Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
David mondar mandir di ruangan kerjanya. Dia mengkhawatirkan Tara. Sudah seminggu sejak Tara kembali ke rumah suaminya, namun tak sedikitpun Tara memberi kabar padanya. David cemas. David takut terjadi sesuatu pada Tara. Ingin sekali David menghubungi Tara, namun Tara pernah berpesan untuk tak menghubunginya. Tara tak ingin Devan menyalahkan David dan membuat masalah jadi lebih rumit lagi.
Tok tok tok
“Masuk.”
“Maaf, Bos. Ada yang pingin ketemu sama Bos,” ucap salah satu karyawan bengkelnya.
“Siapa?”
“Dia bilang namanya Haris, Bos.”
David tersentak. “Bang Haris?”
“Gimana, Bos? Dibawa kesini atau biar tunggu di bawah?”
“Suruh aja kesini.”
“Baik, Bos.”
David meraup wajahnya kasar. Kenapa tiba-tiba Haris datang menemuinya? Mungkinkah Haris tahu bahwa dia yang sudah menyembunyikan Tara saat kecelakaan itu?
David berdehem. Mencoba menetralkan perasaannya. Dia harus siap jika Haris marah padanya. Apapun itu, kedatangan Haris jelas punya maksud tertentu. Dan David harus menyiapkan diri untuk menghadapi kakaknya Tara itu.
Terdengar pintu dibuka. David menoleh. Haris masuk dan pintu kembali ditutup oleh karyawan David yang mengantar Haris.
Keduanya hanya saling pandang dalam beberapa saat sebelum akhirnya Haris melangkah mendekati David. Haris memindai ruangan David dan matanya menyipit saat melihat foto dalam pigura cantik di atas meja David.
David ikut melihat arah tatapan Haris. Itu adalah fotonya bersama Tara yang dulu sempat disimpan di laci saat berpacaran dengan Miska. Dan sejak putus dari Miska, David mengembalikan lagi foto itu ke atas mejanya.
Haris melangkah mendekati meja kerja David dan mengambil pigura foto itu. Matanya terbelalak saat melihat foto itu adalah foto adiknya bersama David saat berpacaran dulu. Hatinya berdenyut perih saat melihat di foto itu, Tara terlihat sangat bahagia bahkan tertawa riang bersama David. Senyuman dan tawa yang sudah lama hilang dari wajah sang adik semenjak dia menikah dengan Devan.
Haris menyentuh foto Tara dan mengusapnya. Matanya berkaca-kaca. Haris ingin Tara tersenyum dan tertawa lagi seperti di foto itu. David menatap bingung pada Haris yang terlihat sangat sedih.
“Bang …”
Haris mendongakkan kepala. Menahan air mata yang sudah ada di pelupuk agar tak jatuh. Bukan ini tujuannya ke bengkel David. Namun, melihat foto yang ada di atas meja David, membuat Haris menghela napas berat. Mungkinkah Tara bisa bahagia lagi jika bersama David seperti di dalam foto itu?
Haris menoleh. “Sorry. Gue cuma terkejut aja lihat foto kalian di atas meja lo.”
David mengangguk. “Wajar Abang terkejut karena ini kali pertama Abang datang ke ruanganku. Yang sebenarnya foto itu memang selalu ada di atas meja kerjaku sejak dulu. Sejak aku punya bengkel ini.”
Haris menatap terkejut. Dia mengembalikan foto itu di atas meja dan bersedekap dada. “Lo masih berharap sama adik gue ?”
David mengangguk. “Aku masih mencintainya sampai saat ini, Bang.”
“Kenapa lo nggak move on aja? Masih banyak cewek di dunia ini. Kenapa milih nunggu adik gue?”
“Karena perasaan nggak bisa dipaksa, Bang. Aku udah coba move on. Tapi semuanya sia-sia. Perasaanku kembali ke Tara. Aku nggak ingin menjalin hubungan dimana salah satunya masih belum siap membuka hati untuk orang lain. Itu hanya akan menyakiti perasaan satu sama lain, Bang. Itu sebabnya aku putusin buat nunggu dia.”
Haris menghela napas berat. Dia bisa melihat ketulusan dari sorot mata David saat menyebut nama Tara.
“Lo udah tahu kalau Tara sedang ada masalah sama suaminya?” tanya Haris.
“Eh.. Silahkan duduk, Bang. Abang mau minum apa? Biar aku buatin.”
Haris duduk di kursi tamu dan menggeleng. “Aku kesini bukan buat basa-basi sambil minum, Vid.”
David mengangguk dan ikut duduk di seberang Haris. David menunggu Haris mengatakan apa tujuannya datang ke bengkel.
“Thanks,” ucap Haris singkat.
David mengernyit bingung. “Thanks buat apa, Bang?”
“Lo udah nyelamatin Tara dan melindungi dia,” jawab Haris membuat David tersentak.
“Tara udah cerita semuanya. Dia pulang ke rumah gue. Gue tahu lo pasti nyariin dia kan?”
David mengangguk dan menghela napas lega setelah tahu bahwa Tara bersama kakaknya. Itu berarti Tara baik-baik saja. Tapi, kenapa Tara pulang ke rumah kakaknya? Apakah Tara benar-benar akan bercerai dari suaminya?
“Sorry, Bang. Bukan maksudku buat nyembunyiin Tara dari Abang. Tapi Tara sendiri yang memintanya. Aku cuma nurutin apa yang dia inginkan karena aku lihat dia sangat sedih waktu itu. Dia melamun sepanjang waktu. Terkadang menangis diam-diam dan sulit disuruh makan,” ungkap David menjelaskan pada Haris agar Haris tak salah paham dengannya.
Haris mengangguk mengerti. “Gue tahu. Dia juga kecewa sama gue. Itu sebabnya dia minta tolong ke lo. Tapi syukurlah Tara baik-baik aja. Lo nggak macem-macem sama dia kan? Lo nggak ambil kesempatan dalam kesempitan kan saat bersama Tara?” Tanya Haris memicingkan mata curiga.
Pasalnya David adalah pria normal dan mencintai Tara. Berduaan dalam satu rumah selama seminggu lamanya, tentu saja membuat Haris curiga jika keduanya tak melakukan hal di luar batas. Apalagi mereka mantan kekasih.
David tersentak sesaat namun setelahnya berusaha menguasai diri agar Haris tak curiga. Tak mungkin kan dia menceritakan apa yang pernah dia dan Tara lakukan saat di meja makan waktu itu?
“Nggak, Bang. Aku masih sadar diri kok. Tara masih jadi istri orang. Nggak mungkin aku berani macem-macem. Takut dosa, Bang,” ujar David tentu saja berdusta. Karena pada nyatanya keduanya sudah melakukan hal yang pernah mereka lakukan saat pacaran dulu.
Haris masih menatap David curiga. “Gue cuma nggak mau kalian menyesal. Apalagi Tara lagi terluka hatinya. Dan lo itu cowok normal yang masih mencintai adik gue. Sorry kalau gue curiga.”
David mengangguk kaku. “Terus keadaan Tara gimana sekarang, Bang? Apa dia masih bersedih?”
Haris menghela napas berat. Saat dia keluar dari rumah tadi, Tara sedang berdiri di depan jendela dengan tatapan kosong. Tak ada air mata di wajahnya namun raut wajahnya masih memancarkan luka.
“Apa ada seorang wanita yang bahagia saat pernikahannya di ambang perceraian?” tanya Haris dengan nada sarkas.
David terdiam dan menghela napas lirih. Ternyata Tara benar-benar ingin bercerai dari suaminya. Walaupun mungkin mereka menikah tanpa ada perasaan cinta di dalamnya, tapi tetap saja pernikahan yang sudah berjalan tiga tahun itu tetap menyisakan luka saat akhirnya harus hancur.
“Tara cerita sesuatu sama lo, Vid?” Haris melihat David.
David terlihat gugup. Dia menggeleng. Haris tersenyum sinis. “Nggak usah bohong.”
David diam. Dan diamnya David membuat Haris tahu jawaban dari pertanyaannya.
“Gue cuma mau bilang sama lo. Setelah mereka bercerai, lo bisa masuk ke dalam kehidupan adik gue. Jika lo bisa kembaliin senyum dan tawa adik gue, mungkin gue bisa restuin lo deketin adik gue lebih jauh,” ujar Haris membuat David langsung menatap Haris terkejut.
“Lo emang pernah nyakitin adik gue, tapi kalau lo bisa menebus kesalahan lo dengan buat Tara bahagia setelah perceraiannya nanti, maka gue kasih lo kesempatan kedua. Tara udah sangat terluka karena menikah dengan Devan. Jadi gue harap dia bisa menemukan kebahagiaannya lagi. Dan gue rasa, Tara mulai maafin lo dan buka hatinya lagi buat lo karena lo adalah orang pertama yang dia hubungi saat semua orang terdekatnya nggak dia percayai lagi,” ucap Haris dengan nada sendu.
Haris masih bersedih karena Tara tak menghubunginya saat adiknya itu sedang terpuruk, padahal dia adalah kakak kandungnya. Tara justru malah menghubungi David, mantan kekasihnya. Yang itu artinya Tara lebih percaya pada David ketimbang dengan kakaknya sendiri.
David menatap Haris tak percaya. Haris merestuinya? Sungguhkah? Namun…
“Aku nggak ingin terburu-buru, Bang. Aku memang masih mencintai Tara. Tapi Tara yang berhak atas hidupnya. Perceraian adalah suatu hal yang tak diinginkannya. Luka di hatinya masih basah. Mungkin Tara masih perlu banyak waktu untuk menyembuhkan dan membuka hatinya lagi. Aku akan menunggu dan kalau dia mengijinkan, aku pun akan menemaninya.”
Haris mengangguk dan tersenyum tipis. “Gue tahu lo orang yang baik. Gue cuma minta jangan sakitin dia lagi.”
David mengangguk. Keduanya pun lanjut mengobrol ringan. Haris hanya ingin memastikan apakah pilihannya sudah tepat dengan mengijinkan David kembali ke dalam kehidupan Tara mengingat David pun pernah melukai hati Tara sebelum bertemu dengan Devan.
***
Tok tok tok
Tara yang masih melamun di depan jendela menoleh ke arah pintu. Melirik jam, baru setengah jam Haris pergi. Apakah Haris sudah kembali? Tapi kenapa harus mengetuk pintu?
Dengan langkah pelan tanpa semangat, Tara berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.
“Hai.”
Tara mematung, menatap seseorang yang ada di hadapannya. “Dev?”
Devan tersenyum lirih. “Apa kabar, Ra?”
“Ba-baik, Dev. K-ka… kamu ngapain kesini?” Tara terbata karena sudah seminggu mereka tak bertemu dan tak saling kabar. Tapi tiba-tiba Devan muncul di depannya.
“Boleh aku masuk atau kita ngobrol di luar?” tanya Devan.
Tara mempersilahkan Devan masuk. Keduanya duduk berseberangan di ruang tamu. Tara menundukkan kepala, tak ingin menatap Devan.
“Ra…”
Tara mengangkat wajahnya dan membuang pandangan saat Devan menatapnya lekat. Devan mendengus pelan.
“Kamu baik-baik aja?”
“Iya. Seperti yang kamu lihat.”
“Kamu nggak pernah angkat panggilan dan membalas pesanku. Itulah sebabnya aku datang kesini,” ujar Devan.
“Aku nggak pegang ponsel.”
“Terlalu banyak melamun di depan jendela itu nggak baik loh, Ra.”
Tara mengernyit. “Kamu tahu darimana aku sering melamun di sana?”
Devan tersenyum tipis. “Aku sering lewat. Tapi kamu nggak tahu karena kamu sibuk dengan pikiranmu sendiri.”
“Oh ya? Lalu apa masalahnya? Ini rumahku. Aku bebas melakukan apa saja di rumahku.”
Devan menghela napas lirih dan sesak. Tara sama sekali tak bersikap ramah padanya lagi seperti dulu. Binar mata penuh keceriaan saat dia menjemput atau bertemu dengannya kini sudah sirna. Devan hanya bisa melihat tatapan malas dari mata Tara.
“Keputusan kamu sudah bulat untuk bercerai dariku?” Devan menatap lekat.
“Sudah. Jika kedatanganmu kesini untuk menyuruhku memikirkan ulang rencana perceraian kita, maka aku tetap menjawab kalau aku benar-benar ingin cerai sama kamu,” jawab Tara menatap Devan dengan sorot mata benci.
“Tapi kamu belum menemukan orang yang bisa buatmu bahagia, Ra.”
“Itu bukan urusanmu lagi, Dev! Aku nggak akan menemukan orang itu jika aku masih nikah sama kamu. Siapa yang mau menjalin hubungan dengan istri orang? Nggak ada, Dev.”
“Ada. David,” sahut Devan.
Tara menatap Devan datar. “Kenapa bawa-bawa dia lagi? Ini sama sekali nggak ada hubungannya sama dia.”
“Tapi cuma dia yang berani deketin kamu saat kamu sudah menjadi istriku.”
“Terus maksudmu apa?”
“Jika kita sudah bercerai, ku harap kamu nggak kembali ke dia lagi. Dia udah nyakitin kamu, Ra.”
“Tapi kamu juga udah nyakitin aku, Dev. Apa bedanya kamu sama dia? Jangan membuat seolah kamu adalah pahlawan dan dia penjahatnya, Dev.”
Devan tersenyum sinis. “Oh.. Jadi, kamu bela dia?”
Tara menghela napas jengkel. “Sebenarnya apa tujuan kamu datang kesini?”
“Jika kamu ingin cerai dari aku, maka sekarang juga kita akan ke rumah orang tuaku. Kamu lah yang harus menjelaskan keinginanmu itu pada mereka.”
Bersambung …