"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : MENEPIS RASA
Riko menyandarkan punggungnya ke kursi belakang mobil dengan dada yang masih bergemuruh panas. Di balik kemudi, Ivan sekretaris pribadi sekaligus tangan kanannya yang setia menyetir dalam hening membelah kegelapan malam, membiarkan tuannya menenangkan diri setelah keluar dari lokasi pesta tanpa pamit.
Kehangatan keluarga Pak Mahenra bersama Angga malam tadi benar-benar membakar harga diri Riko. Namun, di tengah amarah itu, bayangan Lulu yang tampak begitu memikat dan anggun setelah berganti gaun terus berputar di kepalanya, memicu rasa penasaran yang tak tertahankan.
"Ivan" panggil Riko tiba-tiba, menatap tajam pantulan mata sekretarisnya lewat kaca spion tengah.
"Iya, Pak ?" sahut Ivan sigap sambil tetap fokus pada jalanan.
"Kamu lihat perempuan yang datang bersama Angga tadi, kan? Yang berganti gaun di tengah acara" Riko memajukan tubuhnya sedikit.
"Cari tahu semuanya tentang Lulu. Bukan cuma profil pekerjaannya, tapi latar belakang dan apa sebenarnya hubungannya dengan Angga. Aku mau informasinya secepatnya" Ucapnya kembali.
"Baik, Pak...Segera saya proses" Angguk Ivan dengan patuh, namun pekerjaannya kali ini menambah banyak beban dalam penyelidikannya. Ia memahami betul bahwa tugas baru ini akan menjadi amunisi baru untuk atasannya tersebut.
Setelah memberikan instruksi tegas soal Lulu, raut wajah Riko mendadak melunak. Nada suaranya yang tadinya dingin dan tajam perlahan berubah, menyisakan helaan napas berat dan rasa bersalah yang mendalam. Ia teringat wajah polos Ami yang pastinya kebingungan mencarinya di pesta tadi.
"Satu lagi, Van..." gumam Riko pelan dari kursi belakang, menatap keluar jendela mobil yang kian lengang.
"Iya, Pak ?" sahut Ivan dari balik kemudi.
"Besok pagi... tolong kirimkan buket bunga mawar putih untuk Ami ke rumah Ayah ku. Tulis kartu ucapannya atas namaku. Bilang ke Ami... Kak Riko minta maaf karena harus pulang duluan dan nggak sempat pamit sama dia"
Ivan melirik sebentar lewat kaca spion tengah, menangkap guratan kesedihan di mata atasannya. Melalui mawar putih itu, Ivan tahu betul bahwa di balik amarah Riko pada keluarga Mahenra, ada satu sudut di hatinya yang selalu hangat untuk adik kecilnya itu.
****
Suara ketukan flat shoes Lulu di lantai marmer lobi kantor terdengar lebih cepat dari biasanya. Pagi itu, udara ber-AC di lantai tempatnya bekerja yang biasanya menyejukkan justru terasa begitu menghimpit.
Jemari Lulu meremas erat tali tasnya, sementara dadanya berdebar tak beraturan setiap kali pintu lift terbuka. Bayangan tadi malam saat Angga menatapnya tanpa kedip dalam balutan gaun malam hingga momen hangat kebersamaan dengan Angga saat berdua di dalam mobil pribadi pria tersebut mengantarkan Lulu pulang ke tempat kosnya terus berputar tanpa henti di kepalanya.
Lulu menarik napas panjang, mencoba menepuk - nepuk ke dua pipinya dan menata mimik wajahnya serapi mungkin. Ia harus kembali menjadi bawahan yang profesional, meski hatinya tahu batas itu sudah tak lagi sama.
"Please, Lu.. tenang" Bisiknya mencoba menenangkan diri dari pikirannya yang tak karuan.
Bagi Lulu, meja kerjanya pagi ini terasa seperti zona ujian. Ia duduk menegak, memandangi layar komputer yang sebenarnya belum ia baca sama sekali. Matanya berulang kali terlempar secara refleks ke arah pintu kaca kubikal sang manajer yang masih tertutup rapat.
"Selamat pagi" Ucap Vika menyapa Lulu dengan semangat.
"Ya selamat pagi" Ucap Lulu menjawab sapaan supervisornya tersebut dengan ramah.
Satu persatu karyawan yang lain mulai berdatangan. Lulu semakin gugup setiap kali mendengar langkah kaki mendekat di lorong, jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Lulu mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena begitu gugup.
"Dia itu manajermu, Lu. Cuma atasanmu," bisiknya berkali-kali pada diri sendiri. Namun, mengingat bagaimana Bu Marni merangkulnya dan bagaimana mata Angga terkunci padanya tadi malam, kata "profesional" mendadak jadi kata paling sulit untuk dijalani pagi ini.
"Eitss, selamat pagi nona manis dan anggun jelita" Ucap Rama menyapa Lulu beserta reka lainnya yang telah sampai lebih dulu dan bersiap menghadapi banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
"Selamat pagi wahai pangeran kodok" Ucap Vika membalas dengan sapaan lucu kepada rekannya tersebut.
"Eits,, walaupun pangeran kodok tapi tetap ada tuan putri cantik yang baik hati yang akan menerima diri ini sebagai pendamping hidupnya" Ucap Rama dengan percaya diri melirik ke arah Indah yang baru saja datang di balik pintu.
"Benar nggak Ndah,," Ucap Rama menggoda rekannya tersebut namun tak diindahkannya.
"Males banget gue" Ucap Indah dengan ketus dan tak bersemangat.
"KERJA" Ucap Vika berjalan ke arah Rama lalu memberikan setumpuk kertas yang di pegangnya untuk diselesaikan oleh rekannya tersebut. Sebagai supervisor ia sagat mengawasi rekan timnya untuk tetap solid dan tidak menunda - nunda pekerjaan mereka. Mengingat perusahaan mereka saat ini adalah salah satu perusahaan terbesar yang bergerak di bidang logistik yang pastinya membutuhkan ketekunan, kerja sama yang baik dan ketelitian tinggi dalam setiap pekerjaannya. Vika ingin memastikan semua rekannya bisa bekerja dengan baik tanpa ada mengulang kesalahan yang sama.
"Baik bu bos, OTW tempat duduk ku yang tersayang" Ucap Rama dengan penuh candaan membuat Lulu tertawa sejenak meringankan rasa tegangnya yang sejak tadi pagi melanda.
Aroma kopi pagi dan riuh suara papan ketik di ruangan itu seketika tersamar di telinga Lulu begitu sosok yang ditunggunya melangkah masuk. Angga berjalan melintasi lorong dengan kemeja kerja yang rapi dan raut wajah tegas seperti biasa kembali menjadi Manajer Angga yang disegani.
Namun, saat langkah Angga memelan tepat di dekat meja kerja Lulu dan pandangan mereka bersitatap napas Lulu tertahan seketika. Ada jeda beberapa detik yang terasa begitu lama. Tatapan Angga yang hangat membiaskan ingatan malam pesta itu, membuat pipi Lulu merona tipis di balik tumpukan berkas kantornya.
Dari balik kaca transparan ruang kerjanya, Angga berdiri menatap meja kerja Lulu. Kopi di genggamannya membiarkan uap tipis membumbung, sama riuhnya dengan pikiran di kepalanya. Pria itu menyandarkan bahu, menghela napas panjang.
"Dia cuma stafmu, Angga. Kamu cuma berterima kasih karena dia mau bantu mu" tegasnya pada diri sendiri. Namun, ingatan saat jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Lulu di mobil semalam terus mengusik rasionalitasnya. Sikap hangat dan perhatian yang ia berikan secara refleks semalam terasa begitu asing, membuat pria yang biasanya selalu penuh kendali itu mendadak kehilangan arah atas perasaannya sendiri.
Angga menatap tumpukan berkas di mejanya tanpa benar-benar membacanya. Benaknya justru tertahan pada senyum tulus Lulu saat bercanda dengan adiknya, Ami serta bagaimana ibunya merangkul gadis itu penuh kehangatan semalam. Sudah sekian lama rumahnya tak terasa sehidup itu.
Ada desiran aneh di dadanya rasa bersyukur yang teramat sangat pada Lulu karena telah membawa warna baru di tengah keluarganya. Namun, ketika rasa bersyukur itu perlahan bergeser menjadi dorongan untuk terus melindunginya, Angga mengerutkan dahi bingung. Ia tak tahu sejak kapan batas antara rasa terima kasih dan ketertarikan itu mulai kabur.
Ketika Lulu akhirnya melangkah masuk ke ruangannya untuk menyerahkan laporan pagi, Angga buru-buruk menetralkan raut wajahnya kembali dingin dan profesional.
"Laporannya sudah saya rapikan, Pak.." ucap Lulu pelan, membuang pandangan ke arah dokumen.
"Terima kasih" sahut Angga dengan suara mantap, walau matanya sempat menatap lekat jemari Lulu yang sedikit bergetar. Saat pintu ruangan kembali tertutup dan Lulu pergi, Angga menyandarkan punggungnya ke kursi kerja dan memijat pangkal hidungnya.
Kehadiran Lulu tadi malam berhasil mencairkan kekakuan keluarganya, tapi di saat yang sama gadis itu juga berhasil mengacak-acak pertahanan batin yang sudah tahunan ia bangun.
...****************...
Suara denting jarum jam dinding kantor yang menunjukkan angka 12 siang seketika mengejutkan Lulu dari lamunannya. Pandangannya yang tadinya tertuju pada layar monitor langsung beralih ke ponsel. Sebuah pesan dari Lastri menari di layarnya. Lulu mengusap dahinya, baru teringat akan janjinya untuk menjenguk sahabatnya itu siang ini.Lulu menghela napas panjang sembari meraih tas tangannya.
"Lu, kalau kamu nekat mau datang pas jam istirahat nanti, tolong banget selundupin makanan enak ya! Makanan rumah sakit tawar banget, lidahku bisa hilang rasanya 🙈 Tapi BISA DIPASTIKAN dulu kerjaanmu aman ya, jangan sampai diamuk Pak Angga! Hahahaha" Pesan singkat Lastri
Membaca nama "Pak Angga" di dalam pesan Lastri seketika membuat Lulu melirik canggung ke arah ruangan atasannya. Lulu terkekeh pelan menyadari Lastri sama sekali tidak tahu bahwa "Pak Angga" yang ia sebut-sebut itulah yang semalam mengantar Lulu dengan gaun malam. Lulu langsung mengetik balasan singkat.
"Siap! Otw !"
"Untung semalam aku nggak nekat ke rumah sakit.." Bisiknya dalam hati.
Semalam, Lulu memang sudah berencana menyempatkan diri mampir ke rumah sakit sehabis pesta. Namun, mengingat gaun anggun dan riasan tebal yang masih melekat di tubuhnya, Lulu memilih membatalkannya.
Ia tahu betul bagaimana tabiat Lastri. Sahabatnya itu pasti akan langsung memberondongnya dengan ribuan pertanyaan kepo persis seperti Ibu Ina yang memergokinya bersama Angga di depan kosan tadi malam. Membayangkan harus menjelaskan situasi romantis canggung itu semalam saja sudah membuat kepalanya mau pecah.
Dengan cekatan, Lulu merapikan dokumen di mejanya. Jam istirahat ini adalah kesempatan terbaik untuk kabur sejenak dari atmosfer canggung bersama Angga di kantor, sekaligus menemui Lastri dengan pakaian kantor biasanya.
"Vika, saya izin keluar sebentar ya saat jam istirahat ini? Mau mampir ke rumah sakit menjenguk sahabat saya yang dirawat.." Tutur Lulu sopan di depan meja kerja supervisornya.
"Boleh banget, Lu. Pergi aja, lagipula kerjaanmu pagi ini sudah beres kok. Nanti kembali setelah jam istirahat usai ya, hati-hati di jalan" Vika tersenyum hangat dan langsung mengangguk tanpa ragu.
"Terima kasih banyak, Vik!" sahut Lulu lega.
"Ram,, aku duluan ya" Ucapnya kembali berpamitan singkat dengan rekannya itu yang masih sibuk memeriksa laporan berkas pekerjaannya di tengah jam istirahat.
"Oh okey,, hati - hati ya Lu" Ucap Rama menoleh sejenak sembari melambaikan tangan kepada rekannya tersebut.
Di saat yang sama, Angga yang berdiri dekat dispenser di sudut ruangan tak sengaja menangkap pamitan Lulu. Langkah tergesa gadis itu memicu tanya di kepala Angga. Ada dorongan refleks dalam dirinya untuk menghampiri dan bertanya, atau bahkan menawarkan tumpangan seperti biasanya.
Namun, Angga menahan jalannya. Ia meremas cangkir kopi di tangannya.
"Bukan urusanmu, Angga," bisik suara logis di hatinya. Mengingat debaran aneh di mobil semalam dan nama wanita lain yang masih bersemayam di dadanya, Angga memilih mundur satu langkah. Ia sengaja mengabaikan rasa penasarannya, membiarkan Lulu menghilang di balik pintu lift demi menjaga batas profesionalitas di antara mereka.
****
"Surprise!"
Pintunya terdorong pelan dan sosok Lulu muncul dari balik pintu dengan senyum mengembang. Tangan kirinya menjinjing tas keranjang berisi buah-buahan dan camilan sehat, sementara tangan kanannya memeluk tas berisi pakaian ganti bersih yang sempat ia ambil dari kosan sebelum ke sini.
"Lulu?!" Lastri yang tadinya bersandar bosan di atas tempat tidur langsung menegakkan tubuhnya. Wajah pucatnya seketika berseri-seri.
"Kan aku udah bilang nggak usah repot-repot, Lu! Tapi... makasih banget, aduh aku kangen banget!" Tambah Lastri dengan tersenyum riang.
Setelah merapikan barang-barang dan mengupas buah untuk Lastri, percakapan hangat khas dua sahabat pun mengalir deras.
Kamu bawa baju ganti juga? Ya ampun Lulu, kamu emang sahabat terbaik sepanjang masa!" seru Lastri sambil memeluk tas baju dengan wajah lega. Kehadiran Lulu benar-benar mengusir rasa sepi yang menghimpitnya sejak kemarin.
"Biar kamu nggak bosan pakai baju rumah sakit terus, Las. Btw, gimana keadaanmu hari ini udah baikan?" Lulu terkekeh sambil menyodorkan semangkuk potongan buah segar.
Jauh lebih baik, apalagi ada kamu," sahut Lastri sambil mengunyah buah.
"Syukurlah,, kamu cepat sembuhnya ya... biar kamu bisa pulih dan beraktivitas kembali" Ucap Lulu dengan penuh haru dan perhatian kepada sahabatnya tersebut.
Di tengah obrolan hangat mereka, Lastri mendadak teringat sesuatu.
"Oh iya, Lu! Kemarin malam pas kamu nggak jadi datang, ada dokter cantik yang merawatku nanyain kamu, lho."
Mendengar hal itu, Lulu menghentikan gerakan pisau di tangannya, mengerutkan dahi bingung.
"Nanyain aku? Dokter siapa?" Tanya Lulu dengan bingung.
"Itu... dokter muda yang ramah banget. Dia bilang dia pernah ketemu kamu," cerita Lastri bersemangat.
Lulu memutar ingatan di kepalanya. Bayangan insiden di minimarket beberapa waktu lalu saat seorang dokter muda berparas cantik dan anggun menolongnya sekilas melintas di benaknya.
" oh iya, aku ingat .. ya itu dokter Anna?" Ucap Lulu pelan, matanya membelalak kaget saat menyadari siapa dokter yang dimaksud.
"Nah, iya! Dokter Anna!" seru Lastri bersemangat.
"Dia ramah banget, Lu. Pas tahu kamu sahabatku, dia sempat nanya kamu kerja di mana sekarang. Kamu kok bisa kenal dokter secantik dan sekeren itu, sih?"
"Enggak kenal dekat kok, Las. Cuma pernah ditolongin aja sekali pas di minimarket. Aku bahkan nggak tahu kalau dia praktiknya di rumah sakit ini." Lulu tersenyum tipis sambil menyodorkan potongan buah apel pada Lastri.
Lulu tidak menyadari, di balik kebaikan dan senyum anggun dr. Anna yang ia kagumi itu, ada benang merah rumit yang mengikat masa lalu dua pria di kehidupannya saat ini sosok wanita yang hingga kini masih bersemayam di hati Angga, sekaligus wanita yang pernah menjadi cinta pertama bagi Riko.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..