Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.
Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.
Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH FIRASAT
Pagi itu, matahari bahkan belum naik sempurna ketika Sophia terbangun. Udara dingin masih menggantung di celah-celah jendela, membuat napasnya tampak seperti embusan kabut tipis setiap kali ia menghela. Kamar itu sunyi… terlalu sunyi, sampai-sampai ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri bergema di ruang yang terasa asing namun aman.
Ia memandang langit-langit putih pucat, memaksakan dirinya mengatur napas. Ia menggosok wajahnya perlahan. Kamar ini bukan tempat ternyaman untuknya, terlalu kaku, terlalu menyakitkan.
Matanya yang samar, tertuju pada Bill yang masih tertidur pulas bersama Grace, wanita yang mungkin pantas ia anggap telah menghancurkan rumah tangganya bersama Bill.
Sophia keluar dari kamar dengan langkah hati-hati, masih memeluk kedua lengannya sendiri. Koridor rumah yang biasanya tenang terasa berbeda pagi itu—sunyi, tapi seperti menyimpan sesuatu. Begitu pintu menutup pelan di belakangnya, Sophia angkat kepala… dan tersentak.
Brian berdiri di ujung koridor. Tidak bergerak. Namun matanya segera mengunci Sophia, sorotnya sedikit menyimpan kekhawatiran.
“Brian!”
Sebuah suara memecah Ketegangan itu—tajam, jelas, dan datang dari belakang Brian. Refleks, Brian menoleh sedikit. Sophia pun ikut melirik ke arah sumber suara.
Alex muncul dari tikungan koridor, langkahnya cepat tapi tetap terkontrol. Suara tapak sepatunya menumbuk lantai kayu dengan ritme mantap—cukup untuk membuat Sophia otomatis menegakkan tubuhnya. "Hari ini kamu tidak mengantar Tuan Edward. Hanya saja tolong kirimkan berkas ini ke kantornya..." Ia menyerahkan sebuah map hitam pada Brian. "Pak Edward ingin beristirahat di kamarnya."
"Istirahat?" Ulang Brian memicingkan sebelah alisnya. Jarang sekali majikannya ingin meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Sebab yang ia kenal selama ini, Edward adalah pria pekerja keras dan tak kenal waktu kapan ia harus berhenti. Namun hari ini...
"Lakukanlah sekarang." Ucap Alex dengan nada sedikit memerintahkan.
Brian hanya mengangguk tAnpa sepatah kata pun. Gerakannya tenang, namun sorot matanya sempat melirik Sophia—sekilas, cepat, seperti memastikan sesuatu pada wajah yang masih membeku di ambang pintu itu. Setelahnya, ia berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong. Punggungnya menghilang di balik sudut, meninggalkan jejak keheningan yang justru membuat suasana di sekitar Sophia terasa semakin padat.
Sementara, Alex, yang sedari tadi berdiri sedikit di belakang Brian, ikut menatap Sophia. Ada ketenangan yang berbeda di matanya—lebih lembut, lebih hangat, seolah ia bisa membaca keresahan halus yang tak terucapkan dari raut Sophia.
Ketika Brian telah benar-benar pergi, Alex mengangkat sedikit sudut bibirnya, menyunggingkan senyum sopan yang menenangkan. “Sarapan sudah siap, Nona Sophia,” Ucapnya ramah, nada suaranya lembut namun formal seperti biasa.
Senyum itu hanya bertahan sejenak sebelum Alex menundukkan sedikit kepalanya sebagai bentuk hormat, lalu berbalik pergi menyusul arah lain menuju ruang makan. Langkahnya rapi, teratur, meninggalkan Sophia yang masih berdiri di sana—perlahan mulai menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan dirinya sebelum mengikuti.
****
“Makasih untuk malam tadi, sayang…”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Grace ketika ia melangkah masuk ke ruang makan bersama Bill. Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk menembus keheningan pagi itu—cukup jelas untuk sampai di telinga Sophia yang sedang duduk di ujung meja, kedua tangannya merapatkan cangkir hangat yang sedari tadi belum ia teguk.
Begitu mendengar itu, tubuh Sophia refleks menegang. Matanya, yang awalnya fokus pada piring sarapan, perlahan mengangkat. Ia sempat menoleh—sekilas, hanya beberapa detik—namun cukup untuk melihat pemandangan di ambang pintu.
Grace berjalan di sisi Bill, senyum manis menempel di wajahnya, seolah satu kalimat barusan bukan hal besar apa-apa. Rambutnya tergerai rapi, langkahnya ringan, penuh percaya diri. Bill di sebelahnya lalu mengecup bibirnya hangat hingga wanita itu mengeluarkan suara desah kecil yang membuat Sophia merasa antara risih dan terluka.
"Setelah kau menikah, kau masih memungut jalang ini?!" Sapa seseorang mengejutkan.
Sontak, Bill melepaskan ciumannya dari Grace. Gerakannya cepat, seolah tersambar sesuatu yang tidak seharusnya terjadi di ruang terbuka seperti itu. Grace ikut terkejut, namun sebeluM ia sempat bertanya, suara berat namun hangat terdengar dari arah pintu.
Sophia menoleh spontan.
“Tuan Edward…” Lirihnya. Suaranya pecah halus, hampir tak terdengar. Mata Sophia—yang jelas masih sembab, seolah baru saja menahan sesuatu semalaman—menatap lurus pria paruh baya itu. Wajah Edward teduh seperti biasa, namun ada kekhawatiran yang ditahan rapi di balik sorot matanya.
Edward melangkah lebih dekat, langkahnya mantap namun pelan, seakan takut membuat Sophia semakin terkejut. Satu tangan diselipkan di saku, sementara sorot matanya fokus hanya pada gadis itu—mengabaikan Bill, mengabaikan Grace, mengabaikan seluruh ruangan.
“Sophia,” Ucapnya lembut, namun tegas. “Hari ini aku ambil libur.”
Sophia mengedip pelan, bingung sekaligus lega mendengar nada suara pria itu.
“Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu… di luar,” Lanjut Edward. “Bersiaplah setelah sarapan.”
Sejenak ruangan terasa hening. Bill menunduk, Grace menggigit bibir tidak nyaman. Tapi Edward tetap berdiri tegap, tanpa memedulikan mereka sedikit pun.
“Brian, setelah kembali dari kantor, kita pergi. Jadi bersiaplah,” Tambahnya, lebih pelan, namun penuh penegasan.
Sophia mengangguk patuh. “Baik, Tuan…” Ia menunduk sedikit, menunjukkan hormat, meski dalam dadanya ada kehangatan halus oleh perasaan dilihat, dipedulikan… sesuatu yang jarang ia dapatkan di istana Edward.
Edward hanya mengangguk kecil, senyum tipis menghias bibirnya sebelum ia melangkah lebih dekat ke meja, membiarkan kehadirannya memenuhi ruangan, menenangkan Sophia, dan sekaligus membuat dua pasang mata lainnya kehilangan kata-kata.
****