Tujuh belas tahun lalu, satu perjanjian berdarah mengikat dua keluarga dalam kutukan. Nadira dan Fellisya menandatangani kontrak dengan darahnya sendiri, dan sejak itu, kebahagiaan jadi hal yang mustahil diwariskan.
Kini, Keandra dan Kallista tumbuh dengan luka yang mereka tak pahami. Namun saat rahasia lama terkuak, mereka sadar… bukan cinta yang mengikat keluarga mereka, melainkan dosa yang belum ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 29 Panggilan Agensi
Angin malam menyelinap masuk melalui pintu balkon kamar yang sengaja Alka buka. Ia berbaring di atas kasur sambil memainkan ponsel, ruangan itu sunyi. Hanya di sinari lampu kuning kecil dari meja belajar.
"Banyak banget pesan nggak penting masuk," gumamnya. Ia menghapus beberapa pesan aplikasi yang masuk.
Satu per satu pesan itu Alka hapus. Sampai akhirnya matanya menatap lama pada semuah pesan email yang masuk siang tadi.
Alka menyeritkan kening, ia membuka pesan itu. Nama pengirim membuat jantung Alka terhenti dalam seperkian detik. Tangannya gemetar halus.
Subjek: Undangan Tahap Seleksi - Telent Audition.
Dari: vantisentertaiment@vantis.co.id
Kepada: keandraalkaezar@gmail.com
Yth.
Keandra Alkaezar
Terima kasih atas ketertarikan dan pertisipasi anda dalam proses pendaftaran Vantis Entertainment.
Setelah membuka peninjauan awal terhadap materi yang anda kirimkan, kami dengan ini mengundang anda untuk mengikuti tahap seleksi langsung (offline audition) sebagai calon trainee.
Detail lokasi: Vantis Entertainment - Jakarta.
Waktu: Pukul 10:00 WIB.
Mohon menyiapkan:
-Pakaian latihan yang nyaman.
-Musik pendukung (jika ada).
-Mental dan fisik yang prima.
Kehadiran anda kami tunggu. Apabila berhalangan, silahkan konfirmasi maksimal 1×24 jam sebelum jadwal.
Hormat kami,
Vantis Entertainment Team.
Alka membacanya dengan teliti, takut jika ini hanya lelucon. Tangannya gemetar.
"Hah...?" suaranya serak.
Ia membaca ulang. Sekali. Dua kali. Lalu bangun, dan berlari menuju kamar Lista.
Alka mengetuk pintu dengan keras. Senyumnya tak bisa ia sembunyikan.
"Ta... Ta... Buka..." teriaknya, sambil ketawa kecil yang nyaris seperti mau nangis.
"Lista... bukain pintunya." teriaknya lagi.
Pintu terbuka keras, Lista berdiri diambang nya dengan wajah kesal. Rambut berantakan.
"Kenapa sih, Ka? Malam-malam gedor kamar gue?" suaranya tinggi, keningnya mengerut.
Alka langsung memberikan ponselnya, lalu ia nerobos masuk dan langsung menuju balkon kamar Lista.
Sementara Lista masih terpaku, membaca pesan itu dengan teliti. Setelah selasai, bibirnya terangkat tinggi. Ia noleh ke pintu balkon, lalu berjalan ke sana.
"Ta, akhirnya. Gue di cari sama agensi, bukan gue yang nyari agensi sekarang." suaranya terlalu semangat.
Lista tertawa pelan, memberikan ponsel itu ke Alka. Ia duduk di kursi balkon. "Gue ikut seneng, Ka?" balasnya.
Alka kini duduk di sampingnya, senyum di wajahnya menolak luntur. "Ta, besok gue datang ke sana. Do'ain gue ya, semoga kali ini lulus."
Lista noleh, melihat wajah Alka yang penuh dengan senyumnya. Bibir Lista pun tak bisa menahan untuk tidak ikut tersenyum. "Tumben lo minta do'ain sama gue."
"Gue bahagia, Ta," jawabnya, Alka menyandarkan kepalanya pada kursi. Matanya menatap langit gelap. "Ternyata kalau udah ngerasa ikhlas sama kegagalan, sama apa terjadi. Justru mimpi itu malah datang tanpa harus gue kejar." lanjutnya lirih.
Lista menatapnya dari samping. Senyum Alka malam ini terlihat lebih terang dari cahaya bulan sabit di langit gelap sana. Kemarahan Lista yang hampir meledak karena Alka menggedor pintunya keras, seketika luluh.
Tatapan keduanya sempat saling bertemu, senyum lebar keduanya seolah menghapus semua rasa lelah yang telah mereka lalui.
Malam berlalu dalam sekejap mata. Cahaya matahari siang ini terasa begitu terik. Motor Alka kini masuk pada halaman studio latihan yang sudah lama tak ia kunjungi.
Setelah mesin motor itu mati, Alka langsung berlari masuk, membuka pintu cepat. Matanya mengintari ruangan, mencari keberadaan Rian.
"BANG RIAN!!" teriak Alka.
Rian yang tengah merapikan speaker, langsung terkejut setengah mati. "APAAN?"
Alka nyodorin ponselnya ke depan muka Rian. "Gue di panggil tes."
Rian menyipitkan matanya, membaca cepat. Lalu nepuk pundak Alka keras. "Akhirnya."
Siang menjelang sore itu, Alka langsung latihan sampai badannya gemetar. Gerakan lebih kasar, lebih serius. Tapi ekspresi Alka begitu terlihat tenang.
"Lagi," kata Alka, napasnya ngos-ngosan. "Gue belum puas." lanjutnya.
Di luar hari sudah gelap, waktu menunjukan pukul 20:45 malam hari. Tapi Alka masih berada di dalam studio, kaosnya sudah basah oleh keringat.
Pintu studio di buka pelan, Rian masuk sambil membawa air mineral untuk Alka.
"Nih minum dulu." ia nyodorin minuman itu.
Alka langsung duduk di lantai, mencoba menetralkan napasnya yang masih ngos-ngosan.
"Makasih, Bang." ia membuka tutup botol, lalu neguk air itu hingga tersisa setengah. "Bang, besok temenin gue ya."
Rian noleh, ngangguk pelan. "Siap, lo datang aja kesini."
Alka bangun dari duduknya, menghentikan musik yang masih berputar.
Rian menatapnya lama, lalu ikut bangun. "Udah, pulang sana. Energi lo jangan di habiskan sekarang. Sisain buat besok." ia nepuk pundak Alka.
Alka tertawa pelan sambil menggeleng. "Bawel banget dari tadi. Iya ini udahan."
Rian tak menjawab, ia keluar dari ruangan itu. Sementara Alka meraih tas miliknya, ia ikut keluar dari ruang latihannya.
Sepulang dari studio latihan. Alka langsung bergegas menuju cafe. Motor melaju pelan di jalanan malam, Alka menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan.
Angin malam menyapa tubuhnya, menciptakan rasa dingin yang menusuk. Saat ini perasaan Alka terlalu bahagia. Tapi Alka nggak berani bilang ini pasti berhasil. Ia berani bilang, ini pertama kalinya ia merasa layak.
Motor itu kini masuk ke halaman cafe. Alka segera turun, lalu melangkah masuk. Suasana cafe saat itu sudah tak terlalu ramai, beberapa meja sudah kosong.
Athar duduk di balik meja kasir, Cakra dan Lista sibuk merapikan meja dan piring-piring kotor. Sementara Liona duduk santai di sofa belakang Athar.
"Lioo," katanya sambil nyengir. "Kalau nanti gue debut, lo jangan kaget ya."
Liona melirik. "Kenapa?"
"Soalnya gue bakalan makin cakep," jawabnya.
Athar mengumpat kecil, tapi cukup jelas. "Dasar nggak tahu diri."
Cakra yang datang menghampiri, sambil membawa nampan. Kepalanya menggeleng, tapi kedua sudut bibirnya terangkat.
"Kalian besok temenin gue ya," kata Alka, duanya terdengar begitu ringan.
Liona hanya diam. Tak menjawab. Cuma natap Alka lama yang terus tersenyum. Dan entah sejak kapan, bibirnya ikut terangkat bahkan nggak turun-turun.
Saat itu, untuk pertama kalinya, mimpi Alka terasa dekat. Bukan lagi sesuatu yang cuma bisa ia bayangkan dalam benaknya.
Alka juga tahu, panggilan itu bukan hadiah. Tapin pengakuan pertama yang pernah ia terima. Ia juga tahu, masih ada tahap yang harus ia lewati. Tapi kali ini Alka merasa yakin, karena sangat sulit mendapatkan balasan email langsung dari team agensi.