Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelindung Bayangan
Setelah kejadian baku tembak berdarah di koridor rumah sakit, atmosfer di sekitar Shabiya berubah total. Galen, suaminya tidak lagi sekadar menjadi pria yang terobsesi pada segala hal yang berkaitan dengan istrinya, tapi ia juga telah bertransformasi menjadi seorang panglima perang. Jarang sekali ia turun langsung untuk menghabisi para tikus yang mencari perhatiannya, bahkan ketika menjalankan bisnis gelapnya ... Galen tidak pernah mau mengotori tangannya secara langsung.
Penyerangan Elfahreza terhadapnya adalah deklarasi perang terbuka yang mengharuskan Galen turun ke jalanan, menghancurkan jaringan distribusi dan logistik musuh sebelum mereka sempat menarik pelatuk lagi.
Hubungan diantara keduanya sangat rumit untuk dijelaskan. Yang jelas, hubungan mereka dari awal bertemu di dunia bawah sampai sekarang adalah musuh bebuyutan. Terkadang hari ini menjadi sahabat yang sering membantu dan hari esok akan kembali menjadi musuh yang saling menghabisi satu sama lain. Seperti yang terjadi sekarang, meski mereka pernah mendeklarasikan perdamaian ... hal itu kadang tidak berlaku untuk beberapa hal.
Namun, Galen tidak bisa meninggalkan Shabiya tanpa penjagaan. Dan di sinilah aliansi yang paling ganjil terbentuk. Galen menunjuk Arsen, yang meskipun telah berkhianat tentang fakta calon anaknya, tetaplah anjing penjaga yang paling mematikan yang pernah dia temukan dan Rigel, sepupunya yang memiliki hati lebih lembut namun memiliki jaringan intelijen yang luas itu mungkin bisa menenangkan suasana atau bisa sementara menjaga Shabiya saat ia tidak ada.
"Jika seujung rambutnya tersentuh saat aku tidak ada..." ucap Galen pada Arsen di depan pintu ruang rawat Shabiya, suaranya sedingin es kutub, "kau tidak perlu menunggu Reza membunuhmu. Aku sendiri yang akan membedah jantungmu."
Arsen hanya menunduk. Ia tahu ini adalah kesempatan terakhirnya untuk penebusan dosa dari pengkhianatan yang dia lakukan. Sementara Rigel, yang berdiri di sampingnya, hanya menatap Shabiya dari balik kaca dengan tatapan penuh duka. Pria itu merasakan iba dan turut sedih atas kejadian yang menimpa pasangan suami istri tersebut.
Meski kejadian ini bukan yang pertama terjadi bagi Galen.
Langit berganti gelap dan Galen sudah pergi sejak tadi, Shabiya masih belum sepenuhnya siuman, namun kondisinya mulai stabil. Wanita itu sudah diperiksa oleh dokter yang bertanggung jawab atas kesembuhannya. Ia dipindahkan ke ruangan rahasia yang tidak terdaftar dalam denah rumah sakit, ruangan itu seperti sebuah bunker medis di lantai bawah tanah yang hanya diketahui oleh segelintir orang.
Rigel duduk di kursi kayu di sudut ruangan, sementara Arsen berdiri di depan pintu baja, matanya terus memantau monitor CCTV yang menampilkan setiap jengkal koridor.
"Kau tahu dia tidak akan pernah memaafkanmu, bukan?" suara Rigel memecah kesunyian, memantul di dinding beton yang dingin.
Arsen tidak menoleh. "Tugas saya bukan untuk dimaafkan, Tuan Muda Rigel. Tugas saya adalah memastikannya tetap bernapas. Tuan Galen sedang menggila di luar sana. Dia membakar gudang-gudang Reza satu per satu. Dia tidak akan berhenti sampai Jakarta merah karena darah."
Rigel menghela napas, jawaban yang tidak memuaskan. Jemarinya memainkan sebuah liontin kecil yang tadinya ingin ia berikan pada Shabiya sebagai simbol kebebasan. "Dunia ini terlalu busuk untuknya. Galen mencintainya dengan cara yang menghancurkan, dan kita... kita hanya membantu mempercepat kehancuran itu."
Tiba-tiba, monitor di tangan Arsen berkedip merah. "Ada pergerakan di ventilasi sektor utara. Mereka tidak lewat pintu depan kali ini."
Arsen segera memadamkan lampu utama. Ruangan itu kini hanya disinari oleh pendar biru dari mesin pendeteksi jantung Shabiya. Rigel mengeluarkan belati taktis dari balik sepatunya, ia mungkin bukan penembak jitu seperti Arsen, tapi ia adalah petarung jarak dekat yang lihai.
"Tetap di dekat tempat tidurnya, Rigel. Jangan biarkan mereka mendekat," perintah Arsen.
Suara gesekan logam terdengar dari langit-langit. Sebuah panel ventilasi jatuh tanpa suara ke lantai yang dilapisi karpet. Dua bayangan hitam meluncur turun seperti laba-laba. Mereka adalah pembunuh bayaran kelas atas yang disewa oleh Reza untuk menyelesaikan apa yang gagal dilakukan di lantai atas.
Puff! Puff!
Arsen melepaskan tembakan dengan peredam. Satu bayangan jatuh tersungkur sebelum sempat menyentuh lantai. Namun, satu lagi bergerak sangat cepat, melemparkan pisau lempar yang nyaris mengenai leher Rigel.
Rigel menerjang bayangan itu. Mereka bergulat di lantai, di antara kabel-kabel medis dan tabung oksigen. Suara napas yang memburu dan hantaman daging bertemu daging memenuhi ruangan. Rigel berhasil menancapkan belatinya ke paha lawan, membuatnya mengerang tertahan.
Sementara itu, Arsen harus menghadapi dua orang lagi yang mencoba mendobrak pintu baja dari luar dengan alat las hidrolik. "Mereka terkoordinasi dengan baik!" teriak Arsen sambil menendang meja medis untuk dijadikan barikade.
Pertempuran itu berlangsung singkat namun brutal dan sangat menguras tenaga. Arsen berhasil menembak kepala penyerang terakhir tepat saat pintu baja itu mulai terbuka sedikit. Darah segar memercik ke lantai putih, namun anehnya, Shabiya tidak terbangun. Wanita itu tetap berada di dalam dunianya sendiri, terlepas dari kekerasan yang terjadi hanya beberapa inci dari kepalanya.
Arsen terengah-engah, bahunya terkena sayatan pisau, namun ia tetap berdiri tegak di depan tempat tidur Shabiya, senjatanya masih terarah ke arah pintu. Rigel bangkit dengan wajah yang memar, membersihkan darah dari tangannya.
"Kenapa mereka begitu terobsesi membunuhnya?" bisik Rigel, menatap Shabiya dengan iba.
"Karena dia adalah titik lemah Galen," jawab Arsen pelan. "Menghancurkan Shabiya berarti menghancurkan kewarasan Galen yang sudah tipis. Reza tahu itu. Jika Shabiya mati, Galen akan menjadi monster yang tak terkendali, dan itu akan membuat pemerintah serta faksi dunia bawah yang lain memiliki alasan untuk melenyapkan keluarga Gemilar selamanya."
Rigel terdiam. Ia menyadari betapa beratnya beban yang dipikul wanita ini. Shabiya bukan hanya sekadar pengganti Thana, tapi ia juga adalah jangkar terakhir bagi kemanusiaan Galen.
Di tengah kekacauan itu, jemari Shabiya kembali bergerak. Kali ini bukan sekadar refleks saraf. Kelopak matanya bergetar hebat. Di alam bawah sadarnya, ia mendengar suara tembakan dan bau mesiu yang menusuk. Ia merasakan kehadiran dua orang di dekatnya. Bukan Galen, tapi dua kehadiran yang terasa lebih protektif.
Rigel segera mendekat, menggenggam tangan Shabiya yang bebas dari selang infus. "Shabiya... tetaplah di sini. Jangan pergi ke mana-mana. Kami di sini."
Arsen tetap pada posisinya, membelakangi mereka untuk terus memantau pintu. Dua pria ini, yang masing-masing memiliki dosa besar terhadap Shabiya, kini menjadi benteng terakhir yang menjaganya dari dunia luar yang ingin melenyapkannya.
Dari kejauhan, suara ledakan kembali terdengar dari arah pusat kota. Galen sedang melaksanakan hukumannya. Namun di dalam ruang bawah tanah yang sunyi dan berdarah ini, Shabiya perlahan mulai membuka matanya. Ia melihat langit-langit beton yang asing, bau darah yang amis, dan wajah Rigel yang penuh kekhawatiran.
Ia tidak ingat segalanya. Ingatannya tentang kecelakaan itu kabur, namun satu perasaan menetap di dadanya, rasa lelah yang luar biasa seolah baru selesai dikejar sesuatu.
"Siapa kalian..." bisik Shabiya, suaranya nyaris tak terdengar.
Arsen menoleh sesaat, ada binar lega di matanya yang keras, namun ia segera kembali fokus ke pintu. "Selamat datang kembali, Nyonya. Perang ini baru saja dimulai. Semoga tidak mengagetkan anda."
Shabiya menatap tangannya yang digenggam Rigel, lalu menatap Arsen yang berlumuran darah. Meski penglihatannya masih samar saat membuka mata, tapi ia tahu bahwa ia masih hidup, dan sangkar emasnya yang kini telah berubah menjadi benteng perang yang penuh dengan rahasia berdarah kembali memeluknya.
takut kekawatiranqu terjadi😤
ayo cepatlah berpikir u lepas dr galen
semangat shabiya💪
lanjuuut thor
jdlah dirimu sendiri, kau bodoh klu mencintai galen, buat dia jatuh cinta pd shabira
berharap setinggi langit kenyataan menjatuhkan ampe didasar jurang😭
💪ya thor, karyamu bagus, smoga byk yg mampir
👊nggo galen🤭
baru mulai... ky'a seru