Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 20》
Matahari belum terlalu terang namun mansion milik Albert sudah di penuhi suara Emily yang merengek seperti anak kecil
Ia terlihat begitu menggerakkan di mata Albert.
"Aku mau ikut, pokoknya ikut!," Suara Emily terdengar di ruang makan, pagi ini mereka sedang sarapan dan gadis itu ingin pergi bersama Albert ke area konstruksi.
"Tinggal di sini saja, gak usah ke kantor juga ga papa loh," jawab Albert dengan tenang, ia hanya ingin meminimalisir bahaya di sana, jika terjadi sesuatu maka ia juga yang akan repot.
"Gak mau, lagian si Cllara itu pasti akan ke sana juga kan?," ungkap Emily, ia menghentakkan kaki lalu berdiri menaruh piring kotor agar Bibi Vei lebih gampang mencucinya.
"Yasudah, tapi ingat jangan lepas helm pelindung dan jangan menjauh dari dekatku," jawab Albert, ia tidak bisa memaksa gadis itu mengikuti kemauannya, jadi ia mengizinkan dengan syarat tersebut.
Mata Emily berbinar, seperti anak kecil uang mendapatkan permen, ia segera mengekori Albert yang masuk ke dalam mobil lalu duduk dengan tenang tanpa ada kalimat protes lagi.
Lokasi yang mereka datangi tidak terlalu jauh karna masih berada di seputaran Beijing, gedung yang akan di bangun memiliki total 20 lantai, rencananya akan di gunakan sebagai gudang dan tempat produksi.
Pembangunannya sudah berjalan hampir dua bulan dengan melibatkan banyak pekerja bangunan, jadi progres pekerjaannya cukup signifikan.
"Selamat pagi, ih.. kenapa kamu datang sih?!," niat hati menyapa Albert, namun Clara terlanjur kesal melihat senyuman dan lambaian tangan milik Emily.
Mereka bertiga berjalan mengelilingi area bersama seorang konduktor yang memimpin jalannya pekerjaan disana.
Perlengkapan pengamanan sudah mereka kenakan guna menghindari cedera atau kecelakaan selama di sana.
Emily dan Clara berjalan bersama sedangkan Albert sudah meninggalkan mereka bersama konduktor tadi.
"Kamu ngapain datang sih?," tanya Clara dengan nada tak suka.
Emily tertawa lalu menjawab, "Aku istrinya Pak Albert, jadi aku harus datang, melindungi dia dari cewek genit kayak kamu"
"Cewek genit, hey.. bukannya kamu yang genit ya? Kamu pasti sengaja tidur sama Albert supaya dia nikah sama kamu kan? Ngaku aja deh!," ucap Clara.
Emily sama sekali tidak tersinggung, karna cerita itu hanya sesuatu yang ia karang sebagai alasan pernikahan palsu mereka, jadi dengan santai Emily menyela dan berkata, "Kenapa? Kamu iri saya tidur sama dia?"
Emily memiringkan kepala dan tersenyum sinis, membuat gadis itu terbakar emosi dan pergi dari sana.
Tepat saat Clara berjalan, sebuah suara terdengar, "AWAS!"
Mereka berdua menoleh ke atas dan melihat sebongkah besi yang jatuh dari atas, itu mengarah pada Clara.
Kaki Emily sudah berlari namun tak sampai untuk menggapai Chlara, gadis itu jatuh dengan kepala yang bercucuran darah.
Dari kejauhan nampak Albert yang berlari ke arah mereka, lalu mengangkat Clara, "cepat panggil ambulance!," teriaknya pada seluruh karyawan yang ada di sana.
Emily kaget, ia masih berdiri disana tanpa mengatakan apapun, sementara Albert sudah merokok kemejanya untuk menutupi luka di kepala Clara.
"Emily, Emily, EMILY!!"
Gadis itu sadar dari lamunannya dan menatap Albert.
"Ya? Ya.."
Suara Emily rendah, mungkin karna syok, ia tak membayangkan jika barang itu jatuh di padanya.
"Tenang dulu, sekarang berjalan ke mobil dan suruh sopir mengantarmu pulang, aku akan mengurus Clara dulu"
Pelan-pelan Emily berjalan ke arah di mana mobil itu terparkir, pikirannya bukan soal bersaing dengan Clara, melainkan bagaimana nasib gadis itu.
Dalam Novel, ia tidak ingat ada Clara dan adegan ini, dari mana gadis itu datang?
Jika bukan terlepas dalam Novel, lalu dimanakah dia?, jika seperti ini, maka ia tidak bisa memprediksi masa depan, semua akn berjalan tanpa arah pasti.
"Nona.. Nona.. kita sudah sampai"
Emily tak menyadari bahwa ia sudah tiba di mansion, dengan sisa tenaganya ia naik ke lantai dua, menutup pintu lalu berbaring, berusaha melupakan ingatan saat melihat darah bercucuran dari kepala Clara.
***
Clara cukup kuat, ia masih membuka mata saat berada dalam mobil ambulance, tenaga medis sudah melakukan pertolongan pertama dengan baik sehingga darah sudah tidak mengalir.
"Hei, tetaplah sadar," ucap Albert sepanjang perjalanan karna mata Clara nampak makin sayu.
"Al, aku.." Clara tidak dapat memperkuat suaranya, jadi Albert mendekat untuk mendengar apa yang ia bilang.
"Boleh aku.." Sepertinya ia memang tidak bisa berbicara cukup panjang, jadi Albert berkata, "Jika kau sadar sampai di rumah sakit, aku akan mengabulkan permintaan mu"
Albert hanya tidak ingin ia hilang kesadaran.
Begitu tiba di Rumah Sakit terdekat, Clara langsung di bawa ke ICU.
"Apa anda walinya? Silahkan ikut saya mengisi formulir," ucap seorang karyawan administrasi di sana.
Albert belum sempat memberikan kabar pada orang tua Clara, jadi ia menelpon menelpon mereka agar segera datang ke Rumah Sakit
"Bagaimana dok?," tanya Albert begitu dokter yang menangani sudah keluar dari bilik pasien milik Clara.
"Pasien sudah stabil namun menurut saya ada kemungkinan geger otak ringan, jadi saya sarankan agar Nona di periksa lebih lanjut," jelas dokter.
"Lakukan sesuai prosedur," Albert membuka kain yang menutup bilik dan melihat Clara masih terbangun, sepertinya gadis itu punya tekad yang kuat untuk menagih janjinya.
"Sepertinya kau sudah punya kekuatan," ucap Albert yang duduk di samping ranjangnya.
"Kau sudah berjanji," Clara masih bisa menatap tajam padanya.
"Tentu saja, oh ya, orang tuamu akan segera datang, aku harus pergi duluan"
Albert segera memanggil taksi dan menyebut alamat mansionnya, ia masih harus melihat keadaan Emily.
"Ini pak, terimakasih," Albert menyerahkan uang pembayaran dan keluar dari taxi, dari depan halaman ia bisa melihat jendela kamar Emily yang terbuka.
"Kau tidak papa?," tanyanya dari depan pintu namun gadis itu sepertinya terlelap, jadi ia tidak menjawab pertanyaannya.
Dengan perlahan Albert mendekati ranjang, mendapati keringat dingin yang sudah membasahi wajah dan rambutnya.
"Hei.." Panggil Albert.
Emily kaget dan langsung bangun, ia duduk sambil memegang kepalanya yang sakit, ini mungkin karna syok yang ia alami, Albert memegang dahinya dan berkata, "Sudah ku duga, kau demam"
Emily menundukkan kepala dan bertanya, "Apa Clara baik-baik saja?"
Albert menganggukkan kepala, turun ke bawah dan meminta pelayan untuk membuatkan bubur, setelah itu ia pergi ke kamarnya dan membersihkan diri lalu menelpon dokter untuk datang ke sana memeriksa keadaan Emily.
Ia masih memikirkan perkataan Ibunya tentang mencoba membuka hati pada Clara.
Sebenarnya gadis itu tak terlalu menjengkelkan baginya, hanya saja saat dulu bersekolah, Clara termasuk murid yang sombong dan nakal, ia juga sudah berulang kali pacaran semenjak sekolah, sangat berbeda dengan Albert.