Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 11
RUMAH KEDUA
Cahaya pagi menyelinap pelan melalui celah tirai, jatuh tipis di atas seprai putih yang masih kusut. Udara kamar terasa tenang, terlalu tenang—hingga Aria perlahan membuka matanya.
Ia mengerjap beberapa kali. Lalu tubuhnya menegang.
Di sudut ruangan, duduk santai di kursi singel dengan kaki sedikit terbuka, Lorenzo menatapnya tanpa berkedip. Wajahnya datar, seolah sudah lama berada di sana, menikmati pemandangan yang tidak seharusnya ia miliki.
Aria sontak bangkit setengah duduk.
“Apa yang kau lakukan?” suaranya serak, antara kaget dan kesal.
Tanpa menunggu jawaban, ia buru-buru meraih rompi piyamanya yang terlepas, mengenakannya dengan gerakan tergesa. Jemarinya sedikit gemetar, bukan karena takut—lebih karena terganggu.
“Kau tidak punya sopan santun?” lanjutnya tajam. “Memandangi wanita saat tidur?”
Lorenzo tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap sama, dingin, tenang… dan menjengkelkan.
“Aku memandangi istriku, bukan wanita lain.” ucapnya akhirnya, seolah itu satu-satunya hal penting.
Aria mendengus pelan, masih merapikan pakaiannya. “Itu bukan jawaban.”
“Bersiaplah,” lanjut Lorenzo, mengabaikan protesnya. “Kita pindah hari ini.”
Aria berhenti dan masih menatap pria yang kini berdiri. “Pindah?”
“Ke rumah sebelah.”
“Kenapa?”
“Karena itu rumah ku.” Jawaban singkat itu membuat Aria mengerutkan kening. Ia menatap pria itu melalui pantulan cermin, mencoba membaca sesuatu—namun seperti biasa, tidak ada celah.
Beberapa detik hening.
Lalu Lorenzo berdiri, melangkah mendekat beberapa langkah sebelum berhenti.
“Kau banyak bergerak dalam tidur,” katanya datar.
Aria mengerjap. “Apa?”
“Kau melenguh,” lanjutnya tanpa ekspresi. “Memegangi perutmu. Seperti ingin muntah… tapi tidak.”
Ucapan itu membuat Aria terdiam. Wajahnya memanas tanpa ia sadari. “…kau mengamatiku selama itu?” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Lorenzo tidak menjawab. Dan justru karena itulah, Aria semakin kesal.
“Itu bukan urusanmu,” balasnya cepat, menahan rasa malu yang tak ingin ia tunjukkan.
Lorenzo hanya menatapnya sebentar, lalu berbalik.
“Sepuluh menit.”
Pintu terbuka. Tertutup kembali. Meninggalkan Aria dengan perasaan yang… tidak ia mengerti.
Beberapa menit kemudian, mereka berjalan keluar kamar. Langkah Lorenzo tetap tenang, sementara Aria berjalan di sampingnya dengan ekspresi yang masih menyimpan kesal.
Rambutnya tergelung rendah namun tak begitu berantakan.
Begitu sampai di area taman belakang, suara pukulan berat terdengar berulang.
Bugh! Bugh!
Seorang pria tua berdiri di depan samsak besar, memukulnya tanpa henti. Keringat membasahi pelipisnya, namun gerakannya masih kuat—bahkan lebih kuat dari pria yang lebih muda.
Emilio.
Aria memperlambat langkahnya.
“Selamat pagi,” sapanya, nada suaranya jauh lebih ramah dibanding saat ia berbicara dengan Lorenzo.
Pria itu berhenti. Menoleh. Napasnya masih berat.
“Hm,” jawabnya singkat, lalu mengambil handuk di dekatnya. “Kau sudah terbiasa dengan tempat ini, nak?”
“Belum sepenuhnya,” ujar Aria jujur. “Tapi saya rasa saya bisa menyesuaikan diri.”
Emilio mengangguk pelan, menatapnya lebih lama seolah menilai sesuatu. Lalu matanya mengarah ke Lorenzo, dan kembali ke Aria.
“Dia tidak membuatmu kesulitan?” tanyanya, mengarah pada Lorenzo lagi yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Aria melirik sekilas ke arah suaminya. Lalu kembali menatap Emilio. “Dia bukan tipe yang memudahkan siapapun,” jawabnya datar.
Emilio terkekeh pelan.
“Benar.”
“Dan dia juga tidak terlalu pandai bersikap sebagai suami,” lanjut Aria tanpa ragu.
Lorenzo tidak bergerak. Namun rahangnya sedikit mengeras dan tatapannya yang tajam namun santai menatap ke arah lainnya.
Emilio tersenyum tipis, jelas menikmati percakapan itu.
“Kau cukup berani mengatakan itu di depannya.”
“Apa saya salah? Karena itu fakta.” Aria mengangkat alis.
Keheningan sejenak. Lalu Emilio tertawa kecil, lebih pelan kali ini.
“Tidak.” Lorenzo akhirnya bergerak. Ia mendengus pelan, jelas sudah kehilangan minat. “Aku tidak punya waktu untuk ini.”
Tanpa menunggu, ia berbalik dan berjalan pergi.
Aria memperhatikannya sekilas, lalu kembali menatap Emilio.
“Dia selalu seperti itu?”
“Lebih buruk,” jawab pria tua itu santai.
Mereka hampir tertawa kecil… sebelum suara langkah lain mendekat.
“Pagi yang indah untuk berbincang riang ya..” kata Monica yang muncul dengan senyum manis yang… terlalu rapi untuk terlihat tulus.
Aria langsung menegang sedikit. Memperhatikan wanita berdrress hijau tua itu yang sangat berpenampilan elegan serta menarik.
“Selamat pagi,” sapanya sopan pada Monica, meski ada jarak yang jelas dalam nadanya.
Monica mengangguk, lalu menatapnya dari atas ke bawah dengan halus. “Kau tampak segar,” ucapnya, tersenyum. “Sepertinya tidurmu nyenyak.”
Aria tahu itu bukan pujian. Ia membalas dengan senyum tipis. “Cukup nyenyak!”
Emilio memperhatikan mereka tanpa bicara.
“Menemani Lorenzo pindah?” lanjut Monica, nada suaranya ringan.
“Ya.”
“Bagus,” balasnya. “Seorang istri memang seharusnya mengikuti suaminya.”
Ada sesuatu di balik kalimat itu. Aria tidak menyukainya. Ia menoleh pada Emilio. “Permisi, saya harus menyusulnya.”
Pria itu mengangguk.
Tanpa menunggu, Aria melangkah pergi.
Monica memperhatikan punggungnya dengan tatapan berubah. Senyumnya memudar.
“Tidak tahu diri,” gumamnya pelan. “Pergi begitu saja.”
Emilio menghela napas panjang. “Dia tidak melakukan kesalahan.”
Monica menatapnya tajam. “Aku juga ibunya Lorenzo.”
“Kau bukan ibunya,” balas Emilio datar. “Dan dia tidak berutang hormat padamu.”
Ucapan itu seperti tamparan.
Monica membeku sesaat. Sementara Emilio sudah berjalan pergi, mengambil jaketnya.
“Aku akan ke kantor,” katanya singkat. “Jangan membuat masalah yang tidak perlu. Dan jangan memancing amarah Loren, jika kau tidak ingin dalam bahaya.”
Monica hanya diam dan mendengus saat Emilio berjalan melewatinya begitu saja.
.
.
.
Rumah kedua itu berdiri sedikit ke belakang dari mansion utama. Tidak sebesar, tidak semegah… tapi jauh lebih tenang.
Dan entah kenapa, terasa lebih hidup.
Aria melangkah masuk, matanya langsung menyapu ruangan. Interiornya sederhana, garis-garis bersih, warna netral… elegan tanpa berusaha terlalu keras. Ala Victoria namun serba keramik dan berbata indah.
“…aku lebih suka ini,” gumamnya tanpa sadar.
Lorenzo berdiri di dekat nya, memperhatikannya.
“Kau akan tinggal di sini mulai hari ini.”
Aria mengangguk pelan, masih mengamati.
Langkah kaki lain terdengar.
Seorang wanita muda muncul, sekitar dua puluh lima tahun, wajahnya sederhana namun rapi. Tatapannya lembut, tapi ada rasa hormat yang jelas saat melihat Lorenzo. Saat dia tersenyum lebar, maka terlihat pagar besi di barisan giginya.
“Selamat pagi, Tuan dan Nyonya.” sapanya ramah dan sopan.
“Hm, antar dia ke kamarnya.”
“Baik, Tuan.”
Aria menoleh cepat. “Kamarnya?” ulangnya.
Teresa tampak ragu sejenak, namun si pria angkuh itu tidak sama sekali.
“Kita tidak satu kamar?” tanya nya heran menatap suaminya yang masih dingin.
Pria itu menatap balik Aria. “Tidak. Apa itu masalah untukmu?”
“Te-tentu saja tidak. Tapi kenapa?”
“Lebih aman.”
“Untuk siapa?” nada suaranya menipis.
Lorenzo mendekat satu langkah. Tatapannya turun sedikit, menusuk. “Untukmu.”
Aria menahan napas dan menelan ludah. Ada sesuatu dalam cara Loren mengatakan itu yang… tidak bisa ia bantah.
Namun tetap saja— “Jangan meremehkanku,” balasnya pelan.
“Kalau begitu buktikan,” ujar Lorenzo dingin. “Atau… kau takut?”
Kalimat itu jatuh begitu saja dengan sengaja.
Aria terdiam beberapa detik. Lalu ia mengangkat dagu sedikit. “Aku tidak takut, hanya terkejut karena suamiku meminta pisah ranjang.” kata wanita itu tersenyum remeh yang membuat Loren menatapnya datar namun penuh peringatan.
Sementara Teresa tak berani senyum dan hanya diam terkejut mendengar ucapan Aria.
“Bagus.” Lorenzo berbalik, seolah pembicaraan itu sudah selesai. “Jika ada suara di malam hari, maka abaikan saja.”
Aria mengepalkan jemarinya sesaat… lalu mengendurkannya kembali. Meski jujur, dia mulai merinding.
“Ayo, antar aku,” katanya pada Teresa, nada suaranya kembali tenang.
Wanita itu mengangguk dan mulai berjalan.
Aria mengikutinya. Namun sebelum menghilang di balik lorong, ia sempat melirik ke arah Lorenzo sekali lagi, yang hanya berdiri membelakanginya dan menghadap ke jendela tanpa menoleh.
Dan entah kenapa…
hal itu terasa lebih mengganggu daripada jika ia menatapnya kembali. Dan ada rasa penasaran akan pria tersebut.