Lia, gadis desa Tanjung Sari, menemukan seorang pria pingsan di pematang sawah tanpa ingatan dan tanpa identitas. Ia menamainya Wijaya, dan memberi lelaki itu tempat pulang ketika dunia seolah menolaknya.
Tekanan desa memaksa mereka menikah. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh rasa yang tak pernah direncanakan—hingga Lia mengandung anak mereka.
Namun Wijaya bukan lelaki biasa.
Di kota, keluarga Kusuma masih mencari Krisna, pewaris perusahaan besar yang menghilang dalam kecelakaan misterius. Tanpa mereka sadari, pria yang dianggap telah mati kini hidup sebagai suami Lia—dan ayah dari anak yang belum lahir.
Saat ingatan perlahan mengancam kembali, Lia harus memilih: mempertahankan kebahagiaan yang ia bangun, atau merelakan suaminya kembali pada masa lalu yang bisa merenggut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Desa
Selamat membaca.....
dan
selamat tahun baru 2026....
jangan lupa like dan komennya ya teman - teman.
...****************...
Malam mulai turun.
Lia berdiri di depan ruang perawatan VIP itu, kedua tangannya saling menggenggam, dingin dan basah. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Krisna—lelaki yang memanggilnya istri, yang pernah menggenggam tangannya erat-erat di pelaminan sederhana desa.
Kini lelaki itu duduk bersandar, pucat… namun hidup.
Dikelilingi orang-orang yang dulu hanya nama baginya.
Ardian, Ana, Asti, dokter, perawat—semua bersuara, semua menyebut satu nama:
“Krisna…” “Sayang…” “Anak Mama…”
Tidak ada satu pun bibir yang menyebut:
Lia.
Bahkan tidak ada satu pun yang menoleh padanya.
Bukan karena jahat. Karena memang… mereka benar-benar lupa ia ada.
Seolah ia hanya bayangan di lorong rumah sakit.
Ana menangis haru, memeluk Krisna hati-hati. Ardian meremas bahu putranya bangga. Riri berdiri di sudut ruangan dengan wajah lega—dan bersalah.
Dan Krisna… menatap mereka satu-satu.
Tatapan itu berhenti sebentar pada Lia.
Hanya sebentar.
Lalu berlalu.
Lia tersenyum tipis. Bukan bahagia. Lebih seperti seseorang yang menerima kenyataan bahwa mimpinya tinggal bekas.
Ia melangkah mundur perlahan. Tak ada yang menghentikannya. Tak ada yang bertanya ia mau ke mana.
Bahkan udara seolah membiarkannya pergi.
Di lorong panjang itu, langkahnya terdengar jelas. Sepasang sandal sederhana menyentuh lantai dingin rumah sakit kota.
Dalam hati ia berbisik sangat pelan, hanya untuk dirinya sendiri: “Kalau memang begitu… aku pergi dulu, mas Krisna.”
Bukan karena berhenti mencintai. Tetapi karena ia tak lagi dianggap ada.
Lia terus berjalan.
Lorong rumah sakit terasa dingin. Lampu temaram menyisakan bayangan panjang di lantai mengilap. Lia berdiri memeluk perutnya yang masih rata, satu tangannya menekan dada—seolah ingin menenangkan hatinya sendiri.
Dari jauh, pintu ruang perawatan Krisna tertutup rapat.
Ia menatapnya lama.
Di balik pintu itu… lelaki yang setiap malam hadir dalam doanya kini terbaring sadar—namun tak lagi mengingatnya. Bukan sebagai istri. Bukan sebagai orang yang menemaninya jatuh dan bangkit. Hanya… orang asing.
Lia tersenyum kecil, tapi senyum itu rapuh.
“Aku pulang ya, Mas…” bisiknya, walau tak ada yang mendengar. “Kalau suatu hari kamu ingat… aku masih orang yang sama. Tapi kalau tidak… terima kasih sudah pernah memilihku.”
Matanya berkaca-kaca, tapi tak setetes pun jatuh. Ia terlalu lelah untuk menangis.
Langkahnya mulai menjauh dari pintu itu. Pelan. Berat.
Setiap langkah seperti meninggalkan sebagian hatinya di balik dinding putih itu.
Udara dingin menggigit.
Lia berdiri ragu di bawah kanopi rumah sakit. Penampilannya yang sederhana. Wajahnya pucat karena lelah. Ia menatap jalanan, bertanya-tanya bagaimana pulang ke desa dengan uang dan tenaga yang tinggal sedikit.
Motor berhenti tidak jauh darinya. Natan turun, menurunkan masker.
“Kamu… Lia, kan?” suaranya hati-hati.
Lia menoleh cepat, sedikit terkejut, lalu mengangguk pelan. “Iya.”
“Aku Natan,” lanjutnya. “Orang yang dulu ikut cari Krisna waktu di desa.”
Ia menggaruk tengkuk, tampak kikuk. “Kamu mau pergi atau mau pulang?”
Lia menunduk. “Iya… aku mau pulang, mungkin naik bus nanti.”
Natan menggeleng. “Jangan. Malam begini bahaya.”
Ia menunjuk mobil hitam sederhana di parkiran. “Aku sekalian lewat arah desamu. Biar aku antar.”
Lia sempat ragu. “Tidak merepotkan?”
“Enggak, sama sekali.” jawabnya cepat. “Lagipula… kamu sudah nolong mas Krisna. Aku cuma balas sedikit.”
Ia tidak tahu apa pun tentang bayi di rahim Lia—tentang pernikahan diam-diam mereka—ia hanya melihat seorang perempuan yang tampak terlalu lelah menanggung semuanya sendirian.
Lia mengangguk akhirnya.
“Terima kasih, Mas Natan.”
Malam itu, tanpa pesta perpisahan, tanpa siapa pun menahan, Lia melangkah pulang—meninggalkan kota yang menyimpan cinta dan luka dalam waktu bersamaan.
...----------------...
Mobil melaju menembus malam. Lampu kota menjauh, berganti gelap dan hamparan sawah.
Di kursi penumpang, Lia terlihat bengong. Matanya kosong, namun basah. Natan beberapa kali melirik, lalu kembali fokus ke jalan.
Canggung.
Hening yang panjang.
Natan berdehem pelan.
“Aku… minta maaf, ya. Tadi semua orang terlalu fokus ke Mas Krisna.”
Lia menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Memang seharusnya semua fokus ke dia.”
Suaranya berusaha kuat, padahal bergetar.
Natan melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali menatap jalan.
Beberapa menit berlalu lagi sebelum Natan berbicara.
“Tapi tetap saja… kamu yang menemukannya, merawatnya, bahkan… tinggal bersamanya selama ini. Kamu pasti yang paling kaget.”
Lia tersenyum tipis. “Aku hanya senang dia selamat.”
Jawaban itu sederhana, tapi suaranya bergetar halus.
Mobil kembali hening beberapa meter ke depan. “Aku dengar…” Natan ragu, memilih kata-kata, “…kalian sempat menikah?”
Lia terdiam. Jemarinya meremas ujung bajunya erat-erat. “Iya,” jawabnya akhirnya, lirih. “Di desa. Sederhana. Hanya orang-orang kampung yang tahu.”
Natan mengangguk pelan. “Maaf kalau aku banyak tanya. Jujur saja, aku tidak terlalu kenal kamu. Tapi Mas Krisna… dia atasanku. Jadi aku berusaha mengerti.”
Lia menunduk. “Aku memang tidak penting untuk diingat.”
Lia menarik napas dalam-dalam. “Iya… hanya saja, dia tidak mengingatku.”
Natan spontan menoleh. “Hei, jangan bilang begitu.”
Ia menghela napas panjang.
“Kalau bukan karena kamu, mungkin Mas Krisna tidak akan hidup sampai sekarang. Kamu bilang kamu tidak penting? Justru kamu orang yang paling berjasa.”
Lia tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. “Tapi dia bahkan… tidak mengenali aku.”
Natan terdiam sesaat sebelum berkata pelan, “Memori bisa hilang. Tapi kebaikan kamu tidak akan hilang dari catatan Tuhan.”
Beberapa detik kemudian ia menambahkan, setengah bercanda untuk mencairkan suasana, “Lagipula, siapa tahu suatu hari nanti Mas Krisna tiba-tiba ingat, terus panik karena istrinya kabur pulang kampung tanpa pamit.”
Lia terkekeh kecil untuk pertama kalinya malam itu. “Aku pamit kok… hanya saja mereka tidak mendengar.”
Natan ikut tersenyum. “Kalau begitu, biar aku jadi saksi resmi kalau kamu pulang dengan baik-baik.”
Mobil melaju melewati lampu kota.
Di antara bunyi mesin dan cahaya redup jalan raya, ada dua orang yang sama-sama diam, satu membawa hati yang patah, satu lagi diam-diam khawatir pada perempuan yang bahkan belum sepenuhnya ia kenal.
Air matanya jatuh diam-diam.
Natan buru-buru mengganti topik, mencoba menguatkan tanpa menggali luka. “Kamu mau langsung pulang ke rumahmu? Atau mampir dulu ke rumah Bu RT? Orang-orang desa pasti kaget dengar kamu pulang malam-malam.”
“Aku langsung pulang saja,” jawab Lia lirih.
Natan mengangguk.
“Kalau nanti butuh apa-apa, bilang ke aku. Walaupun aku nggak bisa bantu banyak… tapi aku tetap teman Mas Krisna. Berarti aku juga… temanmu.”
Kata “teman” membuat Lia menahan tangisnya. “Terima kasih, Mas Natan.”
Mobil terus melaju, meninggalkan cahaya kota—dan sebagian hati Lia yang tertinggal di depan ruang perawatan Krisna.