Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Luna yang merasa lapar segera berdiri dan berjalan keluar menuju ruang makan yang berada dilantai bawah, dengan penampilan rumahan hanya memakai dress rumahan yang manis cocok dikenakan oleh Luna.
Luna menampilkan wajah yang cerah dan segar seolah tak ada beban yang ada padanya saat ini, ia harus selalu terlihat kuat dan tak boleh lemah dihadapan orang yang telah menyakitinya.
Mobil yang membawa Dita dan bu Hana telah tiba dirumah, bu Hana lebih dulu keluar dan masuk kedalam rumah begitu Akbar dan Dita menyusul ibunya. Luna yang mendengar suara langkah kaki masuk kedalam rumah hanya melihat sekilas, kemudian melanjutkan makan di meja makan.
Didalam rumah bu Hana, Akbar dan Dita sudah duduk diruang keluarga. Bu Hana yang seperti menjadi hakim di persidangan keluarga.
"Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian berdua?"tanya tegas bu Hana.
Luna yang mendengar suara keras bu Hana yang berada di ruang keluarga segera menyusul dan meihat apa yang terjadi.
Deg..
Luna terkejut ada suaminya dan Dita juga berada disana, Luna ingin menghampiri tapi agak ragu dan ia pun memberanikan diri maju terus dan duduk disalah satu sudut kursi.
Akbar yang melihat datangnya istrinya hanya memenjamkan matanya dan menguatkan dirinya kalau apa yang ditutupin selama ini akan berakhir saat ini juga.
"Jawab Akbar apa yang ibu tanyakan padamu."ucap bu Hana.
"Sebenarnya bu.."Kata Akbar yang sedikit gugup.
"Tante, maaf sebelumnya saya dan Akbar itu sebenarnya sepasang kekasih."ucap Dita menyela Akbar.
Deg.
Pyaarr....
Gelas yang dibawah Luna jatuh lantai dan berserakan pecahan gelas, air mata mulai mengenang disudut mata Luna. Akbar yang melihat kearah istrinya hanya menunduk seketika. Sedangkan Dita hanya senyum menyeringai sinis ke arah Luna seolah dia menjadi pemenangnya.
"Apa benar itu mas?"tanya Luna pada suaminya.
"Maaf Luna apa yang dikatakan Dita itu benar, aku dan Dita sudah menjalin kasih sebelum menikahimu."kata Akbar.
Luna yang mendengar pun memenjamkan matanya seolah menguatkan dirinya kalau apa yang dikatakan suaminya tidak benar.
"Luna tanya sekali apa benar itu?'tanya Luna tegas.
"Iya Luna, aku dan Akbar sudah pacaran sebelum menikah denganmu."ucap Dita menjawab apa yang ditanyakan Luna ke suaminya.
Bu Hana menatap tajam kedua orang di hadapannya dengan penuh kemarahan. Bu Hana memang mengenalkan para gadis ke Akbar untuk dijadikan istri keduanya, tapi bu Hana tak pernah menyuruh Akbar berselingkuh..
"Apa ada yang mau kamu katakan pada ibu, Akbar?" tanya bu Hana penuh penekanan.
Akbar mengangkat kepalanya, melihat sang ibu yang sudah sangat marah padanya.
"Maafkan aku ibu, aku khilaf, aku udah tak jujur dari awal sam ibu."jelas Akbar penuh permohonan.
Dita langsung melihat Akbar dengan wajah kecewa.
"Apa maksudmu dengan khilaf dan tak jujur dari awal, khilaf hanya dilakukan sekali tapi ini yang kamu lakukan udah lebih dari 3 tahun lama selama kamu menjalin tali pernikahan dengan Luna." ucap bu Hana memerah menunjuk kepada Dita.
"Astaga Akbar, ibu menyuruhmu untuk segera mempunyai anak dari istrimu sah bukan mencari selingkuhan sampai sebegitu lamanya. apa aja yang udah kalian lakukan selama ini?"tanya penuh penekanan bu Hana pada Akbar.
Akbar hanya mengeleng-geleng kepalanya.
"Maafkan aku ibu, aku tak pernah menyangka semua ini akan terjadi, kami melakukannya karena dijebak oleh teman kami sewaktu menghandiri pertemuan dengan klien diluar kota."ucap balas sendu Akbar.
Luna menatap tak percaya dengan apa yang di dengarnya, tatapan penuh kecewa.
"Aku dan Dita tak menyadari kesalahan malam itu, aku pikir semua akan baik-baik aja tak terjadi apapun dikemudian hari. Tapi ternyata Dita dinyatakan hamil dan aku harus bertanggung jawab kepada anak yang ada didalam rahim Dita sekarang."kata Akbar.
"Maaf...maafkan kami bu, maafkan kami Lun.."kata Akbar bersimpuh dihadapan istri dan ibunya dengan tangan di tangkupkan di depan dada.
Luna menunduk menyembunyikan air matanya yang sudah menetes sejak tadi.
"Jadi benar dia mengandung anakmu Akbar?"tanya bu Hana.
Akbar mengangguk
"4 minggu bu" ucap Akbar
"Baiklah segera kamu harus menikahi dia."sambung bu Hana lagi.
"Tapi bu, sebenarnya aku tak ingin menikah lagi bu."ucap gugup Akbar melirik ke arah Luna.
"Akbar apa-apan ini, kenapa kamu omong seperti itu?"teriak Dita yang tak terima dengan apa yang diucapkan Akbar.
"Aku tak ingin menikah lagi Dita, tapi aku akan menerima anak itu sebagai anakku."kata Akbar dengan menatap ke arah Dita.
"Akbar kenapa kamu enggak pernah pada ibu kalau kamu udah punya kekasih sebelum menikah dengan Luna. Kamu malah menyembunyikan selama ini."ucap bu Hana.
"Aku belum berani jujur pada ibu."kata Akbar.
"Kenapa hah? Kalau kamu jujur ibu dari awal tidak terlambat begini. Luna itu memang harus udah siap buat di poligami karena dia belum kasih kamu keturunan..!!" kata bu Hana dengan entengnya melihat Luna dan Akbar bergantian.
"Udahlah, sekarang semuanya udah tau hubunganmu dengan Dita. Kamu harus segera menikahi Dita sebelum cucu ibu itu lahir tanpa adanya ikatan diantara kalian berdua." ucap bu Hana lagi menambah rasa sakit dihati Luna.
Sedangkan Dita terlihat tersenyum samar karena sambutan dari bu Hana yang tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Akbar, rencananya sedikit demi sedikit mulai berjalan.
"Tinggal dimana Dita sekarang?"tanya bu Hana.
"Di..dita tinggal di rumah sendiri bu."jawab Dita pada bu Hana.
"Dirumah , kamu biarkan Dita yang sedang mengandung anakmu tinggal dirumahnya sendiri."ucap bu Hana ke arah Akbar.
"Akbar baru tau bu, kalau Dita itu mengandung anak Akbar."ucap Akbar yang sedikit tidak terima tuduhan ibunya.
Sepanjang percakapan, Luna tidak ikut campur lagi atau memberikan saran ia udah sibuk dengan perasaannya sendiri.
"Udah selesia?" kata Luna setelah sejak tadi hanya diam.
Bu Hana, Akbar dan Dita langsung melihat ke arah Luna.
"Kalau udah selesai aku pamit." ucap Luna berdiri.
"Luna, mau kemana kamu?" tanya Akbar mencoba menahan tangan Luna.
Sedangkan bu Hana dan Dita hanya melihat Luna dengan raut wajah tak terbaca.
"Aku butuh waktu, biarkan aku sendiri dulu."ucap Luna melepas genggaman Akbar di pergelangan tangannya lalu melangkah ke luar, meninggalkan rumah mertuanya.
Buat apa dia berusaha berbicara dirumah ini, jika memang udah tak ada yang mau mengerti perasaannya saat ini.
Bila dia mengungkapkan perasaannya di hadapan ibu mertuanya bukannya mengurangi rasa sakit di hatinya, yang ada ibu mertuanya akan tambah memojokkannya dan membela Akbar dan Dita.
Luna berjalan ke arah mobilnya dan menjalankan keluar meninggalkan rumah menuju taman kota.
"aaaakkkkhhhhhhh giiilllllaaaaaaa" Luna berteriak sambil memukul stir mobilnya, meluapkan segala rasa sesak yang menghimpit dadanya.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦