Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.
...~•Happy Reading•~...
Kemudian Laras menunjukan layar ponselnya kepada Rafael yang masih menatap Hotlif. Rafael berhenti mengusap kepala Laras. "Kau yakin ini?" Bisik Rafael ke telinga Laras.
Laras mengangguk kuat. Dia mengira Rafael telah salah mengenali orang. Sebab orang di depannya sedikit lebih muda dari kepala kantor cabang yang bernama Hotlif.
Namun Rafael berpikir lain saat melihat foto profil kepala kantor cabang berbeda dengan pria yang datang ke rumah.
Sel-sel halus dalam kepala Rafael bekerja cepat, mengaitkan pria yang mengaku sebagai kepala kantor cabang dengan pria yang ada di depannya.
Rafael mengangkat tangan dari kepala Laras lalu melepaskan topi untuk memperlihatkan wajahnya. Dia mau memastikan sebelum mengambil tindakan lebih lanjut. "Anda lupa saya?" Rafael bertanya dengan wajah serius, tanpa mengalihkan mata untuk melihat reaksi Hotlif saat melihat wajahnya.
Seketika wajah pria yang mengaku bernama Hotlif memutih. Dia ingat pria yang dia temui di halaman rumah Laras. Sontak dia melihat ke arah wanita yang dijambak oleh istrinya dengan mata membesar.
Rafael makin yakin, pria di depannya adalah Hotlif yang datang ke rumah dan mengaku sebagai kepala cabang perusahaan. "Anda siapa?" Rafael bertanya serius.
"Suami saya bukan bernama Hotlif." Istrinya coba menolong sambil mengangkat tangan, menghindari suaminya dari amarah Rafael. Dia takut suaminya dituduh mengganggu istri orang.
Angin mulai berbalik arah. "Bukan bernama Hotlif? Apa kalian pasangan penipu?" Rafael tidak mundur dan mulai mengancam.
"Anda jangan sembarang menuduh." Istrinya melawan dengan suara bergetar.
"Anda akan jelaskan di kantor polisi." Ancam Rafael. Dia tidak bergeming walau pria yang bernama Hotlif seperti mau kena serangan jantung.
Dia melihat Laras dengan wajah makin pucat dan panik, juga bernafas pendek. Tidak terlihat lagi rasa percaya diri yang ditunjukan kepada Rafael.
Jantungnya seakan melompat, saat menyadari wanita yang ada di depannya adalah Laras. "Anda Ibu Laras?" Pria itu bertanya untuk meyakinkan diri, sebab Laras sangat berbeda dengan foto profil perusahaan.
"Siapa anda?" Laras jadi berani dan ikut bertanya seperti Rafael. Dia mulai mengerti yang dimaksudkan Rafael dengan nama Hotlif.
"Maaf, Bu, Pak. Saya tadi tidak kenal anda. Saya Hendi, staf Pak Hotlif." Pria itu segera memperkenalkan diri sebab sudah tidak bisa menghindar. "Maafkan tindakan istri saya tadi." Ucapannya membuat Rafael melihat Laras.
"Pa, kau sedang berpura-pura lagi?" Istrinya bertanya sambil mendelik, marah.
"Cepat minta maaf. Ini Bu Laras dari kantor pusat." Hendi mendorong bahu istrinya untuk minta maaf.
"Kau menggertakku?" Istrinya balik mendorong dan hanya melihat Laras sekilas. Laras jadi heran mendengar percakapan mereka.
"Kami tidak perlu maaf kalian." Rafael tidak mau berdebat.
"Security mana?" Rafael melihat salah satu karyawan swalayan terdekat.
"Sedang menuju ke sini, Pak." Jawab karyawan cepat sambil melihat teman lain dan memberikan isyarat untuk menyusul teman mereka.
Namun ucapan Hendi tentang siapa Laras dengan sikap hormat padanya membuat pengunjung tertawa.
'Ya, apeeessss. Istrinya jambak bossnya.'
'Istri cembukor bisa bikin kerjaan suami raib.' Komentar meledek para pengunjung sambil melihat mereka dan tertawa .
"Ada apa ini?" Security bertanya galak. "Ayo, bubar." Security meminta pengunjung membubarkan diri.
"Pak, Ibu ini lakukan tindakan kekerasan pada istri saya..." Rafael menjelaskan tentang tindakan istri Hendi.
Security melihat istri Hendy. "Saya kira dia menggoda suami saya, Pak."
"Pak, dari pada berdebat, kita buktikan..." Rafael menggunakan kesempatan untuk meminta akses cctv swalayan dan tempat private, agar tidak diganggu. Dia ingin meyakinkan kebenaran yang dikatakan Hendi sebagai staf Hotlif.
"Baik, Pak. Mari ikut saya." Security setuju dan mengajak mereka ke ruang pertemuan. Sambil berjalan, Rafael meminta tolong karyawan mengamankan troli berisi belanjaan mereka.
Laras yang sudah lebih tenang, mulai bisa berpikir. 'Jika benar Hendi staf Pak Hotlif, untuk apa datang ke rumah?' Laras membatin. Dia heran dan bingung dengan keterangan Hendi.
Setelah melihat cctv, wajah istri Hendi memerah melihat suaminya yang mendatangi Laras. "Aku lagi bingung mencarimu, kau malah ngeloyor mencari wanita lain." Istri Hendi protes dan memukul suaminya.
"Mencari wanita lain? Aku cuma ke tempat buah..." Hendi berkata sambil memegang tangan istrinya.
"Ibu, bapak, nanti diteruskan di rumah. Selesaikan dulu dengan keluarga ini." Security membentak.
"Ibu sudah lihat? Apa istri saya lakukan sesuatu yang menggoda?"
"Maaf, Pak. Tadi saya lihat beliau tersenyum manis pada suami saya. Jadi saya kira mereka sudah janjian."
"Cuma karna itu, anda jambak saya?" Laras jadi emosi dan memegang kepalanya. "Suami anda datang dan kasih tahu buah mangga yang baik dibeli. Apa saya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum, itu menggoda?"
"Maaf, Bu. Saya cepat emosi, karna..."
Maaf, Bu Laras." Hendi memotong ucapan istrinya, agar tidak membuka aibnya yang sering bermain mata.
"Bu, tidak selamanya wanita yang menggoda. Jadi jangan sembarang main jambak wanita yang berbicara sopan dengan suami anda."
"Mengenai tindak kekerasan anda, akan dibicarakan dengan kuasa hukum istri saya." Rafael sengaja mengatakan demikian, untuk memberikan pelajaran kepada istri Hendi yang ringan tangan. Pasti akan berurusan dengan hukum.
"Sekarang Pak Hendi jelaskan kepada saya, mengapa kemarin menyamar sebagai Pak Hotlif kepada saya." Rafael berbicara serius kepada Hendi. Dia yakin, ada maksud terselubung Hendi mendatangi tempat tinggal mereka.
"Maaf Pak. Saya sengaja mengatakan itu, agar bisa diterima Bu Laras..."
"Jadi anda sengaja lakukan itu..." 'Apa jadinya kalau Laras datang sendiri ke sini?' Rafael bertanya dalam hati.
"Iya, Pak. Saya mau bicara masalah kantor dengan Bu Laras sebelum masuk kerja. Karna melihat bapak, saya bilang begitu...." Kemudian Hendi menceritakan apa yang terjadi di kantor berkenan dengan kedatangan Laras.
Istrinya tidak berani berkomentar, sebab khawatir dengan masa depan pekerjaan suaminya. Sedangkan Rafael berdiam diri dan membiarkan Laras bertanya kepada Hendi tentang situasi kantor dan pekerjaannya.
Rafael tidak mau bertanya atau ikut campur melihat Hendi berusaha menjelaskan untuk mengambil hati Laras. Rafael tetap curiga motivasi Hendi mendatangi tempat tinggal mereka.
Namun dia bersyukur, Laras mendengar sendiri dari Hendi tentang konflik yang sedang terjadi di kantor cabang dan perilaku anak buahnya.
Jadi Laras bisa tahu, apa yang dikatakan benar. Dia tidak boleh sembarang terima karyawan di rumah.
"Sampai bertemu di kantor." Jawab Laras setelah mendengar penjelasan Hendi. Dia mulai mengerti yang dikatakan Rafael tentang karyawan kantor.
"Bu Laras, saya minta tolong tidak katakan ini kepada Pak Hotlif." Hendi memohon. Istrinya ikut memohon, sebab khawatir dengan jabatan suaminya.
"Pak Hendi, saya tidak bisa janji. Kita lihat di kantor, apa yang dikatakan Pak Hendi benar atau tidak. Saya akan jelaskan tugas saya di kantor..." Laras berhenti melanjutkan, sebab Rafael menendang kakinya sebagai kode untuk berhenti.
"Pak, ini hanya salah paham. Terima kasih bantuannya." Rafael segera pamit dari security.
"Jangan cepat percaya ucapan manis mulut manipulatif." Bisik Rafael kepada Laras, setelah berpisah dengan Hendi dan istrinya.
...~•••~...
...~•○♡○•~...