Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu dengan seseorang di masalalu
Lampu koridor rumah sakit yang dingin bersahut-sahutan dengan langkah terburu-buru para perawat yang mendorong brankar dimana Hanum telah terbaring tak berdaya di atasnya. Di sampingnya, pria itu, yakni Alvaro Sanjaya sedang berjalan dengan raut wajah yang tegang. Setelan jasnya yang basah kuyup tak lagi ia hiraukan, pandangannya hanya terkunci pada wajah pucat Hanum.
Setelah beberapa saat menunggu dengan cemas di depan ruang tindakan, pintu akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas maskernya.
"Dok, bagaimana kondisinya Hanum?" tanya Alvaro seketika, suaranya terdengar serak.
"Pasien mengalami anemia akut, Tuan. Tekanan darahnya sangat rendah, kemungkinan besar karena kelelahan fisik yang luar biasa dipadu dengan tekanan batin atau stres berat," jelas dokter tersebut dengan nada tenang.
Alvaro tertegun, rahangnya mengeras mendengar kondisi Hanum. "Lalu, apa yang harus dilakukan?"
"Sebaiknya pasien dirawat di rumah sakit ini selama beberapa hari untuk observasi dan pemulihan total."
"Lakukan yang terbaik untuk Hanum, Dok! Berikan fasilitas terbaik, saya tidak peduli soal biaya," tegas Alvaro tanpa ragu.
Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan. "Baik Tuan, Anda tenang saja. Setelah mendapatkan penanganan medis yang tepat, saya yakin istri Anda akan baik-baik saja."
Mendengar kata "istri", Alvaro sempat tertegun. Ada rasa pahit yang menjalar di tenggorokannya saat ia terpaksa menelan ludah. Ia tidak membantah, hanya mengangguk gugup. "T... terima kasih, Dok."
'Num, andai dulu kau menerima perjodohan dari Papah, mungkin hidupmu tidak akan sehancur ini,' batin Alvaro pedih sembari menatap pintu ruang perawatan.
Beberapa jam kemudian, Hanum sudah dipindahkan ke ruang VVIP. Alvaro duduk di samping tempat tidur, matanya tak lepas menatap jemari Hanum yang kini terpasang selang infus. Ia memberanikan diri meraih tangan itu, menggenggamnya lembut seolah takut sosok di depannya akan menghilang lagi.
Perlahan, kelopak mata Hanum bergetar. Ia mengerang pelan saat kesadarannya mulai kembali. Saat matanya benar-benar terbuka, hal pertama yang ia tangkap adalah langit-langit putih, lalu sosok pria yang sangat familiar, sosok yang selama lima belas tahun ini berusaha ia lupakan demi rasa bersalahnya.
"K... Kak Al?" bisik Hanum terbata, suaranya hampir hilang.
"Num... ini aku," sahut Alvaro dengan suara bergetar.
"Kak Al... ini benar-benar Kak Al?" Air mata Hanum mengalir tanpa bisa dibendung. Dunianya yang baru saja runtuh tiba-tiba dipertemukan kembali dengan kepingan masa lalunya.
"Iya, ini aku. Lama sekali kita tidak jumpa, Num. Kak Al sangat merindukanmu... adik kecilku," ucap Alvaro dengan emosi yang membuncah. Ia tak lagi sanggup menahan diri, ia condong ke depan dan memeluk Hanum dengan sangat protektif.
Dalam pelukan itu, Hanum menangis sesenggukan. Meskipun Alvaro adalah anak adopsi yang dibawa Tuan Sanjaya dari panti asuhan sebagai "pancingan" agar istrinya bisa hamil, bagi Hanum, Alvaro adalah kakak yang selalu melindunginya sejak ia lahir.
Pikiran Hanum melayang ke masa enam belas tahun yang lalu. Saat ayahnya dengan tegas memintanya menikah dengan Alvaro. Kala itu, Hanum memberontak. Baginya, Alvaro adalah kakak kandungnya sendiri meski tanpa ikatan biologis. Bagaimana mungkin ia menikah dengan pria yang mengajarinya naik sepeda dan menghapus air matanya sejak kecil?
Karena keras kepalanya itulah, Hanum memilih kabur dan menikah dengan Johan, pria yang ia kira akan memberinya kebebasan, namun justru memberinya luka yang paling dalam. Kini, di titik terendahnya, justru sosok Kak Al yang menemukannya di pinggir jalan, tetap dengan tatapan melindungi yang sama seperti lima belas tahun yang lalu.
*
*
Di dalam apartemen mewah kawasan Jakarta Selatan, Johan masuk dengan langkah yang begitu ringan, seolah beban berat baru saja terangkat dari bahunya. Monica yang sudah menunggu dengan gaun malam berbahan sutra tipis langsung menyambutnya dengan pelukan manja.
"Kenapa wajahmu cerah sekali, Mas? Ada kabar baik?" tanya Monica sambil mengalungkan lengannya di leher Johan.
Johan tertawa puas, tawa yang terdengar sangat angkuh. "Semuanya beres, Sayang. Hanum sudah aku tendang keluar dari rumah. Aku sudah menjebaknya dengan skenario perselingkuhan yang sempurna di hotel dekat kantor firma teman lamaku, yaitu Pengacara Jason. Dia tidak punya celah untuk melawan. Tadi di depan anak-anak dan ibuku, aku sudah mengusirnya karena aku telah menceraikan nya dengan talak tiga sekaligus padanya."
Monica terbelalak, lalu senyum lebar merekah di wajah cantiknya. "Benarkah? Jadi dia benar-benar percaya dijebak seperti itu? Mas, kau jenius sekali!"
"Dia terlalu polos, Mon. Dia pikir dia bisa melawanku dengan detektif bayaran? Dia salah besar," ujar Johan seraya mengecup kening Monica.
Penantian Monica selama dua tahun menjadi wanita simpanan akhirnya berbuah manis. Malam itu, mereka merayakan kemenangan tersebut dengan penuh gair4h di dalam kamar apartemen yang dingin, melampiaskan nafsu seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua tanpa mempedulikan hancurnya hati Hanum di tempat lain.
Setelah suasana mulai tenang dan napas mereka kembali teratur, Monica bangkit sebentar menuju meja rias. Ia mengambil sebuah kotak beludru kecil berwarna merah dan kembali duduk di pangkuan Johan yang masih bersandar di sandaran tempat tidur.
"Apa ini, Sayang?" tanya Johan, matanya menatap kotak itu dengan dahi berkerut.
"Buka saja, Mas!" balas Monica dengan nada misterius yang menggoda.
Dengan tangan sedikit gemetar, Johan membuka tutup kotak tersebut. Alih-alih perhiasan atau jam tangan, di dalamnya terdapat sebuah alat test pack berwarna putih. Johan terpaku saat melihat dua garis merah yang terlihat sangat jelas di sana.
"Monic... k... kamu hamil?" suara Johan tercekat antara kaget dan tidak percaya.
Monica mengangguk dengan malu-malu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Johan. "Iya, Mas. Aku hamil... sudah masuk delapan minggu."
Mata Johan berbinar-binar. Meski ia sudah memiliki dua putri, keinginannya untuk memiliki anak laki-laki sebagai pewaris "kerajaannya" selalu ada di benaknya. Ia segera mendekap Monica dengan erat, seolah-olah wanita itu adalah permata yang paling berharga.
"Monic, ini luar biasa!" seru Johan penuh kebahagiaan. "Aku janji, Sayang, setelah proses perceraian aku dan Hanum selesai di pengadilan nanti, aku akan segera menikahi mu secara resmi. Aku akan memberikan pesta paling megah yang pernah ada di Jakarta untuk pernikahan kita."
Mendengar janji itu, Monica merasa telah memenangkan segalanya: pria, status, dan harta. Ia mengeratkan pelukannya, menatap dalam ke mata pria yang usianya terpaut cukup jauh darinya itu.
"Aku sangat mencintaimu, Mas Johan," bisik Monica dengan nada menggoda.
"Aku juga, Sayang," jawab Johan sebelum kembali melum4t bibir merah Monica. Mereka pun kembali terhanyut dalam perayaan kebahagiaan mereka, tidak menyadari bahwa di balik kesenangan itu, roda nasib perlahan-lahan mulai berputar ke arah yang berbeda
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔