Jovita Diana Juno dikhianati oleh kekasihnya sendiri, Adam Pranadipa tepat tiga bulan sebelum pernikahan mereka. Sementara itu, Devan Manendra lekas dijodohkan dengan seorang anak dari kerabat ibunya, namun ia menolaknya. Ketika sedang melakukan pertemuan keluarga, Devan melihat Jovita lalu menariknya. Ia mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan, dan sudah membicarakan untuk ke jenjang yang lebih serius. Jovita yang ingin membalas semua penghinaan juga ketidakadilan, akhirnya setuju untuk berhubungan dengan Devan. Tanpa perasaan, dan tanpa rencana Jovita mengajak Devan untuk menikah.
update setiap hari (kalo gak ada halangan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisa Amara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Devan gelisah di kasurnya. Tubuhnya terus membalik ke kanan dan kiri, seolah kasur tidak lagi nyaman. Setelah beberapa menit mencoba memejamkan mata, ia akhirnya duduk sambil mengusap wajah. Dua jam lalu ia sudah menelan obat tidur, tapi efeknya seakan tidak bekerja.
Dengan helaan napas panjang, ia bangkit dan keluar kamar.
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar Jovita. Tangan Devan sempat terangkat, hendak mengetuk. Namun keraguan cepat datang.
“Dia pasti udah tidur,” gumamnya pelan.
Ia menurunkan tangannya, mengurungkan niat itu, lalu berbelok menuju dapur.
Di sana, ia mulai mengacak-ngacak barang dengan cara yang sama sekali tidak rapi. Ia mengambil gelas, membuka stoples bubuk kopi, lalu membongkar isi kulkas sambil mencari camilan. Kecerobohannya muncul seperti biasa.
Saat hendak mengambil sendok, lengannya menyenggol gelas. Untungnya gelas itu bukan kaca, tapi tetap saja jatuh dan menghasilkan suara keras. Devan buru-buru berjongkok, berharap Jovita tidak terbangun.
Namun baru beberapa detik berlalu, insiden berikutnya terjadi. Tangan Devan kembali menyenggol toples gula. Tutupnya terbuka sedikit, butiran gula tumpah ke meja.
“Ada apa sih sama tanganku?” keluhnya frustasi sambil mengambil tisu.
Ia mengelap sisa gula sambil menghela napas panjang. Ia kira itu sudah yang terakhir. Ternyata tidak.
Begitu ia mengangkat gelas yang sudah berisi air kopi, pegangannya meleset. Gelas itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, membuat kopi tumpah ke mana-mana.
“Yang bener aja…” Devan menatap lantai dengan ekspresi tidak percaya.
Ia mencari kain lap ke seluruh pojok dapur. Membuka laci, membuka lemari, mengintip belakang galon.
“Di mana kainnya? Kenapa gak ada? Biasanya di sini,” gerutunya makin kesal.
Karena tidak menemukan apa-apa, ia memutuskan hal paling praktis yang bisa dilakukan, melepas kaosnya sendiri. Tanpa pikir panjang, ia menggunakannya untuk mengelap tumpahan kopi di lantai dan meja.
Dan tanpa Devan sadari, dari balik pintu kamar, Jovita mengintip dengan mata membelalak.
Saat Devan berbalik, Jovita langsung menghela napas lega. Jantungnya masih berdebar cepat. Dari balik pintu tadi, ia benar-benar mengira ada maling… atau orang aneh yang masuk ke rumah mereka. Ia pun membuka pintu lebar, separuh kesal.
“Ngapain sih malem-malem bikin keributan?” tanyanya dengan nada kesal, membuat Devan tersentak.
“Kamu gak tidur?” Devan mengerjap pelan, kaget sendiri.
“Aku kebangun gara-gara kamu. Kupikir maling,” jawab Jovita, masih kesal.
“Maaf… aku gak sengaja jatuhin gelas.” Suara Devan merendah, jelas menyesal.
Emosi Jovita mereda sedikit. Lalu barulah ia sadar, Devan berdiri tanpa mengenakan kaos. Pandangannya langsung terpaku ke dada lalu perutnya, sebelum buru-buru ia alihkan.
“Kenapa gak pake baju?” tanyanya lirih, hampir seperti gumaman.
“Aku gak nemu kain lap. Jadi… ya, pake baju.”
“Hah?” Jovita langsung maju cepat, membungkuk membuka salah satu laci. “Apa maksudnya gak ada? Aku taruh di sini.”
Dan kain itu memang ada di sana.
Devan melotot kecil. Ia sudah mencari ke mana-mana, tapi ternyata kain itu hanya… ada.
“Aku tadi udah…,” Devan mencoba membela diri, tapi kalimatnya melebur jadi helaan napas malu sendiri. Fakta berbicara.
Suasana mendadak canggung. Jovita menatap ke arah lain, berusaha tidak melihat terlalu banyak kulit Devan, tapi matanya tetap saja sempat melirik sekilas. Sekali dua kali.
“Kenapa bangun?” tanya Devan akhirnya, pelan.
“Aku mau ambil minum,” jawab Jovita lirih, buru-buru berjalan ke dispenser. Gerakannya cepat, tapi jelas kikuk. Devan otomatis menyingkir memberi ruang, tatapannya mengikuti tanpa sadar.
Jovita meneguk air dan hendak kembali ke kamarnya. Namun saat ia lewat di depan Devan, pria itu menghentikannya dengan panggilan lembut.
“Mau tidur lagi?” suara Devan nyaris ragu.
Langkah Jovita terhenti. Ia menahan napas. Rasanya ia harus hati-hati menjawab, entah kenapa.
Devan kemudian menundukkan kepala sedikit. “Temani aku. Aku gak bisa tidur.”
Jovita langsung menoleh, kaget dengan permintaan itu. Mata Devan menatapnya… seperti sedang memohon tapi malu mengakui. Ia melihat sekeliling. kopi tumpah, gula berserakan, camilan terbuka. Semuanya mencerminkan satu hal.
“Dia beneran gak bisa tidur…” batinnya bergema.
Akhirnya Jovita duduk di sofa, bersandar pelan. Jemarinya sibuk memainkan ujung kaosnya.
Tak lama, Devan keluar dari kamarnya dengan kaos baru. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di sebelah Jovita. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh.
Devan mengambil remote dan menyalakan TV. Cahaya layar memantul di wajah mereka, menciptakan suasana hening yang anehnya nyaman.
Jovita melirik sekilas.
“Kamu sering begadang?”
Devan menoleh sebentar, lalu matanya kembali ke layar. Ia mengembuskan napas pelan.
“Mungkin udah empat tahun?” katanya, ragu, seolah angka itu juga membuatnya heran.
Jovita spontan menoleh penuh. “Selama itu? Kenapa?”
Ia benar-benar terkejut. Selama tinggal bersama, ia selalu mengira Devan tidur normal seperti manusia lain. Ternyata tidak, dia hanya tidak pernah melihat momen saat Devan terjaga.
“Itu…” Devan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tenggorokannya bergerak menelan. Kata-katanya seperti tak mau keluar.
Beberapa detik berlalu.
“Aku juga gak tau,” ucapnya akhirnya, lirih.
Jovita masih memandangi Devan. Kini semuanya masuk akal, lingkar hitam di bawah matanya, seringnya ia menguap, dan setiap kali Jovita terbangun, Devan selalu sudah ada di luar kamar.
Selama ini ia pikir Devan tipe yang rajin bangun pagi. Ternyata bukan bangun… tapi memang tidak pernah benar-benar tidur.
Devan menangkap tatapannya. “Kamu mengasihaniku? Karena aku gak bisa tidur?”
Jovita buru-buru mengalihkan wajah ke layar TV. “Enggak.”
Keheningan kembali mengisi ruangan. Hanya suara TV yang berganti-ganti adegan. Meski bibirnya diam, kepala Jovita dipenuhi banyak pertanyaan yang tidak mau berhenti.
Ia menarik napas. “Apa yang kamu lakukan biasanya? Pas gak bisa tidur?”
Devan terkekeh pelan, seolah pertanyaannya lucu. “Kamu lagi mewawancarai aku sekarang?”
“Aku cuma… penasaran,” ujar Jovita.
Devan memutar tubuh, menatapnya lebih jelas. “Kerja,” jawabnya singkat.
“Terus kenapa gak kerja sekarang?”
Devan terdiam. Sorot matanya seperti berkata, "kamu serius nanya itu?" Tapi tetap ia jawab.
“Aku capek. Di kantor udah kerja, masa pulang harus kerja lagi?”
Jovita mengembuskan tawa kecil, tak percaya. “Tapi kamu bilang capek, dan kamu biasanya kerja. Jadi… apa maksudnya?”
Devan memandang Jovita lama. Mulutnya membuka sedikit, tapi tak ada suara keluar. Akhirnya ia menyerah.
“Diamlah,” ucapnya lirih, bukan marah, lebih seperti… terlalu lelah untuk menjelaskan hal yang rumit.
Biasanya, ketika tidak bisa tidur, Devan memang akan membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan. Itu rutinitasnya selama empat tahun. Tapi malam ini berbeda. Ada Jovita di sampingnya. Untuk sekali ini, untuk pertama kalinya, ia tidak ingin kembali ke kebiasaannya.
Ia hanya ingin tetap di sini. Bersama Jovita.
Lama mereka duduk di depan TV, hingga Devan baru menyadari sesuatu. Jovita sudah terlelap di sebelahnya. Kepalanya miring ke samping. Posisi itu jelas tidak nyaman.
“Jovita…” panggil Devan pelan, hampir berbisik. Ia ragu mengganggunya, takut membuatnya terlonjak.
Tak ada jawaban. Nafas Jovita teratur, lembut, seperti sungguh tenggelam dalam tidur.
“Tidurlah di kamarmu,” ujar Devan lagi, masih lembut.
Tetap saja, Jovita tidak bergeming. Wajahnya begitu damai sampai Devan pun hanya bisa terdiam. Setelah beberapa detik, ia akhirnya bergerak. Dengan sangat hati-hati, Devan menyelipkan satu tangan di belakang punggungnya, satu lagi di bawah lututnya, lalu mengangkatnya.
Langkahnya pelan saat membawa Jovita menuju kamar. Devan meletakkannya perlahan di atas kasur, menarik selimut dan menutup tubuhnya. Jovita tidak bergerak sedikit pun.
Devan tidak pergi. Ia duduk di tepi kasur, menatap wajah itu, wajah yang membuatnya tersenyum sekaligus membuat dadanya sesak.
Ada hangat. Ada sayang. Tapi juga… getir. Karena kedekatan mereka masih seperti garis tipis yang tidak boleh ia lewati.
“Pengantin baru mana yang tidur di kamar terpisah…” gumamnya. Suaranya terdengar pahit, namun juga menyerah.
Ia berdiri perlahan. Melangkah menuju pintu.
Tapi di ambang pintu, langkahnya terhenti. Devan menatap Jovita lagi. Akhirnya ia kembali mendekat. Membungkuk sedikit.
Dan dengan hati-hati, hampir ragu, ia mengecup bibir Jovita. Sentuhan singkat, lembut, nyaris tidak terasa… tapi cukup untuk membuat dada Devan mengencang.
Jemarinya membelai rambut Jovita sekali, perlahan.
Lalu ia keluar. Menutup pintu dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
To be continued