunyiin ini Bum?"

Hugo yang pertama masuk dan melihat pocong mainan di lantai menunjuk benda itu.

Dua alis Bumi naik. Tatapannya beralih pada pocong tersebut. Dia memaksakan

Senyumnya. Untung Langit belum membersihkannya.

"Lo gabut apa Bum?" Liam menunduk mengambil pocong tersebut. Langit yang di bawah kolong was-was.

Aduh jangan sampai Liam lihat gue.

"Gue gak ada kerjaan." Bumi mengambil cepat benda itu dan ekor matanya tidak sengaja menangkap tangan di bawah kasur.

Langit menatapnya dan menaruh telunjuk di depan bibirnya.

Bumi lekas berdiri tegak dan membongkar gulingnya yang dijadikan pocong dadakan. Kain itu dia taruh di dalam plastik.

"Mau ngerjain siapa lo Bum?" Hugo melangkah ke depan PS Bumi. Dia lalu duduk selonjoran depan TV dan mengambil stick PS. Alden dan Liam juga ikutan duduk di atas karpet beludru. Liam mengeluarkan cemilan yang tadi mereka beli menggunakan uang Alden.

"Gue lagi terinspirasi aja," ucap Bumi ngasal.

Langit yang tengkurap dengan wajah beralaskan lengan itu menghela nafas lega.

Beberapa menit awal bisa bertahan, tapi lama-lama dia jadi pegal. Mana ketiganya gak balik-balik. Dinginnya lantai malah membuat matanya mengantuk.

Mereka sangat seru bermain PS. Bumi dari tadi memilih duduk di atas kasur dan membuat selimut itu menutupi tepian kolong kasur biar aman.

Mulanya mereka sibuk main. Ruangan itu juga jadi berisik. Namun selang setengah jam kemudian, suara dengkuran khas orang tidur membuat Liam yang duluan ngeh mengernyitkan kening.

"Kalian dengar sesuatu gak?"

Sebelah alis Bumi naik.

"Coba stop bentar." Satu tangannya naik ke udara. Mereka saling pandang. Saat benar-benar sunyi terdengar kembali dengkuran halus.

"Siapa yang mendengkur?" Lian melirik sekitar. "Gak ada yang tidur."

Tentu saja itu Langit. Bisa-bisanya gadis itu terlelap dan mendengkur. "Perasaan lo aja kali."

"Bum. Lo kan sendiri, jangan-jangan ...." Hugo mengantung kalimatnya. Wajah Bumi menegang. Ia menatap Hugo, khawatir mereka mulai curiga.

"Rumah lo ada penghuninya ya?" sambung Hugo.

Bumi menghela nafas. "Akhir-akhir ini emang ada suara aneh." Bumi iyakan saja. Dia mencari aman.

"Itu gara-gara lo sendirian. Gue khawatir hantunya cewek. Dia ngikutin lo karena suka." Hugo terus menyampaikan pendapatnya.

Bumi menoyor kepala Hugo hingga cowok itu meringis. "Kebanyakan nonton horor lo."

"Elah gue bicara fakta."

Liam terkekeh. "Gue ke toilet dulu."

Cowok itu lalu berdiri dan melangkah ke kamar mandi Bumi. Belum menutup pintu, Liam mengernyit melihat ikat rambut berwarna merah tergantung.

Dia mengambil ikatan tersebut dan keluar kembali. Jadi lupa akan hajatnya.

"Bum? Punya siapa?"

Bumi mendongak, dia hampir melotot jika tidak mau Liam jadi curiga. Bisa-bisanya langit meninggalkan ikat rambut di kamar mandinya.

"Sejak kapan lo pakai ikat rambut. Jangan bilang ini punya pacar lo? Gila kalian mainnya udah sampai kamar?" Liam melotot dan naik ke atas kasur Bumi.

Hugo dan Alden seketika berbalik badan shock.

"Wah Bum, sekalinya pacaran lo jauh ya." Hugo melongo.

Geplak!

Bumi memukul kepala Liam dan Hugo dengan bantal. "Itu punya gue," ucapnya tapi mereka menolak percaya.

"Punya lo?" Hugo tersenyum miring.

"Cewek kali yang pakai ikat rambut. Udah Bro kita tahu lo diam-diam baru jadian. Ngaku aja

Lagi." Dua alis Hugo naik turun.

Bumi membuang nafas. Dia lupa mengaku punya pacar. "Kebetulan kamar mandi bawah lagi mepet, jadi dia pakai kamar mandi gue."

"Lo gak ada rencana kenalin ke kita?" Dua alis Alden naik.

"Nah iye tuh. Masa ke kita gak mau dikenalin Bum? Anak mana? Anak sekolah kita juga?"

"Pacar si Bumi pasti cantik sampai disembunyiin. Mana yang di post cuman tangan."

"Kenalin lah Bum. Ntar biar lo sama Alden ngedate bareng sama pacar kalian." Hugo merangkul Alden. "Gaskan dekatin Langit Bro.

Susul Bumi." Hugo menunjuk Bumi yang menatap malas.

***

Setelah kepergian ketiganya yang untung saja tidak sampai sore, Bumi lekas masuk ke rumah dan mengunci pintu. Dia kembali ke kamar dan menengok Langit yang ternyata masih tertidur pulas.

"Ini anak. Di kolong kasur malah tidur enak." Bumi mengulurkan tangannya dan menepuk pelan bahu Langit.

Bukannya bangun, gadis itu malah keenakan. "Munah bangun."

"Emm." Langit malah bergumam.

"Udah jam dua. Lo belum sholat."

"Emm."

Bumi memutar bola matanya. Kalau begini dia susah untuk membangunkan Langit. Bumi menatap ponselnya yang berada dekat samping langit.

Dia buka youtube dan menyalakan suara tawa hantu di film-film. Manjur juga karena Langit langsung membuka mata dengan shock hingga ketika mengangkat kepala malah membentur dipan.

"Aduh!" Langit meringis memegang kepalanya yang sangat sakit. Suara tawa Bumi yang mengelagar membuat Langit menoleh.

Bumi menghentikan audio hantu tersebut.

"Bumi!!"

Cowok itu cengcesan

"Makanya tidur itu jangan kayak kebo."

Langit mengembungkan pipinya kesal.

Dia lekas keluar karena merasa pegal. Sampai di luar, seraya mengelus kepalanya dia mengedarkan pandang ke seisi kamar. Tidak lagi menemukan teman-teman Bumi.

"Teman lo udah pada pulang?"

Bumi memberi anggukkan. Ia mendekat karena merasa kasian melihat Langit yang terus memegang kepala.

"Sakit banget ya?" Tangannya naik mengusap puncak kepala Langit.

"Iyalah sakit. Benjol nih kayaknya. Lo mah bangunin gue gak ada lembutnya."

"Lah lo dibangunin susah. Jangan nyalahin gue."

"Seenggaknya gak bikin gue kaget."

"Kalau gak gitu lo gak bangun ya Mun. Lagian lo belum sholat."

"Emangnya udah jam berapa?" Langit memutar matanya pada jam dinding. Matanya mrmbulat melihat waktu yang sudah menujukan pukul dua.

"Gue tidur 4 jam di kolong kasur?" tanyanya shock.

"Hm. Lo tadi dengkur. Hampir aja ketahuan."

"Ih gue gak pernah dengkur kok."

"Terus lo pikir tadi dengkuran siapa? Di sini lo aja yang tidur. Ya lo lah."

Langit mengerucutkan bibirnya kesal. "Gue gak sadar. Tapi mereka gak curiga kan?"

"Gue bilang penunggu kamar."

Plak!

Langit memukul lengan Bumi kesal. "Lo ngatain gue penunggu?"

"Cuman pengalihan Langit cantik. Sholat sana."

Dia menatap Bumi yang kini berdiri. "Bum?" Langit mengulurkan tangannya.

"Bantuin berdiri," rengeknya.

Dua alis Bumi naik. Pun begitu dia ulurkan tangan dan membantu Langit.

"Wudhu di bawah aja. Gue mau mandi."

"Ish gak mau. Males gue turun. Lo aja yang di bawah."

"Ck. Gue juga males turun. Lo aja."

"Gak. Pokoknya gue duluan."

Bumi mendengus. "Sana buruan wudhu."

"Iyaa paman. Kumpul nyawa dulu tahu."

Langit duduk di tepi kasur. Bukannya menggumpulkan nyawa, cewek itu malah kembali memejamkan mata dan menjatuhkan tubuh ke atas kasur.

Bumi melongo. "Woi Munah. Sholat!!"

"Hooh kumpul nyawa dulu."

"Ck." Karena sudah sangat terlambat sholat. Bumi menyelipkan tangannya di bawah lutut Langit dan leher cewek itu. Dia gendong Langit yang refleks membuka mata kaget.

"Buuumi turunin gue gaak!"

Bumi tidak menjawab. Dia membawa Langit ke kamar mandi walaupun tangan Langit terus memukul dadanya.

"lih gak usah gendong segala."

"Berisik lo!"

Bumi baru menurunkan di kamar mandi. Dia berkacak pinggang dan menunjuk kran dengan dagunya. "Wudhu cepat."

"Galak lo." Langit mencibir dan membuka dulu hijabnya. Ia serahkan hijab dan pentulnya sama Bumi. Begitu hijabnya lepas, rambutnya yang kali ini tidak diikat tergerai indah.

Bumi sampai tidak berkedip. Langit kalau gak pakai hijab kenapa malah bikin gagal fokus sih?

Langit yang hendak ambil wudhu, berbalik badan menyadari Bumi masih berdiri di posisinya.

"Lo ngapain masih di sini heh?"

Cowok itu tersentak dan mengerjap. Dia mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ikat

Rambut warna pink punya lo?" tanyanya mengalihkan.

"Oh iya. Mana deh? Tadi gue taruh di sini." Langit menujuk salah satu gantungan.

Bumi berdecak dan mengambil benda yang sempat dicurigai tadi di kantongnya. "Lain kali jangan taruh barang lo sembarang. Mereka bisa curiga."

"Heh lupa." Dia ambil ikat rambut itu dan mengikat rambutnya asal.

"Hehe lupa," Bumi meniru cara bicara Langit dan mencebik. "Buruan wudhu. Gue lihatin."

"Idih ngapain lo lihatin gue berwudhu segala?"

"Gue mau cek aja lo udah benar atau belum wudhunya."

"Udah benarlah!" Langit mendorong cowok itu segera keluar dari sana. Lalu menutup pintu keras. Bumi sampai terlonjak kaget.

"Pelan-pelan Munah."

"Bodo amat!"

Bumi menghela nafas. Ia taruh hijab Langit di atas kasur lalu mengambil handuknya sebelum turun ke bawah. Mau gak mau ya mandi di lantai satu.

***

"Buum. Gue enggak les aja ya hari ini. Sehari aja." Langit menyatukan tangannya di depan dada. Netranya menatap penuh permohonan Bumi yang berdiri di depan kaca tengah memakai jaketnya. Cowok itu beberapa menit lalu mengatakan akan mengantarnya ke tempat les.

"Gak!"

"Gue males les hari ini."

"Gak ada."

"Lo mah. "

"Cepat pakai jilbab. Lo bisa telat."

Langit yang rebahan di kasur Bumi menggeleng. Gak Ezhar atau Bumi sama-sama tegas. Padahal langit capek belajar. Apa salahnya kan sehari bolos?

"Gak mau. Gue mau rebahan." Langit mengambil selimut Bumi yang sudah dilipat rapi. Dia lalu menutup seluruh badannya kecuali kepala. "Gue beberapa minggu ini kerajinan. Bolos sekali gak apa deh."

Bumi menatap Langit dari balik kaca. "Lo mendadak lupa ambisi ngalahin gue?"

"Sehari bolos gak bikin bodoh kok."

Bumi berbalik badan dan berkacak pinggang. Wajah Langit memelas. "Ada tugas buat besok. Gue mau kerjain tugas aja."

"Bisa lo kerjain habis pulang les."

"Bakal capek."

"Kayaknyo lo dari tadi gak ngapa-ngapain."

"Pokoknya gue gak mau les."

Bumi mendekat. Langit was-was kalau Bumi sudah mendekat seperti ini. Dia sontak duduk. "Gimana kalau kita nonton bioskop?"

Senyumnya melengkung.

Dua alis Bumi naik.

"Ada film terbaru. sekalian ajak gue

Ngedate yuk. Katanya mau bikin cinta. Masa gak diajakin sih ngedate?"

"Malam minggu aja."

"Sekarang aja Buuumii!"

"Sekarang lo les." Bumi melirik jilbab Langit yang kini digantung gadis itu dekat lemarinya berserta dengan ciput. Dia ambil barang tersebut dan duduk di tepian kasur.

"Bum sehari doang kok. Ya ya ya?" Dia memberikan pupy eyes-nya. Mencoba membuat Bumi luluh.

"Gak ada sehari-sehari. Les tetap les."

Bumi memasangkan ciput hitam itu di kepala Langit dengan hati-hati. Tindakan Bumi malah membuat Langit membeku.

Cowok itu kemudian juga memakaikan jilbab pashmina berwarna moca. Entah belajar dari mana, Bumi bisa melakukan hal yang harusnya sulit dilakukan seorang laki-laki. Walaupun gerakan Bumi terkesan lama, tapi jantung Langit sudah berdebar.

"Kalau sakit bilang ya?" Bumi kini

Mengambil jarum dan mengaitkannya di bawah dagu Langit. Netra Langit sampai tidak beralih dari ekspresi serius Bumi.

"Gak kena tusuk kan?" Bumi menatap Langit yang telah menatapnya. Langit yang terciduk berdehem dan menggeleng.

"Enggak kok." Dia sampai lupa tadi lagi memelas biar tidak perlu pergi les.

Langit kira setelah itu selesai. Tapi tangan Bumi merapikan ujung hijabnya. Setelah itu ujung pashmina satunya disilangkan ke belakang. Sedang sisi satunya dia buat untuk menutupi dada.

"Kalau kena tusuk bilang," ujar Bumi lagi seraya memberikan pin di sisi kanan bahu Langit. Saat ini Langit dibuat takjub, hanya perlakuan kecil, tapi sangat manis.

"Udah. Sekarang lo bangun. Ambil tas, tadi lo taruh dimana?" Bumi berdiri kemudian. Dia sendiri lalu melipat kembali selimut. "Lo bawak buku kan?"

"Hehe gak." Langit nyengir.

Bumi berdecak. Setelah melipat selimut,

Dia mengambil bukunya dan menyerahkannya pada Langit. "Catat biar gak lupa."

"Iyaa."

"Tas lo mana?"

"Kamar Ibu."

"Buruan diambil."

"Lo gak berubah pikiran gitu?"

"Gak. Buruan Munaaah. Gue traktir jajan sepuasnya besok pulang sekolah, Deal? "

Bola mata Langit langsung berbinar senang. "Beneran ya? Janji?"

"Janji."

Senyumnya melengkung lebar. "Deal kalau gitu!" Langit berdiri semangat dan langsung berlari ke kamar Ibu. Melihat hal itu Bumi geleng-geleng kepala.

Langit memang bocil yang harus dibujuk.

Di kamar Ibu. Langit tidak langsung ambil tasnya. Dia mematut dirinya di depan cermin dengan senyum melengkung. Tangannya naik menyentuh pashmina yang melekat di

Kepalanya.

Entah kenapa perasaannya senang saja.

Dia sampai tidak mau mengubah gaya hijabnya saat ini. Langit menangkup pipinya dengan rona malu.

"Gue baru sadar Bumi manis banget."

***

"Langit!"

Langit menghentikan langkahnya kala suara Biru masuk ke indra pendengarannya. Cowok yang memakai baju koko, sarung lengkap dengan peci itu berdiri dekat pagar. Menatapnya.

Melihat Albiru, Langit sontak berlari masuk ke rumah. Tentu saja menjadi tanda tanya bagi Albiru. Dia jelas merasakan beberapa minggu terakhir ini sikap Langit aneh.

Cewek yang tiap pagi atau sore itu suka menggodanya baik mau berangkat atau pulang kerja, kini tidak pernah ada lagi. Langit juga tidak lagi mengirimkannya spam chat. Hal yang membuat dia bertanya-tanya.

Dipanggil seperti itu harusnya Langit kegirangan. Tapi ini malah berlari masuk. Biru menghela nafas. "Padahal mau kasih titipan ibu," gumamnya.

Hanum benar-benar bercerita perihal langit pada Ibu. Biru sudah bilang apa yang Hanum ceritakan tidak benar. Tapi Ibu lebih percaya Hanum ketimbang dirinya. Selepas ashar Ibu menyuruhnya datang untuk memberikan sesuatu pada Langit.

Albiru tidak bisa menolak karena Ibu pakai mengancamnya segala. Mau tidak mau dia menerima dan berniat menyerahkannya pada Langit. Tapi cewek yang baru pulang itu malah kabur.

Langit menutup pintu dan mengintip Biru dari jendela. Ia memperhatikan dokter muda yang tengah melihat ke rumahnya. Netra langit memandangi wajah tampan Albiru dengan helaan nafas.

"Maaf kak Biru."

***

Bina

[Bina? Lo beneran masih diemin gue nih?]

[Bin gue gak ada hubungan apapun sama Alden]

[Bina jangan gini dong]

[Bin?]

Langit menghela nafas. Chatt-nya hanya dibaca tanpa ada niatan dibalas. Dia menaruh ponselnya di atas buku yang tengah terbuka. Langit sedang buat tugas untuk besok, tapi dia pilih jeda karena mengantuk.

Ting!

Dia mengambil ponselnya kembali. Tapi nama calon suami yang muncul. Langit meringis, dia lupa ganti nama kontak Albiru di ponselnya.

Calon suami

[Assalamu'alaikum. Langit?]

[Wa'alaikumsalam]

[Bisa ke luar rumah sebentar. Saya ingin memberikan sesuatu]

Langit mengerjap. Eh?

[Tidak lama. Tidak perlu juga keluar pagar. Dari samping saja]

Langit bingung. Dia baca saja chat tersebut.

[Ada sesuatu dari Ibu. Makanan. Saya khawatir besok pagi tidak enak lagi dimakan]

Aduh dia mesti gimana? Posisinya sudah tidak bisa seperti dulu lagi.

[Ini amanah Ibu. Saya tunggu sampai kamu keluar ya?]

Langit merebahkan kepalanya di atas meja belajar menatap kalimat terakhir Biru. "Kak Biru kenapa gini sih? Langit tuh lagi move on tahu!" omelnya pada ponsel tersebut. Menganggap itu Biru.

"Kak Biru telat. Telat banget. Gak ada artinya lagi sekarang. Pokoknya Langit gak akan keluar. Langit udah bertekad move on."

"Tapi ditungguin sampai keluar. Mana dari Ibu kak Biru. Gimana dong." Langit jadi goyah. Dia mengehembuskan nafas berat.

Eh tunggu!

Langit punya ide.

Dia menegakkan kepalanya lalu meninggalkan ponselnya di sana. Langit melangkah ke kamar Gara. Adiknya. Minta bantuan Gara saja. Apa gunanya punya adik?

Langit sama sekali tidak mengetuk pintu.

Dia langsung buka dan tersenyum lebar.

"Garaa. Adek kakak paling ganteng walaupun dinginnya kayak balok es!" sapanya semangat.

Gara yang tengah santai di atas kasur menoleh dengan ekspresi dingin.

"Gara makin cakep aja kak Langit lihat. Kak Langit kangen tahu." Langit hendak masuk, tapi Gara keburu berdiri dan mendoronnya.

"Garaaa kaka mau minta tolong."

"Gak. Kak langit kalau minta tolong sering aneh. Gara gak mau kena hukum."

"Ih Kak Langit tuh cuma-"

BRUK!

Pintu ditutup begitu saja tanpa dia bisa menyelesaikan ucapannya. Langit sampai terlonjak kaget dan mengelus dada.

"Dasar adek durhaka!"

"Bodo amat!"

Langit mengerucutkan bibirnya. Dia berbalik badan. "Aduh gimana dong ini."

Tatapannya beralih ke kamar Gea. Sebelahan sama Gara. Dia lekas membuka pintu Gea. Sedihnya Gea sudah terlelap di atas meja belajarnya.

Mana gak tega.

Langit menutup kembali pintu kamar Gea dan berbalik lesu ke kamarnya. Dia juga tidak tega kalau Biru nungguin.

Apa dia keluar saja dan terima? Hanya terima terus masuk ke rumah. Gak usah tatap mata Biru. Gak usah ngobrol.

Langit menjentikkan jarinya. Dia melirik waktu yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Langit memakai jilbab bergonya dan keluar.

Benar saja. Biru tengah berdiri nyadar ke dinding pembatas rumah mereka seraya memainkan ponsel. Langit membasahi bibirnya lalu baru berjalan mendekat.

Biru seakan tahu dia datang. Cowok itu langsung menoleh dan berbalik badan. Langit buru-buru menunduk.

"Langit gak bisa lama kak Biru." Tangannya mengadah.

Biru menatap tangan Langit lalu sesaat dan mata yang enggan menatap. "Apa Hanum bicara hal aneh saat itu?"

"Enggak kok."

Sebelah alis Biru naik. "Ada apa dengan kamu?"

"Eh emangnya Langit kenapa?"

Biru tidak memberi jawaban. Dia hanya terus memperhatikan Langit yang terus menunduk. Sedangkan Langit yang heran karena tidak lagi ada jawaban mendongakkan kepalanya. Namun netra mereka malah bersitatap sesaat.

Deg deg deg

Langit lekas natap mobil Biru di belakang cowok itu yang tengah parkir. "Kak Biru, apa jadi? Kalau gak Langit masuk aja ya?"

Dia gak bisa berlama bersama Biru.

Albiru jelas tahu Langit menghindarinya. Berbagai prasangka muncul. Tapi dia tidak tahu jawaban pastinya. Perubahan sikap Langit jelas membuatnya merasa ada yang hilang.

"Saya minta maaf jika buat kesalahan."

Langit sontak menatap mata Biru dengan gelengan. "Enggak kok. Kak Biru gak punya salah. Em Kak Biru jadi gak? Kata Papa gak boleh berduaan sama lawan jenis." Langit beralibi.

Biru mengernyit. Dia tahu sejak dulu Langit tidak peduli hal itu. Gadis itu terus saja mencari dan menggodanya selagi ada kesempatan. Walaupun begitu, dia lalu menyerahkan sebuah plastik putih berisi makanan ke tangan Langit.

"Tolong bilang Ibu Kak Langit makasih.

Langit masuk dulu. Assalamu'alaikum." Tidak menunggu respon. Langit berbalik badan dan masuk ke rumahnya. Meninggalkan Biru yang terus bertanya. Ada apa dengan Langit?

1
Sitilestari Ikhsan
kpn up ni lama
Akira Kun: kalau sudah update, berarti besok GK akan update lagi tunggu besok selanjut baru update, karena kurang peminat ya,
total 1 replies
Akira Kun
kalau seru jangan lupa like, ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!