NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:389
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 — HARI AKU DIBUANG

​Hujan turun tanpa ampun malam itu.

Bukan gerimis cantik yang biasa orang nikmati sambil minum kopi hangat, tapi hujan yang seperti ingin menenggelamkan seluruh kota.

Jalanan licin, lampu-lampu tampak buram, dan angin menusuk sampai ke tulang.

Aku berdiri di depan gerbang rumah yang dulu kusebut rumahku.

Sekarang, tempat itu terasa seperti milik orang asing.

“Pergi.”

Satu kata itu masih terngiang jelas di telingaku.

Datar. Dingin. Tanpa ragu.

Seolah aku ini bukan istrinya. Bukan wanita yang sudah menghabiskan tiga tahun hidupnya untuknya.

Tanganku mengepal, menggenggam koper kecil yang bahkan tak cukup untuk membawa seluruh hidupku yang hancur malam ini.

Air hujan membasahi rambut dan wajahku, tapi aku tidak tahu mana yang air hujan… dan mana yang air mata.

Pintu besar itu tertutup tepat di hadapanku beberapa menit lalu.

Dan dia… tidak keluar lagi.

Tidak memanggilku.

Tidak menahanku.

Tidak melakukan apa pun.

Seperti aku tidak pernah ada.

Aku tertawa pelan. Suara yang keluar dari bibirku terdengar aneh, hampir seperti orang lain.

“Bodoh banget sih kamu, Alena…”

Aku berbisik pada diri sendiri.

Dulu aku pikir, selama aku cukup sabar… cukup baik… cukup mencintainya… dia akan berubah.

Ternyata aku salah.

Sangat salah.

Tiga Jam Sebelumnya

“Aku capek.”

Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya saat dia masuk ke rumah.

Aku yang sedang menyusun makan malam langsung menoleh, refleks tersenyum.

“Kamu pulang cepat hari ini. Aku masak makanan favorit kamu—”

“Tidak perlu.”

Dia memotong ucapanku.

Tanpa melihatku.

Tanpa ekspresi.

Langkahnya lurus melewatiku begitu saja, menuju ruang tamu, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa seperti aku ini hanya bayangan.

Senyumku menggantung.

Perlahan… jatuh.

Aku sudah terbiasa dengan sikap dinginnya.

Tiga tahun menikah dengan Arkan membuatku paham satu hal—dia bukan pria yang mudah disentuh, apalagi dibaca.

Tapi malam ini… ada yang berbeda.

Aku bisa merasakannya.

“Ada apa?” tanyaku pelan, mencoba tetap tenang. “Kamu kelihatan… beda.”

Dia tidak langsung menjawab.

Tangannya mengambil sebuah map dari meja, lalu melemparkannya ke arahku.

Map itu jatuh tepat di atas meja makan, nyaris menyentuh piring yang sudah kusiapkan dengan hati-hati.

“Apa ini?” tanyaku bingung.

“Buka saja.”

Nada suaranya membuat perutku tiba-tiba terasa kosong.

Aku melangkah mendekat. Tanganku sedikit gemetar saat membuka map itu.

Dan saat mataku membaca isi di dalamnya…

Duniaku berhenti.

Surat gugatan cerai.

Aku tidak langsung bereaksi.

Seperti otakku menolak memahami apa yang sedang kulihat.

“Hah…” aku mengeluarkan suara kecil, nyaris tak terdengar. “Ini… bercanda, kan?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengangkat kepala, menatapnya.

“Arkan… ini maksudnya apa?”

Dia akhirnya menoleh.

Tatapan itu—dingin, datar, tanpa emosi—menusuk langsung ke dadaku.

“Kita selesai.”

Tiga kata.

Sesederhana itu.

Seolah yang kami jalani selama ini tidak ada artinya.

Aku tertawa kecil, tapi suaraku bergetar.

“Kamu lagi marah, ya? Kita bisa ngomong baik-baik—”

“Aku tidak sedang marah.”

Dia berdiri.

Melangkah mendekat.

Setiap langkahnya terasa seperti palu yang menghantam jantungku.

“Aku hanya… sudah cukup.”

Cukup?

Cukup dengan apa?

Dengan aku?

Dengan pernikahan ini?

Tanganku mencengkeram kertas itu.

“Kita sudah tiga tahun menikah, Arkan. Kamu tidak bisa tiba-tiba bilang ‘cukup’ tanpa alasan!”

“Ada alasan.”

Dia menatapku lurus.

“Dan kamu tahu itu.”

Aku menggeleng cepat.

“Tidak. Aku tidak tahu. Jelaskan ke aku.”

Sunyi.

Hanya suara hujan di luar yang semakin deras.

Lalu…

Dia menghela napas panjang.

“Aku tidak pernah mencintaimu.”

Kalimat itu jatuh seperti pisau.

Bukan… seperti pisau.

Lebih tepatnya seperti ribuan pecahan kaca yang menghujam bersamaan.

Aku mundur satu langkah.

Tanpa sadar.

“Jangan bercanda…”

“Aku tidak pernah bercanda soal hal seperti ini.”

Suaranya tetap tenang. Terlalu tenang.

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.

“Pernikahan ini hanya… kewajiban.”

Aku menatapnya kosong.

Kewajiban?

“Karena keluarga?” suaraku nyaris pecah. “Karena bisnis?”

Dia tidak menjawab.

Dan diamnya… sudah cukup menjadi jawaban.

Air mataku akhirnya jatuh.

“Jadi selama ini… semua yang aku lakukan… semua yang aku rasakan…”

Aku tidak sanggup melanjutkan.

Dia tidak bergerak.

Tidak mendekat.

Tidak mencoba menghapus air mataku.

Tidak melakukan apa pun.

“Aku tidak pernah memintamu melakukan itu,” katanya dingin.

Kalimat itu…

Lebih sakit daripada pengakuan bahwa dia tidak mencintaiku.

Karena itu berarti—semua yang kulakukan… sia-sia.

Satu Jam Kemudian

“Pergi.”

Aku berdiri membeku.

“Apa?”

“Kamu dengar aku.”

Nada suaranya mulai kehilangan kesabaran.

“Aku tidak ingin melihatmu di rumah ini lagi.”

“Ini rumah kita!” aku berteriak, akhirnya kehilangan kendali.

“Aku istrimu, Arkan!”

“Istri?”

Dia tertawa pelan.

Sinis.

“Mungkin di atas kertas.”

Aku merasa sesuatu di dalam diriku retak.

Benar-benar retak.

“Aku kasih kamu waktu sepuluh menit.”

Dia melirik jam tangannya.

“Ambil barangmu. Lalu pergi.”

Sepuluh menit?

Untuk meninggalkan tiga tahun hidupku?

“Kalau aku tidak mau?” tanyaku lirih.

Dia menatapku tanpa ragu.

“Aku akan menyuruh orang mengusirmu.”

Dan saat itu aku tahu.

Dia tidak bercanda.

Kembali ke Sekarang

Aku masih berdiri di depan gerbang itu.

Kedinginan.

Basah.

Sendirian.

Tiga tahun pernikahan berakhir hanya dalam satu malam.

Tanpa perlawanan.

Tanpa penjelasan yang cukup.

Tanpa… cinta.

Tanganku perlahan terlepas dari koper.

Aku menatap rumah besar itu.

Lampu di lantai dua masih menyala.

Kamar kami.

Atau… mantan kamar kami.

Dadaku terasa sesak.

Tapi anehnya… tidak ada lagi air mata yang keluar.

Seperti semuanya sudah habis.

“Atau mungkin…” aku bergumam pelan, “ini belum cukup menyakitkan ya?”

Aku tertawa lagi.

Dan kali ini… suaranya benar-benar kosong.

Janji dalam Diam

Malam itu, di bawah hujan yang tak kunjung reda, aku membuat satu janji.

Bukan pada dunia.

Bukan pada siapa pun.

Tapi pada diriku sendiri.

“Aku akan kembali.”

Aku menatap lurus ke arah rumah itu.

Tatapanku berubah.

Tidak lagi rapuh.

Tidak lagi memohon.

“Aku akan kembali, Arkan.”

Suaraku pelan.

Tapi penuh kepastian.

“Bukan sebagai wanita yang kamu buang malam ini.”

Angin berhembus kencang.

Seolah ikut membawa kata-kataku pergi.

“Tapi sebagai seseorang… yang akan membuatmu menyesal pernah melakukannya.”

Aku menarik koperku.

Melangkah menjauh.

Tidak menoleh lagi.

Karena aku tahu…

Kalau aku menoleh sekarang, aku mungkin tidak akan pernah bisa pergi.

Dan aku harus pergi.

Untuk menjadi seseorang yang baru.

Seseorang yang lebih kuat.

Seseorang yang… tidak akan pernah lagi dihancurkan oleh cinta.

Karena mulai malam ini—

aku tidak akan mencintainya lagi.

Aku akan menghancurkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!