Indira Necelia Mahatma seorang gadis yang baik, periang dan pemberani yang bisa meluluhkan hati Andris sang ketua dan pendiri gangster Hellboy. Gangster Hellboy yang suka bertarung dan balap dengan geng lainnya termasuk dengan Logitacht yang notebenya dalah musuh terbesarnya.
Andris Matteo ketua gangster Hellboy yang disegani dan ditakuti. Dia adalah lelaki tampan yang digilai para siswi disekolah. Andris yang susah didekati dan susah meluluhkan hatinya kini menjadi kekasih Indira yang lembut terhadapnya saja.
Apa yang terjadi dalam cerita cinta mereka nantinya?
Ketika rahasia yang menyakitkan akan terungkap berlahan dan akan mengores sedikit demi sedikit hati keduanya. Tetapkah mereka akan bersama atau malah memutuskan cerita cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RuangTilyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telat Bersama
Pagi ini Indira telat bangun, ia berusaha mengumpulkan nyawa yang masih asik melayang kemana-mana. Masih dengan keadaan setengah sadar Indira mengambil seragam sekolah dan berjalan ke kamar mandi sekali-kali
menabrak nakas yang ada di sekeliling kamarnya. Selesai melakukan acara singkat di kamar mandi mengenakan seragam putih abu-abu miliknya. Indira duduk dimeja hiasnya membenarkan penampilan dengan rambut digerai begitu saja dan wajah yang hanya dioles dengan bedak my baby yang menjadi merek bedak kesetiaannya.
Indira melihat meja makan hanya tertinggal bundanya saja. “Bun, adek telat nih.”
“Kamu sih dek, dari tadi dibanguni tidak bangun-bangun. Nih sarapanmu makan dulu, biar berangkat sama bunda sekalian.” Kata Nacelia memberi piring berisi nasi goreng.
“Nggak sarapan dulu bun, nanti di kantin sarapan. Adek takut telat.” Ajak Indira.
Indira tergesa-gesa menaiki mobil bundanya yang sudah ada pak Anton sebagai supir. Hari ini Indira tidak berangkat bareng sama Delvin karena Delvin ada keperluan pertukaran osis nantinya.
“Pak ayo cepat, nanti turuni Indira agak jauh dari daerah sekolah.” Kata Indira saat Nacelia sudah masuk mobil.
“Baik non.” Sahut Pak Anton melajukan mobil majikannya.
Andris yang terlambat juga tengah melajukan motor sport biru di atas rata-rata. Dari kejauhan ia melihat ada sesosok perempuan yang tak asing baginya. Andris melanjukan motornya menghampir perempuan yang sedang berlari menunju sekolah.
“Naik.” Kata Andris masih menghidupkan motornya.
“Ogah, itu sekolah sudah dekat. Kau duluan saja.” Tolak Indira masih berlari.
“Naik atau kau tidak masuk.” Peringat Andris.
Indira melirik jam tangannya 3 menit lagi gerbang tertutup dan tidak bisa masuk dengan alasan apapun. Dan Indira menaiki motor sport Andris dan ia melihat kesusahan Indira seperti biasa dan roknya agak naik. Tanpa
basa-basi Andris langsung tamcap gas.
Indira dan Andris kini berada dilapangan yang sedang upacara. Mereka disuruh berbaris dibaris disirna matahari menghadap mereka. Indira menyeka keringat yang mengalir karena sirna matahari semakin cerah dan
ia merasa tenggorakannya haus. Andris yang melihat keringat Indira bercucuran memberi sapu tangan yang selalu ada di saku celananya. Dua sejoli tersebut kini menjadi pusat perhatian ketika Andris memberi sapu tangan pada Indira.
“Terima kasih senior.” Ucap Indira menerima sapu tangan itu.
Andris hanya mengganggukan kepala dan satu tangan kanan Andris berada di atas kepala Indira menghalang sirna supaya tidak terkenak Indira secara langsung. Indira yang melihat tangan Andris merasa canggu apalagi semua tatapan tertuju pada mereka.
“Nggak usah gitu senior, turunkan tanganmu. Jangan buat perhatian tertuju pada kita. Dengar dan lihat mereka berbisik-bisik.” Kata Indira menurunkan tangan Andris.
Tidak memperdulikan ucapan Indira dan tatapan siswa yang lain, Andris tetap setia menghalangkan sirna matahari tersebut. Melihat siswa-siswa gesar-gerusuk guru yang bertugas tadi menghampiri Indira dan
Andris.
“Kalian dua sudah telat buat keributan lagi. Dan kamu Andris turunkan tanganmu, ini bukan tempat untuk memamerkan acara pacaran!” Tegas guru tadi.
“Siapa yang buat ribut pak? Kami dari tadi diam saja, yang ribut itu siswa-siswa yang berbaris disana.” Ujar Indira menujuk baris di depannya.
“Kamu menjawab lagi, apa ini yang di ajarkan Andris samamu!” Bentak guru tersebut.
“Jangan membentak. Kalau bapak tidak mau ada keributan, kami pindah kesana atau aku akan tetap seperti ini.” Kata Andris menunjuk tempat teduh.
“Pindah sekarang.” Ucap guru tersebut tidak mau ambil pusing.
Mata Delvin dari tadi selalu memperhatikan Indira yang dihuku, ia merasa bersalah karena tidak bisa menjemput Indira dan mengakibatkan Indira telat dan dihukum.
Upacara hari ini memakan waktu yang lama bukan seperti biasa. Karena hari ini pergantian priode osis, dimana akan ada pelepasan jabatan dan mengsahkan jabatan. Delvin sang ketua osis harus melepaskan masa jabatannya dan menyerahkan jabatan kepada Juna sebagai ketua osis yang baru.
Tak terasa upacara hari ini sudah selesai, semua barisan dibubarkan tapi tidak dengan barisan yang terlambat. Barisan yang terlambat masih diberi hukuman agar tidak terlambat lagi dihari senin.
Pak guru yang tadi bertugas memberi aba-aba pada siswa-siswi yang terlambat, Indira dan Andris dihukum membersihkan taman belakang. Mereka langsung berjalan bersama menunju taman belakang.
“Tunggu disitu.” Kata Andris sampai ditaman belakang.
“Mau kemana kau? Mau meninggalkan aku sendirian disini dan kau pergi tanpa tanggungjawab?” Ucap Indira.
“Otakmu terlalu buruk menilaiku.” Kata Andris menghampiri Indira.
“Mau ambil alat pembersih.” Sambung Andris dan pergi meninggalkan Indira.
Indira merasa bersalah terlalu menilai buruk Andris. Ternyata Andris cowok yang masih bertanggungjawab.
Tak terasa Indira dan Andris telah selesai membersihkan taman belakang sekolah. Indira duduk dibawah pohon yang ada disana untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah. Untung hari ini jam pertama dikosongkan karena pegantian osis tadi jadi Indira masih bisa beristirahat sejenak.
“Senior, sini duduk. Kita istirahat dulu sebelum bel jam kedua bunyi.” Kata Indira menyuruh Andris duduk disebelahnya.
Andris langsung duduk disebelah Indira yang menyenderkan tubuhnya dipohon. “Senior maaf dan makasi buat semuanya.” Sambung Indira melirik Andris.
“Hem.” Kata Andris singkat.
“Senior kan sudah janji mau berkosa kata lebih dari dua kata. Kenapa sekarang jawab hanya hem hem dan hem. Nanti mulutnya kurang bergerak jadi kaku dan giginya sakit” Celetuk Indira.
Andris hanya tertawa kecil mendengar ucapan Indira yang tidak ada takut sama dirinya.
“Kenapa malah ketawa sih? Emang lucu ya atau kau lagi keserupan penghuni pohon ini” Ucap Indira yang mendapat angkan dari Andris.
“Panggil aku abang biar aku tidak terlalu cuek.” Kata Andris tersenyum licik.
“Itu maumu dipanggil abang. Ogah, itu hakmu mau gimana cara bertutur kata.” Jawab Indira bercanda.
Andris langsung berdiri mendengar kata Indira tadi. “Mau kemana, kan belum bel. Ngambek ya? Gitu saja pakai acara ngambek.” Sambung Indira.
Andris yang berdiri langsung menatap Indira dengan tatapan mematikan.
“Wujud horornya sudah keluar. Hahahaha. Ok deh kali ini aku mau nutur katamu, aku mau panggil kau bang And. Gimana bang And?” Kata Indira dengan kekehannya.
“Ok.” Sahut Andris kembali duduk disebelah Indira.
Andris mengambil ponsel dan headset disaku celananya. Andris memutar lagu yang ada di ponselnya dan memberikan headset satunya pada Indira.
"Ini." Kata Andris memberi headset.
Indira menerima dan memasang headset satunya ketelingganya dan satu headset lagi ditelingga Andris.
Jam kosong yang digunakan Indira dan Andris bersantai dibawah pohon sambil mendengarkan musik dengan satu headset.
Dibalik tembok yang tidak jauh dari keberadaan Indira dan Andris ada sesosok orang yang melihat kejadian itu.
--------------------
Bagi pembaca yang baik hati tolong beri dukungan buat author ☺️☺️ dengan cara :
saran/komen
Like
Vote
Favorit
Vote
Bintang Lima/rate lima
kalau ada rejeki boleh kasih tip seberapapun buat authornya☺️☺️
Terimakasih, Salam hangat dari The Gangster Boy❣️
next kk semngt💪💪
Next kk,,,semangat kk buat nulisnya