NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Ibu

Udara di dalam ruang rapat lantai tertinggi Mahardika Group terasa begitu tipis, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh ketegangan yang kasat mata. Cahaya lampu LED yang terang memantul di atas meja kaca panjang yang dikelilingi oleh para direktur regional. Mereka semua duduk dengan punggung tegak, menahan napas setiap kali slide presentasi berganti. Mata mereka sesekali melirik ke ujung meja, tempat sang CEO berdiri tegak dengan aura yang mampu membekukan ruangan.

Erlangga Mahardika tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak rapat dimulai tiga puluh menit lalu. Tatapannya hanya terfokus tajam pada layar besar yang menampilkan grafik laporan penjualan kuartal yang sedikit mengalami penurunan di beberapa sektor. Ia tampak seperti predator yang sedang mengincar kelemahan mangsanya.

Sampai tiba-tiba, getaran ponsel di atas meja memecah keheningan yang menyesakkan itu. Erlangga melirik layar ponselnya yang menyala.

Mama Calling.

Jika itu adalah klien penting atau direktur dari perusahaan lain, Erlangga pasti akan langsung mengabaikannya tanpa ragu. Namun, karena nama ibunya yang tertera di sana, ia menarik napas panjang, merapikan jasnya, dan menoleh ke arah peserta rapat dengan nada suara yang rendah namun otoriter.

“Lanjutkan tanpa saya selama lima menit. Jangan ada yang melewatkan poin krusial,” perintahnya singkat.

Seluruh orang di ruangan itu langsung mengangguk serempak, seolah baru saja diberikan izin untuk bernapas kembali. Erlangga melangkah keluar menuju balkon privat di luar ruang rapat yang menyajikan pemandangan beton Jakarta dari ketinggian. Ia menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinganya.

“Iya, Ma, ada apa? Langga sedang rapat,” ucapnya tanpa basa-basi.

“Langga, Mama hanya ingin mengingatkan. Jangan lupa jadwalmu malam ini,” suara ibunya terdengar tegas namun penuh kasih di seberang sana.

Erlangga mengernyitkan dahi, mencoba mengingat agenda pribadinya yang biasanya sudah diatur oleh asistennya. “Malam ini?"

“Pertemuan perjodohanmu, Langga! Jangan bilang kamu sengaja menghapusnya dari kepalamu,” suara mamaya meninggi satu oktav.

Erlangga terdiam. Ia memejamkan mata sesaat sambil memijat pelipisnya. Benar juga. Ia hampir lupa bahwa mamanya telah mengatur pertemuan dengan anak kolega bisnis lama keluarga Mahardika. Pertemuan yang sudah ia tunda berkali-kali dengan berbagai alasan pekerjaan.

“Mama sudah mengirim lokasi restorannya lewat pesan singkat. Jam delapan malam tepat. Jangan sampai kamu terlambat satu menit pun, Langga. Mama tidak mau menanggung malu di depan teman lama Mama.”

“Iya, Ma. Aku mengerti.”

“Dan satu lagi,” tambah mamanya sebelum menutup telepon. “Tolong, jangan pasang wajah jutekmu itu. Cobalah bersikap seperti manusia normal, bukan seperti robot. Mengerti?”

Erlangga mendesah pelan, menatap langit Jakarta yang mulai berubah jingga. “Aku akan usahakan, Ma.”

“Bagus. Mama tunggu kabar baiknya.”

Klik.

Telepon ditutup sepihak. Erlangga menatap layar ponselnya beberapa saat, merasakan beban tambahan di pundaknya. Tak terasa, hari yang paling ia hindari akhirnya datang juga. Ia memasukkan ponsel ke saku jasnya, mengatur kembali ekspresi wajahnya menjadi datar, lalu kembali masuk ke ruang rapat.

“Lanjut,” ucapnya singkat sambil kembali duduk di kursi kebesarannya.

Rapat berakhir hampir dua jam kemudian setelah perdebatan sengit mengenai strategi pemasaran global. Satu per satu direktur keluar dari ruangan dengan wajah lelah, menyisakan Erlangga yang masih memeriksa beberapa catatan di tabletnya dan Rian yang duduk santai di sampingnya.

Rian melirik tabletnya sendiri, lalu menoleh ke arah Erlangga. “Lang, nanti malam ada dinner meeting jam delapan sama kolega dari Bandung yang baru dateng. Mereka bawa proposal investasi buat proyek di Lembang. Gimana?”

Erlangga menatap Rian datar. “Gue ga bisa.”

Rian mengangkat alisnya tinggi-tinggi, tampak sangat terkejut. “Hah? Serius lo? Tumben banget lo nolak makan malam bisnis. Ada apaan emang? Lo mau kencan?”

“Ada urusan,” jawab Erlangga singkat tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di depannya.

Rian menyipitkan mata, menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik yang tajam. “Urusan? Urusan sepenting apa sampe lo rela nunda proyek triliunan?”

Erlangga tetap diam, namun jemarinya berhenti bergerak di atas layar tablet. Rian, yang sudah mengenal Erlangga sejak masa sekolah, tiba-tiba menyadari sesuatu. Matanya membesar, dan sebuah seringai jahil muncul di wajahnya.

“WAIT!” Rian menunjuk wajah Erlangga dengan semangat. “Jangan-jangan… hari ini jadwal meeting jodoh lo yang diatur nyokap lo itu ya?! Yang sama anak pengusaha tekstil itu?”

Erlangga tidak menjawab, namun rahangnya yang mengeras sudah menjadi jawaban yang cukup bagi Rian. Rian langsung meledakkan tawa keras yang menggema di ruang rapat yang kosong itu.

“GILA! GAK NYANGKA!” seru Rian di sela tawanya. “CEO paling dingin se-Asia, pria yang ditakuti semua kompetitor, akhirnya takluk juga sama perintah Mamanya buat dijodohin! Sumpah, ini berita paling lucu tahun ini!”

“Diam, Rian. Atau gue potong gaji lo buat bayar tawa lo itu,” ancam Erlangga dingin.

Rian masih tertawa, meski volumenya sedikit mengecil. “Pantesan lo nolak dinner meeting. Ternyata lo mau pamer ketampanan di depan calon istri. Siapa namanya? Clarissa? Atau siapa?”

“Gue nggak peduli namanya. Lo yang gantiin gue ketemu kolega Bandung nanti malam,” perintah Erlangga.

Rian langsung memasang wajah menderita, seolah baru saja dijatuhi hukuman mati. “Hah?! Lo tega banget sama gue, Lang! Gue juga manusia, gue juga butuh istirahat, gue juga butuh—”

“Bonus akhir bulan ini akan gue tambah dua puluh persen jika lo bisa bikin mereka tanda tangan kesepakatan awal malam ini,” potong Erlangga tenang.

Rian langsung menegakkan punggungnya, wajah menderitanya hilang seketika digantikan dengan senyum profesional. “Siap laksanakan, Yang Mulia CEO! Makan malam sama orang Bandung mah kecil. Gue bakal bikin mereka tanda tangan pake tinta emas kalau perlu!”

Erlangga mendengus kecil melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia melirik jam tangan mewahnya. Waktu berlalu begitu cepat. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Ia menutup map terakhir di mejanya, lalu berdiri dengan mantap.

Erlangga melangkah masuk ke ruang privat kecil di belakang meja kerjanya. Ruangan itu adalah tempat pelariannya jika ia terlalu lelah untuk pulang. Di dalamnya ada tempat tidur minimalis, kamar mandi mewah, lemari pakaian yang berisi setelan-setelan terbaik, dan sofa untuk beristirahat.

Setelah mandi cepat dengan air dingin untuk menyegarkan pikirannya yang penat, Erlangga mulai bersiap. Ia memilih kemeja hitam dari bahan sutra terbaik, dipadukan dengan jas abu-abu gelap yang dijahit khusus untuk postur tubuhnya. Ia menyisir rambutnya dengan rapi, menyemprotkan sedikit parfum dengan aroma woody yang maskulin, dan mengenakan jam tangan edisi terbatasnya.

Tampilannya sempurna, mencerminkan kelas dan kekuasaan seorang Mahardika. Saat ia keluar dari ruang privat, Rian sudah berdiri di sana sambil menyandarkan tubuh ke pintu ruangan, menatapnya dengan ekspresi takjub yang dibuat-buat.

Begitu melihat Erlangga, Rian bersiul panjang. “Buset… Lang, lo mau perjodohan atau mau audisi jadi model majalah internasional? Ganteng amat lo malam ini. Auranya beda.”

Erlangga menatapnya datar melalui cermin besar. “Berisik.”

“Gue serius, Lang. Kalau gue cewek, gue rasa gue bakal langsung bilang 'yes' bahkan sebelum lo sempet buka mulut buat nanya kabar,” canda Rian lagi.

“Pergi sekarang, Rian. Kolega Bandung itu sudah menunggu,” usir Erlangga.

Rian tertawa riang sambil melangkah pergi menuju pintu keluar. Namun sebelum benar-benar keluar, ia menoleh lagi ke arah Erlangga. “Semoga beruntung, Bro! Semoga jodoh lo nggak langsung kabur atau pingsan gara-gara lihat muka galak lo yang kayak mau ngajak perang itu. Minimal senyum sedikit lah!”

Erlangga mengambil sebuah map kosong di atas meja dan melemparkannya ke arah Rian. Rian dengan sigap menghindar sambil tertawa keras, lalu menghilang di balik pintu.

Beberapa saat kemudian, Erlangga turun ke lobby gedung dengan lift privat. Begitu pintu lift berdenting terbuka, mobil sport hitamnya sudah terparkir manis di depan pintu masuk utama. Seorang petugas valet berdiri dengan sikap hormat sambil memegang kunci mobil.

“Mobil Anda sudah siap, Pak Erlangga,” ucap petugas itu sambil membungkuk.

Erlangga mengambil kunci itu dengan gerakan elegan. “Terima kasih.”

Ia masuk ke dalam kemudi, merasakan aroma kulit mewah di dalam mobilnya. Ia menyalakan mesin, suara deru knalpotnya yang halus namun bertenaga membelah keheningan lobi. Erlangga mulai berkendara membelah kemacetan Jakarta menuju lokasi restoran mewah yang dikirimkan ibunya.

1
Faiz Utama
gws hp
Fatma
Kasian hp nyaa
Nadia Julia
Enaknya punya temen kyk Rian
M. ZENFOX: Author kak💪
total 1 replies
Nadia Julia
Semangat thorr, aku tunggu updatenya ;)
M. ZENFOX: Siapp
total 1 replies
Nadia Julia
Jail amat
Nadia Julia
Perbedaan kael & Erlangga :)
M. ZENFOX: Apatuh?
total 1 replies
Nadia Julia
Jangan pernah pelit untuk memberi intinya, bolee
Nadia Julia
Semangat Thorrr>
M. ZENFOX: Makasih kakkk💪
total 1 replies
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
M. ZENFOX: Makasihh kakk🤩
total 1 replies
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
M. ZENFOX: Tau ya, ngapain diem 😄
total 1 replies
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
M. ZENFOX: hehe🙄😁
total 1 replies
Nessa
gimna nasib zea
M. ZENFOX: Di tunggu ya kakk
total 1 replies
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
M. ZENFOX: Sama kak🥲
total 1 replies
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
M. ZENFOX: Ending tamatnya cepet kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!