Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Baikan
Beberapa waktu kemudian di sebuah ruang periksa dokter kandungan, rumah sakit besar di kota itu.
"Tidak apa-apa, Pak, Bu. Ini bukan masalah serius. Ini reaksi wajar kandungan ketika ibu merasa stress atau emosi," ucap seorang dokter wanita itu seraya menutup perut Alina menggunakan kaos biru dongker yang wanita hamil itu kenakan.
Sang dokter mengangkat tangannya rendah. Mempersilahkan sepasang pria wanita itu untuk kembali duduk di meja sang dokter. Vincent pun membantu Alina turun dari ranjang.
"Apa perlu rawat inap, Dok?" tanya Vincent seraya menarik satu kursi di sana.
Sang dokter terkekeh. "Tidak perlu, Pak.."
Wanita berusia kurang lebih empat puluh tahunan itu lantas menatap sepasang pria wanita di hadapannya itu secara bergantian.
"Kalian pasangan baru? Ini anak pertama?" tanyanya.
Alina dan Vincent tak langsung menjawab. Keduanya saling pandang sebelum akhirnya mengangguk ragu secara bersamaan.
Sang dokter tersenyum. "Pantas kalau begitu," ucapnya.
"Jadi begini. Yang namanya orang hamil, itu memang lebih sensitif. Antara hati dan fisik itu saling berkesinambungan."
"Ibu hamil itu bukan hanya harus menjaga fisiknya saja. Tapi juga menjaga hati dan perasaannya. Ibu hamil tidak boleh stress. Harus menjaga emosi. Harus bahagia. Karena ibu hamil yang stres bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungannya. Contoh yang paling gampang adalah seperti yang baru saja terjadi. Tiba-tiba perut bisa kram. Atau yang paling buruk bisa meningkatkan resiko keguguran atau bayi lahir prematur. Itu sangat tidak baik."
"Ibu hamil itu bukan cuma butuh vitamin. Ibu hamil itu juga butuh istirahat cukup, suasana hati yang tenang, bahagia, serta olah raga yang cukup."
"Olah raga yang paling basic jalan kaki di pagi hari. Bisa juga dengan senam ibu hamil dan sebagainya saat usia kandungannya sudah cukup."
"Jadi saran saya, dijaga ya, Bu, pikirannya. Jangan terlalu banyak pikiran. Jangan sering-sering emosi. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Dan yang paling penting, olah raga. Karena kalau dilihat lihat fisik ibu juga kurang fit disini."
Si dokter kemudian menatap Vincent. "Begitu juga Bapak. Dijaga baik-baik istri dan calon anaknya. Sering-sering ajak ngobrol. Kasih perhatian lebih. Sering lakukan kontak fisik dengan Ibu dan janinnya. Sering-sering ajak ber hu bu ngan asal pelan-pelan. Itu juga perlu."
Alina menelan ludahnya kasar. Ia melirik ke arah Vincent yang nampak tersenyum canggung.
"Sering-sering ajak jalan-jalan kalau pagi. Karena kalau saya lihat, kandungan Ibu tidak terlalu kuat. Ibu juga kurang bugar sebagai ibu hamil. Sepertinya Ibu juga kurang bergerak. Jadi harus didampingi ya, Pak. Usahakan selalu rutin olah raga. Karena itu juga sangat penting untuk ibu hamil."
Lagi lagi, Vincent hanya mengangguk.
"Anak itu bukan hanya titipan. Tapi juga pengikat cinta ibu dan ayahnya. Menjaga bayi itu bukan cuma tugas istri, tapi juga tugas suami. Semakin erat hubungan antara suami dan istri, maka semakin sehat dan bahagia pula anak dalam kandungan istri. Jadi, sebagai calon orang tua. Perbanyak komunikasi dan hindari hal-hal yang sekiranya mengganggu tumbuh kembang si kecil, ya."
Alina dan Vincent mengangguk lagi. Laki-laki itu terlihat diam. Dalam hati ia sadar diri. Wajar jika Alina disebut kurang gerak, kurang fit, mudah stress, emosi, dan lainnya. Lantaran wanita itu memang tak pernah. Tak pernah diajak olah raga. Jarang terkena sinar matahari lantaran tiap harinya selalu dikurung di apartemen. Ah, Vincent jadi merasa bersalah.
Si dokter pun tersenyum melihat sepasang suami istri itu (dikiranya si dokter🤭)
"Ya, sudah. Ini saya kasih beberapa vitamin. Jangan lupa diminum, istirahat cukup, jangan stres, dan jangan lupa tetep olah raga, ya, Pak, Bu," ucap sang dokter.
"Iya, Dok," jawab Alina. Sepasang anak manusia itupun lantas pergi meninggalkan ruangan dokter setelah mendapatkan nasehat dan ceramah panjang lebar.
Sepanjang perjalanan dari ruangan dokter hingga lobby rumah sakit, baik Vincent maupun Alina hanya diam tanpa bicara. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Vincent sibuk memikirkan ucapan si dokter yang sudah memberinya wejangan panjang lebar. Apa mungkin selama ini ia terlalu over protective pada Alina hingga berdampak pada kandungannya.
Sedangkan Alina sibuk memikirkan mau kemana ia setelah ini. Ia sudah terlanjur marah-marah pada Vincent sampai-sampai memilih mi ng gat. Tapi belum sempat ia meninggalkan apartemen, perutnya sudah sakit.
Alina menghela nafas panjang. Setitik penyesalan muncul dalam dirinya akibat ucapannya pada Vincent pagi tadi. Sekarang ia bingung mau kemana. Sedangkan Vincent sejak tadi hanya diam tanpa membujuk dirinya agar kembali pulang.
Keduanya telah tiba di depan pintu masuk rumah sakit itu. Sepasang anak manusia itu nampak menghentikan langkah kakinya bersamaan tanpa aba-aba.
Alina celingukan. Ia tak tahu harus bagaimana. Sedangkan Vincent, laki laki itu nampak memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. Ia menghela nafas panjang, lalu menoleh ke arah Alina yang sejak tadi hanya diam.
"Kita kembali ke apartemen! Aku harap kau mau mengurungkan niatmu pergi dari apartemenku," ucap Vincent.
"Kita punya bayi yang harus kita jaga!"
Alina tak menjawab. Ia nampak menunduk sembari menghela nafas panjang.
"Iya. Aku salah. Aku minta maaf atas ucapanku pagi tadi. Mungkin aku terlalu emosi karena terlalu khawatir padamu dan bayi kita."
Vincent mengulurkan tangannya. "Maaf," ucapnya.
Alina menoleh. Ia diam menatap tangan itu, lalu mendongak menatap Vincent yang menanti jabatan tangannya.
Alina tersenyum simpul, lalu menyambut uluran tangan itu.
"Kita baikan sekarang?" tanya Vincent.
Alina terkekeh. "Memang kita pernah berantem?"
"Pagi tadi?"
Alina hanya terkekeh. "Asal jangan begitu lagi," ucapnya.
Vincent hanya mengulum senyum tipis lalu mengangguk.
"Baiklah! Mulai sekarang kita berteman. Kita perbaiki komunikasi kita demi calon penerus kita. Okey?"
Alina mengulum senyum lagi, lalu mengangguk.
"Good!" Keduanya menarik tangan masing-masing.
"Ini sudah siang. Kamu mau ikut aku cari makan? Kita makan di luar!" ajak Vincent.
Alina nampak berfikir sejenak, lalu mengangguk lagi. Keduanya pun lantas pergi meninggalkan tempat tersebut untuk mencari makan siang.
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/