Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Malam harinya, Tama menjemput Liz dirumah sakit. Kebetulan saat Tama datang Ibu sudah tertidur lelap karena pengaruh obat.
Sepanjang perjalanan, Tama tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Liz. Sampai supir pribadi Tama ikut senyum-senyum sendiri melihat tingkah Tuan besarnya.
"Sudah, aku malu." Liz mencoba menarik tangannya, pipinya bersemu merah, namun justru genggaman Tama malah semakin erat.
"Malu ? Dengan siapa ?"
Liz melirik ke jok depan membuat Tama langsung paham.
"Bapak memperhatikan kami ?" tanya Tama, dingin. Berbeda sekali caranya bicara jika itu Liz.
"Ti-tidak, Tuan." Jawab Pak Supir sambil mencondongkan tubuh ke setir, takut melihat ke Tama meski lewat kaca spion dalam.
Liz menepuk lengan Tama, membuat Tama gemas sendiri.
Tama menuntun kepala Liz, agar bersandar dibahunya.
"Tidurlah. Perjalanan lumayan macet, kamu juga pasti lelah karena seharian menjaga Ibu."
Liz tersenyum, tanpa banyak bicara wanita itu langsung memejamkan mata. Ini adalah bahu pertama yang membuatnya langsung nyaman.
Sesampainya mereka dirumah, Liz langsung mencari keberadaan Nenek.
"Nenek mana ?"
"Oh. Nenek sedang berlibur ke Villa bersama teman-teman lansia nya."
"Hush! Kamu ini, kalau didengar nenek, bagaimana ?!" Liz jadi panik.
"Kan aku sudah bilang, Nenek sedang tidak ada. Sudah ah, ayo masuk kamar," Tama menggandeng Liz menuju kamar tamu, namun tubuh Liz langsung terjengkang kebelakang ketika tiba-tiba seseorang menjambak rambutnya dengan kasar.
AHH!
Teriak Liz, reflek.
"YURIKE! APA YANG KAU LAKUKAN ??" Tama mencoba melepaskan tangan Yurike yang masih menjambak rambut Liz.
"Untuk apa kau kesini lagi, Liz ?" tanya Yurike dengan mata melotot.
Liz tidak menjawab, dia hanya bisa mengaduh, kulit kepalanya sakit sekali karena jambakan itu.
"LEPASKAN TANGAN KOTORMU DARI RAMBUT ISTRIKU SEKARANG JUGA, ATAU AKU TIDAK AKAN SEGAN-SEGAN LAGI PADAMU?!" Tangan Yurike mengendur, ia seolah baru tersadar apa yang dia lakukan.
"Li-liz... a-aku..." Suara Yurike tercekat,
"DIAM KAU! TUTUP MULUTMU!" Tama menatap ji-jik, seakan Yurike adalah kotoran hewan.
"Urusan kita belum selesai!" ucapannya penuh amarah dan kejijik-an.
Tama tidak menunggu jawaban, pria itu langsung mengangkat tubuh Liz ala bridal dan membawanya kedalam kamar tamu. Liz nampak masih shock dengan apa yang baru saja dia alami.
Setelah membaringkan Liz dikasurnya, Tama hendak keluar lagi, tapi Liz buru-buru menggeleng,
"Yurike sudah keterlaluan. Aku harus memberi dia pelajaran!" Ucap Tama dengan rahang mengeras.
Liz tidak bisa menahan Tama lagi karena laki-laki itu sudah keluar dari kamar dengan langkah cepat dan berat.
"Ma-mas... A-aku,"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Yurike. Cukup keras untuk membuatnya sadar bahwa kesalahannya sangat fatal karena telah mengusik sisi antagonis Tama.
Yurike memegang pipinya yang merah, air matanya langsung jatuh saat itu juga.
"Kau sudah menunjukkan padaku sifat aslimu! Kemasi barangmu, pergi dari rumahku sekarang juga!" Usir Tama kasar.
Seketika itu juga Yurike menjatuhkan diri ke lantai marmer yang dingin, bersujud dikakinya, sambil memeluk sepatu mengkilat Tama. Gerakan itu sangat memalukan, tetapi pikiran tentang hancurnya rumah tangga yang selama ini selalu dia sombongkan memberi wanita itu kekuatan untuk merendahkan diri serendah-rendahnya.
"Ma-mas, a-aku minta maaf. Aku janji tidak akan berbuat seperti itu lagi. Aku akan jadi istri yang baik. Aku akan patuh padamu, aku mohon, maafkan aku, Mas," Liz memohon, air mata membasahi kaus kaki Tama.
Keheningan sesaat membuat Liz berharap suaminya akan tersentuh. Tetapi, yang wanita itu terima berikutnya bukan pelukan atau maaf yang diterima.
"Tutup mulutmu!" Tama menarik paksa kakinya, tidak keras tapi cukup untuk membuat tubuh Yurike terhuyung dan terlepas dari kakinya.
"SURTI!" Suara Tama meninggi memanggil pembantunya. Surti yang sejak keributan sudah menguping dibalik dinding pemisah antara dapur dan ruang tengah langsung berlari menghampiri kedua majikannya dengan jantung yang berdegup kencang.
"Bantu wanita ini mengemasi pakaiannya, jangan sampai ada satu barang pribadinya yang tersisa dirumah ini. Jika sampai ada, kau akan ku pecat!"
Surti menunduk ketakutan.
"Ma-mas... aku mohon," Tangan Yurike hendak menggapai Tama, namun dengan cepat Tama mundur kebelakang. Harga diri Yurike sudah jatuh ke titik nol, membuat wanita itu merasa layaknya pengemis jalanan.
"Kau tahu, rumah ini terlalu bersih untuk wanita sepertimu. Pergi! Jangan pernah kembali kesini lagi!" Tatapan Tama menusuk lurus ke arah wajah Yurike. Mata Tama dipenuhi kebencian murni tanpa sisa sedikitpun.
Degh.
Suara pintu yang tertutup itu adalah suara palu yang memvonis hukuman mati Yurike.
🌻
Ketika Tama masuk ke dalam kamar lagi, Liz sudah duduk sambil bersandar dikepala ranjang. Tama langsung menghampiri, memeriksa keadaan Liz.
"Masih sakit ?" tanya nya sambil mengusap rambut Liz, lembut.
Liz menggeleng, "Bagaimana Yurike ? Apa dia masih marah ?"
Tama menatap lekat kedalam manik mata Liz yang basah, "Kenapa kamu masih menanyakan keadaan wanita itu, dia sudah menyakitimu, Liz ?!!"
"Dia masih sahabatku, Tama."
Tama menggelengkan kepalanya pelan, tanda menolak percaya pada pendengarannya sendiri.
"Berhenti menganggap Yurike seperti sahabatmu, kamu tidak tahu seberapa licik dia selama ini?!"
"Apa maksudmu ?" Suara Liz mengecil.
Tama berdiri dari duduknya dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan. Pria itu merapikan kerah jas mahalnya sejenak. Lalu dia menatap lurus kearah lain tanpa menunjukkan riak emosi sedikitpun.
"Nanti kamu akan tau!" Tama memutar tubuh, berjalan menuju pintu.
"Istirahatlah. Malam ini aku akan tidur di ruang kerja."
Tama melangkah pergi meninggalkan kamar Liz begitu saja. Meninggalkan segudang pertanyaan besar yang terus menggantung di udara.
Malam semakin larut, tetapi mata Liz sama sekali belum bisa terpejam. Ia berbaring menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terasa penuh dan sesak.
🌻
Hari berikutnya..
Liz keluar dari kamar dengan setelan blouse V-neck berwarna coklat yang dipadukan dengan celana knit anti kusut berwarna broken white. Membuat kaki Liz terlihat jauh lebih jenjang.
"Nona Liz, Tuan Tama menitip pesan, kata Tuan, Nona Liz tidak boleh keluar dari rumah tanpa sarapan."
Liz mengangguk kecil, seolah memahami. Padahal dia hanya tidak ingin Surti kena imbasnya jika dia memilih untuk tidak sarapan.
"Silahkan, Nona. Saya sudah siapkan nasi goreng seafood spesial untuk Nona."
"Terimakasih," Ucap Liz memandang sepiring nasi goreng yang sudah disiapkan oleh Surti.
Surti kembali ke tempatnya ketika Liz mulai makan.
Liz mengeluarkan ponselnya, membuka satu demi satu story teman dan kerabatnya di aplikasi hijau untuk membunuh rasa bosan karena makan sendirian.
Namun jari Liz langsung berhenti, menekan layar disalah satu story seseorang. Story itu seperti menyulut api dan membuat siapapun pasti bertanya-tanya.
...'Untukmu perempuan yang sudah tau rumah itu berpenghuni namun tetap menerobos masuk kedalamnya, semoga sepanjang hidupmu sial dan karma menyelimutimu hingga anak cucumu kelak!'...
Tubuh Liz seketika menegang membaca story milik Yurike. Wajahnya memerah dengan rahang yang mengeras, jelas tidak terima dengan sindiran itu.
"Yurike, kau sudah keterlaluan!" tenggorokan Liz terasa sesak.
Liz menyudahi makannya yang baru masuk satu suap, piring itu masih penuh tapi selera makannya sudah hilang. Dia bangkit, hendak menemui Yurike di lantai atas tapi Surti tiba-tiba datang,
"Mbak, kenapa tidak dihabiskan ?" tanya Surti
"Ma-maaf, maag saya sedang kambuh jadi tidak bisa makan banyak," Bohong Liz hanya supaya Surti tidak tersinggung dan sedih.
"Oh, ya. Apa Yurike ada dikamar nya ?" tanya Liz, sedikit ragu.
"Non Liz belum tau ? Nyonya Yurike sudah di usir Tuan Tama semalam. Saya yang membantunya berkemas."
Liz melotot, bola matanya nyaris lompat keluar, "Diusir ?" beonya
Surti mengangguk, "Iya, Non. Semalam Tuan marah besar,"
Perasaan panik langsung menguasai dirinya. Liz tidak menyangka kalau kejadian semalam membuat Tama tega mengusir Yurike.