Lilyana Cooper, ialah seorang dokter bedah jenius dengan tingkat keberhasilannya dalam mengobati pasien 99% membuatnya diagung-agungkan sebagai dewi penyembuh oleh orang-orang.
Akan tetapi dalam 1% itu ialah hasil dari kegagalannya, entah kutukan atau apa tetapi ia selalu gagal mengobati orang yang ia sayang, termasuk suaminya sendiri.
Ditengah keterpurukan dan kehilangan orang yang ia mata cintaku, setelah ia gagal menyelamatkannya, tiba-tiba dia terbunuh saat sudah menyelamatkan seseorang ditangan seorang anak kecil, membuatnya langsung mati di tempat berdampingan dengan jasad suaminya.
Bukannya menyusul suaminya dan mati tetapi ia malah terlempar ke zaman kuno dimana semua penduduknya yaitu ras beasthuman, dan ia terlahir kembali sebagai salah satu penduduk disana, sebagai manusia setengah binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorong Smartphone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekatan intens dari sang Elang
...----------------...
Saat Yuna terus berjalan mengikuti langkah sang tabib yang semakin masuk ke dalam pemukiman rumah, matanya terpaku melihat berbagai rumah yang ternyata tidak seperti dirinya bayangkan, semuanya memiliki model minimalis terbuat dari kayu dan kokoh, terlihat besar ditinggali untuk 5-6 orang.
Terus berjalan Yuna terus terkagum-kagum melihat arsitektur yang tidak pernah ia sangka ada di zaman purba seperti ini, semuanya nampak damai, asri dan tentram, dengan begitu banyak anak-anak berlarian, tiba-tiba ia terhenti saat tubuhnya menabrak sesuatu.
"Aduh!" Saat mengaduh menggosok hidungnya, Yuna menatap bingung ke arah elang itu karena ia tiba-tiba terhenti.
Myoga hanya tersenyum tipis mulai menarik tangannya mengajaknya masuk ke atas pohon besar, terlihat seperti pohon kenari dengan sebuah rumah pohon diatasnya.
"Ini rumahku, ada di atas karena untuk menyesuaikan habitatku, kau mau masuk?"
"Bagaimana cara--- saat Yuna memikirkan cara menatap pohon yang sebegitu tingginya, merasakan seketika pinggangnya dipeluk oleh tangan yang besar.
Elang itu tiba-tiba membuka sayapnya yang begitu besar yang berwarna putih kecoklatan, mulai melompat mengangkat tubuh Yuna, memeluknya ala bridal style terbang ke atas sembari mengendongnya.
Yuna terdiam sejenak terkejut dengan apa yang terjadi, tangannya sedikit goyah saat melihat ke bawah, membuatnya ketakutan karena jarak dengan tanah dan tubuhnya mulai menjauh.
Myoga akhirnya mengeratkan pelukannya, berbisik di telinganya untuk memenangkannya. "Hati-hati, jangan sampai kau terjatuh."
Matanya membulat mendengar bisikan halus disertai nafas berat membuat Yuna terpaku menatap wajahnya, pipinya memerah mulai mengeratkan kedua tangan ke atas lehernya.
"Terlalu dekat...."
Seketika Yuna merasakan tubuhnya diturunkan, ia berdiri mencoba menegakan tubuhnya, terpaku melihat rumah pohon yang begitu kokoh ada di hadapannya, membuatnya bertanya-tanya bagaimana caranya rumah yang begitu luas bisa berdiri tegak disini.
Myoga hanya tersenyum memerhatikan raut bingungnya, ia malah mengabaikan membuka rumahnya yang tadinya terlihat tidak ada pintu.
"Akalisuna... Noba exfanto... Bergumam mengucapkan mantra membuat seketika rumah yang tidak ada pintu digantikan dengan pintu terbuka, rumah yang tadinya hanya bergaya minimalis tapi berganti dengan rumah terlihat mewah.
Membuat Yuna melongo seketika memerhatikan perbedaan jauh dari rumahnya, ia menjerit sedikit. "Bagaimana bisa?!"
Bagaimana bisa? Sebuah rumah terlihat mewah antik, kokok, ada di atas pohon bisa berdiri cukup tegak membuatnya bertanya-tanya, dan mendengar gumamannya ia perlahan mengerti, ada sihir di dunia ini hingga bisa mengubahnya.
Mata Yuna celingukan melihat sekeliling area rumah, yang tadinya terlihat hanya di atas udara sekarang seperti ada kubah yang menutupinya, terlihat tipis namun kuat sehingga tidak ada yang masuk ke dalamnya.
Memerhatikan tatapan kagumnya yang tidak henti-hentinya membuat Myoga terkekeh menatapnya diam dengan tangannya mulai membuka pintunya sembari tersenyum menatapnya lembut.
"Ini adalah sihir fundamental perubahan tipis, yaitu Extaligo...., aku perkenalkan sekali lagi, namaku Myoga Temu, aku tabib sekaligus penyihir yang mempunyai peringkat kekuatan sembilan bintang, senang bertemu denganmu."
Membuat Yuna terpaku, otaknya lagi-lagi memproses informasi yang didapatkan.
"Extaligo? Tabib? Penyihir sembilan bintang?"
Namun semua itu semu tidak ada jawaban di otaknya, saat Yuna lenggah pintu rumah dibuka, dengan maju di mulai masuk ke dalam.
"Trak."
Begitu lampu dinyalakan, ruangan yang tadinya gelap tiba-tiba terang membuat sekeliling terlihat jelas, mata Yuna lagi-lagi membulat kagum karena sesuatu di dalamnya, sebuah bola-bola kecil menghiasi tempat, di dalamnya terdapat kursi meja bundar dengan dua kursi empuk terlihat seperti sofa di kedua sisinya.
"Wah.. Indah sekali! Bagaimana caranya kau membuat semua ini." Lily mulai bersemangat masuk maju menduduki kursi, mengagunkan berulang kali, merasakan betapa lembut dia duduk.
"Hahah, itu... Em sebenarnya hanya keisenganku saja, kau suka?" Hanya senyuman yang baik ke pipinya melihatnya begitu antusias, ia mulai berjalan ke arah ruangan lain.
"Suka sekali, ini persis sekali seperti tempatku..."
Beberapa saat kemudian Myoga akhirnya kembali dengan membawa dua cangkir, dari tangannya, kemudian duduk di samping tempatnya. "Ini teh Rompa, terbuat dari bunga Rosemary dan bunga lavender, cocok untuk membuat tenang merilekskan badan, semoga kau suka."
Yuna seketika mengambilnya, menyesapnya dengan pelan, menikmati minuman hangat yang mengalir di tenggorokannya.
"Jadi kau dari mana? Aku tebak kau bukan dari ras kera, kau sebenarnya berasal dari mana?"
Tubuh Yuna membeku mendengar ucapannya, ia mulai terkekeh canggung berusaha agar tidak panik. "Tidak aku benar kok...!"
Myoga hanya menghela nafas menatapnya intens. "Kau bisa jujur padaku, kulihat dari warna jiwamu... Tidak seperti orang-orang yang pernah kulihat selama ini, percayalah padaku, mungkin aku bisa membantu kekhawatiranmu."
Yuna terdiam seketika ia berpikir walaupun ragu, tapi semuanya memaksa untuk tidak dipendam.
"Bagaimana ini? Tapi mungkin saja.....
"Aku...Aku sebenarnya bukan dari dunia ini, duniaku abad ke-21, semuanya modern dengan teknologi berbasis tinggi...disana pekerjaanku sebagai idol, ada sebuah peristiwa membuatku dikejar orang-orang, aku kabur ke kolam, entah mengapa saat aku membuka mata tiba-tiba berada di hutan dunia ini, aku dikejar Hiena dan Ashen yang menolongku."
Lirik Yuna diam-diam menatap Myoga takut jawabannya terdengar tidak dipercayai, ia tau terdengar tidak masuk akal mengingat perabadan disini.
Myoga nampak berpikir sejenak mengusap-usap rambutnya yang berwarna hijau itu, sebelum akhirnya tersenyum lebar mendekatkan wajah ke arahnya.
"Benarkah?! Teknologi seperti apa, aku ingin tau hal jelas ceritakan semuanya padaku, dan apakah kau tau pembuatannya.
Reflek Yuna mundur saat wajah keduanya hampir bersentuhan, mulai mengalihkan pandangan menyesap teh lagi sebelum menatapnya pagi.
"Aku tak tahu hal jelas karena aku bukan pembuatnya."
"Oh begitu." Sembari menunduk murung Myoga menghela nafas saat mendengar ucapannya.
"Tapi mungkin aku bisa membantu mendeskripsikan hal-hal itu, di tempatku ada namanya pemanas, kasur, piring dan lain-lain, kurasa bisa dibuat oleh kau."
"Benarkah?!"
"Tentu saja, asalkan bahan-bahannya ada apalagi dengan sihir yang kau punya."
"Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari bawah.
"MYOGA keluar kau, kembalikan betina milik Ashen."
Membuat Yuna terbelak bingung sebelum melirik Myoga yang sedang menahan kesal, akhirnya keduanya mulai turun keluar.
"Berisik kuda buruk rupa, aku tidak menculiknya, dia kesini berkunjung karena ingin bersamaku."
"Kau juga buruk rupa!"
"Setidaknya aku tidak ditolak Lara."
"Sialan kau burung haus belaian."
Fokus Yuna malah nampak ke bawah, seketika membulat melihat fisik Ashen yang terlihat babak belur malah baik-baik saja.
Ashen malah tersenyum menghela nafas lega melihat keadaannya baik-baik saja, ia mulai mengerakan bibir tanpa suara.
"Melompatlah."
"Hah? Yuna seketika menatapnya linglung bertanya-tanya apa maksudnya benar, bagaimanapun tidak mungkin melompat dari ketinggian seperti ini.
"Melompatlah akan ku tangkap." Lagi-lagi Ashen membuka mulutnya mengangkat kedua tangannya tersenyum lebar menatapnya diam.
Seketika Yuna melirik-lirik agak gugup karena melihat ketinggian yang jauh darinya, akan tetapi melihat tatapan kepercayaan macan tutul itu, ia akhirnya menghela nafas memejamkan mata, tanpa aba-aba mulai melompat ke bawah.
Kedua orang yang tadinya sedang bertengkar tiba-tiba kelabakan bingung melihat Yuna melompat, Myoga mulai bersiap-siap membuat mantra.
Namun Ashen melompat, langsung menangkap, mengerakan tangan memeluk Yuna erat-erat, berbisik di telinganya.
"Akhirnya aku menemukanmu, aku cemburu, Yuna...."
semangat terus ya~~~/Applaud//Applaud//Applaud/
semangat terus~~~😊😊😊
Halah preeet~~~ si Yuna bilang cinta sama si ashen, orang dia aja pas Ashen patroli aja udah kegatelan bgt sama si elang