Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Sinema dan Rasa yang Salah
Pagi itu, suasana di lobi utama kediaman Ardiansyah terasa berbeda. Gathan berdiri tegak dengan kunci mobil di tangannya, sementara di sampingnya, Alisha tampak anggun mengenakan dress kasual berwarna biru langit yang dipilihkan oleh Sari.
"Kita pergi berdua saja hari ini. Tanpa pengawalan," ucap Gathan tegas kepada kepala keamanan.
Mbak Sari yang berdiri di dekat pintu sempat melangkah maju, wajahnya menyiratkan kecemasan yang nyata. Ia tahu betapa berbahayanya situasi di luar sana bagi "Aruna" palsu ini.
"Tapi Tuan... apa tidak sebaiknya bawa satu atau dua orang? Nona baru saja sembuh."
Gathan menoleh, menatap Sari dengan sorot mata yang menenangkan namun tak terbantahkan.
"Tenanglah, Mbak. Aruna aman bersamaku. Aku tidak akan membiarkan seujung rambutnya pun terluka lagi."
Gathan kemudian beralih pada Alisha. Dengan gerakan yang sangat alami, ia menggenggam jemari Alisha dan menuntunnya menuju mobil SUV mewah miliknya. Gathan membukakan pintu untuknya, memastikan Alisha duduk dengan nyaman sebelum ia sendiri memutar ke kursi kemudi.
Alisha hanya bisa terdiam, tangannya yang berada di bawah pangkuan saling meremas. Setiap perlakuan manis Gathan terasa seperti sengatan listrik ringan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia harus mengingatkan dirinya berulang kali, Aku bukan Aruna. Dia bukan kakakku. Ini semua hanya sandiwara.
Namun, bagaimana bisa ia tetap tenang jika pria di sampingnya ini memperlakukannya seolah ia adalah pusat dunianya?
Mobil melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang. Gathan fokus pada kemudi, profil wajahnya yang tegas terlihat sangat tenang namun menyimpan wibawa yang besar. Sesekali, ia melirik Alisha yang sedang menatap keluar jendela.
"Senang bisa keluar?" tanya Gathan lembut.
Alisha menoleh dan mengangguk pelan. "Iya, Kak. Rasanya sedikit melegakan bisa melihat jalanan seperti ini."
Sebelum benar-benar pergi bersenang-senang, Gathan memenuhi kewajibannya. Ia membawa Alisha ke rumah sakit pusat untuk pemeriksaan rutin. Dokter perempuan yang menanganinya sejak awal kembali melakukan observasi fisik, sementara psikolog yang sama mengajak Alisha berbicara secara privat.
Di ruang tunggu, Gathan duduk dengan rahang mengeras. Meski dokter bilang fisik Aruna stabil, ia tidak bisa menerima begitu saja bahwa ingatan adiknya hilang begitu saja. Di balik ketenangannya, Gathan telah memerintahkan Baskara secara rahasia untuk menyelidiki setiap inci lokasi kecelakaan. Ia curiga ini bukan murni kecelakaan. Jika ada tangan-tangan Elena atau Julian di balik semua ini, Gathan bersumpah akan menghancurkan mereka dengan tangannya sendiri.
Setelah pemeriksaan usai, suasana kembali mencair. Gathan membawa Alisha ke salah satu mall termewah di pusat kota.
"Kita mau ngapain, Kak?" tanya Alisha saat mereka melangkah masuk.
"Kita akan menonton film. Kamu butuh hiburan agar pikiranmu tidak terlalu tegang," jawab Gathan.
"Wah, serius?" Mata Alisha berbinar.
Untuk sekian detik, Alisha lupa akan perannya. Binar wajahnya, senyum lebarnya, dan antusiasme itu adalah murni milik Alisha, seorang gadis sederhana yang memang sangat jarang bisa menikmati waktu santai untuk menonton di bioskop mewah. Respon itu begitu jujur dan lepas kontrol.
Gathan yang melihat itu bukannya curiga, malah ikut tersenyum. Baginya, melihat Aruna yang biasanya dingin dan kaku menjadi begitu ekspresif adalah sebuah keajaiban yang ia syukuri dari hilangnya ingatan sang adik.
Mereka berdiri di depan poster-poster film. Gathan menunggu Aruna memilih, biasanya adiknya itu akan langsung menunjuk film action yang penuh teka-teki atau film horor psikologis yang berat. Namun, jari Alisha justru menunjuk ke sebuah poster film genre komedi romantis dengan warna-warna cerah.
"Aku mau nonton yang ini, Kak," ucap Alisha bersemangat.
Gathan terdiam. Ia menatap poster itu, lalu menatap Alisha dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kamu yakin?"
Deg
Jantung Alisha seolah berhenti berdetak. Ia menyadari ada yang salah dari ekspresi Gathan. Mati Aku! Aku lupa nanya Aruna suka film apa! batinnya panik.
"Jarang sekali kamu pilih genre ini, Na. Bahkan seingat Kakak, kamu tidak pernah mau menonton film receh seperti ini. Kamu selalu bilang itu membuang-buang waktu," ucap Gathan, matanya mengunci mata Alisha, seolah mencari kejujuran di sana.
Keringat dingin mulai muncul di tengkuk Alisha. Ia harus memutar otak secepat mungkin. Dengan gerakan yang diusahakan tetap tenang, ia menghela napas dan menunduk sedikit.
"Tidak tahu, Kak... rasanya aku hanya ingin menonton sesuatu yang ringan," ucap Alisha dengan nada yang dibuat sedikit rapuh.
"Mungkin... film dengan humor-humor receh bisa sedikit menenangkan kepalaku yang sering sakit jika mencoba mengingat hal-hal berat. Aku lelah dengan segala sesuatu yang serius."
Jawaban itu tampak masuk akal bagi Gathan. Rasa curiga yang sempat muncul di matanya luntur, berganti dengan rasa iba.
"Kakak mengerti. Maafkan Kakak, ya. Kalau begitu, kita tonton komedi hari ini."
Di dalam bioskop yang gelap, Alisha duduk di samping Gathan. Ruangan itu dingin, namun tangan Alisha terasa panas. Gathan duduk sangat dekat, aroma parfumnya yang maskulin dan menenangkan memenuhi indra penciuman Alisha. Di tengah-tengah film yang lucu, saat penonton lain tertawa, Alisha justru sibuk mengatur detak jantungnya sendiri.
Tiba-tiba, Gathan meraih tangan Alisha di atas sandaran kursi, menggenggamnya dengan jemari yang kokoh. "Kalau pusing, bilang Kakak, ya," bisik Gathan tepat di dekat telinga Alisha.
Napas hangat Gathan menyentuh kulit lehernya, membuat bulu kuduk Alisha meremang. Alisha hanya bisa mengangguk kaku, tidak berani menarik tangannya. Genggaman itu terasa sangat nyaman, sangat melindungi, hingga Alisha merasa takut. Ia takut jika suatu saat nanti, ia tidak ingin melepaskan tangan ini. Ia takut jika ia mulai menikmati kasih sayang yang sebenarnya ditujukan untuk orang lain.
Jaga perasaanmu, Alisha. Ingat kamu masih pacar Rendy. Jangan sampai kamu jatuh ke dalam perangkap yang kamu buat sendiri, bisik nuraninya di tengah tawa penonton bioskop yang membahana. Sementara itu, di genggaman Gathan, tangan Alisha terus bergetar hebat, sebuah rahasia yang ia harap tidak disadari oleh pria di sampingnya.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊