NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Zaidan melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai padat.

Pikirannya kalut, namun tangannya tetap kokoh menggenggam kemudi.

Di kursi belakang, tas kain usang milik Sulfi dan satu karung beras pemberiannya menjadi saksi bisu betapa cepatnya hidup mereka berubah dalam beberapa jam saja.

Ia mengarahkan mobilnya ke daerah di sekitar kantor kepolisian, mencari plang bertuliskan "Rumah Dikontrakkan" di antara gang-gang yang lebih tenang.

Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, Sulfi akhirnya membuka suara. Suaranya lirih, pecah oleh sisa tangis yang belum usai.

"Mas, ceraikan aku saja," ucap Sulfi sambil menunduk, tak berani menatap wajah samping Zaidan.

Zaidan terdiam, namun rahangnya mengeras.

"Masih belum terlambat," lanjut Sulfi dengan nada memohon.

"Mas bisa kembali ke rumah itu, kembali bersama Mbak Maya. Dia istrimu, dia sangat mencintaimu. Aku tidak mau menjadi duri yang menghancurkan hidupmu, Mas. Aku bisa pulang ke kampung atau mencari kerja di sini sendiri."

Zaidan memutar setir, memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi.

Ia mematikan mesin, lalu menghela napas panjang hingga bahunya yang tegang perlahan merosot.

"Dengar, Sulfi," Zaidan menoleh, menatap Sulfi dengan tatapan yang sangat lelah namun tulus.

"Pernikahan semalam mungkin sebuah kecelakaan bagi kita berdua. Tapi bagi saya, janji di depan Pak RT dan Pak Penghulu itu bukan main-main. Saya laki-laki, Sulfi. Saya tidak bisa membuang orang yang sudah dititipkan kepada saya hanya karena saya takut kehilangan fasilitas."

"Tapi Mas kehilangan segalanya karena aku," isak Sulfi.

"Saya hanya kehilangan rumah, bukan harga diri," potong Zaidan tegas namun lembut.

"Kalau saya menceraikanmu sekarang tanpa alasan yang jelas, saya bukan hanya mengkhianati warga kampungmu, tapi saya juga mengkhianati prinsip saya sebagai seorang pelindung. Maya memang istri saya, dan saya mencintainya. Tapi caranya memperlakukanmu tadi, itu menunjukkan bahwa saya juga punya tugas untuk mendidiknya, bukan hanya menurutinya."

Zaidan kembali menyalakan mesin mobil. "Kita cari kontrakan kecil dulu. Yang penting kamu aman dari Guntur dan punya tempat untuk berteduh. Soal ke depannya, biar waktu yang menjawab."

Sulfi terdiam, hatinya tersentuh oleh integritas pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya ini.

Di satu sisi, ia merasa bersalah, namun di sisi lain, untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal, ia merasa benar-benar dijaga.

Mobil itu kembali melaju, menyusuri gang demi gang, mencari sebuah awal baru yang sederhana di tengah kerumitan takdir yang mereka jalani bersama.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah kontrakan sederhana yang bercat putih kusam.

Letaknya cukup strategis, berada di ujung gang yang tenang namun tidak jauh dari jalan raya utama.

Zaidan segera menemui pemilik rumah dan mengeluarkan dompetnya.

Ia menarik sepuluh lembar uang seratus ribuan—sisa uang di dompetnya yang kini benar-benar menipis—dan menyerahkannya sebagai pembayaran bulan pertama.

"Mas, maaf sudah menghabiskan uang Mas Zaidan," bisik Sulfi saat mereka berdiri di depan pintu kayu rumah itu.

Ia merasa sangat bersalah melihat Zaidan harus mengeluarkan uang lagi setelah kehilangan rumah mewahnya.

Zaidan terdiam sejenak, memandang wajah Sulfi. Ia melihat ketulusan dan rasa tidak enak yang besar di mata wanita itu.

Sangat berbeda jauh dengan Maya yang tadi pagi begitu keras dan memandang segalanya dari nilai materi.

Sulfi memberikan apa yang ia punya—beras—saat tahu Zaidan sedang kesulitan, sementara Maya justru menendangnya.

"Sudah, jangan dipikirkan. Uang bisa dicari," sahut Zaidan pelan.

"Ayo kita masuk dulu."

Di dalam, rumah itu hanya terdiri dari satu ruang tamu merangkap ruang makan, satu kamar tidur, dan dapur kecil di belakang.

Zaidan meletakkan karung beras dan tas Sulfi di sudut ruangan.

Suasana terasa sangat sunyi, hanya ada suara deru kendaraan di kejauhan.

Zaidan melirik jam tangannya. Ia sudah terlambat sangat lama untuk melapor ke kesatuannya.

"Sulfi, dengarkan aku," ujar Zaidan dengan nada serius, aura detektifnya kembali muncul.

"Sebentar lagi aku harus ke kantor untuk melaporkan kejadian semalam, juga soal Guntur yang lolos. Dan yang paling penting..."

Zaidan memegang pundak Sulfi sebentar, memastikan wanita itu fokus.

"Jangan buka pintu rumah untuk siapa pun selain aku. Guntur itu berbahaya, dan aku tidak mau dia menemukanmu di sini selagi aku tidak ada. Mengerti?"

Sulfi menganggukkan kepalanya dengan patuh. Ada rasa takut yang merayap, namun ia mencoba untuk tegar.

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."

Zaidan mengangguk, lalu bergegas keluar. Setelah suara mesin mobil menjauh, Sulfi perlahan mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana.

Di rumah asing ini, ia memulai hidup barunya—hidup sebagai istri simpanan dari seorang detektif yang bahkan belum sempat ia kenali sepenuhnya.

Zaidan melangkah menyusuri lorong kantor Satuan Reserse dengan perasaan yang tidak menentu.

Beberapa rekan sejawatnya sempat melirik luka lebam di wajahnya, namun Zaidan hanya membalas dengan anggukan singkat.

Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh, menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuknya.

"Masuk!" suara berat dari dalam terdengar tegas.

Zaidan membuka pintu dan berdiri tegak dalam posisi sikap sempurna.

Di balik meja besar yang dipenuhi berkas kasus, duduk Komisaris Hendrawan.

Pria paruh baya dengan uban yang mulai menghiasi pelipisnya itu meletakkan kacamata bacanya, lalu menatap Zaidan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Zaidan. Akhirnya kau muncul," ujar Kompol Hendrawan dengan nada dingin yang mengintimidasi.

"Guntur lepas, radio panggilmu mati sepanjang malam, dan sekarang kau datang dengan wajah yang lebih mirip korban pengeroyokan daripada seorang detektif. Apa penjelasanmu?"

Zaidan menelan ludah, suaranya terdengar berat namun stabil.

"Izin melaporkan, Komandan. Kejadian semalam di luar perkiraan. Saya kehilangan jejak Guntur setelah terjadi insiden di pemukiman warga."

"Insiden apa sampai wajahmu hancur begitu? Warga mengiramu penjahat?"

Zaidan terdiam sejenak. Ia tahu kejujuran ini akan terdengar sangat konyol bagi atasannya yang sangat disiplin ini.

"Izin, Komandan. Semalam saya terperosok ke rumah seorang warga karena insiden kecil. Warga salah paham dan menuding saya melakukan tindakan asusila. Situasi memanas hingga nyawa saya terancam."

Alis Kompol Hendrawan bertaut. "Lalu? Bagaimana kau bisa selamat?"

"Saya, dipaksa menikah siri di tempat, Komandan. Demi cuci kampung dan meredam amarah massa yang sudah membawa senjata tajam."

Hening seketika menyergap ruangan itu. Kompol Hendrawan menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Zaidan dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ia tidak tertawa seperti Maya, namun gurat kekecewaan sekaligus keheranan tampak jelas di wajahnya.

"Menikah?" ulang Hendrawan pelan.

"Kamu tahu kan, Zaidan, kamu ini anggota Polri? Ada aturan tentang pernikahan. Terlebih lagi, bukankah kamu sudah punya istri?"

"Siap, benar Komandan. Saya tahu risikonya. Tapi semalam pilihannya hanya dua: nyawa saya hilang dan nama institusi tercoreng karena dituduh berbuat asusila, atau mengikuti tuntutan warga," jawab Zaidan dengan nada penuh tanggung jawab.

Kompol Hendrawan berdiri, berjalan perlahan menuju jendela yang menghadap ke arah lapangan upacara.

"Guntur masih berkeliaran di luar sana. Dan sekarang kau menambah bebanmu dengan urusan rumah tangga yang sangat rumit. Kamu tahu Guntur tidak akan tinggal diam jika dia tahu kau punya 'kelemahan' baru, kan?"

"Siap, saya sadar Komandan. Saya sudah mengamankan Sulfi di tempat yang tidak diketahui orang lain."

Hendrawan berbalik, menatap tajam ke mata Zaidan.

"Saya beri kamu waktu tiga hari untuk membereskan urusan pribadimu. Setelah itu, aku ingin Guntur sudah ada di balik jeruji besi. Dan soal pernikahan sirimu, kamu harus segera menyelesaikannya secara hukum atau secara adat sebelum Propam mencium bau ini. Mengerti?"

"Siap, mengerti Komandan!"

"Satu lagi, Zaidan," Hendrawan menepuk bahu bawahannya itu sebelum ia keluar.

"Seorang detektif yang kehilangan fokus adalah detektif yang mati. Jangan biarkan masalah istrimu—keduanya—membuatmu kehilangan nyawa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!