Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badmood
Keesokan harinya, Naya terbangunkan oleh pintu yang di gedor.
"Astaga, kenapa pagi-pagi harus berisik sekali sih?" gumam Naya seraya bangkit dari tempat tidurnya dan pergi membuka pintu. "Ada apa sih Maaaa ...."
"Gawat sayang ...."
"Kenapa sih?" rengek Naya.
"Gara-gara gosip semalam, kakek marah dan meminta penjelasan darimu. Nanti malam ada pertemuan keluarga lagi untuk membahas ini!" jelas Suci.
"Aisshhh ... kakek nyebelin banget sih. Kenapa gak mama jelasin yang sebenernya kalau itu hanyalah gosip?" tanya Naya.
"Kamu kayak gak tau kakek aja, kakek gampang percaya apapun yang Riri katakan," ujar Suci.
"Ah elah males banget deh. Bilangin aja aku sibuk dan gak bisa datang!" lalu Naya kembali masuk ke kamarnya dan dengan cepat masuk ke kamar mandi.
"Naya ... Naya ... Gak bisa gitu dong? Nayaaa ..." panggil Suci.
Naya mengabaikan Suci, ia mandi dengan cepat. Kemudian bersiap-siap untuk pergi ke kantor dengan rasa kesalnya. Bahkan ia tidak sempat sarapan, karena di meja makan ibunya itu pasti akan berusaha membujuknya.
"Naya ... Kenapa buru-buru sekali? Sarapanmu ini. Naya ..." panggil Suci.
"Ada apa sih, Ma? Ini masih pagi kok udah rame banget," ujar Ilham seraya duduk di kursi makan.
"Itu loh, Pa ... Naya gak mau datang ke acara nanti malam yang di adakan oleh papamu," jelas Suci.
"Itu anak! Apa kamu sudah membujuknya?" tanya Ilham.
"Tentu saja aku sudah membujuknya!"
"Hmmm ... Lagian kenapa Naya malah ketahuan jalan dengan orang biasa sampai di sangka pacaran? Aap jangan-jangan Naya benar pacaran dengan pria miskin itu?" tutur Ilham.
"Papa, percaya dong sama Naya. Dia pasti mengatakan yang sebenarnya, tidak mungkin berbohong," ucap Suci.
"Ma, Riri dan Yuna tidak mungkin menuduh begitu saja jika tidak ada gelagat dari Naya. Orang berpacaran atau tidak, pasti akan terlihat perbedaannya," jelas Ilham bicara dengan logika.
Sementara Suci lebih percaya pada anak perempuannya sendiri yang tidak mungkin berbohong dan tidak mungkin jatuh cinta lagi secepat itu.
"Barusan Naya belum sarapan?" tanya Ilham.
"Belum."
"Yasudah, kamu antarkan saja sarapan ke kantornya dan kamu bujuk untuk datang ke rumah papaku nanti malam. Katakan saja papa akan membantunya menjelaskan," ujar Ilham.
"Baiklah, Pa." Suci setuju.
Sementara itu, Naya sudah sampai di kantor lebih pagi. Baru ada beberapa karyawan yang sudah datang, tentu menyapa Naya dengan ramah.
"Selamat pagi, bu ...."
"Pagi semuanya ..." Naya berusaha tetap ramah.
Masuk keruangannya dengan wajah di tekuk. Bersandar pada kursi kerjanya dan meremat wajahnya kasar.
"Sumpah, hari ini pagiku berantakan! Gara-gara si Yuna sama tante Riri. Kenapa sih mereka tuh repotin hidupku terus? Males banget deh!" gerutunya.
Lalu Naya menghubungi Rossi dan mengatakan untuk membelikannya sarapan. Melewatkan sarapan akan membuat harinya akan semakin berantakan.
Tidak lama kemudian, Rossi sampai dengan tergesa-gesa masuk keruangan Naya.
"Ma–maaf, bu. Aku terlambat ..." ucapnya seraya meletakkan sarapan yang sudah ia beli.
Naya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Terlambat untuk apa? Masih jam tujuh empat puluh!" cetusnya.
Rossi memastikan jamnya lagi dan memang masih ada waktu dua puluh menit lagi sehingga ia bisa bernafas lega.
"Huuuu ... Aku pikir tadi sudah terlambat karena biasanya bu Naya datang lima menit sebelum jam delapan," ujar Rossi di iringi tawa kecil.
"Saya berangkat lebih pagi!" jawab Naya datar. Kemudian mengambil sarapannya dan mentrasfer uang pada Rossi. "Sudah saya ganti uangmu."
"Oh iya makasih, bu."
"Sana keluar. Saya mau sarapan!" titah Naya.
"Oke bos ..." Rossi keluar dari ruangan Naya dan bisa duduk dengan tenang di kursinya seraya mengatur nafasnya yang hampir habis.
"Kau kenapa? Habis di kejar anjing?" tanya Mahen yang tiba-tiba muncul di hadapan Rossi.
"Astaga ... Kau mengagetkanku saja!" cetus Rossi.
"Kenapa sih?" tanya Mahen.
"Kepo banget deh," ketus Rossi.
"Dih ... Eh, bu Naya udah dateng?" tanya Mahen.
"Udah ...."
Mahen hendak masuk keruangan Naya, Tapi Rossi menahannya. "Eh .. Ehhh ... Mau kemana? Jangan ganggu bu Naya. Beliau sedang sarapan dan sepertinya moodnya sedang tidak baik, jangan di ganggu ..." pintanya.
Mahen berjinjit untuk mengintip keadaan Naya yang benar sedang sarapan. "Aku mau memberikan sesuatu yang penting pada bu Naya!" Mahen menunjukkan amplop cokelat yang di pegangnya.
"Apa itu?" tanya Rossi penasaran.
"Kepo banget deh ..." Mahen meniru omongan Rossi lalu dengan cepat masuk keruangan Naya.
"Dih tuh orang!" gerutu Rossi. "Aku sudah mengingatkan, ya. Kamu di marahin bu Naya tau rasa deh!" sambungnya.
.....
"Selamat pagi ... Good morning bu Naya yang selalu cantik dan bersinar mengalahkan sinar mentari ..." sapa Mahen dengan tersenyum lebar.
"Dih lebay banget!" sahut Naya.
"Hehee ... Ini yang bu Naya mau." Mahen duduk di kursi di hadapan Naya dan memberikan amplop yang di bawanya itu.
Naya mengambilnya dan memasukkannya ke dalam laci meja. "Jangan lupa file-nya kirimin juga!"
"Siap bos ...."
"Hari ini hari terakhir pemotretan. Jangan ada kesalahan dan selesaikan semuanya dengan baik," pesan Naya tegas.
"Yaaahhh ... Sedih banget besok gak datang lagi kemari," keluh Mahen.
"Ya kalau kerjaanmu sudah selesai mau ngapain lagi kemari?"
"Ya mungkin sekedar melihat kecantikan bu Naya ... Hehehee ..." goda Mahen.
"Kau ini!" ketus Naya.
"Apa gak bisa bu Naya membiarkanku untuk tetap bekerja disini? Aku nganggur loh, cuman fotografer freelance doang," ujar Mahen.
"Disini tidak pemotretan setiap hari!"
"Yah ...."
Naya merasa kasihan, kemudian teringat pada studio langganannya yang fotografer mengalami kecelakaan dan belum bisa bekerja kembali. Kemudian memberikan kartu nama pada Mahen.
"Kalau butuh pekerjaan, tuh datang kesana. Biar nanti saya bilang sama bosnya untuk menerima kamu bekerja disana," ucap Naya.
"Wiihhh beneran nih?"
"Hmmm ...."
"Wah baik banget padaku. Makasih, ya ..." ucap Mahen.
"Sama-sama."
"Eh, kamu kenapa? Kayaknya lagi mumet banget, ya?" tanya Mahen menyadari kalau Naya sedang tidak baik-baik saja.
"Kau ingat tante dan sepupu saya semalam?"
Mahen mengangguk serius.
"Mereka membuat gosip di grup keluarga kalau saya berpacaran denganmu! Sehingga sekarang keluarga besar saya meminta penjelasan dan tidak terima jika saya berpacaran dengan orang biasa," tutur Naya bercerita begitu saja.
"Wih serem juga keluarga bu Naya. Mmmhhh ... Dalam masalah ini aku terlibat, apa perlu bantuanku?" tanya Mahen.
"Tidak perlu, saya bisa mengatasinya sendiri!"
Naya tidak mungkin meminta bantuan Mahen untuk menghadapi keluarganya yang licik dan manipulatif. Sefakta apapun akan mudah untuk mereka putar balikkan.
"Dari yang aku simak semalam, apa kalian berlomba-lomba untuk menikah?" tanya Mahen penasaran.
Naya mengernyitkan dahinya. "Ya enggaklah. Emangnya menikah ajang perlombaan? Mereka aja resek dan cari masalah terus," ujar Naya.
"Tadi katamu keluargamu marah karena kamu jalan dengan orang biasa? Apa keluargamu menginginkanmu menikah dengan yang setara?" tanya Mahen.
Naya menghela nafas panjang, apa yang Mahen katakan memanglah benar.
"Kalau saja aku kaya, pasti aku sudah membantumu untuk menghadapi keluargamu!" cetus Mahen.
"Apa maksudmu?" tanya Naya.
"Ya, pacaran pura-pura atau mungkin menikah kontrak?" ungkap Mahen.
Naya yang sedang meneguk minumannya tersedak mendengar apa yang Mahen ucapkan itu. Dengan cepat ia bangkit dari duduknya mendekat pada Naya dan mengusap tengkuknya dengan lembut.
"Pelan-pelan dong kalau minum ...."
Tiba-tiba Suci masuk keruangan Naya dan melihat adegan itu yang terlihat mesra.
"Nayaaaa ...."