Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Malam di hutan tempat Elara berlatih bukanlah malam yang biasa. Angin pegunungan berhembus membawa aroma pinus dan lumut basah menyelinap di antara celah bebatuan gua yang tersembunyi. Suasana begitu tenang seolah alam semesta sedang menahan napas untuk menghormati sang legenda baru yang baru saja terbangun. Langit di atas sana bersih tanpa cela memamerkan hamparan bintang yang berkilau seperti serpihan berlian yang tumpah di atas permadani beludru hitam.
Di dalam gua, Elara merenggangkan otot-ototnya yang masih terasa sedikit kaku setelah sesi latihan mengendalikan elemen ekstrem bersama Kakek Zoff. Ia menoleh ke arah penyihir tua yang sedang sibuk menggores kuasnya kesana dan kemari diatas kertas lukis.
"Kek pinjam atap guanya bentar ya, mau cari angin, di sini bau napas kakek soalnya terlalu purba hehehe" ucap Elara dengan nada santai seolah baru saja meminta izin untuk pergi ke warung depan.
Kakek Zoff mendengus tanpa menoleh sudah hampir terbiasa dengan kerandoman Elara"Cari angin atau mau cari perkara? Jangan jauh-jauh, pelindung gua ini masih aktif, kalau kau keluar dari radius sepuluh meter jangan salahkan aku kalau ada serigala bayangan yang mengira kau itu daging berjalan"
Elara terkekeh dan tangannya melambai ringan "Tenang aja Kek. Kalau ada serigala nanti aku tawarin es teh manis pakai elemen air sama api punya aku. Siapa tahu mereka mau jadi pelanggan pertama bisnis usaha es teh nyonya Elara nanti"
"Dih ini si Kakek sensi amat, padahal kan aku cuma mau liat bintang, bukan mau maling jemuran istana" batin Elara sambil memberi isyarat pada Rhea dan Mina.
"Rhea Mina, ayo temenin ke atas. Aku butuh tempat tinggi buat mikirin masa depan... atau setidaknya mikirin apa ada diskon kosmetik di pasar kerajaan ini" bisik Elara dengan muka polos yang membuat Rhea dan Mina hanya bisa geleng-geleng kepala.
Mereka bertiga keluar melewati selaput transparan pelindung gua. Dari luar mreka tidak akan terlihat oleh siapapun, namun dari dalam pemandangan hutan malam terlihat begitu nyata. Dengan bantuan sedikit dorongan mana yang diajarkan Kakek Zoff mereka melompat ringan menuju atap gua yang berupa dataran batu luas yang menghadap langsung ke arah cakrawala.
Sesampainya di atas Elara menghirup udara malam yang menusuk paru-paru "Kalian berdua tunggu di bawah pohon sana ya, aku mau me time dulu. Jangan ngintip nanti kalian jatuh cinta sama profil sampingku yang estetik ini awokawok"
Rhea dan Mina membungkuk hormat lalu menjauh beberapa puluh meter. Mereka tahu di balik topeng ceria dan random Lady nya, ada beban yang sedang coba disembunyikan.
Begitu kesunyian benar-benar menyergap, bahu Elara yang tadinya tegap perlahan merosot. Topeng gadis jenaka yang hobi melantur itu retak menyisakan seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang merasa sangat asing dengan dirinya sendiri. Ia duduk di tepi tebing memeluk lututnya erat-erat membiarkan angin dingin membelai pipinya.
Ia menengadah sambil menatap bintang-bintang yang tampak berbeda dari dunia asalnya.
"Dunia ini cantik, tapi kenapa kerasa sunyi?" batin Elara pedih.
Pikirannya melayang jauh melintasi dimensi kembali ke ruang kelas yang bising, ke kantin tempat ia sering berbagi tawa dengan teman-temannya, dan ke ruang guru tempat ia sering mendapat nasihat. Ia merindukan mereka. Ia merindukan aroma buku perpustakaan yang tua dan suara klakson kendaraan yang macet di sore hari. Di dunia sana ia punya nama yang sama, punya tempat walaupun hanya kos-kosan murah, dan punya orang-orang yang mengenalnya sebagai manusia, bukan sebagai produk gagal atau manusia tak berguna
Namun saat bayangan orang tua muncul, dadanya terasa seperti diremas tangan tak kasat mata. Pedih kosong dan gelap.
Berbeda dengan Lilian atau saudara-saudaranya di rumah Duke yang punya ayah untuk dibanggakan atau ibu untuk bermanja, Elara tidak punya apa-apa. Sejak kecil didunianya ingatannya dimulai di sebuah lorong panti asuhan yang dingin. Ia tidak tahu warna mata ibunya, ia tidak tahu seberapa kuat pelukan ayahnya, yang ia tahu hanyalah rasa ditinggalkan.
"Pak Buk, kenapa kalian ninggalin Elara dulu? Sampai sekarang Elara selalu sendirian ngga punya siapa-siapa Pak Buk" Air mata pertama jatuh, hangat dan jernih membasahi kain gaun tipisnya "Apa Elara adalah sebuah kesalahan yang besar banget sampai kalian bahkan ngga sudi merawat atau memeluk Elara? Pak Buk, dulu Elara ditinggalkan di panti asuhan tanpa identitas. Di dunia ini Elara dilahirkan di keluarga Duke hanya untuk ditelantarkan di gudang tua seolah-olah Elara adalah sampah yang mengotori nama besar mereka. Sebenarnya, di semesta mana Elara benar-benar diinginkan? Elara cape tapi mau gimana lagi, dari dulu udah biasa sendiri Elara kuat kok, tapi sesekali Elara boleh nangis juga kan?"
Setiap tetes air mata yang jatuh ke atas batu tebing seolah membawa memori tentang malam-malam dingin di panti asuhan, saat ia sering mengintip dari jendela berharap ada sepasang suami istri yang datang menjemputnya. Harapan itu mati berkali-kali lalu tumbuh lagi lalu dihancurkan lagi oleh kenyataan sampai hatinya mengeras.
"Kenapa rasa sesak di dada ini tetap sama? Elara cuma pengen tahu... apakah ibuk pernah sayang sama Elara walau hanya sedetik sebelum ibuk memutuskan buat bener-bener pergi?"
Elara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan bahunya bergetar hebat, di bawah langit yang tak berujung itu di tengah hutan yang mematikan ia bukan lagi Lady Elara Mirabel Astoria yang ditinggalkan dan dicampakkan atau Elara Safira Nirmala gadis cantik yang cerdas dan pintar. Ia hanyalah seorang gadis kecil yang tersesat dan menangis meratapi takdirnya yang selalu menjadi orang asing di mana pun ia berada.
Rhea dan Mina yang melihat dari kejauhan hanya bisa menunduk sedih. Mereka melihat punggung rapuh itu bergetar hebat, mereka menyadari bahwa kekuatan paling besar di dunia ini bukanlah sihir ataupun mana, melainkan kemampuan untuk tetap tersenyum saat jiwamu sebenarnya sedang berteriak minta untuk pulang.
Malam itu bintang-bintang tetap bersinar terang tidak peduli pada air mata seorang gadis yang baru saja menyadari bahwa ia baru saja memenangkan dunia namun tetap kehilangan akarnya. Elara membiarkan dirinya hancur malam itu membiarkan setiap rasa sakit keluar bersama air mata, agar esok pagi saat matahari terbit ia bisa kembali memakai topeng gadis random dan lucu yang siap menghancurkan siapa saja yang berani mengusik "rumah" baru yang sedang ia bangun dengan tangannya sendiri....
kayaknya gak bakal pilih dua2nya🤣🤣🤣