Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8. Akademi Kerajaan Averion
Aula utama Istana Averion tampak tenang.
Terlalu tenang.
Seolah seluruh ruangan itu menahan napas, menunggu satu keputusan yang bisa mengubah arah masa depan dua anak kecil di dalamnya.
Sang raja duduk di singgasana dengan ekspresi netral. Di sampingnya, sang ratu tersenyum lembut seperti biasa, hangat di permukaan, namun sulit ditebak isi hatinya.
Di bawah, para penasihat kerajaan telah berkumpul.
Mireya duduk di antara mereka, tangan terlipat di pangkuan. Namun matanya tidak pernah benar-benar tenang. Ada firasat yang mengganggu sejak surat itu datang.
Di tengah aula
Claudia dan Sakura berdiri menghadap singgasana.
Keduanya masih berusia delapan tahun.
Namun suasana di antara mereka bukan seperti anak-anak.
Lebih seperti dua garis masa depan yang saling bertabrakan sejak awal.
Raja mengangkat sebuah surat bersegel emas.
Segel itu berkilau di bawah cahaya kristal istana.
“Undangan dari Akademi Kerajaan Averion telah tiba.”
Suaranya bergema pelan.
“Program seleksi dan pendidikan tahap awal akan dibuka untuk generasi baru.”
Beberapa penasihat langsung menegakkan tubuh.
Akademi Kerajaan Averion bukan sekadar sekolah.
Itu adalah institusi tertinggi di seluruh kerajaan, tempat anak-anak berbakat dikumpulkan sejak usia dini untuk ditempa hingga usia dua belas tahun.
Di sana, mereka tidak hanya belajar sihir dan strategi.
Mereka belajar bertahan.
Belajar tunduk.
Dan belajar menjadi bagian dari sistem kerajaan.
Raja membuka surat itu dan membaca lebih lanjut.
“Program ini terbuka untuk anak usia delapan hingga dua belas tahun.”
“Setiap keluarga bangsawan utama wajib mengirimkan minimal satu kandidat.”
Ia berhenti sejenak.
“Selama empat tahun, mereka akan tinggal di Akademi. Dilatih, diuji, dan dinilai secara berkala.”
Aula menjadi sunyi.
Lalu suara raja turun lebih berat.
“Yang tidak memenuhi standar akan dipulangkan.”
Kalimat itu terdengar ringan.
Namun semua orang tahu artinya.
Dipulangkan di Akademi Kerajaan Averion bukan selalu berarti kegagalan biasa.
Terkadang… itu berarti dilupakan.
Ratu Evelyne tersenyum lembut.
“Akademi Kerajaan Averion telah mencetak generasi terbaik kerajaan ini selama ratusan tahun,” ucapnya halus.
“Ini bukan sekadar pendidikan.”
“Ini adalah fondasi masa depan kerajaan.”
Namun tidak ada yang bisa memastikan apakah itu kebanggaan…
atau peringatan halus.
Raja mengangguk.
“Aku ingin mempertimbangkan kandidat dari keluarga utama.”
Salah satu penasihat ratu melangkah maju.
“Yang Mulia, kami menyarankan agar hanya anak dari garis utama yang dikirim.”
“Akademi bukan tempat untuk semua anak.”
Beberapa mata langsung bergerak ke arah Sakura.
Ratu mengangguk pelan.
“Saran yang masuk akal.”
“Akademi bukan tempat yang lembut.”
Tatapannya sekilas jatuh ke Sakura.
Singkat.
Tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih dingin.
“Bagaimana menurutmu, Claudia?”
Suara ratu lembut.
Claudia sedikit maju.
“Yang Mulia,” ucapnya sopan.
“Saya setuju dengan saran tersebut.”
Ia melirik Sakura.
Tatapannya dingin meski usianya masih sangat muda.
“Akademi Kerajaan Averion adalah tempat bagi anak-anak yang sudah menunjukkan bakat sejak awal.”
“Bukan tempat untuk… anak tanpa sihir.”
Kata terakhir itu jatuh pelan.
Tapi cukup tajam untuk menusuk.
Mireya langsung mengangkat kepala.
Tangannya mengepal kecil.
Namun sebelum ia berbicara—
“Claudia.”
Suara ratu terdengar lembut.
Terlalu lembut.
“Aku mengerti kekhawatiranmu.”
“Dan itu memang logis.”
Kalimat itu bukan penolakan.
Tapi juga bukan dukungan penuh.
Hanya… penempatan posisi.
Mireya berdiri.
“Yang Mulia…”
Ratu menoleh dengan senyum halus.
“Silakan, Mireya.”
Mireya menarik napas.
“Dia memang tidak memiliki sihir.”
“Tapi dia belajar lebih cepat dari anak lain.”
“Dia bertahan di istana ini selama ini meskipun kondisinya tidak menguntungkan.”
Claudia mendengus kecil.
“Bertahan bukan berarti berbakat.”
Sakura akhirnya berbicara.
“Aku ingin ikut.”
Suaranya tenang.
Tidak memohon.
Tidak ragu.
Hanya pernyataan sederhana.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Claudia menoleh tajam.
“Tanpa sihir, kau akan kesulitan bahkan di hari pertama.”
Sakura menatapnya.
“Aku tidak meminta perlakuan khusus.”
“Aku hanya ingin kesempatan yang sama.”
Claudia menyipitkan mata.
“Dan jika kau gagal?”
Sakura terdiam sejenak.
Lalu menjawab pelan.
“Maka aku akan tahu kemampuanku.”
Ratu tersenyum lembut.
“Anak yang berani.”
Ia menatap Sakura lebih lama dari biasanya.
“Tapi Akademi Kerajaan Averion bukan tempat untuk keberanian saja.”
“Di sana, anak-anak sepertimu akan hidup bersama ratusan kandidat lain.”
“Belajar, bertarung, dan bersaing.”
“Bahkan di usia delapan tahun, mereka sudah mulai memahami politik kecil di dalamnya.”
Matanya sedikit menajam.
“Dan tidak semua anak kembali dengan hati yang sama seperti saat mereka masuk.”
Raja akhirnya berdiri.
“Cukup.”
Suara itu memotong seluruh ruangan.
“Aku sudah memutuskan.”
“Akademi Kerajaan Averion adalah hak generasi penerus.”
“Dan setiap anak harus memiliki kesempatan.”
Ia menatap Sakura.
“Dia akan ikut.”
Sunyi.
Claudia tampak ingin berbicara, namun menahan diri.
Ratu tidak membantah.
Ia hanya tersenyum lebih dalam.
“Jika itu keputusan Anda, Yang Mulia,” ucapnya lembut.
“Semoga dia menemukan tempatnya di sana.”
Namun di balik senyum itu—
ada sesuatu yang tidak bisa dibaca siapa pun.
Mireya menunduk dalam.
“Terima kasih, Yang Mulia…”
Namun di dadanya, rasa lega tidak datang sepenuhnya.
Hanya firasat.
Bahwa Akademi ini bukan hanya tempat belajar.
Tapi tempat sesuatu dimulai.
Sakura tetap berdiri.
Delapan tahun.
Tubuh kecil.
Tapi mata yang terlalu tenang untuk anak biasa.
Di dalam dirinya—
racun yang selama ini menjadi penderitaan…
bergerak pelan.
Bukan lagi sekadar sakit.
Tapi respons.
Seolah Akademi Kerajaan Averion sudah memanggil sesuatu yang selama ini tertidur di dalam dirinya.
---------
Hai semua
mimin mau bilang maaf dulu nih jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.
Jangan terlalu berharap ya
Mimin baru mencoba membuat Novel kembali setelah beberapa lama off.
Terima kasih🥰🥰🥰