Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — KETIKA API MENYENTUH YANG PALING DEKAT
Bau asap masih terasa.
Bahkan dari jauh.
Aku berdiri di depan garis pembatas.
Lampu merah biru berputar.
Orang-orang bergerak cepat.
Petugas berteriak.
Dan di tengah semua itu—
gudang itu… hampir habis.
Api sudah mulai padam.
Tapi sisa-sisanya masih hidup.
Seperti bara yang menolak mati.
Arkan berdiri di sampingku.
Diam.
Tangannya mengepal.
“Berapa kerugiannya?” tanyaku pelan.
“Tidak penting.”
Jawabannya cepat.
Aku meliriknya.
“Yang penting… dia sudah masuk terlalu jauh.”
Aku mengangguk pelan.
“Iya.”
Tapi dalam hati—
aku tahu.
Ini baru awal.
Leon datang tergesa.
Wajahnya tegang.
“Ada korban.”
Jantungku langsung berdetak lebih cepat.
“Siapa?”
Dia ragu sebentar.
“Beberapa pekerja… dan—”
Aku menatapnya tajam.
“Dan siapa?”
Leon menelan ludah.
“Orang dalam kita.”
Sunyi.
Dunia terasa berhenti lagi.
“Siapa?” suaraku turun.
Dan saat dia menyebut nama itu—
lututku hampir goyah.
Bukan karena lemah.
Tapi karena…
itu orang yang selama ini membantuku dari awal.
Orang yang diam-diam menjaga semua dataku.
Orang yang tahu hampir semua rahasiaku.
“Dia… tidak selamat.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tapi menghancurkan.
Aku tidak bergerak.
Tidak bicara.
Hanya menatap ke arah puing-puing itu.
Api kecil masih menyala di beberapa titik.
Seperti mengejekku.
“Kita harus pergi dari sini,” kata Arkan pelan.
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Dia menoleh.
“Alena—”
“Aku mau lihat.”
Suaraku tidak keras.
Tapi cukup untuk menghentikannya.
Aku melangkah melewati garis pembatas.
Petugas mencoba menghentikan.
Tapi Arkan langsung memberi isyarat.
Aku masuk.
Langkahku pelan.
Hati-hati.
Bau hangus makin kuat.
Dan di sana—
aku melihatnya.
Tertutup kain.
Tidak bergerak.
Sunyi.
Aku berhenti beberapa langkah dari situ.
Tidak mendekat lagi.
Karena kalau aku melangkah lebih dekat…
semuanya akan terasa nyata.
Dan aku belum siap.
“Ini salahku.”
Kata itu keluar begitu saja.
Arkan langsung di sampingku.
“Bukan.”
Aku tertawa kecil.
Pahit.
“Aku yang mulai semua ini.”
“Dia yang memilih membunuh.”
Aku menatapnya.
“Tapi aku yang memancing.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
aku merasa sesuatu yang tidak pernah kurasakan sejak kembali.
Bersalah.
Tapi hanya sebentar.
Karena sesuatu yang lain muncul.
Lebih kuat.
Lebih gelap.
“Dia akan bayar.”
Suaraku berubah.
Dingin.
Arkan menatapku.
Dan dia tahu—
ini bukan sekadar kata-kata.
Ini janji.
Kami kembali ke mobil.
Tidak ada yang bicara.
Leon menyetir lebih cepat dari biasanya.
Dan di dalam mobil itu—
aku tidak lagi merasa sedih.
Yang tersisa hanya satu hal.
Marah.
Ponselku bergetar.
Pesan lagi.
Aku membuka.
“Satu sudah jatuh.”
“Berapa lagi yang kamu siap korbankan?”
Tanganku langsung mengepal.
Arkan melirik.
“Dia?”
Aku mengangguk.
Dia menarik napas panjang.
“Dia sengaja menargetkan orang-orang di sekitarmu.”
Aku tersenyum tipis.
“Bagus.”
Leon menoleh sekilas.
“Kamu bilang bagus?”
Aku menatap lurus ke depan.
“Karena sekarang aku tahu… dia takut.”
Sunyi.
“Takut?” ulang Arkan.
Aku mengangguk.
“Kalau tidak, dia tidak akan menyerang seperti ini.”
Leon menghela napas.
“Atau dia hanya ingin menghancurkanmu.”
Aku tertawa kecil.
“Dia sudah mencoba sejak lama.”
Aku menoleh ke mereka.
“Dan lihat aku sekarang.”
Sunyi.
Tidak ada yang bisa membantah.
Mobil berhenti.
Kami kembali ke apartemen.
Tapi suasananya…
tidak sama lagi.
Lebih dingin.
Lebih berat.
Aku langsung masuk ke ruang kerja.
Semua dokumen masih di sana.
Semua rencana.
Tapi sekarang—
itu tidak cukup.
“Kita ubah strategi.”
Arkan langsung berdiri di sampingku.
“Bagaimana?”
Aku menatap layar.
“Selama ini kita hanya menyerang dari luar.”
Aku menoleh.
“Sekarang kita masuk.”
Leon mengernyit.
“Maksudmu?”
Aku tersenyum tipis.
“Kita cari siapa di dalam… yang masih bermain untuk dia.”
Sunyi.
Arkan langsung mengerti.
“Pengkhianat.”
Aku mengangguk.
“Dan kita pakai dia.”
Leon menghela napas.
“Ini berisiko.”
Aku menatapnya.
“Semua ini sudah berisiko sejak awal.”
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu—
Arkan tersenyum tipis.
“Baik.”
Tatapannya berubah.
“Kita cari dia.”
Aku mengangguk.
Dan di detik itu—
aku tahu.
Kami sudah melewati titik kembali.
Tidak ada lagi jalan mundur.
Hanya maju.
Atau hancur.
Malam itu—
aku tidak tidur.
Bukan karena tidak bisa.
Tapi karena…
aku tidak mau.
Aku berdiri di depan jendela.
Menatap kota yang tetap hidup.
Padahal di dalamnya—
perang sedang berjalan.
Dan aku…
ada di tengahnya.
“Ini belum selesai,” bisikku pelan.
Tanganku mengepal.
Lebih kuat.
“Dan kali ini…”
Tatapanku berubah.
“Aku tidak akan kehilangan siapa pun lagi.”