Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di balik tirai
Nikolai Brine tidak pernah percaya pada kebetulan. Baginya, kebetulan hanyalah kegagalan intelijen. Di dalam mobil Rolls-Royce yang meluncur membelah kemacetan Jakarta, ia menatap layar tablet yang disodorkan oleh Sebastian Reef.
"Data tentang Clara Marine sangat bersih, Tuan. Terlalu bersih," Sebastian menjelaskan sambil sesekali melirik spion. "Riwayat sekolahnya di pinggiran kota, pekerjaan serabutan, hingga catatan medis di puskesmas lokal. Semuanya tampak seperti warga negara kelas menengah bawah yang membosankan."
Nikolai menyesap vodka dinginnya. Matanya yang tajam terpaku pada foto buram Clara yang sedang membawa kantong belanjaan plastik. "Seorang guru honorer tidak akan memiliki tatapan sedingin itu saat menghadapi gertakan anak buah kita, Sebastian. Dan dia tidak akan punya tangan sehalus itu jika dia benar-benar bekerja kasar setiap hari."
"Anda ingin saya melakukan tindakan lebih jauh?"
"Jangan sentuh dia. Aku ingin tahu siapa yang melindunginya dari bayang-bayang. Awasi setiap geraknya. Aku ingin tahu ke mana dia pergi setelah jam kerja," perintah Nikolai dengan nada mutlak.
Sementara itu, Clara merasa jantungnya masih berpacu tidak beraturan. Kehadiran Nikolai di perpustakaan tadi sore seperti badai yang tiba-tiba menghantam dermaga yang tenang. Ia segera menutup perpustakaan lebih awal dan berjalan kaki menuju kontrakan sempitnya di daerah Jakarta Utara.
Ia sengaja melewati gang-gang sempit, berbaur dengan kerumunan buruh pabrik yang baru pulang kerja. Clara tahu cara menghilang. Itu adalah pelajaran pertama yang diajarkan Silas Marine padanya saat mereka masih remaja di Amsterdam: Jika kau ingin tidak terlihat, jadilah bagian dari latar belakang.
Sesampainya di kamar kos berukuran 3x4 meter itu, Clara segera mengunci pintu dan menyalakan laptop yang tersembunyi di balik tumpukan buku tua. Layarnya menyala, menampilkan antarmuka komunikasi terenkripsi.
"Silas, kau di sana?" bisik Clara ke arah mikrofon.
Hanya butuh tiga detik hingga wajah identik namun versi pria muncul di layar. Silas Marine duduk di kursi kulit mewahnya di Amsterdam, mengenakan kemeja putih tanpa dasi yang harganya mungkin setara dengan seluruh isi kontrakan Clara.
"Kau terlihat pucat, Clara," suara Silas datar namun ada nada kecemasan yang tersirat. "Ada apa? Apa orang-orang Rusia itu mulai mengganggumu?"
"Salah satu dari mereka datang ke tempat kerjaku. Nikolai Brine," jawab Clara sambil menyeka keringat di dahinya.
Silas terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. "Nikolai Brine bukan sekadar anak buah. Dia adalah kepala keluarga Brine. Dia licin, berbahaya, dan tidak punya belas kasihan. Aku sudah mengirim tim tambahan ke Jakarta tanpa sepengetahuanmu. Mereka akan berada di radius satu kilometer darimu."
"Tidak, Silas! Itu akan merusak segalanya. Teman-temanku, Alice Pearl dan yang lainnya, mereka akan curiga jika tiba-tiba ada pria-pria berjas hitam berkeliaran di sini!" protes Clara.
"Persetan dengan kecurigaan mereka! Nyawamu lebih penting daripada sandiwara hidup sederhana ini, Clara. Ayah dan Ibu sudah bertanya-tanya mengapa putri mereka lebih memilih tinggal di kumuhnya Jakarta daripada mengelola yayasan keluarga di Belanda."
"Aku hanya ingin merasa bebas, Silas. Setidaknya untuk setahun ini."
"Waktumu habis, Clara. Jika Nikolai sudah mencium baumu, dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Berhati-hatilah. Jika keadaan memburuk, aku sendiri yang akan menjemputmu."
Sambungan terputus. Clara menyandarkan kepalanya di meja kayu yang mulai lapuk. Ia mencintai kakaknya, tapi ia membenci keterikatan keluarga Marine.
Keesokan paginya, Clara berusaha bersikap normal. Ia pergi ke kafe kecil tempat Alice bekerja untuk membeli kopi.
"Clara! Kau dengar tidak?" Alice langsung menyambutnya dengan wajah penuh gosip. "Pria yang kemarin mencarimu di perpustakaan... dia terlihat lagi pagi ini di ujung jalan. Mengendarai mobil yang harganya mungkin bisa membeli seluruh kecamatan ini!"
Clara berpura-pura terkejut. "Mungkin dia hanya tersesat, Alice."
"Tersesat dua kali di tempat yang sama? Tidak mungkin. Dia tampan sekali, seperti pangeran dari Timur Tengah tapi dengan aura penjahat Rusia. Apa kau punya hutang padanya?" selidik Alice.
"Tentu saja tidak," sahut Clara cepat.
Namun, saat Clara keluar dari kafe, sebuah mobil hitam besar berhenti tepat di depannya. Kaca jendela belakang perlahan turun, menampakkan Nikolai Brine yang sedang mengenakan kacamata hitam.
"Masuklah, Clara. Kita perlu bicara soal 'lahan' yang kau pertahankan itu," ujar Nikolai tanpa basa-basi.
Clara menoleh ke arah Alice yang menonton dari balik jendela kafe dengan mulut menganga. Ia tahu, jika ia menolak sekarang di tempat umum, Nikolai mungkin akan melakukan hal yang lebih drastis. Dengan berat hati, ia melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu.
Di dalam, aroma kulit mahal dan parfum maskulin Nikolai memenuhi rongga paru-parunya.
"Kau tahu siapa aku, bukan?" tanya Nikolai sambil menatap jalanan di depan.
"Anda orang yang ingin menggusur pemukiman warga untuk gudang," jawab Clara dengan nada berani yang dibuat-buat.
Nikolai terkekeh pelan, suara yang rendah dan berbahaya. "Itu bisnis kecil. Aku lebih tertarik pada siapa sebenarnya kau. Mengapa seorang wanita dengan aksen Eropa yang halus dan pengetahuan tentang sistem keamanan militer betah tinggal di tempat seperti ini?"
Nikolai mengulurkan tangannya, menyentuh helai rambut Clara yang terjatuh di bahunya. Clara membeku. Sentuhan itu terasa seperti api yang membakar kulitnya.
"Jangan bermain api denganku, Clara Marine. Karena aku adalah kebakaran yang tidak bisa kau padamkan."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...