Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi harinya, sinar matahari yang cerah menerobos masuk melalui jendela ruang perawatan, menghapus sisa-sisa kengerian malam sebelumnya.
Zaidan sudah tampak jauh lebih baik, meskipun masih harus bersandar pada bantal yang ditumpuk. Sulfi, yang setia di sampingnya, baru saja selesai membantu Zaidan meminum obatnya.
Pintu ruangan diketuk pelan sebelum terbuka, menampakkan sosok Kompol Hendrawan yang datang menjenguk Zaidan.
Kali ini, wajah sang Komandan tidak lagi tegang seperti semalam; ada garis kelegaan sekaligus ketegasan di sana.
"Sudah lebih segar, Detektif?" tanya Kompol Hendrawan sambil mendekat ke arah ranjang.
Zaidan mencoba menegakkan punggungnya.
"Sudah jauh lebih baik, Komandan. Terima kasih atas bantuannya semalam."
Kompol Hendrawan mengangguk kecil, lalu melirik ke arah Sulfi sejenak sebelum kembali menatap Zaidan dengan serius.
Ia mengeluarkan sebuah map berisi berita acara pemeriksaan awal.
"Zaidan, kasus ini sudah menjadi sorotan besar di Polda. Maya dan Riko sudah ditahan, begitu juga dengan Guntur yang masih dalam pengawalan ketat di ruang sebelah. Namun, agar tuntutan kita tidak bercelah, ia meminta Zaidan menjadi korban dan saksi kunci dalam persidangan nanti," ucap Kompol Hendrawan.
"Saya ingin kamu memberikan keterangan lengkap, mulai dari intimidasi yang dilakukan Maya, rencana jahat Riko di sel tikus, hingga upaya pembunuhan yang dilakukan Guntur semalam. Kamu adalah satu-satunya orang yang mengalami seluruh rangkaian kejahatan mereka secara langsung."
Zaidan menatap Sulfi, lalu beralih kepada komandannya dengan tatapan mantap.
"Saya siap, Komandan. Saya tidak akan membiarkan mereka lolos setelah apa yang mereka lakukan."
"Bagus," jawab Kompol. "Dan Ibu Sulfi, saya harap Anda juga bersiap. Karena meskipun Zaidan adalah saksi, kami butuh ketajaman hukum Anda untuk memastikan tidak ada celah bagi pengacara Maya untuk berkelit."
Sulfi tersenyum tipis, aura profesionalnya terpancar kembali.
"Serahkan bagian hukumnya kepada saya, Pak. Saya akan pastikan mereka mendapatkan hukuman maksimal."
Mendengar kekompakan pasangan itu, Kompol Hendrawan hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kalian benar-benar kombinasi yang berbahaya. Detektif yang jujur dan Pengacara yang cerdas. Saya kasihan melihat nasib Maya di pengadilan nanti."
Zaidan sudah bisa duduk bersandar, sementara Sulfi dengan telaten merapikan sisa-sisa peralatan medis di meja samping ranjang.
Kemudian kedatangan perawat memeriksa keadaan Zaidan.
Suster itu tersenyum melihat perkembangan pasiennya yang begitu pesat.
Ia mengecek tekanan darah dan memastikan selang infus tetap mengalir lancar sebelum akhirnya berpamitan keluar, meninggalkan nampan berisi sarapan rumah sakit yang masih mengepulkan uap.
Namun, di samping nampan rumah sakit itu, sudah tersedia bubur ayam hangat dengan taburan bawang goreng dan irisan ayam melimpah yang dibeli Sulfi dari luar.
Sarapan pagi yang membuat Zaidan semakin cinta kepada Sulfi.
Bukan hanya karena rasanya, tapi karena perhatian kecil istrinya yang tahu bahwa Zaidan tidak terlalu suka makanan hambar rumah sakit.
Zaidan menatap istrinya yang sedang mengaduk bubur dengan penuh kasih sayang.
Tiba-tiba, sebuah pikiran konyol melintas di benaknya.
"Aku harus mencari anjing itu, Sayang. Berkat dia, aku bertemu dengan bidadari seperti kamu," ucap Zaidan dengan nada serius yang dibuat-buat.
Sulfi menghentikan gerakan tangannya, pipinya mendadak merona merah.
"Gombal kamu, Mas!" ucap Sulfi sambil mencoba menahan senyumnya.
"Lho, iya, Dik. Coba Mas nggak injak kaki anjing, terus Mas ngerusak pintu kamar mandi saat itu, mungkin kita nggak akan pernah duduk berdua seperti ini sekarang," lanjut Zaidan dengan mata berbinar-binar mengenang awal pertemuan mereka yang sangat "berantakan" namun menjadi takdir terindah baginya.
Mendengar Zaidan mengungkit kejadian
memalukan saat ia terpaksa masuk ke pintu kamar mandi tempat Sulfi berada karena dikejar anjing warga, Sulfi tertawa terbahak-bahak.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang detektif hebat bisa memiliki sejarah pertemuan yang begitu konyol.
"Sudah Mas, sudah. Waktunya makan!" ujar Sulfi sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut suaminya untuk menghentikan rayuan maut itu.
Zaidan menerima suapan itu dengan patuh, hatinya terasa penuh.
Meskipun tubuhnya masih terasa nyeri, namun tawa Sulfi adalah obat yang jauh lebih manjur daripada dosis medis apa pun.
Di sela suapan itu, Zaidan berjanji dalam hati, setelah ia benar-benar pulih, ia akan membangun kembali rumah tangga yang kokoh bersama "bidadari" yang telah menyelamatkan hidupnya berkali-kali itu.
Momen hangat sarapan pagi itu seketika sirna saat pintu ruangan terbuka dengan kasar.
Kedatangan kedua orang tua Maya, Pak Surya dan Ibu Rahmi, membawa atmosfer ketegangan yang menyesakkan.
Wajah mereka yang biasanya angkuh kini tampak kuyu, namun sorot mata mereka masih memancarkan tuntutan.
Tanpa basa-basi, Pak Surya mendekat ke ranjang Zaidan.
"Zaidan, kami tahu anak kami salah.
Tapi tolong, jangan hancurkan masa depannya. Kami memohon agar kamu mencabut tuntutanmu dan menyelesaikan ini secara kekeluargaan."
Ibu Rahmi menimpali dengan suara gemetar yang dibuat-buat, "Kami akan bayar semua biaya rumah sakit, bahkan kami beri kompensasi berapa pun yang kamu minta. Asal Maya tidak dipenjara."
Zaidan terdiam sejenak, menatap kedua orang tua yang dulu pernah ia hormati sebagai mertua itu. Namun, sebelum Zaidan sempat membuka suara, sebuah langkah tegas terdengar mendekat.
Sulfi sebagai pengacara tidak mau memberikan ruang negosiasi sedikit pun.
Ia berdiri di antara Zaidan dan orang tua Maya, melipat tangan di dada dengan aura dingin yang mengintimidasi.
"Maaf, Bapak dan Ibu yang terhormat," suara Sulfi terdengar tajam dan profesional.
"Saat ini saya bicara bukan hanya sebagai istri Zaidan, tapi sebagai kuasa hukumnya. Kasus ini bukan sekadar urusan rumah tangga, tapi percobaan pembunuhan berencana dan konspirasi kriminal."
"Sulfi, jangan ikut campur! Ini urusan internal keluarga kami!" bentak Pak Surya.
"Urusan keluarga sudah selesai sejak Zaidan menceraikan Maya di depan Bapak," sahut Sulfi tanpa gentar sedikit pun.
"Apa Bapak tahu? Semalam suami saya hampir kehilangan nyawa karena mulutnya disumbat kain hingga gagal napas. Apa Bapak tahu Guntur hampir menyuntikkan racun ke selang infusnya? Di mana 'rasa kekeluargaan' itu saat putri Anda mencoba membunuh orang yang pernah melindunginya?"
Wajah kedua orang tua Maya memucat. Mereka tidak menyangka "janda desa" yang selama ini mereka remehkan bisa bicara setegas itu dengan istilah hukum yang mumpuni.
"Tuntutan tidak akan dicabut," tegas Sulfi lagi.
"Keadilan bukan barang dagangan yang bisa Bapak beli dengan uang kompensasi. Jika Bapak ingin bicara lagi, silakan hubungi saya di kantor hukum Yuana & Partners. Untuk sekarang, silakan keluar karena pasien butuh istirahat."
Dengan harga diri yang hancur, kedua orang tua Maya terpaksa mundur.
Di atas ranjangnya, Zaidan menatap Sulfi dengan rasa bangga yang luar biasa.
Ia sadar, istrinya bukan hanya bidadari yang lembut, tapi juga perisai baja yang siap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh kedamaian mereka.