NovelToon NovelToon
Seindah Cinta Bulan Dan Bintang

Seindah Cinta Bulan Dan Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Idola sekolah
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Apa jadinya jika dua orang sahabat memiliki perasaan yang sama, tapi sama-sama memilih untuk memendam perasaan itu daripada harus mengorbankan persahabatan mereka? Itulah yang saat ini dirasakan oleh dua orang sahabat, Bulan dan Bintang.

Bulan, sahabat sejak kecil seorang Bintang, menyukai pemuda itu sejak lama tapi perasaan itu tak pernah terungkap. Sementara Bintang, baru menyadari perasaannya terhadap gadis cantik itu setelah dirinya mengalami kecelakaan.

Keduanya terjebak dalam perasaan yang tak terungkap. Mereka tidak tahu harus melakukan apa. Keduanya hanya tahu bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Tapi, akankah persahabatan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih?

---------------------------------------------------------------------------

"Lo keras kepala banget! Lo gak tau apa gue khawatir, gue sayang sama lo." gumam gadis itu lirih, bahkan hampir tak terdengar.

"Lo ngomong apa tadi?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Perkara roti sobek

Bulan dan Bintang yang sudah menoleh, kini bisa melihat jelas bahwa orang yang memanggil mereka adalah Alvian. Pemuda itu berjalan menghampiri dengan seutas senyum.

"Lo berdua di sini rupanya. Gue cariin dari tadi," ujar Alvian setelah berhenti di depan Bulan dan Bintang.

"Cari kita? Ada apa?" Ujar Bulan dan Bintang kompak.

Bulan dan Bintang pun langsung bertukar pandang, lagi-lagi mereka mengucapkan kata yang sama di waktu yang bersamaan pula. Sementara Alvian merasa heran dengan kekompakan dua sahabat itu, ia pun langsung menggelengkan kepalanya dengan sedikit tawa kecil.

"Haha kompak banget nih berdua," ujar Alvian. "Ni ada sedikit oleh-oleh buat kalian berdua." Lanjutnya sembari memberikan dua bungkusan kecil berisi bakpia kepada Bulan dan Bintang.

"Wah, repot-repot aja. Thanks Vian." Ujar Bulan sembari menerima bungkusan itu.

"Thanks bro. Btw lo dari mana, kok bawa oleh-oleh?" Ujar Bintang kemudian.

"Itu kemarin kakak gue wisuda di Yogya, jadi ada sedikit oleh-oleh buat kalian berdua." Ujar Alvian menjelaskan.

Bulan mengangguk perlahan, ia sudah tahu tentang hal itu karena Alvian yang memberitahunya. Sementara Bintang, ia mengangguk singkat lalu menepuk pundak Alvian, menunjukkan rasa terima kasih nya.

"Selamat ya buat kakak lo. Btw kita mau ke kantin, lo mau ikut?" Ujar Bintang kemudian.

"Ayo, kebetulan gue juga lapar." Balas Alvian.

Mereka bertiga pun langsung bergegas menuju kantin. Setibanya di kantin, mereka bisa melihat kantin yang mulai ramai. Alvian menyuruh Bulan dan Bintang untuk mencari tempat duduk, sementara Alvian yang akan memesankan makanan mereka.

Bulan dan Bintang pun akhirnya menemukan satu meja kantin yang kosong, terletak di sudut kantin. Tak berapa lama, Alvian kembali diikuti si pemilik kantin yang membawakan makanan mereka. Mereka bertiga menikmati makanan dan minuman mereka diiringi dengan perbincangan ringan, membuat suasana di antara mereka semakin nyaman.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Sepulang sekolah, Bulan dan Bintang pun langsung memutuskan untuk pergi ke rumah bibi Bulan. Bulan ingin menemani Bintang, terlebih hari ini merupakan langkah awal Bintang untuk mencari penghasilan sendiri.

Saat ini mereka masih berada di lingkungan sekolah, tepatnya di depan mading sekolah. Mereka melihat-lihat pengumuman penting dan informasi baru dari mading tersebut.

"Gak kerasa ya, bulan depan udah ujian kenaikan kelas aja." Ujar Bintang ketika membaca salah satu tulisan di kertas mading.

"Iya cepet banget, perasaan baru kemarin naik kelas dua. Eh taunya udah mau kelas tiga aja," ujar Bulan menimpali.

Bintang hanya mengangguk singkat membenarkan perkataan Bulan. Memang ia juga merasa waktu berlalu begitu cepatnya. Hari yang terasa seperti kemarin, ternyata sudah berjalan hampir setahun saja.

"Iya, andai aja waktu bisa diulang. Gue bakal milih untuk enggak jadi nakal kayak gini. Sekarang baru kerasa nyesel nya," ujar Bintang penuh penyesalan.

Bulan yang fokus membaca pengumuman di mading, kini langsung menoleh ke arah sahabatnya itu. Ia merasa bahwa Bintang sudah benar-benar menyadari kesalahannya di masa lampau. Ia pun langsung meletakkan tangannya di pundak Bintang dan menepuknya pelan, memberikan support untuk pemuda itu.

"Jangan menyesali apa yang telah berlalu Bintang, semua itu ada masanya. Yang lalu jadikan sebagai pelajaran buat lo agar bisa lebih baik lagi nantinya," ujar Bulan dengan seutas senyum.

Mendengar perkataan Bulan, hati Bintang terasa hangat bahkan ia merasa tenang. Semenjak dirinya mengalami kecelakaan, hanya Bulan yang benar-benar mengerti dirinya, dan hanya Bulan yang menjadi penenang bagi kerasnya hati Bintang.

Bintang merasa luluh, ia pun tersenyum sedikit menanggapi perkataan sahabatnya itu. Bintang pun langsung menepuk pelan tangan Bulan yang masih berada di atas pundaknya.

"Iya, lo bener. Semua itu bakal jadi pelajaran buat gue." Ujar Bintang pada akhirnya.

"Nah, gitu baru sahabat gue! Yaudah ayo ke rumah Bibi, gue pengen liat gimana cara lo ngomong di depan kamera," ujar Bulan dengan ledekan dan tawa kecil.

"Yee, anggap remeh lo. Lo lupa gue siapa?" Ujar Bintang dengan nada sombongnya. "Gue Bintang Almaz Adhikara, soal itu mah kecil."

Bulan langsung tertawa menanggapinya, dengan sebuah gelengan singkat. Sahabatnya itu terlalu percaya diri dan yakin akan perkataannya, padahal Bulan pun tahu bahwa Bintang tidak pernah live di depan kamera. Bahkan, live streaming di sosial media nya pun terbilang tidak pernah.

"Ya-ya... Kita liat aja nanti," ujar Bulan sembari mendorong kursi roda Bintang dengan tawa yang masih menghiasi dirinya.

Sementara Bintang, ia hanya menanggapinya dengan gelengan singkat dan seutas senyum. Ia merasa bahwa Bulan meragukan dirinya. Tanpa kata lagi, ia pun membiarkan Bulan mendorong kursi rodanya itu ke arah gerbang.

Saat tiba di depan gerbang sekolah, keduanya bisa melihat jelas bahwa Reva, Farhan, dan juga Bryan sedang berdiri di dekat koridor. Farhan dan Reva berdiri berdampingan, sementara Bryan menyandarkan tubuhnya di depan tembok.

Bintang langsung melontarkan tatapan tajam ke arah mereka, merasa sakit hati mengingat pengkhianatan mereka. Sementara Bulan langsung memutarkan bola matanya, ia merasa malas harus bertemu dengan mereka bertiga. Terutama Bryan, orang yang menyukai dirinya.

"Lo berdua kenapa liatin kita kayak gitu? Panas?" Ujar Farhan sambil melontarkan senyum miringnya.

"Tadinya sih gak panas ya, entah kenapa pas liat muka lo semua hawanya berubah jadi panas aja." Ujar Bulan menyindir sambil mengipas tubuhnya dengan tangan.

"Gue lebih panas lagi disini. Han, Rev, gue duluan ya." Ujar Bryan langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari kedua temannya.

Semua orang yang berada di sana langsung merasa heran, tak terkecuali Farhan dan Reva sendiri. Bintang pun mengernyitkan dahinya, setahunya Bryan tidak pernah bersikap seperti itu. Ia merasa aneh dengan Bryan, meskipun sekarang Bryan bukanlah temannya lagi. Sementara Reva, ia kemudian menatap Bintang dengan tatapan serba salah tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, seakan ia terjebak dalam pilihannya sendiri.

"Bulan, yuk kita cabut aja. Muak lama-lama gue liat muka mereka berdua," ujar Bintang memecah keheningan.

Bulan pun langsung menganggukkan kepalanya, ia pun memahami bahwa Bintang benar-benar kecewa dengan mantan pacar dan teman-temannya. Tanpa kata lagi, mereka pun langsung berlalu pergi meninggalkan Farhan dan Reva di belakang.

Bulan dan Bintang pun menyusuri jalan menuju rumah bibi Bulan. Mereka memang berencana langsung ke rumah bibi Bulan tanpa pulang ke rumah Bulan terlebih dahulu.

Beberapa menit berlalu, tibalah mereka di rumah itu. Bulan pun langsung mengetuk pintu, dan tak selang lama si pemilik rumah pun langsung membukakan pintu untuk mereka.

Tookk... Tokk... Tookk...

"Assalamualaikum, bi..." Ujar Bulan.

"Waalaikumsalam, eh Bulan sama Bintang. Ayo-ayo masuk." Ujar wanita itu menyuruh mereka untuk masuk.

Bulan dan Bintang pun langsung masuk ke dalam rumah itu. Saat berjalan menuju ruang tengah, mereka bisa melihat jelas banyaknya pakaian di dalam plastik yang berserakan di lantai. Bulan dan Bintang berpikir mungkin itu adalah pakaian yang telah dipesan oleh customernya.

"Duduk dulu, kalian udah makan? Mau makan dulu?" Tanya beliau kepada dua remaja itu.

"Enggak usah tante, kami udah makan di sekolah." Ujar Bintang langsung menolak dengan sopan.

"Iya tante, gak usah repot-repot." Ujar Bulan yang kini sudah duduk di antara bungkusan-bungkusan pakaian itu.

"Jadi mau langsung mulai aja?" Tanya bibi Bulan kepada Bintang.

"Boleh tante, tapi Bintang ganti baju dulu." Ujar Bintang.

"Mau ganti? Silahkan, di kamar anak tante aja." Ujarnya sambil menunjuk kamar putranya itu.

"Disini aja tante," ujar Bintang langsung membuka kancing seragam sekolahnya.

Bulan langsung menutup matanya, bahkan ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak mengerti mengapa Bintang bisa senekat itu untuk berganti pakaian di depan dirinya dan juga bibinya.

"Bintang! Lo gak sopan banget, kenapa harus ganti di situ coba?!" Kesal Bulan yang masih menutup matanya dengan tangan.

Mendengar perkataan Bulan, Bintang pun langsung tertawa. Padahal ia memakai baju kaus lain di balik seragam sekolahnya itu, tapi Bulan justru berpikir tentang hal yang aneh-aneh dengan sahabatnya itu. Wajar saja, karena seragam sekolah mereka cukup tebal kainnya, sehingga Bulan mengira bahwa Bintang tidak memakai baju lain lagi.

"Astaga Bulan! Gue pake baju lain, ya kali gue tunjukkin roti sobek ke lo!" Ujar Bintang yang sempat-sempatnya bercanda.

Mendengar perkataan Bintang, Bulan merasa malu sendiri, bisa-bisanya ia memikirkan tentang hal yang aneh. Bulan pun langsung menepuk jidatnya, mencoba untuk menghilangkan rasa kesalahpahaman nya sendiri.

"Hayoo, Bulan mikirin apa? Jangan aneh-aneh, dosa." Ujar bibi Bulan sembari tertawa.

Bulan terdiam tanpa kata, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia menoleh ke arah Bintang, dan benar saja Bintang sudah memakai kaus berwarna hitam di tubuhnya.

"Ayo bi, ajarin dulu si Bintang. Dia itu gak pernah live lho sebelumnya," ujar Bulan mengalihkan pembicaraan.

Bibinya tahu bahwa Bulan berusaha mengalihkan pembicaraan, ia hanya menanggapinya dengan tawa kecil, tapi ia tidak ingin membuat keponakannya itu merasa malu lagi. Ia pun akhirnya beranjak ke kamarnya untuk mengambil sesuatu, dengan gelengan singkat mengingat kejadian barusan.

Sementara Bintang, ia masih tertawa kecil. Ia merasa geli dengan pemikiran Bulan yang ternyata bisa berpikiran seperti itu. Bintang pun menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk menghilangkan rasa geli di hatinya.

"Apa yang lo bayangin tadi Bulan? Badan gue yang sixpack dan enam roti sobeknya?" Tanya Bintang dengan niat bercanda.

"Ih, apaan sih lo! Ngeselin tau gak!" Ujar Bulan dengan nada kesalnya, bahkan tangannya pun langsung bersedekap dada. Ya, begitulah ciri khas seorang Bulan jika sudah mulai mengambek.

"Ngeselin, atau ngangenin?" Ujar Bintang sambil menaik-naikkan alisnya.

Mendengar hal itu Bulan langsung terdiam. Baginya dua kata itu sangat benar adanya bagi dirinya. Bintang memang sangat menyebalkan bagi Bulan, tapi Bulan juga tidak bisa menyangkal bahwa Bintang juga bisa membuatnya merasa rindu.

"Lo diam berarti iya." Ujar Bintang dengan nada santainya, ketika melihat keheningan dari Bulan. "Iyalah gue ngangenin, tanpa sahabat kayak gue kayaknya suram hidup lo."

Bulan langsung mendengus kasar, sahabatnya itu sangat suka membuat dirinya merasa kesal. Ia pun langsung bangkit dan berjalan ke arah sepupu kecilnya yang sedang menonton televisi, meninggalkan Bintang dengan perasaan kesal yang berkecamuk.

"Terserah lo!" Ujarnya sambil menghentikan sejenak langkahnya. "Btw, makan tuh roti sobek! Hmph!"

Bulan pun langsung meninggalkan Bintang di ruangan itu sendirian. Sementara Bintang menggelengkan kepalanya dengan tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.

Tak berapa lama, bibi Bulan pun kembali dengan perlengkapan live streaming nya. Ia mengedarkan pandangannya, karena tidak mendapati keponakannya itu berada di sana.

"Bintang, Bulan kemana?" Ujarnya sambil meletakkan tripod dan pad nya itu di atas meja.

"Bulan ngambek tante, perkara roti sobek," ujar Bintang sedikit berbisik diikuti tawa diakhir kalimatnya.

Mendengar hal itu, bibi Bulan pun langsung tertawa menanggapinya. Ia yang mengaku dirinya cerewet, tapi bagi Bintang justru terasa sangat menyenangkan dan ia pun merasa lebih terbuka.

"Ya ampun Bintang, kalian ada-ada aja." Ujar bibi Bulan setelah selesai dengan tawanya. "Ya udah, sini tante ajarin gimana caranya." Ujarnya kemudian.

Bibi Bulan pun langsung menjelaskan tentang bagaimana cara ia mempromosikan produk dan mereview baju-bajunya. Bintang pun mendengarkan dengan seksama, memperhatikan bagaimana cara bibi Bulan melakukan live untuk produknya.

Setelah dirasa paham, bibi Bulan pun langsung melepaskan Bintang untuk melakukan live sendiri. Ia ingin melihat apakah Bintang benar-benar bisa melakukannya. Bintang yang merasa gugup pun, akhirnya memberanikan diri untuk mencoba. Baginya, lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.

^^^Bersambung...^^^

1
ndah_rmdhani0510
Ayo jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like komen dan dukungannya dibutuhin banget biar semangat juga aku buat up-nya😊
JJ Official
PENDAPAT :
Hai bang/kak, aku lumayan suka sama Cerita Abang/kakak, karena penggunakan Kalimat Deskriptif yang baik serta Rasa Cinta yang Mulai Tumbuh Antara Bulan Dan Bintang

SARAN/PERBAIKAN:
novelnya Lumayan Bagus, Saya Suka, Tapi Alangkah Baiknya kakak/Abang tambahkan konflik eksternal pada karakter Bulan/bentang

REKOMENDASI :
Aku Punya Rekomendasi buat Kakak/Abang buat ngembangin Cerita ini, mungkin Kamu bisa bikin Konflik eksternal yang dihadapi Bulan/bintang, kayak misal-kan ada orang yg suka sama bulan/bintang dan dia gak suka kalau mereka berdua-duaan dan membuat Rencana untuk melakukan tindakan eksterem terhadap bulan/bintang atau mungkin orang itu terus bikin rencana supaya Bulan Dan Bintang Saling Benci untuk Eps selanjutnya...

PESAN :
Ingat ya! Jangan pernah menyerah Dalam Berkarya! aku tau karya ada yang rame dan ada yang tidak, tapi tetap pertahankan karyamu! jangan karena Ceritanya tidak populer, kamu berpikir bahwa kamu harus menyerah! TETAP SEMANGAT, DAN JANGAN MENYERAH, WALAU BADAI MENYERANG!
ndah_rmdhani0510: Terima kasih buat saran dan dukungannya, dan memang konflik seperti itu memang sudah direncanakan, tinggal tunggu bab nya saja. Nanti di bab bab selanjutnya konfliknya bakal ke arah seperti yang anda katakan. Mohon bersabar untuk menunggu bab-bab itu ya🙏😊
total 1 replies
yuningsih titin
sabar bulan, kalo jodoh ngga kemana
yuningsih titin
wah bulan cemburu ya
yuningsih titin
wah bulan diam diam suka ama bintang ya
yuningsih titin
bintang kamu bandel banget ya, bulan sabar ya
yuningsih titin
bagus ceritanya... bintang kamu yang nurut kalo dinasehati tuh
JJ Official
Kapan Up kak?
kalea rizuky
lanjut donk
kalea rizuky
kapok di ingetin yg bner ma bulan ngeyel mereka. temen toxic
kalea rizuky
aneh ngeluh doank bisanya lu aja naik. motor kayak punya nyawa dobel. giliran lumpuh sok nyalahin Tuhan dih laki kok. GOblok amat
kalea rizuky
buat bulan tegas thor dia kn suka taekwondo biasanya cwek yg suka. olahraga g menye menye cengeng.. ini bulan malah cengeng
ndah_rmdhani0510: Oh iya... Makasih ya kak buat sarannya
total 1 replies
kalea rizuky
g salah rev. klo. g di bles ya mundur alon alon
kalea rizuky
g tau diri emank si bintang uda biarin aja bulan dia mau di siksa ortunya mau balapan cuekin aja
JJ Official
Hai Kak, Saya Sudah membaca Novel Kaka dari Bab 1 - 7 dan saat saya baca novel Kaka, Saya sedikit Kebingungan, sebenarnya Konflik Apa yang sebenarnya Dihadapi Oleh bintang sehingga dia menjadi anak yang nakal dan acuh tak acuh? dan apa pekerjaan Orang Tua Bulan sehingga dia bisa tinggal di keluarga yang Tidak Terlalu Kaya dan tidak terlalu Miskin? dari Bab 1 Bintang dan Bulan Tampaknya sudah Kenal, tidak dijelaskan bahwa mereka ketemu dimana? kenalan dimana? dan suka ngobrolin apa? begitu ya kak. itu saja kritik dari saya semoga Kaka bisa Up Episode 8 Dengan Alur yang Lurus ya kak 😊
ndah_rmdhani0510: Sudah di revisi, semoga suka ya sama ceritanya... Happy reading 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!