Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obat Perangsang
Setelah perjalanan hampir dua jam, mobil Adipati akhirnya memasuki area parkiran restoran mewah di pusat kota. Mesin dimatikan. Adipati turun lebih dulu, berjalan memutar lalu membukakan pintu untuk Selina.
“Silakan,” ucapnya lembut.
Selina turun. Adipati langsung menggandeng tangannya, seolah memberi isyarat bahwa ia tidak sendirian. Mereka melangkah masuk ke dalam restoran yang tampak elegan dan ramai.
Begitu masuk, seorang pria menghampiri dengan wajah antusias.
“Hei, Raden! Apa kabar bro?”
Adipati tersenyum tipis.
“Baik.Lo sendiri gimana?”
Pria itu melirik Selina dari ujung kepala sampai kaki.
“Gue baik juga, Eh buset… bening banget.Siapa?”
Adipati langsung merapatkan Selina ke sisinya.
“Kenalin. Ini bini gue.”
Selina mengangguk sopan.
“Selina.”
Pria itu terkekeh.
“Gue Arga, owner restoran ini. Gila ya, nggak nyangka lo sekarang udah sukses… dan punya istri secantik ini.”
Belum sempat Selina menjawab, dua pria lain mendekat.
“Eh, Raden! Setelah lulus kuliah lo ilang, tau-tau sekarang muncul bawa istri,” kata Imanuel sambil menepuk bahu Adipati.
Vito ikut menimpali sambil tertawa kecil.
“Gue kira lo masih belum move on dari Sinta.”
Selina merasakan genggaman tangan Adipati sedikit menguat.
Tiba-tiba, seorang perempuan berambut panjang mendekat dengan senyum lebar—terlalu lebar.
“Raden…” suaranya dibuat lembut.
“Apa kabar? Aku kangen banget sama kamu.”
Sinta melangkah mendekat, membuka tangan hendak memeluk.
Namun Selina refleks memajukan kakinya sedikit membuat Sinta tersandung.
“Aduh!”
Sinta kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di depan mereka.
Beberapa pengunjung menoleh.
Selina langsung menunduk, wajahnya dibuat cemas.
“Mbak nggak apa-apa?”
Sinta mendongak dengan wajah merah padam.
“Kamu sengaja, ya? Mau bikin saya jatuh?”
Selina mengerjap polos.
“Sengaja? Emang saya ada motif apa, Mbak? Kita aja baru ketemu jangan souz'on. ”
Ia menatap lantai sebentar lalu kembali ke wajah Sinta.
“Lagipula, Anda kan jatuh sendiri… nyungsep malah.”
Beberapa orang menahan senyum.
Sinta berdiri dengan kasar, menoleh ke Adipati.
“Raden, tolong kasih tau istri kamu yang kampungan ini—dia nggak punya etika sama sekali!”
Selina hendak bicara, tapi Adipati lebih dulu melangkah maju, suaranya dingin.
“Kamu yang harusnya jaga ucapan kamu, ngatain orang kampungan ngaca dong.”
Sinta tertegun.
Adipati menatapnya tanpa emosi.
“Selina istri gue. Dan di sini, yang nggak punya etika itu orang yang gak tau batas. ”
Ia kemudian menoleh ke Selina, suaranya melunak.
“Ayo. Kita duduk kamu pasti capek berdiri aja.”
Selina mengangguk, masih menggenggam tangan Adipati erat-erat.
Sinta menegakkan tubuhnya, menatap Selina dengan sorot penuh dendam.
“Awas kamu… nanti gue balas,” gumamnya dalam hati.
Arga berusaha mencairkan suasana sambil bertepuk tangan kecil.
“Udah, udah… santai. Kalian mau pesan apa? Hari ini gratis.”
Adipati mengangkat alis.
“Serius lo?”
“Serius,” jawab Arga sambil menyeringai. “Tapi ada syarat.”
“Apa?” tanya Adipati curiga.
“Nanti lo naik panggung. Nyanyi. Buat ngisi acara malam ini.”
Selina menoleh ke Adipati, matanya berbinar.
“Kamu bisa nyanyi, Mas?”
Sebelum Adipati menjawab, Vito langsung nyela.
“Bisa banget. Dulu dia vokalis band kampus. Cewek-cewek ngantri.”
Selina tersenyum kecil.
“Oh ya?”
Imanuel mendekat dan berbisik, nadanya campur iri.
“Gila ya… dulu lo yang paling miskin di antara kita. Sekarang datang bawa McLaren.”
Ia melirik ponselnya sendiri.
“Gue kerja jadi karyawan aja cuma bisa rental Pajero, HP juga iPhone nyicil.”
Adipati menoleh tenang.
“Alhamdulillah yang penting punya pekerjaan,disyukuri aja banyak di luar sana yang nganggur.”
Imanuel terdiam.
Arga menyilangkan tangan, senyumnya tipis tapi menusuk.
“Bagi tipsnya cepat kaya dong,Den.”
“Lo nganggur perasaan sejak orang tua meninggal kenapa sekarang punya segalanya.”
Ia mendekat sedikit.
“Lo main judi ya? Atau jangan-jangan lo hidup dari jual warisan orang tua?”
Selina langsung berdiri, suaranya tegas.
“Maaf ya, Mas Arga. Suami saya gak pernah nganggur. Dia Work From Home jangan sembarangan Menuduh.”
Arga melirik sinis.
“Oh ya?”
Adipati justru tersenyum santai dan berbisik ke Selina.
“Udah. Biarin aja mereka nganggep Mas miskin.”
“Lumayan, jadi gak ada yang minjem duit.”
Selina hampir tertawa.
Vano ikut nimbrung sambil menggeleng-geleng.
“Ya kita masih gak percaya sih… mendadak banget beberapa tahun langsung kaya,kita kerja sama orang aja gali lubang tutup lobang.”
“Bahkan mahar nikahan lo aja lima miliar.”
Ia melirik Selina terang-terangan.
“Buat cewek kayak dia… harusnya lo bisa dapet artis, atau minimal Sinta. Anak orang kaya.”
Adipati menegakkan bahu, suaranya dingin.
“Ada apa memangnya dengan Selina?”
Vano terdiam.
“Istri gue ini, ” lanjut Adipati, “wanita berprestasi.”
“Lulusan kedokteran.”
“Kalau cuma cantik dan kaya banyak ,tapi kalau kecerdasan anak itu dari ibunya.”
Sinta yang sejak tadi diam tiba-tiba duduk di sebelah Adipati, terlalu dekat.
“Aku tau Raden hati kamu hanya untuk ku, dia hanya pelarian kamu aja. ” katanya manja.”
“Aku anak orang kaya, cantik, S2, relasi luas.”
Adipati menoleh perlahan, tatapannya tajam.
“Cantik doang percuma,” ucapnya datar.
“Kalau murahan kaya wc umum.”
Ruangan mendadak senyap.
Wajah Sinta menegang.
“Kamu keterlaluan!”
Selina menyandarkan tubuh ke kursi, suaranya lembut tapi menusuk.
“Oh… ternyata kamu ani-ani ya?”
Ia tersenyum tipis.
“Tenang aja, aku dokter.”
“Mau aku cek sekalian? Biar tahu kamu mengidap hiv atau nggak."
Sinta yang kesal lalu melangkah cepat menuju toilet. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras menahan amarah.
“Kurang ajar… berani-beraninya mereka mempermalukan gue didepan umum,” gumamnya di depan cermin.
Ia menarik napas panjang, merapikan riasannya, lalu keluar dengan wajah yang sudah kembali tenang—terlalu tenang.
Di lorong, ia memanggil pelayan dengan isyarat jari.
“Mas, sini sebentar.”
Pelayan itu mendekat dengan ragu.
“Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?”
Sinta menurunkan suara, matanya melirik ke arah meja Adipati.
“Itu… minuman untuk Pak Raden, ya?”
Pelayan mengangguk.
“Betul, Mbak.”
Sinta mencondongkan tubuh, suaranya makin pelan namun tajam memberikan sebuah bubuk.
“Tolong tambahkan ini ke minuman beliau.”
Pelayan langsung menegang.
“Maaf, Mbak… saya gak berani. Kalau sampai—”
Sinta memotong cepat, senyumnya tipis tapi dingin.Lalu mengeluarkan uang satu gepok dari tasnya.
“Tenang.”
Ia mendekatkan wajahnya dan memberikan yang itu.
“Lakukan saja. Tutup mulut.”
Pelayan menelan ludah.
“Ini… aman, Mbak?”
Tatapan Sinta mengeras.
“Aman.”
“Nggak akan ada yang tahu asal kamu tutup mulut.”
Pelayan terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
“Baik, Mbak. ”
Ia pergi dengan langkah ragu.
Sinta berdiri sendiri di lorong, bibirnya melengkung penuh kepuasan.
Ia memandang ke arah Adipati dari kejauhan.
“Raden Adipati Wijaya…” bisiknya.
“Setelah ini…"
“Kamu akan naik keranjang ku dan kamu akan meninggalkan Selina.”
Matanya menyipit penuh ambisi.
“Dan Selina… akan ku pastikan kamu akan benci dengan Raden setelah ini. Dia dari awal milik ku sampai kapan pun akan jadi miliku."