NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Penyelamatan dramatis

Hujan turun seperti tirai kelabu yang menutup wajah Kota Sagara. Malam itu, udara terasa berat, seolah membawa firasat buruk yang tak terucap. Di sebuah gudang tua di pinggiran kota, seorang pria terikat pada kursi besi, napasnya tersengal, wajahnya penuh lebam dan darah kering.

Pria itu adalah Amran.

Bima berdiri mematung di depan layar laptop yang menampilkan rekaman CCTV dari jaringan relawan. Dadanya terasa seperti diremas tangan tak terlihat. Baru dua jam lalu, Amran keluar sendirian untuk menemui salah satu informan lama. Sejak itu, ia menghilang.

Kini, sebuah pesan masuk.

Jika ingin Amran hidup, datanglah sendiri.

Koordinat tertera di bawahnya.

“Ini jebakan,” ujar Raka tegas.

“Ya,” sahut Naya. “Dan justru itu alasan kita harus datang.”

Sinta menggeleng cemas. “Mereka ingin memancing kita keluar.”

Bima menutup mata sejenak, menarik napas panjang. “Kalau kita tidak datang, Amran mati.”

Keheningan jatuh.

Akhirnya mereka sepakat. Tapi tidak ada yang datang sendirian. Rencana disusun cepat, detail, dan tanpa celah. Raka menyiapkan jalur masuk dan keluar. Sinta meretas kamera keamanan di sekitar lokasi. Naya mengatur komunikasi darurat. Kirana, meski masih trauma, bersikeras ikut.

“Aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi,” katanya lirih.

Gudang itu berdiri di kawasan industri mati, jauh dari pemukiman. Bangunannya besar, gelap, dan dikelilingi semak liar. Hanya satu lampu redup di pintu utama.

Mobil mereka berhenti ratusan meter dari lokasi. Dengan pakaian gelap, mereka bergerak menyusuri bayangan, mengendap seperti napas yang tak terdengar.

“Dua penjaga di pintu depan,” bisik Raka. “Satu di sisi barat.”

Bima menelan ludah. Jantungnya berdegup keras.

Dengan isyarat tangan, mereka bergerak. Raka melumpuhkan penjaga sisi barat. Naya menyelinap ke pintu belakang, membuka kunci dengan alat sederhana. Di dalam, bau karat dan oli menyengat.

Teriakan tertahan terdengar samar.

“Amran,” bisik Bima.

Mereka melangkah lebih cepat.

Namun ketika hampir mencapai ruang utama, lampu menyala terang. Suara tepukan tangan menggema.

“Selamat datang.”

Seorang pria bertubuh tinggi melangkah keluar dari balik bayangan. Wajahnya dingin, matanya tajam. Di belakangnya, Amran terikat, tubuhnya penuh luka.

“Pak Darma,” gumam Bima.

Pria itu tersenyum tipis. “Akhirnya bertemu langsung.”

“Lepaskan dia,” kata Bima tegas.

“Dengan senang hati,” sahut Darma ringan. “Tapi ada harga.”

Ia melangkah mendekat. “Serahkan semua data. Hapus laporan. Hilang dari Kota Sagara.”

“Dan jika kami menolak?” tanya Naya.

Darma mengangkat bahu. “Mayat Amran akan jadi pesan.”

Keheningan membeku.

Bima menatap Arman, lalu menatap wajah-wajah tim kecilnya. Tak satu pun menunjukkan niat menyerah.

“Maafkan aku,” kata Bima pelan.

Dalam sepersekian detik, Raka melempar granat asap ke lantai. Ledakan kecil memecah keheningan. Ruangan langsung dipenuhi kabut tebal.

“Sekarang!” teriak Raka.

Kekacauan meledak.

Teriakan, langkah kaki, suara benda jatuh bersahutan. Dalam asap, Bima meraba jalan menuju Amran. Tangannya gemetar saat melepaskan ikatan.

“Bertahanlah,” bisiknya.

Sementara itu, Naya dan Kirana berusaha menahan para penjaga yang muncul dari sisi lain. Sinta mematikan aliran listrik, membuat sebagian ruangan gelap total.

Namun Darma tidak tinggal diam.

Dari balik kabut, suara tembakan menggema. Peluru menghantam dinding hanya beberapa sentimeter dari kepala Bima.

“Bima!” teriak Naya.

Raka menerjang, menjatuhkan salah satu penjaga. Bima memapah Amran, yang hampir tak mampu berdiri.

“Kita harus keluar sekarang!”

Mereka bergerak terseok menuju pintu belakang. Namun satu penjaga muncul tiba-tiba, mengayunkan tongkat besi ke arah Kirana.

Bima refleks melompat, menahan pukulan itu dengan lengannya. Nyeri tajam menjalar, tapi ia bertahan.

Raka melumpuhkan penyerang itu dengan satu hantaman keras.

Akhirnya mereka berhasil mencapai luar gudang. Hujan mengguyur deras, seolah membersihkan darah dan ketakutan.

Di kejauhan, sirene polisi mulai terdengar.

“Kita harus pergi!” seru Sinta.

Mereka berlari menuju mobil, membawa Arman yang nyaris pingsan.

Ketika mesin menyala dan kendaraan melesat menjauh, Bima menoleh ke belakang. Di ambang pintu gudang, Darma berdiri, menatap mereka dengan sorot mata penuh dendam.

“Ini belum selesai,” gumam Bima.

Di dalam mobil, Arman membuka mata perlahan. “Kalian… gila.”

Raka tersenyum tipis. “Mungkin. Tapi masih hidup.”

Air mata mengalir di pipi Naya. Ketegangan yang sejak tadi membelenggu akhirnya runtuh menjadi kelegaan.

Namun jauh di dalam hati mereka, satu kesadaran tumbuh:

Penyelamatan ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar.

Karena kini, perang mereka melawan kekuasaan telah berubah menjadi konfrontasi terbuka.

Dan tak ada lagi ruang untuk mundur.

Kalimat itu seperti gema yang terus berputar di benak Bima, bahkan setelah mobil mereka melaju jauh meninggalkan gudang tua. Lampu-lampu kota menyapu wajah-wajah lelah di dalam kendaraan, menyingkap luka, debu, dan ketegangan yang belum reda.

Amran terbaring di kursi belakang, napasnya pendek-pendek. Naya terus memeriksa nadinya, sementara Sinta mengompres luka di pelipisnya.

“Bertahanlah,” bisik Naya. “Sedikit lagi.”

Sirene polisi semakin dekat. Raka membanting setir ke arah gang sempit, memacu kendaraan menyusuri lorong-lorong gelap yang hanya ia hafal. Mereka memutar, berbelok, dan menghilang di antara labirin kota, hingga akhirnya sirene itu menjauh.

Di rumah aman, Amran segera mendapat perawatan darurat. Setelah kondisinya sedikit stabil, ia membuka mata perlahan. Tatapannya menyapu ruangan sebelum berhenti pada Bima.

“Mereka… sudah sejauh itu,” katanya lirih.

Bima mengangguk. “Dan kita juga.”

Kirana duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya. Meski selamat, bayangan penculikan dan penyergapan terus menghantuinya. Ia mengangkat kepala. “Apa langkah kita sekarang?”

Keheningan jatuh. Tidak ada jawaban instan. Hanya napas berat dan bunyi detak jam yang terdengar.

Akhirnya Raka berdiri. “Kita hentikan permainan kucing-kucingan ini. Kita paksa mereka ke arena terbuka.”

“Bagaimana?” tanya Sinta.

Raka menatap layar laptop yang masih menampilkan potongan rekaman Darma. “Kita rilis semuanya. Sekaligus. Tanpa jeda.”

Naya terkejut. “Itu berarti mereka akan menyerang balik habis-habisan.”

“Dan kalau kita menunggu, mereka akan menghabisi kita satu per satu,” sahut Raka dingin.

Bima menimbang. Dadanya terasa sesak. Tapi jauh di dalam, ia tahu, tidak ada pilihan aman.

“Lakukan,” katanya akhirnya. “Kita kirim ke semua jaringan nasional dan internasional. Kita buat ini terlalu besar untuk ditutup.”

Malam itu menjadi saksi kerja tanpa henti. Data dipaketkan, rekaman disunting, narasi disusun dengan presisi. Sinta memastikan jalur distribusi tak bisa diputus sekaligus. Amran, meski masih lemah, memandu jaringan jurnalis lama yang siap menyiarkan.

Ketika jam menunjukkan pukul tiga dini hari, tombol kirim ditekan.

Dan badai pun dilepaskan.

Pagi harinya, Kota Sagara terbangun dalam kekacauan. Layar-layar televisi menampilkan judul besar: Skandal Manipulasi Media dan Korupsi Politik Terbongkar. Wajah Darma Pranoto memenuhi layar, disertai bukti-bukti tak terbantahkan.

Media sosial meledak. Tagar #SagaraBangkit dan #TangkapDarma menduduki puncak tren nasional.

Demonstrasi spontan terjadi di berbagai sudut kota. Warga menuntut transparansi, keadilan, dan penangkapan pihak-pihak terlibat.

Namun reaksi balik datang seketika.

Pasukan keamanan mengepung beberapa kantor media. Situs-situs independen diblokir. Akun-akun mereka diserang laporan massal.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Bima menerima telepon dari nomor tak dikenal.

“Kau sudah melangkah terlalu jauh,” suara di seberang dingin. “Dan sekarang, kau akan membayar.”

Sebelum sempat menjawab, sambungan terputus.

Beberapa menit kemudian, kabar buruk datang: rumah aman keluarga Bima digeledah.

Darahnya serasa membeku.

“Kita harus evakuasi sekarang,” seru Raka.

Namun sebelum rencana itu matang, suara ledakan mengguncang kejauhan. Asap hitam membumbung di langit timur.

“Itu… arah rumah sakit,” bisik Naya.

Amran bangkit setengah duduk. “Rumah sakit tempat ayahmu dirawat.”

Bima terpaku.

Tanpa menunggu, mereka melesat menuju lokasi. Jalanan macet oleh kepanikan. Sirene ambulans dan polisi bersahutan.

Di depan rumah sakit, kekacauan terjadi. Api telah dipadamkan, tapi sebagian bangunan rusak. Pasien dievakuasi tergesa-gesa.

Bima berlari menembus kerumunan. “Ayahku! Di mana ayahku?!”

Seorang perawat mengenali wajahnya. “Pasien atas nama Pak Wijaya? Dipindahkan ke ruang darurat. Ada kerusakan sistem listrik.”

Jantung Bima nyaris meledak. Ia menerobos masuk, menemukan ayahnya terbaring lemah, selang oksigen terpasang.

Ibunya menangis di samping ranjang.

“Ini peringatan,” bisik Raka geram.

Bima menggenggam tangan ayahnya erat. Di dada pria renta itu, ia merasakan denyut yang masih bertahan.

“Ayah, bertahanlah,” katanya terbata.

Di saat itulah, kemarahan berubah menjadi tekad mutlak.

Bima berdiri, menatap wajah-wajah di sekelilingnya.

“Mereka sudah menyerang keluarga kita. Mereka sudah melewati batas.”

Naya mengangguk. “Dan sekarang, tidak ada lagi ruang untuk kompromi.”

Di luar, Kota Sagara bergolak. Di balik layar, kekuasaan mengerahkan seluruh senjata. Sementara di tengah badai itu, sekelompok kecil orang berdiri, menolak runtuh.

Karena mereka tahu, satu langkah mundur berarti kehancuran.

Dan satu langkah maju, meski penuh risiko, adalah satu-satunya jalan menuju keadilan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!