Seorang CEO tampan blesteran Turki-Indonesia, Alexander Kemal Malik, putra satu-satunya Billionaire, Emir Kemal Malik, raja properti dan ritel, Malik Corp, Turki, dipaksa menikah dalam waktu satu bulan. Jika tidak Alex hanya ada dua pilihan, dijodohkan atau dicabut hak warisnya. Sialnya sang kekasih, Monica Young, model internasional Hongkong, lebih memilih kariernya dan meminta waktu satu tahun untuk menikmati puncak kariernya sebelum melepasnya untuk menikah.
Tapi waktu yang ada hanya satu bulan. Atau Alex harus merelakan, dijodohkan ataukah melepaskan semua sahamnya untuk didonasikan?
Dan ide menikah kontrak dari Monica membuatnya bertemu dengan gadis manis Rianti Azalea Jauhar. Relakah Monica, saat Alex menikahi Rianti? Sanggupkan Rianti tidak jatuh cinta pada Alex? Saat tiba kontraknya selesai, mampukah Alex menceraikan Rianti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tya gunawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Anne
Tak terasa sudah satu Minggu Rianti tinggal di Singapura.
Meski tinggal di rumah yang sama, namun akhir-akhir ini, Rianti jarang melihat suaminya. Karena semenjak mereka tinggal di mansionnya yang ada di Singapura ini, Alex lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja di kantor.
Ada sedikit krisis perusahaan Malik's Corp di Singapura.
Seperti pagi ini juga, suaminya sudah keluar pagi-pagi sekali, yang kata Bu Fatma, Alex ada meeting penting yang tidak bisa ia tinggalkan.
Ketika Rianti sedang malas-malasan di tempat tidur, Bu Fatma mengetuk pelan pintu kamarnya dan memberitahu bahwa ada Nyonya Besar yang sudah menunggunya di ruang tamu.
Kening Rianti berkerut. Nyonya besar? Anne?
Dengan penuh keheranan dia turun dan mendapati seoang wanita cantik sudah duduk di kursi ruang tamu.
"Anne?"
Belum sempat Rianti mengucapkan salam, wanita cantik itu memandanginya dari atas ke bawah dengan heran.
"Baju apa yang kamu pakai itu?"
Rianti menunduk, memegang bajunya, "Ini daster, An."
Anne menggelengkan kepala. "Anne tahu. Anne juga orang Indonesia."
Anne menghela napas. "Anne sudah menyangka kenapa Alex selalu menghindar waktu Anne telepon agar menyambungkannya ke menantu Anne. Ternyata tiket bulan madu yang Anne kasih tidak kalian gunakan. Malah kalian pulang ke sini. Dan lagi, mana bisa Alex betah di rumah jika istrinya berpenampilan seperti itu?"
Rianti hendak membantah, tapi wanita cantik yang sayangnya, ibu mertuanya itu menarik tangannya kembali untuk naik ke atas.
"Ganti baju, sayang. Kita pergi."
"Kemana?" tanya Rianti masih dengan keadaan bingung.
"Belanja."
Rianti bahkan tidak sempat berbasa-basi dengan mertuanya, dia begitu saja di tarik ke kamar untuk berganti pakaian.
Anne marah besar ketika mengetahui Rianti tidur di kamar yang terpisah dengan Alex.
Selanjutnya Rianti hanya bisa pasrah ketika Anne membawanya ke mall mewah di pusat kota.
Mertuanya itu memaksanya mencoba semua baju bermerek dengan harga selangit.
Saat Rianti sadar, sudah ada setumpuk baju di keranjang belanjaan yang dibawa oleh beberapa orang pelayan.
"Ann? Kenapa banyak sekali?" Mata Rianti melotot. Kepalanya berputar mencoba menghitung harga puluhan baju bermerek di dalam keranjang belanja. Dengan harga baju kisaran di atas sepuluh juta. Berapa jumlah semua? Rianti hampir pingsan dibuatnya. Astaga.
"Black card?"
Rianti terbengong sambil menyerahkan dompetnya.
"Ternyata Alex masih memberimu black card," Anne mengambil kartu kredit berwarna hitam dari dompet Rianti.
Gadis itu baru sadar, ternyata suaminya itu memberinya kartu kredit tanpa limit.
Anne menyerahkan kartu kredit itu ke kasir. Saat melihat tagihannya, mata Rianti melotot dan jantungnya berdetak lebih kencang.
Ini mah, bisa untuk membeli sawah di kampung. Dan ia hamburkan hanya untuk membeli baju?
Astaga.
"Ann... Bagiamana jika Alex marah? Kenapa banyak sekali?"
Anne berkacak pinggang, "Kenapa kamu harus takut sih? Sudah seharusnya istri menghabiskan uang suami. Bukankah mereka bekerja untuk kita?"
Rianti hanya bisa bengong. Setelah belanja baju, tas, serta sepatu, ibu mertua menggandengnya masuk ke toko pakaian dalam bermerek.
Bayangkan, satu ****** saja harganya lebih dari satu juta. Jika di pasar, harusnya lebih hemat, karena sepuluh ribu dapat tiga.
Ini nih, bedanya cinderela dengan sultan.
Rianti merasa wajahnya memerah ketika ibu mertuanya berceloteh tentang bentuk dan warna pakaian dalam yang cocok dikenakan menantunya itu agar Alex makin cinta.
Dan ia hanya diam ketika sang ibu mertua membeli puluhan pakaian dalam dengan harga jutaan.
Nasib.
🍁🍁🍁
Selesai berbelanja dengan puluhan kantong belanjaan yang memenuhi bagasi mobil, mereka pulang.
Rianti menatap tumpukan kantong belanjaan itu dengan tatapan ngeri.
Bagaimana tidak ngeri, ia hanya takut Alex marah dan memintanya untuk mengganti uangnya?
Mau mengganti pakai apa?
Rianti melirik Anne yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Mengabaikan Rianti yang galau dengan pikirannya.
"Iya. Aku tahu. Ikuti terus. Aku sudah membuat rencana yang bagus untuk mengakhiri semua ini," Anne menutup ponselnya, melirik Rianti dengan sudut matanya. Gadis itu hanya melihat ke luar jendela mobil.
"Aku senang Alex menikah denganmu," ucap Anne tiba-tiba membuat Rianti tercengang. Ia menoleh ke arah Anne dengan kening berkerut.
"Buat dia melupakan gadis itu."
Rianti menyunggingkan senyum pahit. Matanya menatap jalanan yang padat. Malam minggu yang sibuk.
"Alex mudah tersentuh hatinya. Jika dia sudah jatuh cinta dia akan sulit melepaskan. Buat dia jatuh cinta padamu," ucapnya pelan.
Rianti menoleh cepat, "Maksud Anne?"
Wanita cantik itu hanya tersenyum dan mengedikkan bahu. "Anne percaya padamu."
🍁🍁🍁
Setelah sampai rumah, Anne pamit meski Rianti memaksanya untuk tinggal, ibu mertuanya hanya bilang untuk merahasiakan kedatangannya. Rianti mengangguk meskipun tak mengerti.
Dengan terburu-buru semua kantong belanja dibawa masuk ke kamarnya. Rianti merebahkan tubuhnya ke kasur. Seketika rasa pening menghinggapinya, saat teringat banyaknya tagihan belanjanya hari ini.
Kepalanya sedikit pusing.
Aaah... dapat dari mana uang untuk membayar semua ini? teriaknya tanpa sadar.
Ck. Harusnya ia tadi tegas menolak.
Tapi siapa sih yang bisa menolak keinginan Nyonya besar? Yang bahkan Alex dan Baba sendiri tidak akan mampu menolaknya.
Rianti mendesah. Menyesal pun tiada artinya sekarang.
Gadis itu menatap tumpukan kantong belanjaan yang masih berserakan di lantai kamarnya dengan tatapan sedih. Seumur hidup bahkan ia tidak akan mampu membayarnya.
Gadis itu heran. Sebenarnya terbuat dari apa sih baju-baju itu? Kenapa harganya mahal sekali?
Merasa penasaran, Rianti segera membuka-buka kantong belanjanya. Matanya tertumbuk pada baju dalam yang dibilang lingerie berwarna merah maroon. Seketika mata Rianti membulat keheranan.
Bagaimana ini cara memakainya?
Saat ia sedang asyik memperhatikan pakaian dalam yang nampak aneh di matanya itu. Terdengar ketukan di pintu.
"Masuk saja, Bu Fatma," teriak Rianti tanpa melihat siapa yang membuka pintu kamarnya.
Saat pintu terbuka dan menampakkan wajah suaminya, Rianti tidak menyadari jika ia masih memegang pakaian aneh itu.
Terlihat Alex menatap lingerie sexy itu dengan alis terangkat, dan membuat Rianti sadar dengan apa yang sedang ia pegang saat ini.
Aargh... Rianti berteriak dan tanpa sadar malah melemparkan lingerie itu dan ditangkap dengan tepat oleh Alex.
"Aduh... maaf... maaf," gadis itu segera merebut kembali dan menyembunyikannya di belakang punggung.
Alex tidak menjawab. Pria itu bersandar santai di pintu. Matanya menatap pada kantong-kantong belanjaan yang bertebaran di lantai, lalu pada istrinya yang berdiri menunduk dengan tangan menyembunyikan lingerie.
"Kau pergi berbelanja?"
Rianti mengangguk, "Iya. Pakai kartumu."
"Sama siapa?"
"Eng, aku aku...," Rianti ingat pesan ibu mertuanya.
"Aku pergi sendiri, dengan supir. Tolong jangan marah. Aku akan mengganti uangmu," lanjutnya dengan mimik memelas.
Alex terkekeh kecil, "Bagimana caramu menggantinya?"
"Dengan gajiku setiap bulan. Aku akan mengangsurnya."
Alex tertawa hingga mata birunya menyipit.
"Ri, black card itu memang untuk kamu gunakan. Belilah apa saja yang kamu inginkan."
"Termasuk rumah?"
"Kau menginginkan rumah? Apakah ini belum cukup?" Alex menaikkan sebelah alisnya.
"Ah, tidak-tidak. Aku hanya bercanda."
Alex terkekeh pelan, "Meskipun rumah atau pesawat pribadi pun, jika kau mau kau bisa membelinya."
"Sungguhkah?"
"Tentu."
Alex berjalan mendekatinya. Malam ini pria itu terlihat tampan dengan kemeja hitam yang digulung sampai ke siku dengan dasi dan vest berwarna abu-abu yang membungkus tubuh kekarnya dengan pas.
"Aku akan pergi, mungkin pulang agak larut. Kau tidak perlu menungguku," pamitnya pada Rianti.
Sebelum meraih pintu, pria itu berbalik.
"Oya, itu namanya garter belt," Alex menunjuk ke arah punggung Rianti.
"Apa?" tanya Rianti bingung.
"Itu yang kamu sembunyikan. Harusnya dipakai di paha dan dikaitkan dengan stoking, berlanjut ke bra," penjelasan yang gamblang membuat Rianti melongo. Ia berdiri canggung dengan wajah memerah menahan malu.
"Jika kau belum jelas, kau bisa melihat tutorial memakainya dari YouTube."
"Oh... tapi..., ini bukan aku yang beli," ucapnya terbata.
"Kalau bukan kamu, apa supir kita yang beli?"
"Tidak. Tidak. Itu Anne yang beli."
"Anne?"
"Ups," Rianti keceplosan.
"Maaf Alex. Tadi Anne datang. Dan Anne mengajakku belanja."
“Sudah kuduga. Kau tidak akan mungkin pergi sendirian. Dan apa saja yang kau katakan pada Anne?"
"Tidak ada. Sungguh. Aku tidak cerita apapun," Rianti mengibaskan tangannya.
Tapi Anne tahu sendiri kita tidur di kamar terpisah. Kata Rianti dalam hati.
Alex tersenyum geli sambil berkata menggoda.
"Sudahlah. Anne sudah tahu kita tidak pergi honeymoon. Kemungkinan Anne akan datang lagi, dan mungkin juga akan menginap di sini. Kau harus segera pindahkan semua barangmu saat ini juga ke kamarku."
"Kenapa?"
"Kita sudah menikah. Tidak mungkin kan kita tidur terpisah? Aku tidak mau Anne curiga."
"Tapi,"
"Oya, nanti malam kau pakai lingerie itu. Dengan bentuk badanmu, aku yakin kau akan terlihat sexy."
Sial. Rasanya Rianti ingin menelenggamkan dirinya saat itu juga.
Aaah...
Jangan sampai Alex mengira ia membeli baju aneh itu untuk menggodanya. Rianti panik begitu Alex meninggalkan kamarnya.
Buru-buru ia memanggil pelayan untuk membantunya merapikan barang-barang yang baru saja ia beli, dan memindahkan semua barangnya ke kamar suaminya.
🍁🍁🍁
Malam gemerlap. Musik pun mengalun pelan dari atas panggung kecil di depan restoran. Seorang penyanyi wanita bersuara sexy sedang melantunkan lagu-lagu romantis menambah suasana menjadi syahdu.
Alex duduk di meja dekat jendela kaca yang menampilkan bayangan kota. Dari lantai 5 dia melihat lampu-lampu dari gedung pencakar langit terlihat bagai jutaan kunang-kunang yang berpendar mencoba menyaingi gugusan bintang di langit.
Alex mengalihkan pandangan dari panorama kota Singapura di malam hari, menatap lampu yang berpendar kemerahan. Mendadak pikirannya tertuju pada Rianti dengan lingerie merah maroon yang berusaha disembunyikannya.
Rona merah yang menjalari wajah gadis itu membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan.
Ah. Kenapa ia jadi memikirkan gadis itu?
Senyum menghilang dari wajah Alex, saat suara yang tak asing menyapanya.
"Alex."
Alex diam termangu memandang wanita yang terlihat luar biasa cantik dengan gaun biru tanpa lengan yang menampakkan pundak mulusnya. Terdengar bisik-bisik dari pengunjung bar yang memandang ingin tahu ke arah Monica.
"Kamu mau minum apa?"
Seorang pelayan berseragam putih hitam datang menghampiri dengan menu di tangan. Monica melihat sekilas ke arah menu.
"Wine, please," ucapnya pada pelayan
"Kamu tinggal di hotel ini?" tanya Alex sambil menyesap minumannya.
"Iya. Sudah hampir satu minggu. Aku mencari kabar dari Tommy, dan dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Akhirnya aku menyewa detektif untuk mencarimu. Aku rindu sekali padamu, Alex," Monica mendesah, meraih tangan kiri Alex dan meremasnya.
Pria itu memandang sekilas ke arah tangan mereka yang bertautan. Meneguk perlahan minumannya dan meletakkannya kembali ke atas meja.
Pelayan datang membawa minuman yang dipesan Monica. Alex melepaskan tautan tangannya perlahan.
“Kenapa sulit sekali bertemu setelah kamu menikah?"
Alex terdiam, memandang lekat-lekat gelas minuman di tangannya.
“Aku tahu setelah pernikahanmu, kamu tidak akan menuruti permintaan bodoh Annemu untuk bulan madu. Kamu masih mencintaiku, Alex," Monica memainkan gelasnya. Memandang Alex yang terdiam.
"Kamu ternyata benar-benar menikahinya. Kamu tega meninggalkanku seperti ini?"
Alex mendesah, mengalihkan pandangannya yang semula ke arah gelas di tangan, kini memandang Monika tajam.
"Aku pernah melamarmu, Monica? Dan kamu menolakku. Apakah kau ingat?"
Monica tertawa kecil, "Karena aku belum siap saat itu, Alex."
"Lebih penting kariermu daripada Alexander Kemal Malik."
"Kamu salah!" salak Monica sedikit mengeraskan suara.
"Aku harus meneruskan perusahaan Mommy. Aku satu-satunya penerusnya. Aku harus lebih bekerja keras agar perusahaan itu berjalan semestinya. Bahkan aku harus menerima tawaran sebagai model agar perusahaan fasion Mommy berjalan dengan baik." Monica menekan dadanya. Berucap dengan suara berapi-api dan mata yang berkabut.
Alex tetap diam, hanya mata birunya memandang wanita cantik yang selalu mengisi hatinya itu
"Monica, kamu lebih memilih kariermu daripada bersandar padaku?"
"Alex... Aku hanya ingin membuktikan aku mampu berdiri dengan kakiku sendiri."
"Membuktikan pada siapa? Orang tuaku? Orang tuamu? Penggemarmu? Atau pria-pria di luar sana yang sering one night stand denganmu? Yang pasti bukan aku. Aku benar, bukan?"
Mulut Monica kembali menutup saat mendengar ucapan Alex. Mau tidak mau dia mengakui jika yang dikatakan Alex benar.
"Aku tetap mencintaimu, Alex. Semua kulakukan untuk kita," desah Monica.
Alex tersenyum kecil. Merogoh kantong dan mengeluarkan dompet. Mengambil beberapa lembar ratusan dollar Singapura dan meletakkannya di atas meja.
"Mencintai artinya mempercayai. Mempercayai orang yang kamu cintai untuk membuatmu bahagia, bukan dengan mengejar sesuatu yang kamu kira akan membuatmu bahagia," tegas Alex sambil bangkit dari kursi.
"Alex, please. Jangan pergi dulu," tangan Monica terulur untuk menahan Alex.
"Pembicaraan kita sudah selesai. Aku tegaskan padamu Monica. Aku sudah menikah sekarang. Tolong jangan kau cari aku lagi."
"Apa kau takut pada istrimu? Bukankah pernikahan kalian hanya pura-pura?" rengek Monica.
Alex melepaskan tangan Monica, tidak menghiraukan perkataannya.
"Pura-pura atau tidak. Yang jelas pada kenyataannya aku sudah menikah. Aku pergi. Selamat malam."
"Aku akan mengejarmu lagi, Alex."
Alex tidak menanggapi, melangkah perlahan menuju pintu keluar.
“Alex aku menyesal. Aku bersedia menikah denganmu. Kau ceraikan wanita itu."
Alex tetap berjalan pergi tanpa menghiraukan teriakan Monica.
“Aku tidak akan menyerah, Alex," desis Monica pelan.
Wanita itu menatap punggung Alex yang menghilang di balik pintu dengan tatapan sendu. Jemarinya yang lentik meraih gelas dan menandaskan wine merah itu dengan sekali tegukan.
🍁🍁🍁