Cerita Mengenai Para Siswa SMA Jepang yang terpanggil ke dunia lain sebagai pahlawan, namun Zetsuya dikeluarkan karena dia dianggap memiliki role yang tidak berguna. Cerita ini mengikuti dua POV, yaitu Zetsuya dan Anggota Party Pahlawan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.K. Amrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penemuan Mayat Kaito
Pagi yang seharusnya tenang di ibu kota justru berubah menjadi mimpi buruk yang tak akan pernah bisa dilupakan siapa pun yang ada di mansion itu.
Fajar baru saja menyingsing ketika Akari berlari kecil mengitari taman mansion, seperti rutinitas paginya selama ini. Embun masih menempel di rumput, udara pagi terasa segar, namun entah kenapa, hari itu dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Ada firasat aneh yang membuat langkahnya melambat.
Lalu matanya menangkap sesuatu di balik semak-semak.
Sebuah tubuh.
Akari berhenti mendadak. Napasnya tercekat. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia mendekat dengan langkah gemetar.
Darah menggenang di tanah, menghitam di antara rumput. Bau anyir menyambar hidungnya dengan kejam. Itu Kaito.
Tubuhnya terbujur kaku, dadanya robek terbuka dengan kejam, seolah dicabik dari dalam. Rongga di dadanya kosong, jantungnya telah diambil. Pakaian bagian depan berlumuran darah kering dan basah bercampur jadi satu. Wajahnya pucat, mata terbuka lebar, kosong… seperti masih menyimpan teror detik-detik terakhir hidupnya.
Akari menjerit.
“AAAAAAAHHHH!!”
Teriakannya memecah kesunyian pagi, menggema ke seluruh penjuru mansion. Dalam hitungan detik, para pahlawan, pelayan, dan pengawal kerajaan berhamburan keluar. Beberapa menghunus pedang, mengira ada serangan.
Akari jatuh terduduk di tanah, tubuhnya gemetar hebat. Tangannya menutup mulut, air mata mengalir tanpa henti saat pandangannya tak bisa lepas dari tubuh sahabat mereka yang diperlakukan dengan begitu keji.
Lisa dan Sena berlari menghampirinya.
“A-Akari!” Sena memeluk bahunya. “Tenang… tenang…”
Namun kata-kata itu terasa hampa saat mata mereka sendiri menangkap pemandangan mengerikan itu.
Takeshi yang baru keluar dari mansion terdiam membeku. Wajahnya pucat, matanya membelalak. Ia berlari menghampiri Akari dan membantu gadis itu berdiri, memeluknya erat agar tidak jatuh pingsan.
“Siapa…” suara Sena bergetar hebat, matanya berkaca-kaca. “Siapa yang melakukan ini…?”
Belum ada yang sempat menjawab ketika Ryunosuke dan Kaede muncul dari arah lain taman. Keduanya memasang ekspresi terkejut yang tampak sempurna. Kaede menutup mulutnya dengan tangan, seolah ngeri, sementara Ryunosuke mengernyitkan dahi dengan wajah serius.
“Ini kejam sekali…” ucap Kaede pelan, suaranya dibuat bergetar.
“Kita harus menemukan pelakunya,” ujar Ryunosuke dengan nada tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
Takeshi berdiri kaku. Tatapannya tidak tertuju pada mayat Kaito, melainkan pada Kaede. Ada sesuatu di ekspresi mereka yang membuat dadanya terasa sesak.
Tiba-tiba Takeshi melangkah maju.
“Kalian,” katanya dengan napas memburu, menunjuk Ryunosuke dan Kaede. “Kalian berdua ada di taman tadi malam. Jangan berpura-pura terkejut!”
Suasana langsung membeku.
Ryunosuke menghela napas panjang, melipat tangannya, lalu tersenyum sinis.
“Oh? Jadi sekarang aku dituduh pembunuh? Hanya karena aku dan Kaede menghabiskan malam bersama?”
Kaede menempelkan diri ke lengan Ryunosuke, memasang ekspresi terluka.
“Takeshi, itu keterlaluan…” katanya lembut. “Kami hanya pasangan yang ingin menikmati waktu berdua.”
Ryunosuke menatap Takeshi dengan senyum yang menusuk.
“Atau jangan-jangan… kau iri?” katanya pelan namun tajam. “Iri karena Kaede memilihku, bukan dirimu?”
Takeshi mengepalkan tangan. Dadanya naik turun. Amarah, cemburu, dan rasa bersalah bercampur jadi satu, tapi ia tak punya bukti.
Sena menatap Takeshi dengan ragu.
“Takeshi… ini tuduhan serius. Apa kau punya bukti?”
Lisa tidak berkata apa-apa. Namun matanya menatap Ryunosuke dan Kaede dengan tajam, naluri militernya berteriak bahwa ada sesuatu yang salah.
Ryunosuke mengangkat bahu santai.
“Sudahlah. Yang penting sekarang adalah mencari pelakunya. Berdebat tidak akan menghidupkan Kaito kembali, bukan?”
Ia menarik Kaede menjauh seolah ingin mengakhiri pembicaraan. Namun suara langkah Lisa menghentikan mereka.
“Tunggu.”
Nada suara Lisa tegas, dingin, penuh otoritas.
“Tunjukkan apa yang kalian pakai di leher kalian.”
Semua orang terdiam.
Kaede tersentak sesaat, cukup cepat untuk hampir tak terlihat. Ryunosuke tetap tenang, menoleh perlahan.
“Apa maksudmu, Jenderal?” tanyanya santai. “Kau mencurigai kami?”
“Tunjukkan,” ulang Lisa, lebih keras.
Untuk sesaat, dunia seakan berhenti berputar.
Kaede dan Ryunosuke saling berpandangan. Dan dalam pandangan singkat itu, keputusan telah diambil.
“Maaf ya, Lisa,” bisik Kaede lembut.
Dalam sekejap, terlalu cepat untuk dicegah, pisau perak Kaede menembus perut Lisa.
“, !!”
Mata Lisa membelalak. Darah muncrat dari mulutnya. Tubuhnya terhuyung.
Ryunosuke mendekat, menopangnya sejenak, lalu berbisik di telinganya,
“Kami tidak bisa membiarkanmu bicara, Jenderal.”
Lisa jatuh ke tanah. Pandangannya mulai kabur. Namun di detik terakhir kesadarannya, ia melihatnya, kalung hitam dengan simbol mata menangis, tergantung di leher Ryunosuke dan Kaede.
Kultus Kehancuran…
Penyesalan terakhir mengisi pikirannya sebelum semuanya gelap.
“L-Lisa…?” Sena mundur beberapa langkah, wajahnya pucat pasi. “Kalian… apa yang kalian lakukan?!”
“KAU PENGKHIANAT!!”
Raungan Takeshi menggema. Ia menerjang Ryunosuke tanpa pikir panjang.
Namun Ryunosuke hanya tersenyum. Dengan satu gerakan tangan, sihir kegelapan menghentikan Takeshi di udara. Tubuhnya tertahan, tak bisa bergerak.
Akari yang memeluk tubuh Lisa akhirnya berdiri. Air mata membasahi wajahnya, api menyala liar di tangannya.
“KAU!!” teriaknya penuh amarah. “AKU AKAN MEMBAKARMU HIDUP-HIDUP, RYUNOSUKE!!”
Ryunosuke tertawa ringan.
“Coba saja. Tapi pastikan cukup kuat untuk membunuhku.”
Sena gemetar. Dunia di sekelilingnya runtuh. Lisa mati. Kaito mati. Tim Pahlawan hancur.
Lalu langkah-langkah berat terdengar.
Dari kejauhan, 200 anggota Kultus Kehancuran muncul serentak. Jubah hitam, topeng silver, simbol mata menangis di punggung mereka, formasi sempurna, terorganisir, mengerikan.
Kaede dan Ryunosuke tersenyum puas.
Dari tengah barisan, seorang pria berjubah hitam maju. Auranya menekan semua orang yang ada.
“Kaede. Ryunosuke.”
Suaranya berat dan penuh perintah.
“Cukup. Mundur. Ada pertemuan di Hexagonia. Ini perintah.”
Ryunosuke menyipitkan mata.
“Kami belum selesai.”
“Perintah pemimpin lebih tinggi,” balas pria itu dingin.
Keheningan menegang.
Akhirnya Kaede tersenyum kecil.
“Baiklah. Kita mundur.”
Ryunosuke mengangguk.
“Tapi ingat,” katanya sambil menatap Akari, Takeshi, dan Sena. “Ini belum berakhir.”
Mereka pergi bersama Kultus, meninggalkan darah, kematian, dan kehancuran.