NovelToon NovelToon
Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat

Status: tamat
Genre:Komedi / Nikahmuda / Obsesi / Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Tamat
Popularitas:20.6M
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

( DALAM TAHAP REVISI)

Bibit, bebet dan bobot seringkali menjadi tolak ukur pernikahan di kalangan Ningrat tanah Jawa. Tapi, apa jadinya jika cewek metal pegawai laundry menjadi istri seorang Ningrat? Akankah dia diterima menjadi bagian dari keluarga darah biru dan sanggup mengenyahkan sifat liarnya demi sang suami tercinta? Ataukah dia hanyalah wanita dengan status yang di pertanyakan?

“Bahkan jika kakiku sampai berdarah-darah, aku tetap akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Mas!” ~ Rinjani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. [ Gosong ]

Aku mengetuk pintu kaca itu berkali-kali, menggodanya agar berbalik kearahku. Pemilik punggung bidang itu berbalik lalu menatapku, kami berdua sama-sama saling menatap. Hanya terdiam berdiri terhalang pintu ini. Jika sorot mata kami memancarkan cahaya laser, sudah ku pastikan kaca ini akan meleleh. Tidak tahan dengan tatapan kedua pasang mata yang mengisyaratkan rindu.

Aku membuka pintu kaca, membiarkan Kaysan masuk ke dalam toko dan menguncinya lagi, "Kenapa dikunci?" tanyanya saat aku melempar kunci itu ke atas etalase.

"Belum waktunya buka." Aku menunjuk jam dinding dan menyandarkan punggungku didinding tembok.

"Mas, darimana saja? Kenapa mas tidak menghubungiku?" tanyaku memberondongnya tanpa jeda. "Mas lupa sama Rinjani? Atau mas cuma main-main sama Rinjani?"

Laki-laki ini hanya berdiri sambil mengulas senyum, apa aku terlihat lucu jika sedang cerewet seperti ini, "Hentikan senyumanmu, Mas. Itu meracuni pikiranku."

"Aku kerja, aku juga mencari ibu, maaf. Tapi bukannya Jani punya nomerku?"

Dia angkat bicara sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi plastik.

"Tau darimana kalau Jani punya nomer mas?"

"Ibu Rosmini." jawabnya singkat masih dengan wajah datarnya.

"Ibu Rosmini?" Pikiranku langsung melayang-layang ke tanda cinta yang aku buat. Apa pemilik bibir menor itu juga bilang tanda cinta itu, oh Astaga. Mau ditaruh dimana muka ku yang sudah merah seperti kulit Cherry.

"Ada apa mas kesini? Pagi-pagi lagi, mas tidak kerja?" Berusaha mengalihkan pembicaraan dari topik ibu Rosmini.

"Mas tahu, Jani." Bibirnya sudah melengkung ke atas. Tersenyum lagi-lagi.

"Tahu apa?"

"Pena hitam tanda cinta."

Wajahku merekah, sudah tidak bisa aku sembunyikan lagi saat Kaysan mendekatiku ke arah tembok.

"Mas, jangan salah paham dulu."

"Aku tidak salah paham, katakan Jani." pintanya lirih.

"Katakan apa mas?"

Tangan Kaysan ia taruh diatas kepalaku, jarak begitu dekat diantara kami. Bahkan ujung kepalaku bisa merasakan hembusan nafasnya. Kepalaku mendongak berusaha menatap Kaysan. Bingung dengan arah pembicaraannya.

"Katakan arti tanda cinta dengan pena hitam itu?"

"Yang benar saja mas." sanggahku cepat.

"Aku tidak pernah mendapat penolakan atau bantahan Rinjani."

Astaga, anak Raja ini jika sudah menggunakan gelarnya memang menyebalkan. Aku memegang pinggangnya, tanganku memang sudah lancang, "Itu hanya tanda saja mas, yang aku sematkan dalam tulisanku. Jika boleh nanti aku sematkan juga dihatiku." kataku malu-malu.

Dengan cepat aku menyembunyikan wajahku di ketiaknya yang harum. Aku sudah malu, mau berbohongpun tidak mau. Tidak ada gunanya pula. Bukannya satu hal penting dalam hubungan adalah kejujuran.

Kaysan mengelus rambutku, aku merasakan jika bibirnya mengecup ujung kepalaku.

Tubuhku merinding. Bau harum ketiaknya berubah menjadi bau gosong. Dengan cepat aku mendorong tubuhnya. Sekonyong-konyong aku berkar ke dapur yang berjarak tiga meter dari tempatku berdiri.

Ku lihat asap hitam mengepul dari wajan penggorengan. Ayamku yang tadinya berwarna kuning keemasan kini menjadi gosong, warnanya hitam pekat.

"Ada apa, Jani?" tanya Kaysan yang sudah berdiri dibelakangku. Ia melihatku sedang mematikan kompor sambil membolak-balik ayam dengan spatula.

"Kedatangan mas memang tidak tepat. Sekarang kami tidak bisa sarapan." Keluhku sambil duduk disofa lama.

"Kami siapa, Jani. Apa ada temanmu yang akan kemari?" Raut wajah Kaysan berubah menjadi curiga dan penuh tanda tanya.

"Kami mas, kami. Aku dan cacing-cacingku." Aku mengusap perutku yang sudah keroncongan. Ku lihat bibirnya melongo, sambil mengangguk.

"Aku pesankan sarapan lewat ojek online."

Dia duduk disebelahku, aku memandangi jemuran dan dia memandangi HPnya.

"Mas kenapa tidak menghubungiku?" tanyaku saat ia sudah menyelesaikan pesanan daringnya.

"Ada banyak hal yang perlu aku kerjakan. Termasuk mengerjakan tugas yang kamu berikan sebelum aku diizinkan untuk meminangmu, Rinjani."

Kami melihat objek yang sama, jemuran yang tergantung dan terpapar sinar matahari. Terombang-ambing oleh semilir angin.

"Mas tahu siapa ibuku? Memang mas cari kemana?" tanyaku penasaran dengan jawaban Kaysan.

Tapi yang ku dapati dia malah mengalihkan objek pandangannya ke arahku. Aku tersipu, tatapan itu membuat hatiku berdesir, melonjakkan gejolak mudaku. "Mas, eh mas. Jangan dekat-dekat!" Aku menahan bahunya. Saat keningnya sudah berada di keningku, "Hanya sebentar saja." katanya sambil memejamkan mata, aku bingung. Mau apa dia...

Akhirnya aku ikut memejamkan mata. Ikut mendramatisir suasana.

Sudah tidak tahu berapa menit jarum jam berputar, kami masih berada di posisi yang sama. Saling menempelkan kening dan berbagi oksigen bersama.

Lama terpejam, hingga satu tarikan dirambutku membuatku mengaduh.

"Awww, sakit mas. Ngawur." Aku menggaruk bekas pori-pori rambutku yang ia tarik, gatal.

"Aku hanya minta satu, rambutmu lebat, Jani." Dia mengantongi rambutku ke dalam plastik putih dan menyelipkan di kantong kemejanya.

"Untuk apa mas?"

"Untuk memastikan."

"Memastikan apa?"

Jari telunjuknya ia taruh ke depan mulutku, yang berarti menyuruhku untuk diam.

"Mas gak asik main rahasia-rahasiaan, Jani,'kan jadi penasaran." Aku mengerucutkan bibirku.

"Jangan buru-buru, nanti kalau hasilnya sudah keluar. Aku beri tahu." Kaysan menyelipkan anak rambutku, kemudian ia berdiri merapikan bajunya.

"Mas mau kerja? Mas kerja dimana?" Aku penasaran, sempat-sempatnya dia mengunjungiku sebelum berangkat kerja.

"Nanti kalau sudah menikah, Jani akan tahu."

Kaysan mengelus pipi kiriku, matanya seperti memancarkan aura kepedihan, kekhawatiran yang tidak tahu itu apa.

"Mas tidak mau menemani Jani sarapan?" Rasanya aku tidak rela melepasnya setelah 4 hari tidak bertemu. Tapi aku tahu dia pasti memiliki tanggung jawab sendiri.

"Aku harus kerja, Jani. Nanti aku hubungi kamu." Dia melangkahkan kakinya menuju pintu kaca, pintu perpisahan kita.

"Mas janji?"

Kaysan mengangguk.

"Mas gakmau kasih Jani salam perpisahan?" kataku sambil menahan tangannya, tangannya yang berotot membuat jari-jari kecilku seperti jari anak kecil yang menggenggam tangan ayahnya. Nyaman...

"Tunggulah sarapanmu datang dan makanlah. " Kaysan hanya mengelus lagi pipi kiriku.

"Mas, jangan lupa makan siang Rinjani nanti." Entah ada dorongan apa, tubuhku tiba-tiba memeluknya, "Mas hati-hati ya." kataku lirih, ia hanya menempelkan lagi keningnya di keningku.

"Bersabar sebentar lagi."

Pagi itu, dia meninggalkan ku lagi. Tidak banyak yang kami bicarakan. Hanya pembicaraan remeh temeh yang tidak berujung pada pembahasan tentang pernikahan.

Selang setengah jam pesanannya datang, aku menerimanya dengan senang hati. Masakan yang dia pilih adalah masakan yang sama seperti yang gosong tadi. Rasanya bahkan lebih enak dari masakanku. Sepertinya memang aku tidak berbakat untuk masak, lalu besok siapa yang memasak untuk Kaysan.

Masa bodoh, lebih baik aku isi dulu perutku sebelum aku berubah menjadi singa yang MaPar (marah dan lapar).

Lanjut... Like dulu 💚🙏

1
Rila Finka
🤣🤣🤣Pintu oh pintu beruntungnya kamu di jaga 2 cowok kembar yg ganteng2 🤣🤣🤣
Rila Finka
dasar indy
Rila Finka
ihuyyy😍😍
mams dimas
Kecewa
mams dimas
Buruk
mams dimas
sampe kalian jadi kakek nenek dan mas kay meninggal...pokok nya panjannnnng buanget😁😁😁
Alif Refalino Refalino
Banyak paket yg hilang ya min ,dlu baca novel ini puanjang bgt
Alif Refalino Refalino
Nanang emang kyk baskara ekspektasi ku khayalan
Alif Refalino Refalino
Ayahnda di rumah bu sasmita kyk menemukan jati dirinya sndri kepada keluarga kecilnya
Ulil Baba
emang kuda lumping kesurupan kok kembang sajen
Ulil Baba
atu tenan lek Podo menungsone,, seng bedakne Lanang wedok e
may
Aku tetep nangis di part ini walaupun udah berulang kali baca
may
Hai mas nanang🤭
may
Hai rinjani dan mas kaysan, aku kembali lagi kesini, aku sudah 3x membaca kisah kalian, terimakasih mbk selvi sudah menciptakan karya sebaguss ini❤️
may
Luar biasa
may
Aku langganan sumber selamat bun😭
mom SRA
Luar biasa
mom SRA
ini novel ke 2 otor yg ku baca,liat babnya sampai ratusan bikin pala pening tp penasaran 😁😁
Partini Minok Nur Maesa
band dr jogja thor bkn solo
Partini Minok Nur Maesa
santosa mlh mikirin nina.klo langsinv bisa mirip nina zatulini san
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!