NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesedihan Dan Kekhawatiran Para Kakak

Suasana di dalam mobil terasa begitu hening. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan dan napas berat dari mereka semua.

Chandra memeluk erat tubuh Judika yang masih terbaring tak sadarkan diri di pangkuannya. Wajah tampan adiknya terlihat memar dan noda darah kering di sudut bibirnya, dan kulitnya terasa sangat dingin, namun keningnya berkeringat dingin dengan banyak.

Setiap kali kendaraan berguncang sedikit saja, hati Chandra ikut bergetar hebat. Rasa takut kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya menyiksa batinnya sepenuhnya. Dia tidak ingin berpisah lagi dengan adiknya.

"Kuatkan dirimu, Dika. Bertahanlah sedikit lagi. Kakak mohon jangan tinggalkan kakak," bisik Chandra dengan suara yang parau dan bergetar.

Air mata Chandra menetes deras jatuh membasahi wajah dan pakaian adiknya. Dia mengelus pipi Judika berulang kali dengan gerakan yang sangat hati-hati dan lembut, seolah takut sentuhan kasar sedikit saja akan menambah rasa sakit di tubuh adiknya.

Di kursi pengemudi, Arjuna menyetir kendaraannya dengan kecepatan maksimal namun tetap berusaha menjaga kestabilan mobil agar tidak menggoncangkan tubuh Judika terlalu keras.

Wajah Arjuna terlihat sangat tegang. Rahangnya mengeras, dan keringat dingin membanjiri pelipisnya. Di sebelahnya, Hendy duduk diam sambil menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, sesekali dia mengusap air mata yang menetes di sudut matanya.

Sementara mobil milik Chandra dikendarai oleh Yongki. Dia bersama Nathan, Jericko dan Tamma. Mereka sama seperti Arjuna dan Hendy yang tak kuasa menahan rasa sedih dan khawatir mereka. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati semoga Judika selamat dan baik-baik saja. Mereka berada di belakang mobil Arjuna.

"Kita akan sampai sebentar lagi, Chan! Bertahanlah! Judika pasti kuat. Dia pasti bisa melewati ini semua," ucap Arjuna berusaha menenangkan diri dan juga Chandra, meski suaranya terdengar sangat gontai.

"Kenapa harus dia, Juna? Kenapa harus Judika yang menanggung semua ini? Dia tidak tahu apa-apa, dia tidak bersalah sama sekali. Kenapa nasibnya harus seberat ini?" tangis Chandra.

Chandra memeluk tubuh adiknya semakin erat seolah takut adiknya akan hilang begitu saja dari pelukannya.

"Semua ini salahku. Semua kesalahan ada padaku. Seharusnya aku tidak membiarkan dia pergi sendirian. Seharusnya aku lebih cepat datang ke sana. Seandainya aku bisa melindunginya lebih baik lagi, dia tidak akan terluka seperti ini."

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Chan. Kita semua sama-sama bersalah karena lengah. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan diri sendiri. Yang paling penting sekarang adalah keselamatan Judika," sahut Hendy dengan suara berat namun tegas.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat panjang dan menyiksa bagi mereka. Detik demi detik berlalu terasa seperti berjam-jam. Di dalam keheningan itu, bayangan kata-kata jahat Jodha kembali terlintas di benak Chandra. Rasa marah dan benci meluap-luap di dadanya, namun rasa khawatir pada keadaan adiknya jauh lebih besar dan menyakitkan.

***

Akhirnya mobil melaju kencang masuk ke halaman rumah sakit dan berhenti tepat di depan pintu masuk UGD. Belum sempat mobil berhenti sempurna, Chandra sudah membuka pintu dan berlari keluar sambil menggendong tubuh adiknya yang masih lemas dan tak sadarkan diri.

Arjuna, Yongki, Hendy, Nathan, Jericko dan Tamma langsung menyusul di belakangnya dengan langkah tergesa-gesa.

"Tolong! Tolong adik saya! Tolong dia!" teriak Chandra dengan suara parau begitu dia masuk ke lobi rumah sakit.

Beberapa perawat dan dokter yang sedang bertugas langsung bergegas mendatangi mereka. Melihat kondisi Judika yang mengalami luka di pinggangnya akibat goresan benda tajam saat pertarungan beberapa menit yang lalu, terlihat pakaiannya yang berlumuran darah.

Saat pertarungan melawan orang-orangnya Jodha. Judika tidak menyadari bahwa pinggangnya terluka. Saat itu dia hanya fokus pada musuh-musuhnya yang membabi buta menyerangnya. Beberapa kali mendapatkan tendangan di perutnya dan wajahnya.

Dokter dan beberapa perawat tersebut segera mendorong brankar dan membantu Chandra membaringkan tubuh Judika di atasnya.

"Mohon tolong dia, Dok! Tolong adik saya, dia dipukuli dan dipukuli oleh banyak orang. Dia juga mengalami luka di pinggangnya sehingga membuat dia tidak sadarkan diri," ucap Chandra dengan tatapan khawatirnya sambil masih menggenggam tangan adiknya erat-erat, tidak ingin melepaskannya.

"Tenanglah, Tuan! Kami akan melakukan yang terbaik. Mohon Anda menunggu di luar ruangan perawatan sekarang juga," ucap dokter itu mencoba menenangkan sambil bergegas mendorong brankar masuk ke ruang gawat darurat.

"Tidak! Saya mau ikut! Saya mau tetap di sini bersamanya!" tolak Chandra dengan keras. Air matanya kembali mengalir deras.

Arjuna segera menahan tubuh kakak dari sahabatnya sekaligus adiknya itu, memeluk bahu Chandra yang bergetar hebat menahan tangis.

"Kumohon, Chan. Biarkan mereka bekerja. Judika butuh penanganan cepat. Kita tunggu di luar, ya? Kita tunggu sampai dia keluar," bujuk Arjuna lembut sambil menuntun Chandra yang limbung mundur menuju bangku tunggu.

Pintu ruang perawatan akhirnya tertutup rapat, memisahkan mereka dari Judika.

Tubuh Chandra seketika merosot jatuh terduduk di bangku panjang itu, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis sejadi-jadinya. Rasa takut, rasa bersalah, dan rasa sedih bercampur menjadi satu, menghancurkan pertahanan dirinya sepenuhnya.

"Maafkan kakak, Dika. Maafkan kakak," isaknya lirih.

Arjuna dan Yongki duduk di sampingnya, menepuk-nepuk punggung Chandra pelan sebagai tanda dukungan, namun mereka sendiri pun tidak sanggup menahan air mata yang terus menetes dari mata mereka. Bahu Arjuna ikut bergetar setiap kali mendengar isak tangis Chandra.

Sementara Yongki sesekali mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan, berusaha terlihat tegar padahal hatinya sedang hancur berkeping-keping melihat penderitaan Chandra.

"Sudah, Chan. Jangan menyalahkan dirimu terus-menerus," ucap Arjuna dengan suara parau dan terdengar serak berat. Tangannya semakin erat merangkul bahu Chandra, menariknya agar bersandar padanya seolah ingin berbagi beban berat yang dipikul pemuda itu.

"Kau sudah berusaha sekuat tenaga melindunginya. Kami semua melihatnya. Tidak ada yang bisa menyalahkanmu atas kejadian ini, apalagi dirimu sendiri."

Yongki mengangguk pelan, menatap lantai dengan pandangan yang kosong namun penuh emosi yang tertahan. Dia menghela napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya yang ingin pecah.

"Arjuna benar. Ini semua murni kejahatan orang-orang biadab itu. Mereka yang salah, bukan kau," sahut Yongki pelan namun tegas, jari-jarinya menggenggam lengan Chandra dengan erat seolah ingin menyalurkan kekuatan.

"Judika anak yang kuat. Dia pasti bisa bertahan. Dia pasti bisa melewati ini. Dia tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja, apalagi saat kau sedang menunggunya di sini."

Di sisi lain, Hendy, Nathan, Jericko dan Tamma berdiri tidak jauh dari situ menatap pintu tertutup itu dengan pandangan tajam namun penuh kekhawatiran. Tangannya mengepal erat menahan amarah yang meluap terhadap pelaku perbuatan kejam ini. Nafas mereka terasa berat dan panas, terbungkus dalam keheningan yang mencekam. Setiap kali terbayang di kepala mereka bagaimana kondisi Judika yang mengalami luka di pinggangnya dan memar di wajahnya, rasa benci itu semakin menyala hebat di dada.

"Sungguh aku tidak habis pikir," ucap Hendy dengan suara rendah dan bergetar, matanya masih terpaku pada pintu ruang gawat darurat yang masih tertutup rapat. Rahangnya mengeras, menahan emosi yang hampir meledak. "Bagaimana bisa ada manusia yang sekejam itu? Mengeroyok beramai-ramai, menyerang secara curang."

Nathan mengangguk pelan, kuku jarinya hampir menancap ke telapak tangannya sendiri karena begitu kuat mengepal. Dia menghela napas kasar, berusaha menahan kemarahan yang membuatnya ingin berteriak.

"Mereka pikir apa yang mereka lakukan itu hebat? Tidak. Mereka hanya sekumpulan pengecut yang tidak punya harga diri," desis

Nathan dengan nada dingin yang jarang terdengar darinya. Matanya menatap nanar ke arah pintu itu, seolah bisa melihat keadaan Jungkook di baliknya.

"Tunggu saja. Hukum pasti akan membalas perbuatan mereka. Apa yang mereka tanam, itulah yang akan mereka tuai. Aku pastikan itu."

Jericko dan Tamma yang berdiri di samping mereka hanya diam, namun air mata tak henti mengalir di pipi mereka. Tangan Jericko mencengkeram ujung bajunya sendiri dengan kuat. Sementara Tamma menggigit bibir bawahnya menahan tangis agar tidak semakin pecah.

"Judika, sahabat sekaligus adik baik kami. Dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Dia selalu lembut pada semua orang," lirih Tamma, suaranya terdengar sangat pilu dan menyedihkan. "Kenapa harus dia yang menanggung rasa sakit ini? Kenapa dunia ini begitu kejam padanya? Padahal dia baru saja mau membuka hatinya sedikit lagi untuk kak Chandra."

"Tenanglah, Tamma, Jer." Hendy berucap pelan. Dia memalingkan wajah sejenak untuk menatap kedua sahabat sekaligus adiknya itu, lalu kembali menatap pintu ruangan. "Kejahatan tidak akan pernah menang atas kebaikan. Judika pasti baik-baik saja. Dan setelah ini, kita tidak akan membiarkan siapa pun lagi yang berani menyakiti dia atau kak Chandra. Tidak akan ada lagi."

1
sri wahyu
kecewanya judika nembus sini kak ikut nangis aq
whiteblack✴️
itu semua kesalahan kalian...bukan salah dika kalau kembali kesifat aslinya..sie Tamma sialan tuw biang kerooknya...masalah itu terjadi..
whiteblack✴️
mau kulempar nie....l
makanya Musuh tuw harus diselesaikan sebelum dika masuk ke dunia kalian..
whiteblack✴️
keluarkan semua dika...
whiteblack✴️
baru sadar..../Angry/....setela Dika terluka.......Telat....bake.../Speechless/
sri wahyu
semoga saja setelah masuk penjara jodha bisa sadar
whiteblack✴️
tenyata dari kalian yg bikin Masalah permusuhan...itu terjadi...kenapa enggak di akhiri...?? sebelum Dika masuk ke dunia kalian😤
whiteblack✴️
jadi sie Chan itu awalnya jadi Anak nakal + urakan
whiteblack✴️
karna sie jodha.. tidak punya rasa kehilangan darah saudara 😤 jadi seperti itu..ego abisinya menang
whiteblack✴️
sepertinya sie jodha..punya abisi tersembunyi...apa itu??🤔 orangnya seperti apa sie gampang tersulut emosi?
sri wahyu
itu bukan salah candra tp itu salah kamu sendiri yg iri dan benci pada mereka karna takut candra akan lebih sayang sama judika

atau kamu mau menutup mata kalau judika itu adik kandungnya candra
whiteblack✴️
sie Jodha itu enggak tau ya kalau Dika dan Chan itu Adik - Kakak ya🤔
whiteblack✴️: iya kak aku tau...keberaniannya Tamma itu cuma setengahnya apa lagi sie Jodha gampang emosian😤...apa lagi Chan kebawa" jadi masalahnya semakin rumit😤
total 4 replies
Himme
Aku hanya berharap masalah Judika dan Chandra sampai disini. Tolong lah damaikan adik-kakak satu itu. Yah walaupun Judika bukan orang yang mudah percaya dengan bualan tidak berguna dari orang yang tidak dikenal nya.
sri wahyu
semoga saja judika gk sampai parah
whiteblack✴️
hemmm...terjadi lagi seperti ini..hubungan kakak & Adik aja belum berdamai..😤...Chan kasih pelajaran tuw ke🤬 dia biar kapok😒
Himme
Lagian ngapain sih Jodha.. dari segala makluk bumi yang ada di dunia harus Judika yang lo incar. Kan lo nggak pernah ngerasain diposisi Chandra dan Judika. Lo marah? Dendam? seharusnya kau paham kerumitan hubungan mereka dari awal bertemu. Sumpah sakit hati banget lihat kelakuan Jodha. sahabat menjadi musuh dan mengadukan hubungan kakak adik dalam kelompok kalian.
Himme
Kan.. ku bilang juga apa/Grievance/ dianya tumbang/Speechless/
Himme
Nahan emosi itu nggak enak banget sumpah..💢 Aing rasanya emosi banget ya lord/Panic/
Himme
Cepet tolong adik kaulah.. Ntar dia tumbang lagi.
whiteblack✴️
kulihat Dika penuh Teka- teki...sifatnya... berubah- ubah...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!