NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Orang Tua yang Mengenal Namaku

"Enfin... je t'ai retrouvé."

"Akhirnya... aku menemukanmu."

Suara pria tua itu tenang.

Terlalu tenang.

Seolah ia baru saja menemukan buku yang hilang di rak perpustakaan.

Padahal...

Yang sedang ia tatap adalah aku.

Aku menoleh ke kanan.

Tidak ada siapa-siapa.

Ke kiri.

Léo sedang sibuk menghabiskan croissant terakhir.

"Maël."

bisik Léo sambil mulutnya penuh.

"Kayaknya dia ngomong ke kau."

"Aku juga punya dugaan begitu."

Pria tua itu melangkah mendekat.

Tongkat kayunya berdenting pelan setiap menyentuh batu trotoar.

Tok...

Tok...

Tok...

Marcel berdiri di depanku.

Posisinya seperti tanpa sadar sedang melindungiku.

Aku baru menyadarinya sekarang.

Selama ini...

Kalau ada masalah...

Orang tua itu selalu berdiri paling depan.

"Pergi."

ucap Marcel dingin.

Pria tua itu tersenyum tipis.

"Sudah tiga belas tahun."

katanya.

"Dan kau masih keras kepala."

Aku mengernyit.

Mereka saling kenal?

"Lama tidak bertemu, Marcel."

Marcel tidak menjawab.

Tangannya justru mengepal.

Aku belum pernah melihatnya seperti ini.

Biasanya ia santai.

Bahkan saat dikejar petugas penertiban.

Bahkan saat hujan salju.

Tapi sekarang...

Wajahnya pucat.

"Léo."

bisikku.

"Hm?"

"Apa kau tahu siapa dia?"

Léo menggeleng.

"Tidak."

"Tapi..."

Ia menelan ludah.

"...aku tidak suka wajahnya."

Aku mengangguk pelan.

"Aku juga."

Pria tua itu akhirnya mengalihkan pandangannya kepadaku.

"Jadi..."

katanya.

"Kaulah Maël."

Aku mengangkat alis.

"Kita pernah bertemu?"

"Belum."

"Lalu bagaimana Bapak tahu namaku?"

Ia tersenyum.

"Karena aku sudah mencarimu sejak lama."

── Maël kepada kalian ──

Nah.

Kalimat seperti ini...

Tidak pernah membawa kabar baik.

Kalau seseorang berkata,

"Aku sudah lama mencarimu."

Biasanya pilihannya cuma dua.

Dia penagih utang.

Atau...

Dia membawa masalah.

Dan mengingat aku tidak punya utang...

Berarti tinggal satu kemungkinan.

── Kembali ke cerita ──

"Aku rasa..."

kataku sambil tersenyum canggung.

"...Bapak salah orang."

"Tidak."

"Yakin?"

"Sangat."

Aku menunjuk diriku sendiri.

"Lihat pakaian saya."

"Sepatu saya bolong."

"Jaket saya bahkan punya lebih banyak lubang daripada kantong."

"Bapak yakin sedang mencari orang seperti saya?"

Pria itu tertawa kecil.

"Justru karena itulah."

Aku berkedip.

"Hah?"

Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya.

Sebuah foto.

Foto lama.

Sudut-sudutnya sudah menguning dimakan usia.

"Ini..."

katanya sambil menyerahkannya.

"...milikmu."

Aku mengambil foto itu.

Di dalamnya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun.

Rambut hitam.

Mata abu-abu.

Memakai mantel biru tua.

Di sebelahnya berdiri seorang pria dan seorang wanita yang wajahnya sengaja disobek dari foto itu.

Yang tersisa hanya...

Tangan mereka yang sedang menggenggam tangan si anak.

Aku menatap foto itu lama.

Lalu...

Dadaku terasa sesak.

"Anak itu..."

gumamku.

"...aku?"

Pria tua itu mengangguk.

"Iya."

Aku menoleh ke Marcel.

"Kenapa..."

"Kenapa aku tidak pernah melihat foto ini?"

Marcel memejamkan mata.

Lama sekali.

Seolah sedang mencari keberanian.

"Aku..."

Suaranya bergetar.

"...tidak ingin masa lalumu mengejarmu."

Aku menatapnya bingung.

"Masa lalu?"

Pria tua itu menghela napas.

"Lihat bagian belakang fotonya."

Perlahan kubalik foto itu.

Di sana...

Dengan tinta yang mulai pudar...

Tertulis sebuah kalimat.

"Untuk Maël. Jika suatu hari kau membaca ini, berarti kami gagal melindungimu."

Tanganku membeku.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi.

Dan lagi.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Léo ikut membaca dari sampingku.

"Maël..."

bisiknya.

"...ini bukan lelucon, kan?"

Aku hanya mampu menggeleng.

Tidak.

Ini bukan lelucon.

Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di jalanan...

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri.

Siapa sebenarnya aku?

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!