NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.

Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Terdalam

Sore itu Andra datang seperti biasa atau setidaknya—dia mencoba membuatnya terlihat biasa.

Halaman panti riuh rendah anak-anak berlarian bermain. Suara tawa mereka memenuhi cakrawala. Dan semua sama seperti hari-hari sebelumnya.

Tapi tidak untuk Andra matanya langsung mencari satu orang, refleks tanpa sadar. Ia tidak melihatnya, mungkin belum datang atau berada didalam rumah panti membantu ibu Dewi. Dia mengangguk kecil pada dirinya sendiri berusaha tidak terlalu memikirkan.

“Om Andra!” Kapten menarik tangannya.

“Ayo main!”

Andra tersenyum.“Iya, ayo.”

Dia ikut bermain berlari tertawa mengangkat Kapten minta digendong, semua terlihat normal tapi di sela-sela itu—ada ruang kosong kecil yang tidak terisi.

-+

Sekitar satu jam kemudian—sebuah mobil berhenti di depan panti.Andra tidak langsung menoleh tapi dia tahu entah bagaimana—

dia tahu bahwa ancaman akan datang.

Langkah kaki terdengar dan beberapa detik kemudian—

Fero, laki laki itu, pria berahang keras kaku memakai jas mewah tidak seharus nya di pakai di Panti yang serba sederhana dan kekurangan.

Dia tidak hanya berdiri tapi masuk dengan langkah tenang dan pasti . Matanya memperhatikan disekitarnya melihat ke arah Andra tajam “Masih di sini,” katanya dingin

Andra mengangguk kecil tanpa senyuman, tanpa basa-basi.

“Kamu relawan?”

"Hanya volunteer."

Ia mengamati seperti ilmuwan menemukan benda purbakala. "Pantas, bentuk mu seperti Runner."

Darah Andra menggelegak, ia dengan seenaknya menghina, " Mengapa kamu kemari ? Ini bukan kantor, ini tempat suci."

Wajah Fero berubah pucat, celaannya terbalas, " Apa urusan mu dengan Mei ?”

“Kamu tidak berhak menanyakan itu ” Jawab Andra singkat, tajam menusuk.

"Kamu tahu apa yang kamu lakukan ?"

"Tidak."

"Kamu.. Matanya melotot. " Kamu telah merampas apa yang menjadi hak ku."

"Saya tidak merampas, itu keputusan Mei sendiri, kamu tidak berhak memaksa."

" Gara gara kamu dia berubah."

" Bukan ! Ia memotong cepat." Mei memang tidak suka dengan mu. Ia pergi dari kehidupan yang mengekang, cinta yang dipaksakan."

Fero terdiam sesaat lalu, wajahnya menegang "Kamu tidak mengerti, tidak tahu siapa dia."

" Aku mengerti, tidak usah kamu ajarkan."

Ia menyengir masam, "Aku tahu dia...Mei mudah merasa nyaman, tapi dia juga… mudah lupa.”Kalimat itu jatuh pelan tapi cukup untuk membuat udara terasa berbeda.

“Apa maksud mu ?”

“Dia cepat bosan.” Tidak ada emosi di wajahnya fakta dibalut kebohongan. " Dan ketika itu terjadi…dia akan kembali ke tempat seharusnya, lalu meninggalkanmu."

“Aku tidak menahan siapa-siapa,” ucap Andra dengan tenang. " Dia yang memutus kan bukan kamu."

“Kamu tidak akan bisa, ingat ...tidak akan,"

Ia berbalik." Mei itu milik ku, dan aku akan mengambil nya cepat atau lambat."

--

Andra duduk di tangga kecil depan panti, batu beton yang sudah aus oleh ribuan langkah anak-anak. Tangannya memegang botol air mineral setengah kosong. Dia tidak meminumnya hanya butuh sesuatu untuk digenggam, sesuatu yang nyata di tengah sore menghancurkan.

Di dalam panti, anak-anak belajar. Suara tawa dan teriakan yang biasanya mengisi halaman kini tinggal gema—tersisa di udara, meski sumbernya sudah pergi.

" Mei...dimana kamu ? Mei datang," bisiknya penuh harap.

Doa nya terkabul, tidak lama gerbang utama terbuka, gadis itu masuk dengan langkah pelan takut anak anak mengetahui keberadaannya.

" Mei " Laki laki itu melambaikan tangan nya, " Sini !"

Ia tersenyum riang duduk di sebelahnya—" Mas Andra."

" Mei kok lama? "

"Ada pekerjaan kantor yang mesti diselesaikan."

"Ohh."

Ia menoleh wajah itu terlihat pucat " Mas kenapa ?

" Gak apa apa."

" Pasti ada sesuatu."

" Enggak Mei."

" Mas..." Ia menyentuh tangannya, "Cerita."

" Fero."

" Ngapain dia kemari ?"Keningnya mengernyit " Tidak ada urusan dia datang."

" Mas gak tahu."

" Pasti ada sesuatu yang ia katakan."

Andra diam tidak menjawab. Dan itu—

sudah cukup jadi jawaban.

"Jangan dengarkan dia, Mas, Fero manipulatif."

" Mas paham."

" Mas percaya Mei ?"

Laki laki itu akhirnya tersenyum, " Mas selalu percaya."

 ---

Beberapa detik berlalu tanpa suara, tanpa kata. Tapi di antara mereka, ada sesuatu yang tumbuh—keheningan bukan kosong, penuh dengan hal-hal belum siap diucapkan.

"Aneh," kata gadis itu tiba-tiba.

"Kenapa?"

Ia menatap ke halaman yang kini kosong. Tapi matanya melihat lebih jauh dari itu—minggu-minggu berlalu, keputusan membawa mereka ke tangga ini.

"Harusnya Mei takut," katanya pelan

"Takut apa?"

"Semua ini." Dia menggerakkan tangannya, menunjuk sekeliling. Tapi Andra tahu—dia tidak hanya bicara tentang panti. "Keputusan Mei, Mas, Mereka."

"Mei tidak takut?"

"Takut?" Dia berhenti sejenak " Mei lebih takut lagi jika harus kembali dalam kehidupan tidak Mei pilih."

Sunyi.

Angin sore lewat, lembut, hampir tidak terasa. Tidak membawa apa-apa—tapi juga tidak membawa apa pun pergi.

Andra menatap wajah yang duduk di sebelahnya, memilih kaos sederhana daripada gaun mahal, memilih ketidakpastian daripada kehidupan yang sudah diatur rapi.

"Mei yakin?" tanyanya pelan menantang—hanya memastikan.

" Mas meragukan ?" Mei merogoh tas kanvas terlihat asing di bahu, mengeluarkan sebuah buku kecil, kulit sintetis mengelupas di sudutnya.

"Ini..." katanya hampir berbisik" Mei mulai menulis lagi."

"Diary?"

" Mei takut lupa," ucapnya pelan.

Andra terperanjat kaget, kalimat sederhana tapi terasa seperti menusuk. Momen keberanian seperti api kecil di dada, bisa saja padam jika tidak dijaga. "Lupa apa Mei ?"

Ia lalu membuka halaman pertama, tulisan tangan rapi, suaranya hampir tenggelam dalam angin sore "Hari ini aku memilih orang yang akan mengubah hidupku. Aku merasa bahagia karena untuk pertama kalinya aku mengenal apa itu cinta dan kasih sayang."

" Mei..."

"Mas, Mei tidak akan pernah berubah, selama nyawa masih di kandung badan."

Andra menggenggam tangannya lembut, perasaanya kembali tenang.

" Bacakan ini Mas, suatu saat nanti.." Ia terhenti matanya berkaca kaca, " Katakan kepada semua orang bahwa ada seorang gadis yang berani mengambil keputusan sulit demi cinta nya"

Andra tersentuh, genggamannya semakin erat oleh rasa tanggung jawab, dan kehilangan. "Tidak perlu, Mei."

"Kenapa ?"

"Karena Mas akan selalu ada, selalu ada di sisimu seberat apa pun masalahnya, mas tidak akan pergi."

Gadis itu tersenyum haru, air matanya jatuh.

 

Malam mulai turun perlahan, seperti selimut yang diletakkan dengan hati-hati. Lampu jalan menyala satu per satu, titik-titik kuning yang memecahkan kegelapan dengan cara yang tidak sepenuhnya berhasil.

"Kita pulang ya Mei ?"

 "Sebentar lagi." Dia berdiri, menarik tangannya bukan meminta, tapi menawarkan. "Kita jalan dulu."

" Kemana ?"

" Menyusuri kota."

Mereka melangkah di tengah trotoar yang mulai sepi. Dua orang yang sedang mencoba menikmati kebahagiaan tanpa restu.

Di perempatan, lampu lalu lintas, mereka berhenti, berdiri di tepi jalan yang dipisahkan oleh garis putih pudar.

Gadis berwajah lembut itu menoleh membuat waktu seolah melambat—"Mas," panggilnya.

"Iya?"

"Kalau terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan?"

 "Kita beresin."

Ia menggeleng pelan "Bukan itu."

"Lalu apa ?"

Ia menarik napas dalam. Seolah sedang mengumpulkan keberanian mengucapkan sesuatu yang tertinggal, "Mas..benar tidak akan pergi ?"

" Enggak."

"Kalau mereka memaksa?"

" Kita kawin lari."

Mei tertawa, beban dipundak nya seketika hilang, " Ya kita pergi, Mei ikut dengan mas."

" Apartemen mas kecil, sempit."

" Biar."

" Nanti Mei tidur di kasur tipis, bukan spring bed mewah."

" Gak pa - pa, asalkan mas peluk."

Andra tersenyum, entah mengapa hatinya selalu nyaman berada dekat dengannya."Nanti mas peluk erat gak akan mas lepaskan."

"Mas...jangan berubah ya."

Sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya sebagai jawaban dari hati nya terdalam.

1
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!