Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Ratu di Atas Papan Catur Global
New York tidak pernah tidur, dan malam ini, kota itu seolah menahan napas menyambut kedatangan sang badai.
Dari jendela lantai teratas The Plaza Hotel, Elena menatap kerumunan lampu di Times Square.
Di tangannya bukan lagi gelas sampanye, melainkan sebuah tablet yang menampilkan grafik pergerakan saham real-time yang sedang kacau balau.
"Tiga menit menuju pembukaan pasar London," suara Julian terdengar dari balik laptopnya. Ia tidak lagi terlihat seperti pelukis kumal; kini ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, memperlihatkan tato angka romantis yang rumit di pergelangan tangannya.
"Kalau kau menekan tombol itu, Elena, kau bukan cuma menghancurkan sisa-sisa The Obsidian, tapi kau juga bakal bikin guncangan yang bikin Wall Street sakit kepala."
Elena berbalik, senyum miring tersungkur di wajahnya yang kini sudah pulih total dari luka di Alpen.
"Biarkan mereka sakit kepala. Dunia butuh pengingat bahwa uang bukan cuma soal angka, tapi soal siapa yang punya nyali paling besar."
Rencana Elena sederhana namun mematikan.
Dengan data dari hard drive yang ia curi, ia mengetahui bahwa The Obsidian mencuci uang mereka melalui sebuah bank investasi raksasa di New York bernama Everest Capital.
"Paman Han, apa semua sudah di posisi?" tanya Elena melalui telepon satelit.
"Sudah, Nona. Tim hukum kita sudah berada di depan kantor Kejaksaan Agung New York dengan sepuluh koper bukti fisik. Begitu Anda memberikan sinyal, 'bom' informasi ini akan meledak di seluruh meja redaksi berita internasional," jawab Paman Han dari markas sementara mereka di Brooklyn.
Elena menatap Julian. "Lakukan."
Julian menekan satu tombol Enter.
Detik itu juga, jutaan dokumen rahasia tentang transaksi gelap, suap politik, dan perintah pembunuhan yang dilakukan oleh The Obsidian selama tiga dekade terakhir terunggah ke internet secara anonim.
Dalam hitungan menit, layar televisi di seluruh dunia berubah.
Breaking News muncul di mana-mana. Saham Everest Capital anjlok hingga titik nadir dalam hitungan detik.
"Gila..." gumam Julian sambil melihat layar.
"Kau baru saja membakar uang senilai lima puluh miliar dolar dalam satu tarikan napas."
"Uang itu milik ibuku, dan milik ribuan orang yang mereka peras," sahut Elena dingin.
"Aku tidak sedang membakar uang, Julian. Aku sedang membersihkan noda."
Pintu kamar penthouse Elena terbuka dengan kasar.
Empat pria berpakaian bodyguard masuk, namun mereka segera berhenti saat melihat moncong senjata Paman Han dan tim keamanannya sudah menunggu di balik pilar.
Di belakang para pengawal itu, muncul seorang pria tua yang sangat berwibawa, mengenakan setelan jas buatan penjahit terbaik di London.
Inilah Arthur Stirling, anggota dewan The Obsidian yang paling senior—satu-satunya yang selamat dari ledakan di Alpen karena dia tidak hadir di sana.
"Kau punya nyali yang luar biasa, Nak," ujar Arthur dengan suara tenang yang berwibawa.
"Kau menghancurkan infrastruktur yang kami bangun selama seratus tahun hanya dalam satu malam."
Elena tidak berdiri dari kursinya. Ia justru menuangkan teh hangat ke cangkirnya.
"Dunia berubah, Arthur. Seratus tahun yang lalu kalian mungkin bisa bersembunyi di balik jubah. Sekarang? Kalian cuma sekumpulan orang tua yang gagal paham cara kerja internet."
Arthur mendekat, mengabaikan senjata yang mengarah padanya.
"Kau pikir kau menang? Dengan menyebarkan data itu, kau juga mengungkap keterlibatan ibumu, Sarah. Kau baru saja menghancurkan nama baik wanita yang kau perjuangkan."
Elena tertawa kecil, suara tawa yang membuat Arthur sedikit merinding.
"Kau salah. Aku sudah memilah datanya. Semua keterlibatan ibuku sudah kuhapus dari salinan yang kusebar. Di mata dunia, Sarah Adiguna adalah korban penculikan korporasi yang heroik. Sedangkan kalian? Kalian adalah monster yang akhirnya tertangkap kamera."
Wajah Arthur mengeras. "Apa maumu, Elena? Uang? Takhta? Kami bisa memberimu posisi di dewan yang baru."
"Aku tidak mau posisi di meja kalian yang busuk itu," Elena berdiri, melangkah mendekat hingga ia hanya berjarak satu meter dari Arthur.
"Aku ingin kalian semua masuk penjara, dan aku ingin gedung ini, bank kalian, dan semua aset kalian... dilelang. Dan coba tebak siapa yang akan membelinya dengan harga murah?"
Arthur terbelalak. "Kau... kau sengaja menjatuhkan harganya supaya kau bisa membelinya?"
"Itulah cara kerja bisnis, kan? Beli saat jatuh, kuasai saat semua orang panik," Elena berbisik tepat di telinga Arthur.
"Sekarang, pergilah. Polisi Federal sudah ada di lobi hotel ini untuk menjemputmu atas tuduhan pendanaan terorisme global."
Setelah Arthur diseret keluar dengan tangan terborgol, suasana di penthouse mendadak sunyi.
Julian menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau benar-benar monster yang cantik, Elena," ujar Julian.
"Aku belajar dari yang terbaik," jawab Elena sambil menatap matahari terbit di ufuk timur Manhattan.
"Julian, terima kasih. Tapi perjalanan kita sampai di sini."
Julian mengernyit. "Maksudmu?"
"Kau bebas. Aku sudah menghapus semua catatan kriminalmu dari database mereka. Kau bisa kembali melukis, atau melakukan apa pun yang kau mau. Tapi jangan pernah muncul lagi di hadapanku sebagai mata-mata atau musuh. Karena lain kali, aku tidak akan sesabar ini."
Julian terdiam lama, lalu ia tersenyum pahit. Ia mengambil jaketnya.
"Kau tahu? Aku mungkin akan merindukan cara kau mengancam orang. Selamat tinggal, Elena. Semoga kau menemukan apa yang kau cari di puncak sana."
Julian pergi, meninggalkan Elena sendirian bersama Paman Han yang masuk dengan membawa berkas baru.
"Semua sudah selesai, Nona. Keluarga Adiguna di Jakarta sudah resmi jatuh miskin. Siska dipindahkan ke penjara dengan keamanan maksimum. Dan aset Everest Capital sudah mulai masuk ke bawah bendera Sarah Foundation."
Elena mengangguk. Ia melepas gelang berliannya dan meletakkannya di atas meja.
Rasa lelah yang luar biasa menghantamnya, namun itu adalah lelah yang memuaskan.
"Paman, aku ingin pulang," ucap Elena pelan.
"Ke Jakarta, Nona?"
"Bukan. Aku ingin ke sebuah pulau kecil yang tidak ada di peta. Aku ingin menjadi Alana untuk sebentar saja... tanpa ada yang mencoba membunuhku."
Paman Han tersenyum tulus. "Baik, Nona. Pesawat sudah siap."
Enam bulan kemudian.
Di sebuah pantai tersembunyi di Indonesia, seorang wanita dengan pakaian santai dan topi lebar sedang duduk di atas pasir, menggambar sesuatu di buku sketsanya.
Tidak ada kamera, tidak ada pengawal yang terlihat (meskipun Paman Han sebenarnya ada di rumah pohon tidak jauh dari sana), dan tidak ada grafik saham.
Seorang anak kecil berlari melewatinya, menabrak kakinya dengan tawa riang.
Wanita itu tersenyum—sebuah senyum yang benar-benar sampai ke matanya.
Ia bukan lagi "Nyonya yang Terbuang". Ia bukan lagi "Elena si Penakluk".
Ia adalah seorang wanita yang akhirnya menemukan kembali jiwanya yang sempat hilang di dasar jurang dua tahun lalu.
Di lengannya, ada tato kecil berbentuk bunga edelweiss, simbol ketangguhan di tengah badai.
Dunia mungkin masih membicarakan sosok misterius yang meruntuhkan kekaisaran The Obsidian, namun bagi wanita itu, cerita itu sudah selesai.
Ia telah memenangkan perangnya, dan sekarang, ia sedang memenangkan hidupnya.
Sambil menatap matahari terbenam yang memerah di cakrawala, ia berbisik pada dirinya sendiri:
"Terima kasih sudah bertahan, Alana."
Bersambung...
Ayo buruan baca...