"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lawan yang seimbang
Rima fokus melihat jalanan didepannya itu dengan pandangan kosong, saat ini Rima dan Loka berada dalam satu mobil "bagaimana kau bisa sampai dikota ini ?" Rima melihat Loka yang sedang menyetir dengam sekilas.
"Kenapa kau sangat ingin tahu sekali dengan urusan orang lain" setelah dokter mengatakan bahwa Rima baik - baik saja dan bisa untuk dibawa pulang, Loka tiba - tiba membawa Rima untuk masuk kedalam mobil yang Loka bawa ke klinik.
Loka mengalihkan tatapannya pada jalanan yang berada didepan kepada Rima "aku ingin memastikan bahwa anakku akan baik - baik saja" Rima menatap Loka sambil mendengus tidak suka.
Loka seketika teringat akan pembicaraanya dengan Bima, membuat Loka harus melindungi wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya.
Sebenarnya Loka sudah tahu alasan Rima pergi dari ibu kota sampai ke kota besar disebelah timur pulau jawa itu karena kabur dari perdagangan manusia yang ibunya lakukan padanya dengan mucikari yang paling berkuasa di ibu kota yaitu Bella.
"Dimana kau tinggal ?" Rima hanya melirik sebentar ke arah Loka, bibir Rima terasa keluh untuk menjawab karena mood Rima saat ini benar - benar kacau karena bertemu kembali dengan Loka.
Loka yang tidak mendapat jawaban dari Rima membuatnya membelokkan setir mobil yang sedang dia kendarai memasuki parkiran sebuah rumah makan.
"Untuk apa kita kemari ?" Loka menyunggingkan senyum mengejek pada Rima, entah Rima bodoh atau bagaimana yang jelas jika mereka datang disebuah restoran tandanya salah satu perut mereka minta diisi karena lapar.
"Hamil membuatmu semakin bodoh ya" Rima melototkan kedua bola matanya terkejut dan tidak terima dengan apa yang Loka katakan tentangnya "selamat tuan anakmu nanti juga akan bodoh, karena mengalir darahku padanya" setelah itu Rima membuka pintu mobil dan keluar dari mobil sambil menutup kembali pintu mobil dengan kencang.
Loka yang mendengar dan melihat itu semua seketika tercengang, demi tuhan hanya satu wanita yang bisa mengalahkannya jika silat lidah yaitu Rima.
"Wanita memang Ajaib" gumam Loka dengan pelan kemudian dia mulai mulai membuka pintu mobil dan menghampiri Rima yang saat ini masih berdiri didepan pintu masuk rumah makan tersebut.
Mereka sedang duduk bersama dalam satu meja dengan saling diam menunggu masakan yang mereka pesan datang, Rima hanya diam sambil memainkan ujung bajunya sementara Loka masih sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Masukkan nomor ponselmu disini" Loka menyerahkan ponsel pintar miliknya diatas meja dekat Rima, Rima mengangkat satu alisnya "ku kira hanya diriku yang bodoh, tetapi kau juga sangat bodoh" Rima menghela nafasnya sembari menghela nafas sambil mengalihkan pandangan ke arah samping.
"Apa maksudmu ?" loka bertanya dengan wajah serius dan dingin, ya Loka mulai memperlihatkan ekspresi wajah dinginnya saat dia merasa tersinggung atau tidak suka dengan lawan bicaranya.
"Apa kau buta, hingga tidak bisa melihatku sedari tadi tidak memegang ponsel ?" Loka hanya diam mendengarkan Rima berbicara "aku tidak memiliki ponsel, ponselku tertinggal dirumah lamaku yang ada di" ucapan Rima tergantung begitu saja.
Rima berdehem kemudian menghela nafasnya "aku tidak punya cukup uang untuk membeli ponsel jadi aku" ucapan Rima kembali terpotong saat Loka tiba - tiba menyodorkan sebuah ponsel mahal didepan Rima.
"pakai ponselku untuk sementara, agar aku bisa menghubungimu" Rima melihat Loka dan melihat ponsel milik lelaki itu diatas meja, Rima berfikir seberapa kaya lelaki dihadapannya ini.
Rima sangat tahu berapa harga kedua ponsel milik Loka, Rima hanya diam tidak menanggapi dan dia juga tidak berminat memakai barang milik orang lain.
Loka mengambil ponsel utamanya yang berisi hal - hal penting mengenai pekerjaannya, Loka tidak hanya memiliki dua ponsel dia memiliki tiga bahkan lebih itu semua karna pekerjaan Loka.
"Aku tidak mau memakai barang milik orang lain" Loka ingin menjawab ucapan Rima tetapi pelayan sudah membawa makanan untuk mereka, Loka mengurungkan niatnya yang akan mendebat Rima.
Loka mulai menyuapkan makana kedalam mulutnya sementara Rima masih diam saja memandangi makanan yang ada dipiring Loka, entah kenapa Rima lebih tertarik pada makanan yang berada diatas piring Loka.