NovelToon NovelToon
Mr. Billionare Obsession

Mr. Billionare Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Yusi Fitria

Semua berawal dari rasa percayaku yang begitu besar terhadap temanku sendiri. Ia dengan teganya menjadikanku tumbal untuk naik jabatan, mendorongku keseorang pria yang merupakan bosnya. Yang jelas, saat bertemu pria itu, hidupku berubah drastis. Dia mengklaim diriku, hanya miliknya seorang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusi Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 29

Di pagi hari yang cerah ini, kuharapkan sedikit ketenangan di dalam dirumah. Tapi siapa disangka, pembuat onar pun datang membawa semua angota keluarganya.

Kondisi Mama belum sepenuhnya membaik, tapi mereka datang berbondong, sungguh membuatku muak.

"Sisi, kedatangan kami kesini ingin meminjam uang untuk Rian. Dia sangat ingin sekali masuk ke kepolisian. Semoga kamu dan Teh Ina bisa meminjamkan," ucap Mang Rusdi, adik dari Papaku.

"Iya Si, sama saudara jangan pelit-pelit. Ntar kalau Mama kamu sakit atau kenapa-kenapa, siapa yang ngurus?" Bik Rina menambahi.

Aku memandangnya sinis, "Terus kemaren pas Mama sakit, ada dari kalian yang ngerawat? Tidak kan? Justru Bik Nurul yang ngurus semua keperluan Mama!"

Bik Rina menatapku tajam, seolah mengira bahwa aku akan takut.

"Si, bukannya kami gamau menjaga Mama-mu, tapi kami memang sedang sibuk." Ibu dari Tania, ikutan nimbrung. Bik Indah adalah adik bungsu Papa.

"Sama halnya denganku dan Mama. Kami tidak bisa membantu, jadi tolong pengertiannya!"

Brakk!

Mang Rusdi menggebrak meja sambil memandangku marah. "Itu sawah milik adikku! Jika dia masih hidup, pasti Fabian akan membantu kami!"

Aku berdecih jijik. Apa-apaan membawa nama Papa? Baru ingin membalas ucapannya, Elbarra mendadak berdiri seraya menatap tajam kearah Pamanku itu.

"Jika istriku dan Mama bilang tidak, maka jangan memaksa! Aku bisa melaporkan kalian kepada pihak berwajib karena telah mengganggu istriku dan membuatnya merasa tidak nyaman."

Sepasang mataku membulat tidak percaya. Elbarra ternyata bisa berbahasa Indonesia. Jadi, dari kemarin saat di rumah sakit dia sudah tahu isi obrolan kami, tapi berpura-pura tidak mengerti.

"Ini terakhir kalinya datang kemari. Jika kutahu bahwa kalian datang mengganggu Mama, aku tidak akan segan-segan menyeret kalian ke kantor kepolisian. Dengan begitu, putra kalian tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk mengikuti kelas kepolisian karena dia akan terjerat hukum." Suamiku menambahi kalimatnya.

Tanpa terasa aku tersenyum penuh haru. Kau benar-benar tulus mencintaiku, El. Tanpa ragu kau membelaku, bahkan di hadapan para Bibi dan Pamanku.

"Mah, pulang aja yuk. Aku gamau dapat masalah. Lagipula, suaminya Teh Sisi bukan orang biasa." Buru-buru Rian bangkit lalu menarik lengan kedua orangtuanya. Mau tak mau Bik Rina dan Mang Rusdi ikut pergi.

Tersisa Bik Indah dan suaminya, Mang Dayat yang sedari tadi hanya diam menyimak. Entah apa yang sedang ia rencanakan, tiba-tiba Bik Indah mendekatiku lalu menggenggam tanganku.

"Si, suamimu punya teman tidak?"

Alisku mengkerut bingung, "Memangnya kenapa, Bik?"

"Ini.. Bibik mau jodohin Tania sama teman suamimu."

Mulutku menganga lebar. Spontan aku berdiri sambil memandangnya tidak percaya. "Bik, Tania masih SMP!"

"Bibik tahu. Tania sendiri juga bilang, kalau ada pria semacam suamimu, dia mau kok nikah muda."

Astaga! Aku tidak habis pikir, kenapa keluargaku aneh semua?

Tatapanku beralih kepada Pamanku, "Mamang gamau ngomong sesuatu?"

"Mamang gabisa berbuat banyak kalau Bibikmu sudah bilang seperti itu."

Aku menatap beliau kasihan. Siapa yang tidak tahu bahwa Mang Dayat selalu menuruti apa yang dikatakan istrinya. Tak jarang Bik Indah memakinya, bahkan di hadapan umum sekalipun. Dikarenakan Mang Dayat berasal dari keluarga yang lebih rendah dari Bik Indah. Oleh sebab itu, ia hanya bisa menuruti semua keinginan dari istrinya tersebut.

"Aku tidak punya teman. Dan tidak tertarik untuk memilikinya!" seru suamiku dengan pandangan datarnya.

"Bibik dengar, kan? Jadi, aku mohon buanglah jauh-jauh pemikiran absurdmu itu. Tania masih berusia 14 tahun. Jangan karena keegoisan kalian malah membuat putri kesayangan kalian menderita."

Bik Indah berdecak kesal, "Yasudah kalau gamau bantu. Tapi gausah ceramah gitu! Ayo, Pak. Kita pulang saja! Gaada gunanya kita kesini."

Perlahan, kedua pasang suami istri itu meninggalkan rumah Mama. Disaat aku masih memandangi kepergian mereka, sebuah tangan tiba-tiba melingkar di perutku.

"Kamu baik-baik saja, hmm?"

Aku menoleh, lalu tersenyum canggung. "Aku malu, El. Keluargaku semua menyebalkan."

Elbarra terkekeh kecil, "Kenapa harus malu, Sayang? Mereka yang membuat onar, bukan dirimu."

"Lalu, bagaimana dengan Mama? Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri."

"Kau tenang saja, okey! Aku sedang mencarikan perawat yang bisa menjaga sekaligus menemani Mama."

Ah, aku tidak kepikiran sampai situ. Pemikiran suamiku benar-benar luas.

Kepalaku mengangguk setuju. Kami melangkah menuju kamar Mama. Disana Mama sedang duduk bersandar di atas kasur, dengan ditemani oleh Evelyn.

Sengaja aku menyuruh Mama untuk tidak ikut keluar bersama kami. Aku tidak mau Mama tambah drop karena mendengar ocehan mereka.

"Kamu gapapa, Nak?" Mama bertanya cemas, mungkin karena mendengar gebrakan meja dari Mang Rusdi tadi.

"Gapapa, Ma.." gelengku sembari mendekatinya. "Gimana kondisi Mama? Mendingan?"

Mama mengangguk, "Jika kamu mau pulang, pulanglah, Nak. Mama gamau menahanmu disini. Elbarra pasti kerjaanya masih banyak, begitu dengan Evelyn yang harus masuk kuliah."

Meninggalkan Mama sendiri, aku tidak mungkin tega.

"Mama ikut aku saja yaa?"

"Tidak. Mana mungkin Mama mengganggu pengantin baru." Beliau terkekeh pelan.

"Permisiiii..." Suara seorang wanita dari luar membuat kami saling pandang.

Daripada bertanya-tanya, kami segera keluar. Ternyata ada dua wanita berdiri di depan teras. Mereka menyapa kami sembari tersenyum sopan.

"Hallo, perkenalkan saya Umi. Dan ini teman saya, Ratna. Kami ditugaskan untuk menjaga dan mengurus Nyonya Sabrina."

Aku langsung menatap suamiku, pasti ini ulahnya.

"Loh, yang nyuruh kalian datang siapa?" Mama bertanya keheranan.

"Siapa lagi." Niat Elbarra baik, tak mungkin aku menolaknya. Aku bergegas menyuruh kedua wanita itu untuk masuk.

Akhirnya Elbarra menjelaskan bahwa dirinya lah yang meminta Lucas untuk mencarikan jasa pengurus lansia. Entah bagaimana caranya, yang jelas Lucas memang bisa diandalkan. Tak heran jika gajinya lumayan besar.

"Mereka bukan wanita sembarangan, Ma. Mereka akan menjagamu, mengurusmu, dan melindungimu. Tak akan ada yang berani berbuat sesuatu kepadamu jika ada mereka." jelas suamiku panjang lebar.

"Melindungi Mama?" tanyaku dengan penuh kebingungan.

Elbarra mengangguk cepat, "Mereka bisa bertarung, bukankah begitu?"

Wanita bernama Ratna mengangguk, "Saya mantan anggota polisi, Nyonya. Dan Umi mantan detektif. Kami merupakan rekan kerja dulu."

"Lalu, apakah kalian membuat masalah sehingga di pecat dari kepolisian?"

Tetiba kedua gadis itu tersenyum malu-malu. "Kami bukan di pecat, tapi kami mengajukan resign. Karena gaji yang ditawarkan untuk menjaga Nyonya lebih besar dari pada gaji kami."

Huh, pantas saja.

"Tapi kalian bisa beres-beres, kan?" lanjutku.

Dengan semangat mereka mengangguk cepat, "Semuanya kami bisa, Teh. Nyapu, ngepel, cuci-cuci, angkat galon, bersihin AC, benerin genteng."

Kedua wanita ini agak langka sepertinya. Entah bagaimana Lucas mencari mereka.

"Yasudah. Kalian bisa bekerja hari ini!" putusku akhirnya.

"Mama setuju 'kan dengan keputusanku?" sambungku sembari menatap Mama.

Beliau mengangguk juga, "Setidaknya Mama tidak kesepian."

Oke, masalah selesai!

"Tugas utama kalian adalah menjaga Mama. Pastikan tidak ada yang datang mengganggunya, paham?"

"Siap, Tuan!"

Rasanya aku ingin tertawa. Ada-ada saja suamiku ini dalam merekrut jasa mengurus Mama. Tapi, aku suka dan setuju dengan kedua gadis itu. Setidaknya mereka bisa menjaga Mama selagi aku di California.

1
Ika Yeni
penasarann smaa ellbaraa ,, hilang bagai di telann bumi
Ika Yeni
benerann elbaraa punyaa perempuann lainn ini? ya ampunn kasiann sisi,, apa cumaa slah paham?
Ika Yeni
elbaraa kmanaa istimu hamill ell
Ika Yeni
baguss kak ceritaa nyaa ,, semangat up yaa 😍
Yushi_Fitria: Terima kacih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!