NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Bukan Pion Rusak

Ruang kerja Adrian beraroma kulit buku tua, cerutu, dan kekuasaan absolut yang membuat mual.

Bau tembakau itu menabrak indra penciuman Sabrina seketika, mengingatkannya pada asbak penuh puntung di markas bos kartel yang pernah ia habisi di masa lalu. Ia berdiri tegak di tengah ruangan, memaksakan kedua kakinya menopang bobot tubuh. Rasa pedih di jalan lahirnya masih menusuk tajam. Setiap gerakan panggulnya terasa seperti disayat pisau tumpul, namun ia menolak menunjukkan gurat kesakitan. Setitik pun tidak.

Malam ini, ia harus mengamankan wilayahnya. Marni telah menjadi bukti nyata bahwa ancaman Kania Tanjung sudah menyusup sampai ke dapur. Sabrina butuh lebih dari sekadar ancaman verbal untuk membersihkan sarang ini.

Adrian duduk santai di balik meja mahoni. Jari-jarinya bertaut di depan wajah. Matanya menatap datar berkas hasil autopsi dan laporan investigasi yang berserakan.

"Pelayan itu merengek sampai pagi buta," ucap Adrian tanpa basa-basi, nadanya sedingin es. "Dua jarinya patah total. Tirta bilang tulangnya remuk sampai ke persendian proksimal."

"Itu hanya peringatan ringan," balas Sabrina tenang, melipat tangan di depan dada. "Jika bubuk lorazepam itu sempat masuk ke botol susu Sebastian, kepalanya yang akan terlepas dari leher."

"Kau tahu Kania yang berada di balik ini."

"Kania yang menyuruhnya. Lasmi yang membayarnya." Sabrina memiringkan kepalanya sedikit. "Dan kau membiarkan dua lintah itu terus berkeliaran di rumah yang sama dengan pewarismu. Apakah keangkuhanmu membutakan logikamu, Adrian?"

Kata-kata itu menampar telak ego sang patriark. Urat rahang Adrian mengeras. Pria ini tidak terbiasa disudutkan, apalagi oleh wanita yang seharusnya tunduk di bawah telapak kakinya.

"Kania adalah keluarga Tanjung. Aku butuh dia untuk menjaga stabilitas saham sementara kondisimu masih menjadi tanda tanya bagi dewan direksi." Adrian berdiri dari kursinya. Ia berjalan memutari meja. "Memenggal Kania sekarang sama dengan membakar aset triliunan rupiah."

Sabrina mendengkus sinis. "Jadi kau membiarkan anjing gila itu menyusup ke kamar anakmu demi menjaga angka di papan bursa? Betapa menyedihkan standar perlindunganmu."

Udara di ruangan itu mendadak tegang. Adrian berhenti tepat di depan Sabrina. Jarak mereka kembali terkikis, mengulang konfrontasi intim malam sebelumnya.

"Aku bisa mematahkan lehermu detik ini juga karena terus menantangku," desis Adrian rendah.

"Lakukan," tantang Sabrina, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Bunuh aku. Dan lihat berapa lama Kania menunggu sebelum meracuni anakmu."

Sesaat, tidak ada yang bergerak.

Adrian mencari-cari secercah keraguan di mata istrinya. Ia hanya menemukan jurang kelam yang siap menelan siapa pun. Perempuan ini bukan lagi pion rusak yang bisa ia mainkan. Sabrina telah menjelma menjadi permaisuri berdarah dingin yang menuntut takhtanya sendiri.

Dan Adrian, entah kenapa, menikmati setiap detik perubahannya.

"Renaldo!" panggil Adrian keras tanpa melepaskan pandangannya dari Sabrina.

Pintu ganda ruang kerja terbuka. Renaldo masuk, langkahnya tegap dan kaku. "Ya, Bos?"

"Siapkan surat keputusan internal." Adrian membalikkan badan, kembali berjalan menuju mejanya. "Mulai detik ini, seluruh otoritas pengelolaan rumah tangga di sayap barat diserahkan sepenuhnya kepada Sabrina. Kania Tanjung dilarang keras menginjakkan kaki di area itu. Cabut semua akses kunci pintunya."

Renaldo tertegun. Keputusan ini menghapus dominasi de facto Kania yang telah berlangsung berbulan-bulan. "Tapi Bos, Nona Kania pasti akan..."

"Lakukan saja!" bentak Adrian memotong. "Dan panggil Lasmi ke sini. Sekarang."

"Baik, Bos." Renaldo mundur dan menutup pintu dengan cepat.

Sabrina tidak tersenyum. Kemenangan kecil ini bukan akhir, melainkan awal dari perang panjang. Ia telah mendapatkan pijakan logistik pertamanya. Otoritas penuh atas sayap barat berarti ia bisa membangun sistem keamanan absolut untuk Sebastian.

Lima menit kemudian, Lasmi masuk. Kepala pelayan itu berusaha menutupi kepanikannya, tapi langkahnya yang biasanya percaya diri kini terlihat gemetar. Ia tahu insiden Marni telah terbongkar.

"Tuan memanggil saya?" Lasmi menunduk dalam.

"Kau dipecat, Lasmi," ucap Adrian dingin, membolak-balikkan kertas di atas mejanya tanpa menatap wanita paruh baya itu. "Kemasi barangmu malam ini juga. Jika besok pagi wajahmu masih ada di area mansion, pengawalku yang akan membuangmu ke jalan."

Wajah Lasmi memucat pasi. Matanya mendelik ngeri. "Tuan! Saya tidak tahu apa-apa! Ini semua perintah Nona Kania! Saya cuma..."

"Bawa dia keluar," potong Adrian cepat.

Dua pengawal berbadan tegap muncul dari balik pintu dan langsung menyeret Lasmi yang menangis histeris. Lolongan ketakutan pelayan itu memudar seiring tertutupnya pintu ruang kerja.

"Satu lintah sudah dibuang," komentar Sabrina pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi tamu, merasakan kelegaan sesaat menembus rasa sakit di panggulnya.

"Jangan merasa di atas angin dulu, Sabrina." Adrian menatap istrinya dengan sorot mata penuh kalkulasi. "Otoritas ini kubelikan mahal untukmu. Aku sudah memenuhi syaratmu. Sekarang giliranmu membuktikan kau layak memegang kendali. Minggu depan, kita hadiri pesta ulang tahun Halim Group. Kau akan berdiri di sampingku, tersenyum, dan memastikan dewan direksi Tanjung melihat pewaris mereka dalam kondisi prima."

"Aku tidak akan membawa Sebastian ke kerumunan lintah berjas," tolak Sabrina tegas.

"Kau harus membawanya," paksa Adrian. "Itu satu-satunya cara menghentikan manuver Kania di belakang layar. Tunjukkan pada mereka bahwa pewarisku hidup dan bernapas, dan kau tidak gila."

Sabrina memejamkan mata sesaat. Pesta keluarga. Kumpulan predator berdasi yang siap memangsa kelemahan sekecil apa pun. Ia tahu persis medan pertempuran seperti itu. Senjata api tidak berguna di sana. Senjata utamanya adalah manipulasi psikologis, racun dalam gelas anggur, dan pisau bedah bermulut manis.

"Siapkan gaun hitam untukku," putus Sabrina membuka matanya. Tatapannya kelam, dingin, mematikan. "Dan siapkan tim sterilisasi terbaik untuk Sebastian. Aku akan membawanya, tapi satu orang saja mendekat tanpa izinku, aku akan merobek leher mereka di tengah lantai dansa."

Adrian tersenyum. Senyum itu tidak pernah mencapai matanya. Ia menyukai sisi buas istrinya.

"Renaldo," Adrian kembali memanggil asistennya lewat interkom.

"Ya, Bos?"

"Ganti semua pengasuh dan staf kebersihan di sayap barat. Pilih yang rekam jejaknya bersih tanpa celah. Istriku butuh prajurit baru, bukan pelayan."

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!