Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
"Nata, nanti malem jalan-jalan yuk!" ajak Fabian pada Natalie.
Saat ini keduanya sedang menyiram bunga di halaman rumah. Ngomong-ngomong tentang Nathan dan keluarganya, mereka sudah pulang setelah makan siang tadi. Dan tinggal lah mereka berdua sekarang.
"Ke mana?"
"Taman."
"Boleh."
Fabian memetik bunga mawar hitam yang tumbuh cantik di halaman. Ia mengambil setangkai, memotong duri yang tumbuh di tangkainya.
"Nata, Lo ada vas yang nggak kepake nggak?"
"Ada, bentar."
Natalie mencari vas bunga yang sudah lama nggak kepakai. Meskipun udah usang, tapi masih bisa di gunakan. Ia menyerahkan vas itu kepada Fabian. Dengan telaten, Fabian menaruh bunga mawar hitam yang sudah ia petik. Dengan air secukupnya agar bunganya tetap segar. Ia juga menambahkan beberapa tangkai bunga mawar putih yang baru saja ia petik. Mawar putih itu mengelilingi mawar hitam yang dengan sengaja ia letakkan di tengah-tengah.
"Nata," panggil Fabian.
Natalie yang semula menyirami bunga di sudut halaman, menghampiri sahabatnya itu.
"Nata, Lo tau nggak kenapa gue taruh bunga mawar hitam ini di tengah-tengah mawar putih?" ucap Fabian.
"Kenapa?" tanya Natalie heran.
"Mawar hitam yang ada di tengah-tengah itu adalah Lo," ucap Fabian dengan senyum manisnya.
"Jadi maksud Lo gue jelek, gitu?" sebal Natalie pada Fabian.
Fabian hanya terkekeh kecil di buatnya. "Nggak gitu. Justru yang di tengah-tengah itu lah yang lebih berharga. Gue taruh mawar hitam itu di tengah-tengah agar Lo tahu, bahwa setiap ketidaksempurnaan seseorang pasti ada kelebihannya. Kayak bunga mawar ini. Mungkin di sekitarnya adalah mawar putih yang selalu di anggap suci, sedangkan mawar hitam ini adalah keburukan. Nyatanya nggak seperti itu, mawar putih selalu mengelilingi mawar hitam karena mereka tetap sama. Sama-sama mempunyai kelemahan dan kekurangan. Mungkin orang lain berpikir mawar hitam ini hanyalah sampah yang tak begitu banyak orang mintai, tapi menurut gue mawar hitam ini adalah berlian yang jarang orang lain temui. Sama kayak Lo, seburuk apapun orang lain mandang Lo, di depan gue Lo tetaplah sempurna," kata Fabian.
Semburat merah padam muncul di pipi Natalie. Ia tersenyum malu, mendengar setiap perkataan dari Fabian. Menurutnya Fabian itu memang nggak romantis, tapi terkadang perlakuan kecilnya lah yang bikin ia betah di dekat pemuda itu. Bukan berarti Nathan nggak membuatnya nyaman. Justru perbedaan keduanya lah yang bikin ia semakin bertahan di sisi keduanya.
"Ck apa sih. Udah-udah lanjutin sirami bunganya, keburu malem entar," ucap Natalie mengalihkan topik, karena jujur saja ia merasa malu sekarang.
Fabian yang mengetahui gelagat aneh Natalie hanya bisa bis tertawa pelan. "Cielah, keburu malem apa salting?" godanya sambil menaik turunkan sebelah alisnya.
"Ck, apasih Ian!" teriak Natalie.
Natalie langsung berlari dari pandangan Fabian. melanjutkan acara menyirami bunga yang ia tinggalkan.
"Nata, Nata. Lo lucu kalau lagi salting kayak gitu," gumam Fabian tak habis pikir.
Beberapa menit berlalu, kini keduanya sedang duduk lesehan di teras rumah. Duduk sambil beralaskan tanah, membuat baju mereka sedikit kotor.
"Ian, Lo nggak mau pulang dulu apa?"
"Bentar lagi. Masih gerah gue,"
"Yaudah. Gue masuk dulu ya, mau mandi. Nanti kalau Lo mau pulang jangan lupa gerbangnya tutup," ucap Natalie sebelum akhirnya masuk ke dalam.
Fabian hanya mengangguk mengerti. Sebelum akhirnya ia menghela napas berat.
"Pulang ya? Gue harus pulang ke mana?" tanyanya pada diri sendiri.
Fabian mendongak, melihat ke langit yang berwarna jingga. matahari sudah pulang ke tempatnya, sedangkan ia masih diam di sini. Burung-burung berterbangan kembali ke sangkarnya.
"Hah, gue beneran harus pulang kayaknya," ucapnya sesaat, sebelum akhirnya benar-benar beranjak dari rumah Natalie.
Sedangkan di dalam, Natalie tak langsung mandi sesuai ucapannya pada Fabian. Ia justru mengintip lewat celah-celah jendela. Memperhatikan setiap gerak-gerik yang pemuda itu lakukan. Sebelum akhirnya pemuda itu benar-benar pergi.
"Mawar hitam yang Lo maksud itu Lo kan, Ian …," batinnya.
......................
Di sisi lain, Fabian menginjakkan kakinya di kamarnya. Belum ada satu menit ia berjalan masuk, lagi-lagi suara pecahan dan bentakan itu terdengar. Kali ini begitu kuat, sampai-sampai memecahkan gendang telinga. Ia menutup kedua telinganya rapat-rapat, berharap suara-suara itu tak masuk pendengarannya. Tapi sayang, suara itu terlalu keras bahkan untuk sebuah bentakan biasa.
Di ruang tamu, tempat di mana kedua orang tua Fabian dan satu orang wanita hamil berada. Mereka bertiga terlibat perdebatan yang sengit.
"JAWAB AKU MARIO, SIAPA ANAK SIAPA YANG SEDANG PELACUR ITU KANDUNG! JAWAB!" teriak Manda.
Emosinya meledak-ledak saat mengetahui pelacur di depannya mengaku hamil anak suaminya. Istri mana yang tidak marah saat mengetahui suaminya selingkuh, bahkan sampai hamil. Meskipun ia akui, dirinya juga selingkuh. Tapi itu semua pura-pura. Ia hanya pura-pura selingkuh agar suaminya itu sadar dengan apa yang sedang di lakukannya.
Nyatanya ia salah. Suaminya justru menghamili wanita lain di belakangnya. Ia benar-benar kecewa.
"Manda, dengerin penjelasan aku dulu. Aku nggak pernah sekalipun berhubungan badan dengan siapapun selain kamu. Bahkan aku nggak pernah menghamili wanita lain selain kamu. DAN KAMU, BERANI-BERANINYA KAMU NGAKU-NGAKU HAMIL ANAK AKU. KU BAHKAN NGGAK SUDI MENYENTUH KAMU SEDIKITPUN." bentak Mario pada wanita di depannya.
"Apa-apaan kamu mas. Aku hamil anak kamu, darah daging kamu. Apa kamu lupa sama apa yang terjadi satu bulan lalu. Bukannya kamu sendirii yang minta agar aku hamil. Dan sekarang? Kamu berlagak seolah-olah nggak pernah sekalipun nyentuh aku?" bela wanita itu.
Plak!
"Tutup mulutmu jalang. Saya nggak pernah bicara seperti itu kepadamu. Apa yang kamu bilang? Satu bulan yang lalu?" Mario terkekeh kecil, menatap tajam wanita di depannya. "Satu bulan yang lalu saya bahkan nggak kenal kamu sama sekali. Satu bulan yang lalu justru saya ada di rumah, nggak ke mana-mana. Jadi, jangan mengarang cerita yang belum tentu itu benar, bitch."
"Nggak, nggak mungkin." wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Kamu jngan bohong mas. kamu. Harus bertanggung-jawab. Anak yang aku kandung sekarang adalah anak kamu, dan kamu adalah ayahnya," sangkal wanita itu.
"Sudah saya bilang. Anak itu bukan anak saya," tekan Mario.
"Dia anak kamu mas—"
"DIAM!" terik Manda.
"Manda—"
"Diam kamu mas! Dan kamu, kalau memang benar anak yang di kandungan kamu itu anak suami saya. Mana buktinya!"
Wanita itu gelagapan sendiri di buatnya. Ia memundurkan langkahnya pelan, menghindari tatapan tajam dan menusuk Manda.
"S-saya punya buktinya," ucap wanita itu terbata-bata.
"Manda. Jangan dengerin jalang itu. Dia hanya ingin menghancurkan rumah tangga kita."
"Rumah tangga kamu bilang Mario? Rumah tangga mana yang kamu sebut? Keluarga kita udah hancur Mario, bahkan sebelum kedatangan wanita itu," ucap Manda.
"Dan kamu. Kalau memang benar itu adalah darah daging suamiku. Datang ke rumah ini besok pagi, kita akan tes DNA anak itu di rumah sakit." putus Manda lalu pergi meninggalkan keduanya.
Setelah kepergian Manda, Mario menatap tajam wanita murahan di depannya itu.
"Puas kamu! Puas udah hancurin keluarga saya!" bentaknya.
Mario melempar vas bunga di atas nakas, lalu pergi begitu saja meninggalkan wanita itu. Saat semuanya pergi wanita itu menyeringai tipis. Rencananya untuk menghancurkan keluarga Mario telah berhasil.
Tanpa ia sadari, Fabian merekam semuanya. Dalam vas bunga yang Mario lempar, terdapat kamera kecil yang Fabian sembunyikan di sana. Semua kejadian yang terjadi sore itu, terekam dengan jelas.
.
.
.