"Aku hanyalah wanita biasa yang tak rela suamiku berpoligami"-Maryam Azzahra-
Poligami menjadi penyebab renggangnya ikatan suci pernikahan antara Maryam dan Faiz. Sampai suatu saat Damar Langit datang membawa getaran lain di hati Maryam yang membuatnya bimbang antara bertahan dan melepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Jayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugatan Cerai
"Baiklah Bu, sesuai informasi yang anda berikan itu sudah cukup untuk menggugat cerai suami anda. Walaupun hanya dengan alasan tidak berizin dari istri pertama sebenarnya alasan sudah cukup kuat dan kalaupun tanda alasan pun anda tetap akan bisa menggugat suami anda," ujar Hotman menjelaskan rencana gugatan yang akan dilayangkan ke Pengadilan Agama secepatnya.
"Terima kasih Pak, anda sudah bersedia membantu dan repot-repot datang kemari. Padahal kita bisa janjian di tempat lain, saya merasa tidak enak," kata Maryam.
Hotman tersenyum pada kliennya, ia membereskan berkas yang di atas meja dan memasukannya kembali ke dalam tasnya.
"Tidak usah khawatir, karena klien bagi saya adalah raja yang harus saya layani sebaik mungkin. Lagi pula ini pribadi permintaan Pak Langit, saya merasa terhormat sekali membantu anda dan Pak Langit. Jika ibu tidak ada pertanyaan lagi saya mohon diri karena sudah malam takut ibu mau melanjutkan waktu istirahatnya,"
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, semoga kasus gugatan ini cepat selesai." Maryam menutup pertemuan mereka dengan mengantarkan Hotman sampai depan pintu apartementnya.
Anindya masih berada di sana mendengar cukup banyak pembicaraan keduanya, ia menyimpulkan sendiri jika Maryamlah yang meminta bantuan Langit.
"Apa terlalu menyedihkan untukku meminta bantuan orang lain?" tanya Maryam dengan mimik wajah bersalah.
"Tidak, aku tidak mengatakan itu. Justru itulah yang harus kamu lakukan. Aku ingin masalahmu cepat selesai, aku tidak mau kamu kenapa-napa lagi, masalah Gissel yang hampir membuatku takut setengah mati saat kamu tidak ada. Aku mendukung keputusanmu Maryam dan Pak Damar adalah orang yang tepat untuk menggantikan posisi Faiz," ungkap Anindya tanpa di duga, ia sudah curiga tentang perasaan Langit pada Maryam saat di resort.
"Apa maksudmu, Nin?" wajah Maryam merona seketika mendengar nama Langit dikait-kaitkan dengannya.
"Aku tahu semuanya Maryam, tentang perasaan Pak Damar sama kamu itu berbeda. Kamu tahu betapa dia sangat frustasi dengan kejadian itu, kepanikan dia melebihi apa yang aku rasakan. Dia sepertinya menyukaimu, Mar," Anindya mengambil tangan Maryam dan menggegamnya erat.
"Maryam, kamu berhak untuk bahagia dan kalaupun pernikahanmu harus ditakdirkan berakhir bukan berarti kamu harus menutup diri. Masa depanmu masih panjang, pikirkanlah."
***
Maryam menatap mobil mewah yang terparkir di depan lobby perusahaan. Ia melihat Langit turun dari mobil itu, seketika mata mereka saling bertautan cukup lama. Maryam pun dengan cepat menunduk salah tingkah dan cepat-cepat masuk terlebih dahulu ke dalam. Langit tersenyum tipis melihat tingkah Maryam pagi ini.
Langit berdiri tepat di belakang Maryam yang sedang menunggu pintu lift terbuka.
"Pak, maaf anda salah jalur itu lift untuk karyawan. Lift untuk anda berada di sebelah sana." tunjuk Willy dengan sopan pada lift yang berada di sebelah kanan. Langit mendengus kesal dan menatap Willy dengan tajam.
"Suka-suka gue mau pakai lift yang mana. Ini perusahaan-perusahaan gue." ucap Langit sengit. Pria tinggi dengan porsi tubuh hampir sama dengan Langit itu pun hanya bisa pasrah.
Maryam hanya menundukan kepalanya mendengar keributan kedua orang pria di belakangnya itu. Kebetulan suasana kantor belum terlalu ramai, karyawan lain yang akan memakai lift pun beralih pada lift lainnya yang kosong.
lift terbuka, Maryam cepat-cepat masuk dan menekan tombol naik ke lantai 17. Langit pun dengan langkah lebarnya ikut masuk, begitupun dengan Willy.
"Mau kemana lo?" tanya Langit dengan tangan kanannya menahan agar pintu lift tidak tertutup.
"Mau naik ke lantai atas tempat ruangan Bapak berada," ucap pria itu polos.
"Kalau gitu lo pakai lift sebelah!" Willy menelan salivanya hingga jakunnya ikutan naik turun.
"Baik Pak." dengan langkah gontai dan berlapang dada, Willy keluar meninggalkan Maryam dan Langit berduaan di dalam lift.
"Kenapa lo nunduk terus?" tanya Langit memperhatikan sikap Maryam sedari tadi.
"Tidak apa-apa Pak, saya hanya tidak enak berduaan dengan Bapak saja,"
"Tenang saja, tidak akan ada gosip ko. Gimana pertemuan lo dengan pengacara yang gue kirim kemarin?"
"Oh, Pak Hotman. Sepertinya beliau bisa dihandalkan, terima kasih Bapak sudah membantu saya,"
Hanya terima kasih doang, lo bahkan gak nanya gue apakabarnya. Gimana gue terbang secepatnya dari Jepang dengan pesawat pribadi demi ingin bertemu lo.
Lift berdenting halus di lantai 17 , Maryam undur diri dari hadapan Langit terlebih dahulu.
Sial.
***
Faiz masih berusaha beredakan emosi Kanya yang meledak-ledak karena kepergiannya ke Puncak. Kanaya menuduh jika Faiz belum mau melepaskan Maryam.
"Tolonglah, Nay. Kamu tenangkan diri dan pikiranmu. Aku tahu kamu marah tapi kepergianku kesana hanya ingin bertemu saja tidak ada hal lain," Faiz memohon dengan sangat.
"Cih, bukankah dengan ingin bertemu saja sudah membuktikan jika kamu tidak mau melepasnya Mas. Kamu ingat Mas, kamu janji mau menceraikan Maryam dan menjadikanku istri satu-satunya," ucap Kanaya setengah berteriak.
"Faiz, Kanaya, kalian bisa tidak jangan ribut. Ini di Rumah Sakit, tadi saja suster sudah memperingatkan kalian. Malu kalau ada yang mendengar." lerai Laila, Fani hanya diam tak berkomentar. Ia sudah malas dan bersiap-siap untuk pulang.
Tok.. Tok.. Tok..
Semua yang berada di ruang perawatan melihat pada arah pintu yang diketuk. Rupanya itu adalah orang tua Kanaya yang datang menjenguk.
"Mama," pekik Kanaya dengan merentangkan kedua tangannya.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Juwita, ibu dari Kanaya.
"Nay baik-baik saja Ma, untung saja janinnya tidak kenapa-napa," suara manja Kanaya membuat Fani berdecih sebal.
"Ibu Juwita, apakabar? Maaf kalau harus membuat ibu datang pagi-pagi," kata Laila sekaligus menyapa besannya itu. Juwita menoleh pada Laila.
"Astaga, maaf bu Laila. Saya hampir lupa sampai tidak menyapa. Tidak apa-apa, Kanaya anak saya, kapanpun dia membutuhkan saya akan datang," senyumnya tersungging dari bibir yang dipoles berwarna merah menyala itu.
"Ma, maafkan Faiz. Ini kesalahan Faiz,"
"Sudahlah, jangan saling menyalahkan. Namanya juga kecelakaan tidak ada yang disengaja." ujar perempuan paru baya itu.
"Bu Juwita, maafkan saya sekali lagi. Bukannya saya tidak sopan dengan kedatangan ibu, tapi saya dan Fani akan pulang dulu dan kembali nanti sore. Kebetulan suami saya akan bertolak ke Singapur siang ini,"
"Ah tidak apa-apa silahkan saja bu, Faiz lebih baik kamu antarkan dulu ya ibumu. Biar Nay sama Mama,"
"Ya sudah kalau begitu, Faiz mengantar ibu dan Fani dulu ya Ma. Faiz titip Kanaya." Juwita mengangguk pelan llau mengulas senyumannya.
Selepas kepergian besan dan menantunya, Juwita mengambil posisi duduk di kursi yang berada di sebelah Kanaya.
"Kalian pasti bertengkar sampai kamu jatuh seperti ini," kata Juwita menunjukan wajah ketusnya.
"Iya, Ma. Nay bertengkar dengan Mas Faiz. Nay ketahuan sudah menyebarkan gosip tentang istri pertamanya,"
"Cih, kamu ini berani-beraninya mengotori tangan kamu sendiri. Harusnya kamu itu main yang rapi, Nay. Dengan begitu kamu tidak akan ketahuan, Mama heran sama Faiz, apa sih yang dia harapkan dari istri pertamanya itu. Bukannya Faiz bilang akan menceraikannya ya?" Juwita berdiri dengan kedua tangan menyilang di dadanya.
"Nay juga tidak tahu Ma, kemarin saja diam-diam Mas Faiz pergi ke Puncak menemui istri pertamanya itu dan itu yang membuat Nay kembali bertengkar. Gimana kalau Mas Faiz tidak mau menceraikan Maryam, Ma?" Kanaya mulai terisak, bulir-bulir bening menetes membasahi wajahnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, lama-lama publik bakalan nyangka jika kamu memang merebut Faiz. Tenang saja, Mama akan bantu kamu."
***
Bersambung..
Berikan dukungan kalian dengan komen, like dam votenya ya...
penasaran akan mamfir
rela harga diri diinjak2
klu org SDH dak suka kenapa masih memaksakan diri?
laki2 macam apa
ayo Maryam cerai aja cari laki2 yg mencintaimu