Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Tiga hari telah berlalu sejak Vivienne meninggalkan rumah Killian. Selama itu, Vivienne tidak melakukan tindakan gegabah sedikit pun. Meski hatinya dipenuhi amarah, kecewa, dan rasa ingin tahu yang begitu besar, ia memaksa dirinya tetap tenang. Ia sadar, jika ingin membongkar semua kebusukan Dominic, ia tidak boleh bertindak hanya berdasarkan emosi.
Hari-harinya pun berjalan seperti biasa. Setiap pagi, Vivienne tetap bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan bersama para pelayan, lalu duduk semeja dengan Dominic seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sesekali ia bahkan tersenyum ketika suaminya mengajaknya mengobrol, meski senyum itu terasa begitu berat untuk dipaksakan.
Seusai sarapan, seperti biasanya, ia mengantar Dominic sampai ke depan pintu rumah.
"Hati-hati di jalan," ucap Vivienne sambil merapikan kerah jas suaminya.
Dominic tersenyum hangat. Tangannya terangkat mengusap pelan pipi istrinya. "Kamu juga jangan terlalu capek. Kalau merasa lelah, langsung istirahat, ya?"
Vivienne mengangguk pelan. "Iya."
Dominic kemudian berjongkok di depan perut istrinya yang mulai membesar. Dengan senyum penuh kasih, ia mengusap lembut perut itu.
"Halo, Jagoan Papa," bisiknya pelan. "Jangan nakal di dalam sana. Jaga Mama baik-baik."
Melihat pemandangan itu, dada Vivienne terasa seperti diremas. Kalau bukan karena video yang diperlihatkan Killian beberapa hari lalu, mungkin ia akan kembali luluh melihat perhatian Dominic.
Namun sekarang, setiap sentuhan pria itu justru membuat hatinya semakin sakit.
"Apakah semua perhatian ini benar-benar tulus?" batin Vivienne.
"Atau selama ini aku hanya sedang menjadi pemeran utama dalam sandiwara yang sudah kalian susun dengan begitu sempurna?"
Mobil Dominic perlahan meninggalkan halaman rumah. Vivienne tetap berdiri memandangnya sampai kendaraan itu benar-benar menghilang dari pandangan. Barulah senyum di wajahnya perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah tatapan kosong dan luka yang semakin sulit disembunyikan.
Siang harinya, Vivienne menemui Estelle di sebuah kafe yang cukup tenang di pusat kota.
Suasana di sana tidak terlalu ramai. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan, sementara alunan musik klasik terdengar pelan dari sudut kafe. Di atas meja sudah tersedia dua cangkir kopi hangat dan beberapa lembar dokumen.
Begitu Vivienne duduk, Estelle langsung membuka sebuah map tipis yang dibawanya.
"Aku sudah menghubungi biro detektif yang dulu pernah dipakai Killian untuk menangani kasus bisnis perusahaan," ujar Estelle sambil mendorong map itu ke hadapan Vivienne.
"Mereka punya reputasi yang sangat baik. Katanya, selama ada jejak sekecil apa pun, mereka pasti bisa menemukannya," lanjut Estelle.
Vivienne mengusap pelan bibir cangkir kopinya tanpa berniat meminumnya. "Aku tidak ingin mencari-cari kesalahan Dominic. Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya," ucapnya lirih sambil menatap kosong ke permukaan kopi yang masih mengepulkan uap.
Estelle mengulurkan tangan, lalu menggenggam tangan sahabatnya dengan lembut. "Aku berpikir kejahatan mereka pastinya melibatkan banyak orang dan uang yang banyak."
"Itu pasti. Dan aku tidak akan membiarkan mereka lepas dari tanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan kepadaku," balas Vivienne.
Estelle mengangguk penuh pengertian. "Apa pun hasilnya nanti, kita hadapi bersama."
Mendengar kalimat itu, hati Vivienne sedikit menghangat. Setidaknya, di saat dunianya mulai runtuh, ia masih memiliki seseorang yang bersedia berdiri di sisinya.
Hari demi hari berlalu dengan sangat lambat. Bagi Vivienne, setiap menit terasa seperti berjam-jam. Setiap kali ponselnya berdering, jantungnya langsung berdegup kencang. Ia berharap sekaligus takut menerima kabar dari biro detektif.
Sementara itu, Dominic tetap menjalani kehidupannya seperti biasa. Setiap pagi ia berangkat ke kantor. Menghadiri rapat demi rapat. Sesekali pulang larut malam dengan alasan pekerjaan yang menumpuk. Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa setiap langkahnya kini sedang diamati.
***
Satu minggu kemudian, Vivienne dan Estelle kembali duduk di ruangan kecil milik biro detektif. Ruangan itu sederhana, tetapi tertata rapi. Beberapa rak dipenuhi map dan dokumen, sementara aroma kertas memenuhi udara.
Seorang pria paruh baya yang menjadi kepala biro berjalan menghampiri mereka sambil membawa sebuah map berwarna hitam yang cukup tebal. Ia meletakkannya perlahan di atas meja.
"Kami sudah mengumpulkan semua informasi yang berhasil kami temukan sesuai permintaan Anda," ucap Baron tenang.
Vivienne menatap map itu tanpa bergerak. Entah mengapa, tangannya mendadak terasa dingin. Jantungnya berdegup semakin cepat.
Dengan napas yang sedikit gemetar, Vivienne membuka map tersebut. Lembar demi lembar mulai ia baca perlahan. Di dalamnya terdapat catatan lengkap mengenai aktivitas Dominic selama beberapa bulan terakhir. Ada foto-foto, laporan waktu, lokasi, dan rekaman pertemuan.
Dominic dan Giselle ternyata berkali-kali terlihat datang ke tempat yang sama. Kadang mereka masuk melalui pintu yang berbeda. Kadang keluar dengan jeda beberapa menit. Kadang bertemu di restoran yang letaknya jauh dari pusat kota.
Semua dilakukan dengan sangat hati-hati. Begitu rapi dan rahasia. Tak ada tindakan yang mencolok. Tak ada gerakan yang cukup jelas untuk menimbulkan kecurigaan orang biasa. Kalau bukan karena mereka diawasi secara terus-menerus, hubungan itu hampir mustahil diketahui.
Vivienne memejamkan mata. Ia menarik napas panjang sebelum berbisik pelan,
"Ternyata semuanya memang disembunyikan dengan sangat rapi." Matanya kembali terbuka.
Estelle ikut membaca laporan itu. Semakin banyak halaman yang dibuka, wajahnya semakin serius.
"Ya Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka mereka bisa menyembunyikan hubungan ini selama bertahun-tahun," kata Estelle ikut geram.
Vivienne belum sempat menjawab. Tatapannya tiba-tiba berhenti pada halaman berikutnya. Ia membaca isinya sekali.
"Estelle, Lihat ini." Suara Vivienne hampir tidak terdengar.
Estelle segera bergeser mendekat. Begitu membaca isi laporan itu, matanya langsung membelalak.
"Mustahil ...!"
Di dalam laporan tersebut tertulis bahwa keluarga Dominic beberapa kali menghadiri acara pribadi yang juga dihadiri Giselle. Mereka bahkan tampak berbincang akrab. Tersenyum bersama dan duduk dalam satu meja. Hubungan mereka jelas bukan hubungan orang asing.
Vivienne merasakan dadanya kembali sesak. Air matanya perlahan memenuhi pelupuk mata.
"Jadi, mereka sudah tahu." Bibir Vivienne bergetar. Air matanya akhirnya jatuh.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡