NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. BEBAN YANG TAK TERLIHAT

..."Ada harga yang harus dibayar untuk setiap nyawa yang diselamatkan, dan kadang harganya adalah dirimu sendiri."...

...---•---...

Pelita di sudut ruangan berkedip lemah, menyebar bayangan panjang di dinding bambu. Doni duduk di sisi ranjang anyaman dengan punggung membungkuk, jari-jarinya menekan nadi di leher anak kecil itu. Detik demi detik berlalu. Denyutnya masih lemah, terlalu cepat, namun konsisten. Napas bocah itu tetap pendek dan tersendat, seperti orang yang berlari terlalu jauh tanpa henti.

"Bagaimana?" suara sang ibu gemetar, matanya merah membengkak.

Doni menarik tangannya perlahan. "Demamnya turun sedikit. Tapi belum aman."

Perempuan itu menghela napas panjang, tangannya meremas selendang kusam di pangkuannya. Matanya tak lepas dari wajah Doni, menahan napas, menunggu kata-kata yang bisa menjadi jaminan atau vonis. Tiga hari sudah. Tiga hari sejak anak ini kejang pertama kali. Kulitnya dipenuhi bercak merah khas penyakit gabag, matanya membengkak hingga hampir tertutup. Dan yang terburuk, otaknya mulai terkena.

"Terus berikan ramuan ini setiap dua jam," Doni mengangkat mangkuk kecil berisi cairan kental kehijauan. "Sedikit saja, biar tidak muntah. Dan jangan biarkan dia kepanasan. Kompres terus."

Ibu itu mengangguk patuh, menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar.

Doni bangkit, lututnya berbunyi keras. Tubuhnya terasa seperti kayu tua yang dipaksa bergerak. Matanya perih, kepalanya berdenyut, dan ada rasa logam pahit di lidahnya yang tidak hilang sejak kemarin. Tapi dia tidak bisa berhenti. Tidak sekarang.

Karyo menunggunya di luar, bersandar di tiang gubuk dengan wajah lelah. "Masih hidup?"

"Masih." Doni berjalan melewatinya, kakinya gontai menyusuri jalan setapak yang basah oleh embun pagi.

"Kau perlu tidur, Don."

"Nanti."

"Kau bilang itu kemarin."

Doni tidak menjawab. Karyo benar, tapi itu tidak mengubah apapun. Selama masih ada orang yang membutuhkan, dia tidak punya waktu untuk runtuh.

Mereka berjalan dalam diam, melewati gubuk-gubuk yang mulai mengeluarkan asap dari tungku pagi. Bau kayu bakar bercampur aroma tanah basah. Ayam-ayam berkokok di mana-mana, beberapa anak kecil berlarian tanpa alas kaki, tertawa riang tanpa beban. Doni menatap mereka sejenak, lalu mengalihkan pandang.

Balai kampung sudah terlihat dari kejauhan. Dan suara itu datang lebih dulu sebelum pemandangannya: batuk yang dalam, tangis anak kecil, bisik-bisik gelisah yang saling bertumpuk. Jantung Doni langsung tenggelam.

Antrean.

Lagi.

Lebih panjang dari kemarin.

Puluhan orang sudah duduk atau berdiri di sekitar balai, ada yang membawa anak kecil, ada yang memapah orang tua, ada yang berdiri sendiri dengan wajah pucat dan tubuh kurus. Bambang duduk di teras dengan buku catatannya, Slamet di sampingnya mengatur tumpukan bambu bernomor. Ketika mereka melihat Doni, wajah Bambang langsung menegang.

"Ada yang mendesak?" tanya Doni sebelum sempat duduk.

Bambang mengangguk cepat. "Dua orang. Satu perempuan batuk darah sejak tadi malam. Satunya lagi anak dengan diare parah, sudah lemas sekali."

Doni menutup mata sejenak, menarik napas dalam. "Yang diare dulu. Panggil."

Bambang melambai pada Slamet, yang langsung berlari ke arah kerumunan. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki kurus membawa anak balita yang kulitnya kering seperti kertas tua. Mata anak itu cekung, bibirnya pecah-pecah, dan ketika Doni menyentuh kulitnya, tekanan jarinya tidak langsung kembali. Kehilangan cairan berat. Tubuh kecil ini seperti bunga yang terlalu lama di bawah terik matahari.

"Sejak kapan?" Doni mengangkat kelopak mata anak itu, melihat bola matanya yang tenggelam dalam.

"Empat hari. Terus mencret. Tidak mau makan. Hanya minum sedikit."

Empat hari. Terlalu lama. Doni menekan perut anak itu dengan lembut, merasakan kehampaan di dalamnya. Ini bukan lagi soal diare biasa. Ini soal organ yang mulai gagal karena kekurangan air.

"Karyo, ambilkan air kelapa. Banyak. Dan garam." Doni menatap sang ayah. "Anakmu akan mati jika tidak segera diberi minum. Tapi jangan dipaksa sekaligus. Sedikit-sedikit, terus menerus. Kau mengerti?"

Lelaki itu mengangguk cepat, matanya membesar ketakutan.

Doni meracik larutan garam dan gula dalam air hangat, menakar dengan hati-hati meski tangannya gemetar. Tidak ada alat ukur. Hanya rasa di lidah dan ingatan akan takaran yang pernah dia pelajari puluhan tahun di masa depan. Setelah yakin takarannya benar, dia menuangkan sedikit ke dalam mulut anak itu, memiringkan kepalanya agar tidak tersedak.

Anak itu merintih, tapi menelan.

"Lagi," Doni menuang sedikit lagi. "Lagi."

Prosesnya lambat. Menyakitkan untuk ditonton. Tapi perlahan, sangat perlahan, bibir anak itu mulai sedikit lebih basah.

"Setiap setengah jam, beri seperti ini. Jangan berhenti. Bahkan jika dia tidur, bangunkan dan beri minum. Besok pagi bawa lagi ke sini."

Sang ayah memeluk anaknya erat, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Ndoro."

Doni menggeleng pelan. "Jangan panggil aku Ndoro. Aku bukan ningrat."

Lelaki itu mundur sambil membungkuk berulang kali sebelum pergi.

Pasien berikutnya. Seorang perempuan paruh baya, wajahnya pucat seperti lilin, tangannya menutupi mulut dengan kain yang sudah berlumuran bercak merah kehitaman. Ketika dia batuk, suaranya basah dan dalam, seperti ada sesuatu yang mengental di paru-parunya.

Doni tidak perlu bertanya. Dia sudah tahu.

Penyakit rajasinga paru. Atau yang orang sini sebut batuk kering. Penyakit yang membuat orang batuk darah berbulan-bulan sampai akhirnya mati kurus kering. Tidak ada obatnya. Tidak di zaman ini. Tidak dengan apa yang dia punya.

Tapi dia tetap memeriksa. Mendengar suara napas perempuan itu dengan telinga yang ditempelkan langsung di punggungnya. Suara gemeretak, cairan yang bergerak, dan bunyi melengking kecil setiap kali udara masuk. Paru-paru kanan hampir penuh. Tahap akhir.

"Berapa lama?" tanya Doni pelan.

"Hampir setahun."

Setahun. Dan dia baru datang sekarang. Mungkin karena sudah tidak ada harapan lain. Mungkin karena tabib lain sudah menyerah. Mungkin karena ini adalah perhentian terakhir sebelum kematian.

"Aku tidak bisa menyembuhkanmu." Kata-kata itu terasa seperti pecahan kaca di tenggorokannya. "Tapi aku bisa membuat napasmu lebih lega. Mengurangi sakitnya."

Perempuan itu tidak terlihat terkejut. Matanya kosong, menerima. "Berapa lama lagi?"

Doni diam. Pertanyaan yang selalu dia benci. Tapi orang berhak tahu.

"Beberapa bulan. Mungkin kurang."

Perempuan itu mengangguk pelan. "Sudah cukup. Aku hanya ingin tidak terlalu sakit ketika waktunya tiba."

Doni meracik ramuan dari daun sirih, jahe merah, dan madu. Memberikan instruksi tentang posisi tidur, ventilasi, dan makanan yang harus dihindari. Dia tahu ini hanya mengulur waktu. Tapi setidaknya waktu itu bisa lebih bermartabat.

Pasien demi pasien datang.

Seorang remaja dengan kudis yang sudah menyebar hingga ke wajah, kulitnya berkerak dan berdarah di beberapa bagian. Doni harus membersihkan luka itu satu per satu, mengoleskan ramuan belerang, mengajarkan cara mandi yang benar.

Seorang lelaki tua dengan bisul besar di punggungnya yang sudah membengkak merah dan berisi nanah. Doni harus memecahkannya, mengeluarkan isi yang berbau busuk, lalu membersihkan dan membalutnya. Lelaki itu menggigit kayu sepanjang prosesnya, tubuhnya gemetar menahan sakit.

Seorang ibu hamil dengan perut yang membesar tidak wajar, kulitnya menguning, kakinya bengkak. Keracunan kehamilan. Berbahaya. Doni hanya bisa memberikan ramuan penurun tekanan dan pesan untuk istirahat total. Jika kondisinya memburuk, bayi atau ibunya, atau keduanya, bisa mati.

Doni bekerja seperti mesin, tangannya bergerak otomatis, pikirannya setengah hadir. Karyo dan Bambang membantunya, menyiapkan air, mencatat, mengatur antrean. Slamet berlarian membawa pesan atau mengambil bahan.

Matahari naik tinggi. Panas menyengat kulit. Keringat mengalir di pelipis Doni, membasahi kerah bajunya. Perutnya kosong tapi dia tidak ingat kapan terakhir kali makan. Mulutnya kering. Matanya kabur sesekali, dan dia harus berkedip keras untuk fokus kembali.

"Doni." Suara Pak Wiryo memotong kabut pikirannya.

Doni mengangkat kepala. Pak Wiryo berdiri di ujung balai, wajahnya serius. Dan di belakangnya, berdiri seorang lelaki dengan pakaian yang jauh lebih rapi. Jas ala Eropa, topi jerami, dan wajah yang asing bagi Doni. Orang kota.

"Ada yang perlu bicara denganmu," kata Pak Wiryo.

Doni bangkit perlahan, setiap sendi di tubuhnya memprotes. Dia menghampiri mereka, meninggalkan Bambang menangani pasien berikutnya.

"Ini Tuan Sastro," kata Pak Wiryo. "Kepala pemerintahan dari kecamatan."

Kepala pemerintahan lokal. Tangan kanan Belanda.

Doni mengangguk sopan, tangannya terlipat di depan dada. "Ada yang bisa saya bantu?"

Tuan Sastro mengamatinya dengan tatapan tajam, mata kecilnya menyipit. "Kau yang mengobati anak Tuan Kasim?"

"Ya."

Sastro mengitari dia perlahan, seperti pedagang yang menilai barang dagangan. "Dan istri Tuan Van der Berg?"

"Ya." Doni tidak berkedip.

Sastro mengangguk pelan, seperti menimbang sesuatu. "Kau tahu, banyak yang bicara tentangmu. Ada yang bilang kau tabib ajaib. Ada yang bilang kau pakai ilmu hitam."

Jadi ini permainannya. Doni tidak menjawab. Dia hanya menatap balik, diam. Biarkan dia bicara. Biarkan dia tunjukkan kartu.

"Aku tidak percaya takhayul," lanjut Sastro. "Tapi aku percaya hasil. Dan hasilmu... menarik."

"Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan."

"Rendah hati. Bagus." Sastro tersenyum tipis, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Tapi rendah hati tidak membayar pajak."

Kata itu menggantung di udara seperti pisau.

Pak Wiryo menegang. Karyo, yang berdiri tidak jauh, melangkah maju, tapi Doni mengangkat tangan, menghentikannya.

"Saya tidak mengambil bayaran wajib," kata Doni pelan. "Orang memberi seikhlasnya."

"Itu masalah." Sastro melipat tangannya di belakang punggung. "Pemerintah kolonial punya aturan. Semua yang berpraktik harus terdaftar. Harus punya izin. Dan harus bayar pajak. Tidak peduli kau tabib, dukun, atau tukang obat keliling."

Lima gulden per bulan berarti dia harus mulai menolak orang yang tidak bisa bayar. Atau berhenti sama sekali. Doni merasakan dingin menjalar di perutnya. Dia tahu ini akan datang. Cepat atau lambat, sistem akan menemukannya.

"Berapa?" tanya Doni langsung.

Sastro mengangkat alis. "Lima gulden per bulan. Dan kau harus datang ke kantor kecamatan untuk daftar."

Lima gulden. Uang yang dia dapatkan dari Tuan Kasim hampir habis untuk membeli bahan obat dan membantu pasien miskin.

"Dan jika saya tidak bayar?"

Sastro tersenyum, tapi tidak hangat. "Maka kau tidak boleh praktik lagi. Jika tetap praktik, itu melanggar hukum. Dan Belanda tidak suka yang melanggar hukum."

Ancaman jelas. Patuh atau dihancurkan.

Doni menelan ludah, merasakan pahitnya di tenggorokan. Matanya melirik ke arah balai kampung, di mana puluhan orang masih menunggu, wajah mereka penuh harap. Lalu dia melihat kembali ke Sastro, pria yang mewakili sistem yang selama ini menginjak rakyat jelata.

"Baik," kata Doni akhirnya. "Saya akan datang ke kecamatan."

Sastro mengangguk puas. "Bagus. Jangan lama-lama. Kau punya tiga hari." Dia berbalik untuk pergi, tapi berhenti sejenak. "Oh ya, satu lagi. Dokter Belanda di kota sedang... tidak senang dengan keberadaanmu. Dia bilang kau penipu yang membahayakan masyarakat. Jadi, hati-hati. Orang Belanda punya cara sendiri untuk menyingkirkan masalah."

Dengan itu, Sastro pergi, meninggalkan keheningan berat.

Pak Wiryo menatap Doni dengan khawatir. "Ini tidak baik."

"Aku tahu."

"Mereka akan menghancurkanmu jika kau tidak patuh. Tapi jika kau patuh, kau tidak akan bisa menolong orang miskin lagi."

Doni menghela napas panjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pusing. Lelah. Dan sekarang ini.

Dadanya sesak, napasnya tersangkut setiap kali menarik udara. Tidak ada pilihan yang baik. Hanya pilihan yang kurang buruk.

Tapi ketika dia kembali ke balai, fokusnya buyar. Pikirannya terus berputar. Lima gulden per bulan. Dokter Belanda yang ingin menyingkirkannya. Aturan kolonial. Ancaman hukum. Dan di tengah semua itu, ratusan orang yang membutuhkan bantuannya.

Dia tetap bekerja. Tangan membersihkan luka. Mulut memberikan instruksi. Tapi pikirannya ada di tempat lain, menghitung, merencanakan, mencari jalan keluar yang tidak ada.

Jam demi jam berlalu dalam kabut yang sama.

...---•---...

...BERSAMBUNG...

1
CACASTAR
kalau kataku ya, Doni itu ketitipan roh, jadi kuat saat menangani ratusan pasien...
Tulisan_nic
Betul, saat tubuh demam memang banyak sekali cairan yang hilang. Di sarankan untuk memperbanyak minum air putih. Namun harus perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit.
Tulisan_nic
Tari ini ada kemungkinan dehidrasi juga, sebaiknya minum secara perlahan-lahan. Karna kalau sekaligus bisa berefek mual, muntah.
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
Jing_Jing22
Ki Darmo ini bener-bener ya, pinter banget memutarbalikkan fakta pakai alasan jimat! Kayaknya dia bakal jadi penghalang besar buat Doni nih.
PrettyDuck
duhh gimana ya? kalo doni nolak pun mereka bisa tersinggung gak sih? 🥲
PrettyDuck
sedihnya 😭
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲
PrettyDuck
kalo diduitin doni bisa jadi orang kaya sih ini 🙈
DANA SUPRIYA
luar biasa kemenangan ini
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
lagi-lagi jin yang disalahkan /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ki darmo hanya bisa mengandalkan mantra dan sesajian
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia udah biasa melakukannya. tapi, dengan alat lebih lengkap 🤭
putri bungsu
perjuangan km nggk sia sia Don, lihat udah ada kemajuan
Mentariz
Kamu harus pecaya dengan kemampuanmu sendiri don, jangan pernah ragu, lakukan aja secara maksimal, hasilnya pasti akan baik-baik saja
Mentariz
Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu, don
Mentariz
Alamak~~ bakal syulit nih ngadepin aki-aki 😅
Greta Ela🦋🌺
Entah pun mungkin sampai puluhan nyawa yang kau selamatkan Don
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!