Lilyana Cooper, ialah seorang dokter bedah jenius dengan tingkat keberhasilannya dalam mengobati pasien 99% membuatnya diagung-agungkan sebagai dewi penyembuh oleh orang-orang.
Akan tetapi dalam 1% itu ialah hasil dari kegagalannya, entah kutukan atau apa tetapi ia selalu gagal mengobati orang yang ia sayang, termasuk suaminya sendiri.
Ditengah keterpurukan dan kehilangan orang yang ia mata cintaku, setelah ia gagal menyelamatkannya, tiba-tiba dia terbunuh saat sudah menyelamatkan seseorang ditangan seorang anak kecil, membuatnya langsung mati di tempat berdampingan dengan jasad suaminya.
Bukannya menyusul suaminya dan mati tetapi ia malah terlempar ke zaman kuno dimana semua penduduknya yaitu ras beasthuman, dan ia terlahir kembali sebagai salah satu penduduk disana, sebagai manusia setengah binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorong Smartphone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketertarikan atau rasa penasaran?
...----------------...
Mata Lily terus tertutup berusaha untuk berakting seolah ia sepenuhnya sudah merenggang nyawa, hingga akhirnya merasakan tubuhnya diturunkan ke bawah tanah, saat pasrah bersiap dengan kemungkinan yang terjadi namun bukan gigitan, tarikan atau robekan yang dirasakan olehnya, tapi bulunya terus dijilati diikuti tindihan kuat yang menekan tubuhnya membuatnya otomatis berbaring telungkup di bawahnya.
Ragu-ragu dengan takut ia mulai membuka matanya mengintip memastikan apa yang terjadi, yang ia lihat sepenuhnya hanya panther hitam tersebut sedang diam santai memejamkan mata, di atas tubuhnya berbaring walaupun tidak terlalu menekannya seolah sedang melindunginya dari hawa dingin dan sesuatu yang berbahaya dengan bulu-bulunya menyelimuti tubuhnya yang melingkupi tubuh Lily, membuatnya bingung dan lega sekaligus karena tebakannya meleset.
Akan tetapi Lily cepat berpikir, sadar ini waktunya melarikan diri, saat cakarnya mulai keluar pelan-pelan meremas berjalan menyentuh permukaan tahan bersiap untuk keluar dari cengkeramannya, dengan pasti namun hati-hati ia keluar hingga akhirnya kepalanya sudah berhasil keluar dari tubuhnya.
Namun saat tubuhnya sepenuhnya baru berhasil benar-benar menghilang dari tubuh panther tersebut, tiba-tiba sebuah cakar berbulu hitam besar mulai melangkah di antara masing-masing tubuhnya, membuat seketika Lily panik sadar semua aktingnya sudah terbongkar, saat ia memejamkan mata berpikir akan digigit oleh panther tersebut setelah ketahuan hidup pasrah akan digigit dan ditelan bulat-bulat.
Tapi lagi-lagi tebakannya meleset, malah sebuah jilatan dengan lidah yang begitu kasar dilingkupi duri-duri halus di sekelilingnya membuat bulu Lily seketika basah, pelan dengan cermat begitu menyeluruh dan lembut lidahnya menjilat telinganya, perlahan tubuh besarnya menekan tubuh rubah Lily lagi hingga ia kembali berbaring di bawah tubuhnya, mengurungnya di antara tangannya, memeluknya kembali dengan pelan namun kuat sehingga Lily sepenuhnya tidak bisa berpikir melarikan diri lagi.
Lily bingung otaknya berputar, tiba-tiba semua iq dan kepintarannya hilang menghadapi kepintaran hewan yang diluar akal sehatnya, ingin melarikan diri dengan cepat karena takut orang-orang mencarinya ditambah merasa ini kesempatan baik karena hewan yang menangkapnya terlihat tidak memangsanya, namun kehangatan dibawah keheningan dan dingin malam yang menyelimutinya membuat ia mengantuk merasa lelah yang menumpuk nya memaksanya agar luluh dan menutup matanya.
"Tidak! Aku harus..... Satu kalimat sebelum matanya mulai terpejam dengan cepat Lily kehilangan kesadaran tertidur nyenyak.
Panther hitam tersebut mulai membuka mata berhenti memeluknya erat seolah merasakan perlawanannya akhirnya hilang, ia tidak bergerak lebih hanya menjilatinya mukanya sebelum ikut memejamkan mata dan tertidur nyenyak mengikutinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya Lily terbangun dengan perasaan segar yang menyerang tubuhnya, sudah lama ia tidak tertidur nyenyak seperti ini setelah akhir-akhir ini selalu sibuk mengobati orang-orang tanpa memperdulikan kesehatannya.
Saat sudah sepenuhnya membuka mata menggeliat sembari menguap tiba-tiba tersadar malam sebelumnya, ia sedang melarikan diri dari kejaran orang-orang, berlari ke hutan dan ditangkap oleh panther hitam.
"Dimana ini?" Saat matanya menelisik ke arah gua Lily melihat aneka banyak peralatan berburu, seperti batu tajam, juga beberapa kain dari kulit hewan, membuat ia tersadar sepenuhnya mustahil dibuat dari hewan buas kecuali Beasthuman, membuatnya bertanya-tanya apakah hewan yang menangkapnya semalam manusia setengah binatang.
Tapi kehadirannya tidak dirasakan membuatnya bingung kemana hewan tersebut, saat ia baru melangkah tiba-tiba merasakan sesuatu basah lembut yang menyentuh kakinya saat ia baru berpijak.
"Krek..."
Saat melihat ke bawah Lily melihat begitu banyak sekumpulan buah-buahan liar yang separuhnya ia ketahui, anggur hutan, tomat apel, rambai, kempedak, rangka, dan beri-berian berbentuk aneh yang baru ia lihat.
Semuanya tersusun rapi diatas alat seolah terhidangkan dari seseorang untuknya, membuat ia akhirnya duduk menebak semua disiapkan untuknya, hati nurani Lily terketuk, yang awalnya ingin melarikan diri pergi kembali ke desanya, tiba-tiba duduk mulai menundukkan kepala membuka rahangnya mulai mengunyah satu-persatu buah-buahan tersebut.
"Semuanya manis dan aman, ini semua untukku?" Saat pikirannya kabur memikirkan hal yang terjadi ini disisipkan benar-benar oleh beasthuman, sembari mulutnya terus terbuka untuk menghilangkan rasa laparnya.
"Trak,...trak..."
Tapi sebuah langkah berat terdengar dari jarak cukup dekat membuat Lily menegakan badannya tiba-tiba untuk waspada bersiap kemungkinan yang terjadi ada binatang buas yang masuk ke gua, namun yang terjadi ialah panther hitam semalam sedang membawa hewan buruannya yaitu babi hutan, menggigitnya di giginya dan membawanya.
Saat masuk panther tersebut seolah merasakan kewaspadaannya, mulai meletakan binatang buruannya, mengerakan kepalanya kesana-kemari seolah bingung melihatnya, membuat Lily melemaskan tubuh saat melihat fakta yang terjadi, menghela nafas lega mulai kembali membuka mulut mengunyah buah-buahan yang sedari tadi terus mengoda matanya.
Panther hitam itu mulai mendekat duduk di samping tubuhnya, menjilati cakarnya berulangkali dengan matanya sibuk menatap tajam Lily seolah sedang mengamati dan mengawasinya.
Lily tentu sepenuhnya sadar tentu tersipu, merasa kali ini ia merasakan sesuatu aneh yang menggetarkan hatinya setelah sekian lama, selama ini ia selalu dijaga ketat oleh ayah dan kakaknya yang protektif membuat ia tidak bisa berdekatan dengan pria manapun walaupun mereka terus mengejarnya, ditambah ia terus menyibukkan diri tidak tertarik sehingga ia tidak merasakan getaran, yang tentunya rasa tertarik pada lawan jenis.
Namun Lily buru-buru menggelengkan kepala berusaha tersadar, dirinya masih sepenuhnya mencintai orang yang selama ini selalu ia tunggu, walaupun mungkin tidak ada dilahirkan kembali sepertinya, ia merasa tidak mungkin mengkhianatinya dengan menyukai pria lain.
"Tidak! Sadarlah Lily ini hanya perasaan semangat karena kau sudah lama tidak berinteraksi dengan lawan jenis berdua, kau masih mencintai Stevan, ingatlah suamimu!"
Namun keadaan hening terus berlanjut di dalam gua, panther tersebut terus mengamati Lily membuat ia terus-menerus salah tingkah bingung dengan dirinya karena baru kali ini merasakan hal seperti ini.
Lily akhirnya tidak tahan lagi dengan rasa penasaran yang terus membuatnya tidak bisa tenang, ingin memastikan identitas hewan yang ada di depannya, tiba-tiba ia berubah wujud berubah jadi manusia, seketika bulu-bulu halus kuning kemerahan yang melapisi tubuhnya berubah jadi kulit halus dan anggota tubuh ramping.
"Kau manusia binatang kan?! Jujur saja padaku, apa maumu menangkapku!"
Lily menatapnya tajam berdiri dengan gagahnya menatap panther seolah mengancam akan melakukan sesuatu jika ia tidak jujur dengan identitasnya, namun yang tidak dirinya ketahuan dan juga disadarinya ka sepenuhnya sedang telanjang karena sudah berubah wujud sekarang.
Panther tersebut tiba-tiba tertegun matanya membulat melihat aksinya seolah mempertanyakan tingkahnya, ia hanya diam membisu melihat wajahnya.
Membuat suasana semakin sunyi karena keduanya saling menatap tidak ada yang melangkah untuk berinisiatif mencairkan suasana.
"Apa-apa dia ini...Apa jangan-jangan dia sepenuhnya binatang buas?"