transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penghuni di kursi belakang
Jam 10 malam. Tamu undangan mulai meninggalkan lokasi satu per satu. Suara ketawa, suara _high heels_ di jalan setapak, sama suara mobil dinyalain jadi _backsound_ penutup pesta.
Taman ini adanya di luar kota, di daerah Puncak. Jauh dari bising Jakarta. Makanya dari awal Eric udah nyiapin 1 hotel, masih kepunyaan keluarga Wijaya, buat tamu-tamu penting beristirahat. Hotel Wijaya Puncak. Gak perlu nyetir turun gunung malam-malam.
Angin malam makin kenceng. Dinginnya nusuk sampai tulang.
Vivian udah nyenderin kepalanya ke dada Eric, di pojokan taman, jauh dari keramaian. Cape. Lemes. Semua energinya yang tadi full buat senyum, buat dansa, buat pura-pura kuat, berasa tiba-tiba disedot habis. Efek hamil + begadang + drama. Jas kebesaran Eric masih nyelimutin badannya. Wangi parfum Eric kecampur sama bau rumput malam, anehnya nenangin.
"Ric, bawa Vivian ke hotel duluan," ucap Bu Ratna. Dia nyempetin nyamperin, biarpun tangannya masih sibuk salaman _sayonara_ sama tamu. "Nanti kami nyusul kalo udah bubar semua. Kasihan dia kecapean. Mukanya udah pucet."
Eric gak bantah. Dia cuma ngangguk sekali. Terus tanpa ngomong, langsung nyelipin satu tangan ke bawah lutut Vivian, satu tangan ke punggungnya. Gendong. Sekali angkat. Enteng kayak angkat bantal.
Vivian reflek ngalungin tangan ke leher Eric biar gak jatuh. "Eh..."
Langkah Eric mulai menjauhi pesta. Tegap, stabil. Lurus langsung ke arah parkiran tempat Maybach hitam udah nunggu, mesin nyala, supir _standby_.
"Kak Eric."
Panggilan itu terdengar dari arah belakang. Lemah lembut. Kayak sengaja dibikin sehalus mungkin biar nyentuh hati.
Eric spontan balik badan. Masih gendong Vivian. Jasnya yang kebesaran bikin Vivian kayak bungkusan di pelukan Eric.
Alea. Berdiri di bawah lampu taman. Dress putihnya ketiup angin. Rambutnya agak acak-acakan. Mukanya keliatan... rapuh. Mata rusa. "Aku mau pulang ke hotel, boleh gak aku ikut mobil kalian?" Tanyanya. Bibirnya agak gemeter. Dingin atau akting, gak tau.
"Gak," Vivian yang nyahut. Biarpun matanya merem, kepalanya masih di dada Eric. Suaranya datar, tapi mutlak. Kayak nolak nawar gorengan.
Alea keliatan kesal. Alisnya naik sepersekian detik. Tapi ditahan. Cepet banget, terus balik lagi ke mode lemah. "Kak Eric bisa bantu aku?" Tanyanya lagi. Kali ini lebih rapuh, lebih lemah, lebih... korban. "Taksi udah gak ada. Bi Ijah katanya masih lama. Aku... aku gak enak kalau ngerepotin."
Vivian buka matanya sekarang. Satu. Lirik Alea. "Enggak," jawabnya lagi. Lebih tegas. Lebih nyolot.
"Ikut saja, mobil kami kosong," ucap Eric. Bikin mata Vivian melotot lagi. Sempurna. _Plot twist_ dari suami sendiri.
Eric emang gitu. Otaknya logika. Mobil kosong, muat, yaudah ikut aja. Gak mikir _feeling_ istri. Gak mikir mantan _vibes_.
Vivian langsung ngangkat kepala dari dada Eric. Senyum. Tapi senyum _psycho_. "Bi Ijah mau ke hotel?" Ucap Vivian tiba-tiba saat melihat Bi Ijah dan dua pelayan lain mendekat ke parkiran, nenteng kardus _souvenir_ sisa.
"Iya, Nyonya," sahut wanita separuh baya itu, nunduk hormat. "Kami mau beres-beres terus langsung ke hotel. Mobil _box_ udah nunggu."
"Pas kalo gitu," pungkas Vivian, matanya gak lepas dari Alea. "Dokter Alea masuk rombongan kalian. Lebih rame. Lebih aman. Kan Bi Ijah juga perempuan, bisa ngobrol sepanjang jalan."
Bi Ijah cuman menganggukkan kepalanya patuh. "Siap, Nyonya. Ayo, Dok."
Alea gigit bibir. Rencananya gagal. Tapi dia masih senyum. Senyum getir. "I-iya. Makasih, Nyonya. Kak Eric."
"Ayo, Sayang, kita pulang," ucap Vivian lagi ke arah Eric. Nadanya manis banget, beda 180 derajat dari pas ngusir Alea. Matanya merem lagi, sambil nyelusupin kepalanya ke dada bidang suaminya. Pemenang. Telak.
Eric gak bantah. Dia lirik Alea sekilas, "Hati-hati," terus langsung masuk mobil. Dudukin Vivian pelan-pelan di jok belakang, terus dia ikut masuk, nutup pintu. Masalah Alea sudah ada yang urus. Untuk apa diperdebatkan.
Sementara Alea nampak masih senyum ke arah mobil yang jalan, tapi hatinya mendelik. Tangannya ngepal di samping gaun. _"Harusnya aku yang jadi Nyonya Wijaya. Harusnya aku yang digendong Kak Eric. Bukan dia. Bukan perempuan matre itu."_ Batinnya.
Di dalam mobil, Vivian masuk, matanya masih merem tapi senyumannya penuh kemenangan. Dia menangin ronde pertama.
Kalau sesuai karakter tokoh, Alea ini cenderung lemah secara karakter. Dia baik hati, penurut, pemaaf, gampang diperdaya, kurang mendominasi walaupun posisinya sebagai pemeran wanita utama di novel asli. Tipe _white lotus_. Tapi Vivian tau, _white lotus_ kalau udah terpojok, akarnya beracun.
Mobil mewah itu jalan, memecah dinginnya angin malam Puncak. Jalanan sepi, cuma ada lampu jalan sama suara jangkrik.
"Kamu kenapa bersikap keterlaluan pada Alea?" Tanya Eric, buka pembicaraan. Suaranya rendah, datar. Tapi ada nada gak setuju. "Dia salah apa sama kamu? Dia cuma mau nebeng."
Vivian yang tadi menyenderkan kepalanya di jok, malas-malasan, langsung membuka mata lagi. _Deg._
_Mungkinkah benihnya udah tumbuh?_ Benih cinta lama. Benih kasihan. Benih _hero complex_ Eric ke cewek lemah.
Dengan cepat Vivian tekan tombol di panel pintu dengan kakinya. _Wuuung_. Kaca pembatas antara jok pengemudi dan penumpang belakang langsung naik, otomatis. Memisahkan mereka dari supir. Privasi. _Mode Boss_.
Secepat kilat, gadis itu menyingkap gaun putrinya yang ngembang, narik sedikit biar gak ribet. Terus langsung pindah, duduk di pangkuan Eric. Ngangkangin paha Eric. Jas Eric yang kebesaran masih nyelimutin badannya, tapi sekarang posisinya... bahaya.
Mata mereka berhadapan. Jaraknya gak sampai 10 cm. Napas Vivian kena bibir Eric. Napas Eric kena pipi Vivian.
Suasana tiba-tiba tegang. Hawa di mobil AC langsung berasa panas.
"Mungkin di kehidupan yang lalu dia pernah rebut kebahagiaanku," ucap Vivian. Pelan. Penuh arti. Matanya natap Eric tajam. _Deep_.
Seolah bilang: _Kalo dunia novel ini sebenarnya udah tamat. Novenya udah terbit dan kejual berjuta-juta salinan. Di sana, Alea menang. Kamu cerai sama aku. Kamu nikahin dia. Dan aku mati. Jadi aku gak bakal biarin kejadian lagi._
Tapi Eric gak tau. Karena dia cuman tokoh fiksi di novel romansa. Dia cuma liat istrinya lagi aneh, ngomong gak jelas, tiba-tiba agresif.
"Atau..." Vivian lanjut. Jarinya mulai bikin pola putaran di dada bidang Eric, di atas kemejanya. Pelan. Goda. "Jangan-jangan... kamu suka Alea?" Tanyanya lagi. Suaranya berbisik. Bibirnya deket banget sama kuping Eric. "Kasihan lihat dia lemah? Pengen nolongin? Kayak dulu?"
Eric natap wajah Vivian yang deket banget sama wajahnya. Gak ada ekspresi. Datar. Bibirnya rapat. Kayak patung. Seolah bilang _enggak_.
Tapi jantungnya...
_Dug. Dug. Dug._
Berdegup kencang. Keras banget sampai Vivian yang duduk di atasnya bisa ngerasain getarannya di paha. Kayak drum band. Seolah bilang _iya_. Atau seolah bilang _panik karena bini gue tiba-tiba mode liar_.
Vivian senyum. Senyum miring. Menang lagi. "Jantungmu bohong, Suamiku," bisiknya.
Di depan, supir pura-pura budek. Di luar, Puncak gelap. Di dalam, perang baru aja dimulai.
like, komen jangan lupa.