Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-02
Sepanjang perjalanan, mulut Nara tak henti-henti bergumam tak jelas. Ia merasa seperti Cinderella yang dipanggil tiba-tiba oleh ibu tiri yang kejam.
"Dasar bos tidak tahu diri! Udah tahu hari minggu gini masih aja nyuruh-nyuruh. gak tahu apa orang semalam habis begadang karena nonton drakor, ck nyebelin banget sih jadi bos!" gerutunya sambil memukul-mukul setir mobil dengan pelan.
kesal sekali ia, tidak di kantor tidak di luar kantor jadi babu terus..
Setelah memutar beberapa kali mencari tempat yang menjual bubur kacang hijau dan mampir sebentar ke apotek untuk membeli obat penurun panas, akhirnya Nara sampai di sebuah perumahan elit yang sangat asri dan tenang.
Ia memarkirkan mobilnya di halaman depan sebuah rumah bergaya modern minimalis yang cukup besar untuk di tinggali seorang diri. Dengan langkah berat dan wajah manyun, Nara keluar dari mobil lalu berjalan menuju pintu utama.
Belum sempat ia mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka lebar.
Tampaklah sesosok pria tampan dengan wajah yang sangat memukau, namun aura yang dipancarkannya saat ini benar-benar menyeramkan. Rambutnya agak berantakan, wajahnya terlihat pucat, dan matanya yang biasa tajam kini tampak sayu. Meski sedang sakit, ketampanannya tidak luntur sedikitpun.
Dia adalah Arkan Delvin, CEO muda yang terkenal dingin, perfeksionis, dan... sangat menyebalkan menurut Nara.
"Kelamaan!" cetus Arkan datar. Suaranya terdengar berat dan serak, menandakan ia memang sedang tidak enak badan.
Nara menghela napas panjang, berusaha menahan emosi yang sudah menggunung, gak tahu aja pria ini,demi memenuhi keinginan nya Nara harus merelakan hari minggu nya yang tenang ini. meski batinya mengutuk bow nya ini ia tetap menyunggingkan senyum palsu paling manisnya.
"Selamat pagi, Pak. Maaf ya, jalanan macet dikit. Ini barang pesanan Bapak sudah saya bawa semua," kata Nara sambil menyodorkan kantong plastik berisi bubur dan obat-obatan.
Arkan hanya mendengus pelan, lalu berbalik badan meninggalkan Nara di depan pintu. "Masuk!"
Nara menggeleng-gelengkan kepala pelan. Dasar pria tidak tahu sopan santun! batinnya. Namun dengan terpaksa ia mengikuti langkah lebar pria itu masuk ke dalam rumah.
Suasana di dalam rumah sangat rapi, dingin, dan... terlalu sepi, ini kali kedua kalinya ia datang kemari, setelah pertama saat dulu ia disuruh datang tiba tiba hanya untuk membuat pria itu makan malam.
"Duduk!" perintah Arkan sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruang tengah dengan wajah murung.
Nara duduk dengan sangat sopan di ujung sofa, menjaga jarak aman. "Nah, ini obatnya diminum sekarang ya Pak. Terus buburnya juga di makan biar hangat," ucap Nara berusaha bersikap profesional layaknya seorang sekretaris yang baik hati juga tidak sombong..
Arkan menatap botol obat di depannya, lalu menatap Nara dengan tatapan tak suka. "Ini obatnya banyak banget. Saya bukan kambing!"
Nara mengerutkan kening. "Itu dosis dokter, Pak. Kalau Bapak mau cepat sembuh ya harus diminum sesuai aturan."
"Saya gak suka obat yang pahit," sahut Arkan kekanak-kanakan sambil memalingkan wajah.
Nara sampai ternganga melihat tingkah bosnya. Woy! Umur kamu berapa? 35 atau 5 tahun?! teriak batin Nara kesal.
"Iya Pak, obat kan emang pahit. Kalau manis namanya permen," jawab Nara santai.
Arkan menatap tajam ke arah Nara. "Kamu mau saya pecat?"
"Nggak Pak..." Nara langsung menunduk patuh. "Yaudah sini, saya bukain. Minumnya sama air hangat ya?"
Nara bangkit dan menyiapkan air hangat. Dengan sangat terpaksa, ia meracik obat itu layaknya seorang perawat. Arkan pun meminumnya dengan wajah meringis kesal, seolah-olah Nara sedang memberinya racun.
Setelah obat masuk, giliran bubur kacang hijau.
"Hah? Bubur kacang hijau? Gak ada yang lain? Ini kurang manis!" protes Arkan lagi setelah menyendok sedikit.
"Kan Bapak sendiri yang minta! Tadi di telepon bilang mau bubur kacang hijau!" Nara sudah mulai kehilangan kesabaran. Tangannya terkepal kuat di bawah meja.
"Manisnya kurang. Tambahin gula pasir!" perintah Arkan dengan wajah datar.
"Ya ampun, Pak! Orang sakit gak boleh makan manis berlebihan! Ini juga udah manis kok!"
"Kamu denger apa enggak sih? Tambahin gula! Atau kamu mau saya suruh masak mie instan pedas?" ancam Arkan dengan mata melotot.
Nara menghela napas sampai ke ulu hati. Ia merasa sedang berhadapan dengan anak kecil yang lagi tantrum tingkat dewa. Akhirnya dengan terpaksa ia ke dapur lalu mengambilkan gula pasir dan menaburkannya cukup banyak ke dalam mangkuk itu, setelahnya kembali keruang dimana bos nya berada.
"Ini Pak!"
"Nah, gini dong..." Arkan tersenyum puas lalu melahap bubur itu dengan lahap.
Selama Arkan makan, Nara hanya bisa diam mematung. Ia memperhatikan pria di depannya itu. Jujur saja, kalau Arkan tidak galak dan tidak banyak mau, dia sebenarnya sangat tampan. Tapi sayang, sifatnya setebal tembok China.
"Selesai!" Arkan meletakkan sendok dengan keras. "Sekarang, bersihin semua ini! Terus buatin teh manis hangat! Jangan kurang manis!"
Nara mengumpat dalam hati. Aku ini sekretaris atau pembantu sih?!
"Iya Pak... iya..." Nara segera membereskan sisa makanan dan minuman itu ke dapur.
Saat Nara sedang sibuk membuatkan teh, tiba-tiba ia merasakan ada pandangan yang mengikutinya. Ia menoleh dan mendapati Arkan sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan selimut yang dibalutkan ke tubuhnya seperti jubah raja.
"Kenapa lagi, Pak?" tanya Nara lelah.
"Badan saya dingin," rengek Arkan.
"Ya udah pakai baju tebel atau selimutan, Pak. Jangan dibuka-buka."
"Kamu... temenin saya disini saja. Jangan pulang dulu!"
Nara menatap tak percaya. "Hah? Tapi Pak, saya kan udah antar barang dan kasih obat. Tugas saya selesai kan?"
"Gak boleh! Kalau kamu pulang, nanti saya makin sakit dan kerjaan numpuk! Terus salah kamu kan?" Arkan mulai mencari-cari alasan. "Pokoknya kamu disini sampai saya tidur. Atau... kamu mau gaji dipotong lagi?"
Nara menepuk jidatnya pelan. Ia sadar, menghadapi bos yang menyebalkan dan manja seperti ini adalah hukuman terberat baginya hari ini, yang bisa ia lakukan hanyalah sabar...
"Siap Pak... saya gak kemana-mana. Bapak istirahat saja," ucap Nara pasrah.
"Hmm... bagus. Sini pijitin pundak saya! Capek soalnya," perintah Arkan sambil merebahkan kepalanya di sofa dengan santai.
Nara menatap punggung lebar itu dengan tatapan membunuh. Tahan Nara... tahan... ingat gaji... ingat cicilan... batinnya berteriak menenangkan diri.
BERSAMBUNG...