Jika ada yang meniru cerita dan penggambaran dalam novel ini, maka dia plagiat!
Kali ini Author mengangkat ilmu hitam dari Suku Melayu, kita akan berkeliling nusantara, Yuk, kepoin semua karya Author...
"Jangan makan dan minum sembarangan, jika kau tak ingin mati secara mengenaskan. Dia menyusup dalam diam, membunuh secara perlahan."
Kisah delapan mahasiswa yang melakukan KKN didesa Pahang. Bahkan desa itu belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Beberapa warga mengingatkan, agar mereka jangan makan suguhan sembarangan, jika tak ingin mati.mengenaskan...
Apa yang menjadi misteri dari desa tersebut?
Apakah kedelapan Mahasiswa itu dapat selamat?
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Malam yang dingin, dan suara petir yang menggelegar, membuat suasana dirumah kos semakin suram.
Mereka keluar dari kamar, lalu memilih tidur diruang tengah secara beramai-ramai, sebab aroma anyir dari darah yang dimuntahkan oleh Kiky menguar didalam ruang kamar.
Perlahan Kiky mulai menggigil, dan saat bersamaan, ia kembali memuntahkan darah yang cukup banyak, dan membuat yang lainnya histeris.
Malam yang tadinya tenang, kini berubah menjadi mencekam.
Mereka mengambil wadah baskom, lalu mengantisipasi jika gadis itu akan muntah lagi. Semua dalam kecemasan, dan bingung harus berbuat apa.
*****
"Ayo," Darmadi menunggu Kiky diatas motor, dan gadis itu mengangguk lemah, ia naik keatas boncengan.
Rekan-rekannya menatap Kiky dengan cemas dan penuh harap, semoga ia mendapatkan kesembuhan.
Darmadi mengendarai motornya. Menuju ke rumah Atok Hasyim, tempat dimana mereka berobat waktu itu.
Saat memasuki dusun, jalanan ternyata cukup licin, sebab terdiri dari tanah lumpur, dan belum ada pembangunan.
Darmadi harus berhati, dan karena takut terjatuh, gadis itu memilih untuk turun, dan ia berjalan kaki melewati jalanan yang cukup ekstrem.
Saat bersamaan, ia melihat seseorang sedang memantaunya dibalik pohon sagu, tatapannya sangat dingin, dan hal itu membuat Kiky balik menatapnya.
Ia sangat membenci pria itu, dan ia berdoa, agar rasa sakitnya lebih parah dirasakan oleh pria tersebut, saat nantinya akan menjemput ajal.
Tatapan pria itu sangat sinis. Tidak ada rasa penyesalan sedikitpun, ia seolah merasa seperti sedang berada diambang kemenangan saat melihat korbannya dalam kondisi sekarat.
Kiky memalingkan wajahnya. Namun hatinya sangat berisik. Ia melangkah melewati jalanan becek dengan hati-hati, tak ingin sampai terjatuh didepan seseorang yang sudah menghancurkan hidupnya.
Pria sepuh itu menarik sampan yang berada didalam parit dan mengayuhnya hingga bertemu dengan sungai.
Sementara itu, Kiky dan Darmadi kembaki berboncengan, setelah menemukan jalan yang tidak licin, mereka menuju ke rumah Atok Hasyim.
Setibanya dirumah tersebut. Keduanya disambut oleh pria tua berwajah teduh wajahnya terlihat sangat berkharisma, memperlihatkan banyaknya basuhan wudhu yang membuat wajahnya terlihat glowing, meski tanpa skincare.
Ia menatap wajah Kiky, ada sebuah rasa iba dihatinya, tetapi tak ingin mengungkapkannya.
"Asssalammualaikum, maaf, Tol. Kami mengganggu lagi." Darmadi menjabat tangan pria itu, dan merasa sungkan, karena terus merepotkan.
"Waalaikum salam, masuklah." ajaknya pada kedua mahasiswa tersebut.
Kemudian mereka memasuki rumah. Ia melihat wajah gadis itu sangat pucat, dan saat ini, Kiky merasakan jika tulangnya terasa ngilu.
"Maaf, Tok. Tadi malam Kiky salah makan, dia gak fau kalau keripik yang dimakannya berbahan keladi, sampai membuatnya kembali kambuh, dan muntah darah," Darmadi menjelaskan apa yang terjadi.
"Ya, Atok tau itu." ia kembali mengambil dzikirnya, dan mengambil air putih untuk menawarkan racun yang sudah menggerogoti paru-parunya.
"Banyak-banyaklah berdoa, agar Allah membuka ridha-Nya." pesan pria tersebut.
Ia memejamkan kedua matanya. Sesaat ia kembali membukanya, ada rasa sesak didalam dadanya.
"Ikutlah denganku." ia mengajak Darmadi untuk keluar dari rumah, lalu berteduh dibawah sebuah pohon cermai yang sedang berbuah rindang.
Mereka terlihat mengobrol cukup serius, dan Kiky memperhatikannya dari kejauhan.
Setelah cukup lama, akhirnya mereka kembali masuk ke dalam rumah. Wajah mereka terlihat datar, tanpa ekspresi apapun.
Kemudian, pria itu kembali membaca dzikir dalam hatinya, dan meniupkannya dalam sebuah gelas berisi air putih.
"Baca shalawat, dan berdoa untuk kesembuhan." ucap pria itu, sembari memberikan gelas kepada sang gadis.
Darmadi hanya menatap semuanya dengan nanar. Lalu terlihat Kiky meneguk air tersebut hingga habis.
Rasa sesak didadanya sedikit berkurang, dan ia dapat bernafas lega.
"Terimakasih, Tok," ucapnya dengan lirih.
Ya, jangan lagi melanggar pantangan," pesannya pada gadis tersebut.
"Insya Allah, Tok." jawabnya. Lalu memberikan sekilo gula dan juga satu kotak teh.
"Ini penajamnya, Tok," ia menyerahkan satu kantong kresek yang berisi gula pasir dan teh.
"Terimakasih. Tak perlu repot-repot begini, yang terpenting kamu sehat," ucapnya dengan penuh prihatin.
"Tidak apa, Tok. Saya yang sungkan, karena terus merepotkan," jawab Kiky.
"Saya yang sungkan, dan memohon maaf, karena salah satu warga kami yang sudah berbuat tidak baik, dan menimbulkan bencana pada tamu yang seharusnya kami hargai dikampung ini," ucapnya dengan nada penuh penyesalan.
Ia merasa, jika sampai ada korban jiw, maka kampung mereka akan dicap buruk, dan tersemat sebuah cap negatif, yang kelak akan menjadi sebuah kisah pahit dan coretan hitam.
"Yang berbuat segelintir orang, namun yang menanggungnya satu kampung," pria itu menimpali ucapannya.
Tarikan nafasnya terlihat sangat berat. Ia sering mendengar cibiran dari kampung lain, ataupun masyarakat luar, yang menyatakan jika desa mereka adalah desa beracun.
Sebab banyaknya korban jiwa yang jika baru saja berkunjung kewilayahnya, dan makan sembarang, maka ketika pulang, akan membawa penyakit yang tak dapat disembuhkan.
Bahkan jika ada hajatan, warga luar daerah yang mendapat jodoh anak dari desa mereka, maka momok dan bayang-bayang saat akan pesta resepsi membuat sebuah kesan negatif yang sangat melekat.
Mereka tidak akan berani makan dilokasi hajaran, dan memilih untuk membawa bekal dari rumah, dan bahkan memilih membatalkan pernikahan , karena takut jika ada diantara mereka yang merupakan keturunan dari peracun, atau mungkin salah satu dari keluarga mereka ada yang memiliki ilmu racun santau, maka mereka memilih untuk mundur.
Kiky dan Darmadi berpamitan. Keduanya kembali ke kos, dan para rekan mahasiswa sedang menanti mereka dengan harap-harap cemas.
Fitri dan Andana masih terlihat sibuk dengan kegiatan yang sedang mereka susun. Menurut informasi, akan ada ibu-ibu PKK yang merupakan utusan dari Bupati, dan yang mengejutkannya lagi, sang ibu Bupati datang langsung untuk melihat kegiatan tersebut.
Mereka akan membuat berbagai hasil karya dan makanan yang akan mereka tampilkan untuk dipraktikkan nantinya.
Saat bersamaan, terlihat Darmadi datang bersama Kiky. Gadis itu tampak mulai membaik, tetapi Darmadi terlihat sangat berbeda, ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
"Gimana, Bang?" tanya mereka, saat melihat keduanya sudah kembali.
"Semoga sembuh," jawab Darmadi. Lalu masuk kedalam rumah.
Kiky mencoba tersenyum, melihat para rekannya menyambutnya dengan rasa khawatir.
"Maafin aku, ya. Sudah buat kalian cemas," ucapnya dengan lirih. Wajahnya terlihat pucat, tetapi berusaha untuk tegar.
"Kamu yang semangat, ya. Pasti bisa sembuh!" Yulia mencoba menyemangati gadis itu.
"Iya, aku semangat, Kok." senyumnya kembali merekah, dan berharap, jika apa yang sedang dialaminya akan segera berakhir.
"Apa saja jadwal kegiatannya, And?" tanya Darmadi, setelah selesai dari arah belakang,"
"Besok ada acara dengan ibu PKK, kabarnya istri Bupati juga ikut," sahutnya. Ia mendapatkan informasi itu dari ibu Kades yang merupakan ketua ibu-ibu PKK didusun mereka.
semoga cepat ada jalan keluarnya . biar tenang. hidup tentram.. aman ,damai
hadeuh gadis jaman sekarang jauh lebih berani ya shay
siap-siap nih dpt traktiran dr bang Darmadi 👏👏👏
makin banyak yang ngantri nih...🤭
hahhhh dehhh kok ya ngeri sekali